Sabtu, 29 Agustus 2009

Lingkungan Hidup Sosial

Sesi 10 :


Lingkungan Hidup Sosial


Oleh : Ir. Henny Gambiro, M.Si.



10.1. Pembukaan


10.1.1. Tujuan pembelajaran


Mahasiswa memahami materi yang meliputi, lingkungan hidup sosial masysrakat kota dan desa, pengaruh faktor-faktor fisik kota


10.1.2. Manfaat Pembelajaran


Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan lingkungan hidup sosial di kota dan di desa



10.2. Isi Pelajaran


10.2.1. Lingkungan hidup Kota dan Desa


Beralihnya kegiatan masyarakat nomad menjadi masyarakat yang bermatapencaharian tetap, menyebabkan timbulnya sebuah kota, sehingga kota merupakan tempat manusia menetap dan berkegiatan. Masyarakatnya tidak lagi perlu mengembara, karena lahan yang digarapnya dapat menunjang kelangsungan hidup. Selanjutnya didirikan tempat tinggal permanen secara mengelompok di suatu tempat yang dianggap paling sesuai terhadap tanah garapan, sumber air, keamanan, dan sebagainya.



Desa, merupakan tempat berkelompoknya masyarakat yang matapencahariannya bergantung pada pertanian. Dengan bertambahnya penduduk, desa-desa yang berdekatan bergabung menjadi satu, kegiatannya tidak lagi homogen, melainkan heterogen, dan memerlukan pengaturan dari pemerintah. Selanjutnya desa tersebut dinamakan kota.



Lewis Mumford dan Kingsley Davis mengembangkan teori tentang “daur pertumbuhan dan kehancuran kota”, yang dapat diuraikan sebagai berikut :


1. Eopolis, yang merupakan pengelompokan penduduk komunitas pedesaan.


2. Polis, merupakan penggabungan banyak desa atas dasar kepentingan bersama. Kegiatannya lebih beragam, tidak hanya pada pertanian saja, melainkan juga ada kegiatan industri-industri kecil.


3. Metropolis, merupakan kota induk suatu wilayah yang menjadi pusat perdagangan dan administrasi. Pada metropolis dikenal adanya satelit kota.


4. Megapolis, dimana kota merupakan pusat kekayaan dan kekuatan, produksi dan standarisasi. Apabila suatu megalopolis dikuasai oleh golongan ekonomi tertentu, ada kecenderungan hal ini dapat menimbulkan turunnya kualitas lingkungan kota.


5. Tiranopolis, dimana kota menjadi tempat parasitisme, tempat terjadinya tindak sewenang-wenang dan pemerasan, akibat adanya kesenjangan diantara golongan kaya dan golongan miskin.


6. Nekropolis, dimana kota sudah mulai ditinggalkan oleh warganya



Tidak semua kota mengikuti daur lengkap seperti tersebut di atas. Banyak kota yang belum sampai mencapai tingkat metropolis sudah menurun kualitasnya, akibat politik atau pemindahan jalur-jalur ekonomi.


Pada umumnya kota berfungsi ganda (multifungsional), baik sebagai pusat administrasi, pusat perdagangan, pusat industri, tempat tinggal, dan lain-lainnya. Akan tetapi ada juga kota yang memiliki fungsi tertentu, seperti Tembagapura yang secara khusus merupakan kota tambang, ataupun Balikpapan yang secara khusus merupakan kota minyak.



10.2.1. Perbedaan lingkungan kota dan desa


Baik kota maupun desa, keduanya merupakan tempat pengelompokan manusia, namun berdasarkan beberapa aspek, ada perbedaan antara kota dan desa yang meliputi mata pencaharian, jumlah dan kepadatan penduduk, lingkungan, stratifikasi sosial, mobilitas sosial, interaksi sosial, solidaritas sosial, dan diferensiasi sosial,


Matapencaharian


Perekonomian di desa sangat bergantung pada kegiatan pertanian, peternakan dan perikanan darat, yang sangat berhubungan dengan tanah. Sedangkan matapencaharian masyarakat kota sifatnya non-farming, tidak berhubungan dengan tanah, tidak dengan benda-benda hidup dan tumbuh, melainkan dengan benda-benda mati atau mekanik dan alat-alat, tidak bergantung pada musim dan iklim.


Jumlah dan kepadatan penduduk


- Penduduk dengan jumlah 2.500 orang atau lebih digolongkan sebagai kota. Sedangkan yang kurang dari 2500 orang digolongkan sebagai sebuah desa


- Kepadatan penduduk kota lebih tinggi dibandingkan dengan desa. Di dalam kota-kota besar pembangunan rumah tidak hanya secara horisontal, juga secara vertikal, sehingga lahan yang sempit dapat menampung banyak penghuni dan kegiatan. Oleh karenanya jumlah jiwa per HA menjadi sangat besar. Kepadatan yang besar berakibat menurunnya kualitas lingkungan fisik (air, udara, dsb)


Lingkungan


- Aktivitas penduduk desa erat hubungannya dengan pekerjaan di luar rumah, yang selalu berhubungan langsung dengan alam, dengan udara dan sinar matahari bebas.


- Orang pedesaan banyak bergaul dengan benda-benda hidup, tumbuhan dan hewan, sehingga aspek organik merupakan teman manusia. Ia menggunakan benda-benda hidup yang ada di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


- Sebaliknya penduduk kota umumnya berkegiatan di dalam lingkungan buatan yang terdiri dari batu, semen dan besi. Aktivitas hidupnya terletak di dalam rumah, pabrik, kantor, perusahaan, sekolah, perpustakaan, tempat tinggal dan sebagainya. Tidak ada udara bebas yang menyentuh tubuhnya, udara sudah penuh dengan pencemaran atau sudah dibersihkan, disejukkan, dan dialirkan secara artifisial. Juga sinar matahari langsung sudah terganti dengan sinar lampu listrik atau gas.


- Orang kota lebih banyak bergaul dengan benda-benda anorganik atau benda organik yang yang telah mati. Banyak mesin yang menolong aktivitasnya. Meskipun bahan bakunya berasal dari benda hidup, namun kebanyakan sudah diolah terlebih dahulu. Misalnya, susu, daging, sayuran, buah-buahan, dan lain-lain diolah atau dikalengkan.



Diferensiasi sosial


- Perbedaan kemasyarakatan di desa tidak sebanyak yang terdapat di kota. Masyarakat desa lebih homogen, misalnya di bidang pertanian, jika ada buruh, kebanyakan juga buruh tani. Walaupun ada jenis pekerjaan lain, keberadaannya tidak sangat menonjol. Suku bangsa dan agama tidak kompleks, selalu ada masyarakat yang dominan di desa, sehingga tidak mengakibatkan banyak permasalahan.


- Kota memiliki masyarakat yang sangat kompleks, sangat heterogen, dengan berbagai macam perbedaan; mata pencaharian, suku bangsa, agama, kepentingan, dan lain-lain.



Stratifikasi sosial


- Jumlah kelas di dalam masyarakat kota jauh lebih banyak dari di pedesaan. Perbedaan masyarakat miskin dengan masyarakat kaya sangat menyolok.


- Dalam masyarakat pedesaan perbedaan kelas-kelas sosial tidak ekstrem.


- Di kota, meskipun jumlah klas lebih banyak, perpindahan dari golongan satu ke dalam golongan lainnya lebih mudah. Keterikatannya sebagai anggota kelas tidak dirasa terlalu ketat, karena hubungan sosial di dalam kelas masyarakat kota tidak bersifat personal seperti halnya di pedesaan.



Mobilitas sosial


Di kota orang mudah bergeser dari suatu status ke status lain, atau dari suatu kelas sosial ke kelas sosial lain, namun tidak demikian halnya dengan masyarakat di desa.



Interaksi sosial


- Interaksi di desa sangat sempit dan terbatas antara mereka yang sudah dikenal, dengan anggota keluarga atau tetangga; sedangkan di kota, akibat berbagai kepentingan, interaksi masyarakat mudah terjadi, walaupun pada awalnya kebanyakan dari mereka belum saling mengenal .


- Di desa hubungan lebih intim, berhadapan muka, sedang di kota banyak yang tidak langsung, mungkin dengan surat atau telepon, mungkin hanya dengan nama atau alamatnya saja, atau dengan nomor rumah atau nomor telepon.


- Kontak di desa lebih personal, tetapi di kota orang harus berhubungan dengan banyak orang yang harus dijumpai di pekerjaan, sehingga dituntut untuk berpenampilan lugas, asal ada kontak, sebab baru saja bertemu dan mungkin lain kali tidak akan berjumpa lagi. Proses kontak terkadang menjadi tidak wajar, tidak seperti di desa dimana hubungannya permanen dan abadi.



Solidaritas sosial


Pada masyarakat desa solidaritas social lebih didasarkan atas kesamaan yang ada pada anggota masyarakat, kesamaan kebiasaan, tujuan, pengalaman; sedang solidaritas urban kebanyakan timbul atas dasar perbedaan-perbedaan yang ada di dalam masyarakat yang memaksa orang saling tergantung di dalam kelompok-kelompok tertentu. Sifatnya sangat formal dan structural, sedang di desa lebih bersifat tidak resmi dan tidak diatur dengan struktur tertentu.



10.2.2. Faktor Penentu lingkungan fisik kota


Sebuah kota sering menunjukkan kelainan-kelainan iklim, meskipun kota dan daerah sekitarnya terletak di dalam satu wilayah dengan kesamaan data meteorolog i . U dara kota terasa lebih panas dari udara pedesaan, meskipun terletak dalam daerah iklim yang bersamaan.



Faktor yang mempengaruhi temperatur kota relatif lebih tinggi dari daerah pedesaan di sekitarnya.


1. Materi kota


Keadaan fisik didominasi oleh elemen padat seperti batu, semen dan besi. Materi kota lebih mudah mengisap dan menjalarkan panas, sehingga kapasitas termalnya lebih besar. Tumbuh-tumbuhan dan air tidak banyak, tidak berlangsung banyak penguapan yang mengisap kalori, sehingga udara lekas naik temperaturnya oleh penyinaran matahari.


Sementara keadaan fisik daerah sekelilingnya memiliki keadaan yang masih alami, masih banyak tanah yang luas; Tanah bersifat remah tidak sekompak batu sehingga kalau kena sinar matahari, tidak banyak panas yang dihantar ke dalam. Tetumbuhan mengandung banyak air, dan panas matahari yang jatuh padanya sebagian menimbulkan penguapan, sehingga temperatur tidak begitu naik karenanya. Dengan demikian kalori yang tersimpan di dalam tanah hanya sedikit dan temperatur udara di atasnya juga tidak bertambah banyak berkat adanya tetumbuhan.



Juga pada malam hari temperatur di kota tetap lebih tinggi, karena kandungan kalori yang terhisap oleh bangunan-bangunan kota relatif lebih banyak, sehingga pada malam hari lebih banyak kalori yang dilepaskannya ke dalam udara.


2. Stuktur kota


Kota tersusun oleh bangunan-bangunan dengan berbagai macam bentuk dan ketinggian. Dilihat dari kejauhan dari tempat yang lebih tinggi, permukaan daerah kota sangat kasar, sehingga sinar matahari yang jatuh di kota, sebagian besar tidak terpantul kembali ke angkasa, melainkan terjerat oleh relief yang kasar tersebut. Dengan keadaan ini sinar matahari yang jatuh di daerah kota lebih banyak yang tertinggal, yang menjadikan temperatur kota lebih tinggi.


Lain halnya dengan di daerah pedesaan, dimana permukaan lebih rata sehingga lebih banyak sinar matahari yang terpantul kembali.


3. Pembangkitan panas di dalam kota


Panas terjadi karena penyinaran matahari, yang mengandung banyak sinar panas, sinar infra merah.


Kecuali itu juga dihasilkan oleh proses-proses kimia yang bersifat eksoterm. Proses semacam ini terdapat pada setiap bentuk pembakaran, ialah persenyawaan sesuatu dengan oksigen, lambat atau cepat. Pembakaran banyak sekali berlangsung, oleh oranng dalam tubuhnya, dalam rumah tangga, di jalan oleh kendaraan bermotor dan bermesin, di dalam pabrik-pabrik. Kota yang merupakan pusat kegiatan dengan sendirinya menghasilkan banyak energi panas yang sebagian lepas masuk ke dalam lingkungan kota.



4. Lekas perginya air hujan


Tanah di kota sebagian besar tertutup dengan materi kedap air, yang berupa bangunan dari batu, genteng, logam, atau aspal. Air hujan yang jatuh terus mengalir di atas bangunan-bangunan dan lewat saluran-saluran yang kedap air pula ke luar kota. Air yang meresap ke dalam tanah hanya sedikit. Karena air lekas pergi, penguapan air tidak banyak berlangsung, yang akibatnya tidak banyak panas terhisap untuk penguapan sehingga tidak banyak menurunkan temperatur. Di daerah pedesaan terjadi kebalikannya.



5. Udara kota


Udara kota mengalami banyak pencemaran, yang berupa gas dan partikel. Banyak proses pembakaran berlangsung, maka banyak pula gas karbon dioksida yang dihasilkan, sehingga kadar gas tersebut relatif tinggi. Salah satu sifat karbon dioksida ialah mengisap atau menjerat sinar panas yang melaluinya, baik sinar panas matahari maupun yang dipantulkan dan dipancarkan oleh alat-alat yang membangkitkan panas. Banyak sinar panas tidak lepas ke angkasa, yang akibatnya menaikkan temperatur udara. Partikel-partikel yang banyak di dalam udara kota, seperti karbon dioksida, yaitu menjerat sinar panas.



Supaya suhu pedesaan dapat dipunyai kota, hendaklah faktor penyebab tersebut sebanyak mungkin dihilangkan atau dikurangkan. Yang paling mudah dilakukan ialah mengusahakan berlangsungnya penguapan air lebih banyak, dengan menanami tumbuhan sebanyak mungkin. Tumbuhan mengandung air, sehingga akan selalu berlangsung penguapan pada permukaan tubuhnya. Makin banyak tumbuhan, makin banyak penguapan air. Dengan demikian lingkungan sekitar akan semakin sejuk.


10.2.4. Penyelesaian Masalah Lingkungan Udara di Perkotaan


Manusia sudah terlanjur maju dan besar jumlahnya, sehingga tidak mungkin kegiatan manusia kembali ke zaman pra sejarah. Setidaknya ada beberapa tindakan, baik yang bersifat mencegah maupun mengatasi terjadinya pencemaran udara, yaitu diantaranya :



1. Mencegah pencemaran


Dapat diantisipasi dengan peraturan atau Undang-undang. Akan tetapi apabila gangguan masih tetap ada, maka perlu diadakan pembatasan atau persyaratan dalam beberapa kegiatan, misalnya :


- Kendaraan bermotor harus dirawat sedemikian rupa agar pembakaran solar/bensin tetap sempurna.


- Cerobong asap kegiatan industri dirancang dan dibangun sangat tinggi, agar konsentrasi gas buang yang keluar dari cerobong tersebut konsentrasi berbahayanya dapat berkurang.


- Sumber pencemar lingkungan udara diganti dengan yang lebih ramah lingkungan, seperti mesin letup diganti dengan mesin listrik, atau sumber energi bahan bakar diganti dengan sumber energi panas matahari atau energi angin. Cara ini banyak ditempuh di berbagai negara maju, namun tentu saja alih teknologi tersebut memerlukan waktu dan dapat menyebabkan masalah finansial.



2. Menghilangkan bahan pencemar dari udara


- Mengurangi CO2 dari lingkungan udara dengan menambah tumbuhan melalui penghijauan. Pohon-pohon yang rindang dengan daunnya yang lebar sangat bermanfaat untuk menangkap partikel. Selain itu CO2 dapat berkurang akibat proses photosintesis tumbuhan berhijau daun.



- Udara kotor akibat suatu kegiatan dapat dialirkan melalui sebuah ruang yang dirancang sedemikian rupa agar udara kotor tersebut menerobos air, sehingga kotoran tertinggal dalam air.


- Membersihkan udara kotor secara elektro static. Dalam hal ini udara dialirkan melalui konduktor bermuatan listrik. Partikel tertarik konduktor kemudian jatuh dan terkumpul di salah satu bagian konduktor tersebut untuk selanjutnya ditampung.



3. Memisahkan tempat hidup dari sumber pencemaran


Penatan wilayah (zonning) merupakan salah satu upaya untuk mengatasi pencemaran lingkungan udara. Penatan wilayan dilakukan dengan memperhatikan :


- arah angin


- aliran air


- tinggi rendah kawasan


- jalur lalu lintas


- daerah permukiman


- lokasi kerja karyawan



10.3. Penutup


10.3.1. Ringkasan


- “daur pertumbuhan dan kehancuran kota” menurut Lewis Mumford dan Kingsley Davis mengikuti tahapan Eopolis, Polis, Metropolis, Megapolis, Tiranopolis, Nekropolis


- Lingkungan kota dan desa memiliki perbedaan yang dapat dilihat dari berbagai aspek yang meliputi mata pencaharian, jumlah dan kepadatan penduduk, lingkungan, diferensiasi sosial, stratifikasi sosial, mobilitas sosial, interaksi sosial, dan solidaritas sosial,


- Sebuah kota sering menunjukkan kelainan-kelainan iklim, meskipun kota dan daerah sekitarnya terletak di dalam satu wilayah dengan kesamaan data meteorologi. Udara kota terasa lebih panas dari udara pedesaan, meskipun terletak dalam daerah iklim yang bersamaan.


- Faktor yang mempengaruhi temperatur kota relatif lebih tinggi dari daerah pedesaan di sekitarnya, adalah Materi kota, Stuktur kota, Pembangkitan panas di dalam kota, Lekas perginya air hujan, dan udara kota itu sendiri


- Supaya suhu pedesaan dapat dipunyai kota, hendaklah faktor penyebab tersebut sebanyak mungkin dihilangkan atau dikurangkan. Yang paling mudah dilakukan ialah mengusahakan berlangsungnya penguapan air lebih banyak, dengan menanami tumbuhan sebanyak mungkin. Tumbuhan mengandung air, sehingga akan selalu berlangsung penguapan pada permukaan tubuhnya. Makin banyak tumbuhan, makin banyak penguapan air. Dengan demikian lingkungan sekitar akan semakin sejuk.


- beberapa tindakan, baik yang bersifat mencegah maupun mengatasi terjadinya pencemaran udara, yaitu diantaranya Mencegah pencemaran, Menghilangkan bahan pencemar dari udara, emisahkan tempat hidup dari sumber pencemaran


- Penatan wilayah (zonning) merupakan salah satu upaya untuk mengatasi pencemaran lingkungan udara, yang dilakukan dengan memperhatikan arah angin, aliran air, tinggi rendah kawasan, jalur lalu lintas, daerah permukiman, lokasi kerja karyawan

blog comments powered by Disqus

Poskan Komentar



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER