Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Akuntansi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Akuntansi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Agustus 2009

KLASIFIKASI DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN

MODUL 12


AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH I


image001


RESKINO, SE, M.Si, Akt



PENILAIAN PERSEDIAAN:


PENDEKATAN DASAR BIAYA




KLASIFIKASI DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN


image002


Klasifikasi


Persediaan adalah pos-pos aktiva yang dimiliki oleh perusahaan untuk dijual dalam operasi bisnis normal, atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam membuat barang yang akan dijual


Berdasarkan pengertian di atas maka perusahaan jasa tidak memiliki persediaan, perusahaan dagang hanya memiliki persediaan barang dagang sedang perusahaan industri memiliki 3 jenis persediaan yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi (siap untuk dijual).


Dalam laporan keuangan, persediaan merupakan hal yang sangat penting karena baik laporan Rugi/Laba maupun Neraca tidak akan dapat disusun tanpa mengetahui nilai persediaan. Kesalahan dalam penilaian persediaan akan langsung berakibat kesalahan dalam laporan Rugi/Laba maupun neraca.


Dalam perhitungan Rugi/Laba nilai persediaan (awal & akhir) mempengaruhi besarnya Harga Pokok Penjualan (HPP).



HPP = PERSEDIAAN AWAL+ PEMBELIAN BERSIH - PERSEDIAAN AKHIR


Perencanaan dan pengendalian


Suatu rencana adalah langkah realistis yang telah ditentukan sebelumnya, rencana memuat rincian kagiatan untuk mencapai tujuan. Rencana harus menetapkan kriteria penilaian dan standart pengukuran serta memberi peluang bagi kreativitas dan fleksibilitas. Dalam merencanakan kita harus memperhitungkan berbagai kondisi yang terjadi diperusahaan, Perencanaan juga harus saling berhubungan untuk memperbaiki profitabilitas


Perencanaan menentukan terlebih dahulu apa yang harus dilakukan, bagaimana harus dilaksanakan, kapan dan bagaimana alternatif untuk mencapai tujuan, termasuk biaya-biaya yang akan terjadi juga harus diukur. Untuk merencanakan besarnya jumlah persediaan, perlu mempertimbangkan biaya-biaya variabel berikut ini :


1. Biaya penyimpanan(holding costs atau carrying costs), yaitu terdiri atas biaya-biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan. Biaya penyimpanan per periode akan semakin besar apabila kuantitas bahan yang disimpan semakin besar. Biaya-biaya yang termasuk sebagai biaya penyimpanan adalah:


· Biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan (termasuk penerangan, pendingin ruangan, dan sebagainya).


· Biaya modal (opportunity cost of capital), yaitu alternatif pendapatan atas dana yang diinvestasikan dalam persediaan.


· Biaya Keuangan.


· Biaya perhitungan fisik.


· Biaya asuransi persediaan.


· Biaya pajak persediaan.


· Biaya pencurian, pengrusakan, atau perampokan.


· Biaya penanganan persediaan dan sebagainya.



2. Biaya pemesanan atau pembelian(ordering costs atau procurement costs), biaya-biaya ini meliputi :


· Pemprosesan pesanan dan biaya ekspedisi.


· Upah.


· Biaya telepon.


· Pengeluaran surat menyurat.


· Biaya pengepakan dan penimbangan.


· Biaya pemeriksaan (inspeksi) penerimaan.


· Biaya pengiriman ke gudang.


· Biaya utang lancar dan sebagainya.


3 . Biaya penyiapan (manufacturing) atau set-up cost. Hal ini terjadi apabila bahan-bahan tidak dibeli, tetapi diproduksi sendiri oleh perusahaan, perusahaan menghadapi biaya penyimpanan untuk memproduksi komponen tertentu. Biaya-biaya ini terdiri dari :


· Biaya mesin-mesin menganggur.


· Biaya persiapan tenaga kerja langsung.


· Biaya penjadwalan.


· Biaya ekspedisi dan sebagainya.


4. Biaya kehabisan atau kekurangan bahan ( shortage costs) adalah biaya yang timbul apabila persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan. Biaya-biaya yang termasuk biaya kekurangan bahan adalah sebagai berikut :


· Kehilangan penjualan.


· Kehilangan pelanggan.


· Biaya pemesanan khusus.


· Biaya ekspedisi.


· Selisih harga.


· Terganggunya operasi.


· Tambahan pengeluaran kegiatan manajerial dan sebagainya.


Biaya kekurangan bahan sulit diiukur dalam prakteknya, terutama karena kenyataan biaya ini sering merupakan opportunity costs yang sulit diperkirakan secara objektif.


2. Pengendalian


Pengendalian meliputi langkah yang dilakukan oleh manajemen untuk memperbesar kemungkinan pencapaian sasaran yang telah ditetapkan dalam tahap perencanaan dan juga untuk memastikan bahwa seluruh bagian organisasi berfungsi sesuai tujuan organisasi. Pengendalian menurut Dlenn. Welsch Ronald W Hilton Paul (1995), adalah suatu proses untuk memastikan tindakan yang efisien untuk mencapai tujuan organisasi. Pengendalian ini mencakup ; 1) Penetapan sasaran dan standart, 2) Membandingkan hasil dengan sasaran dan standart, 3) Mendorong keberhasilan dan memperbaiki kekurangan


Adadua tujuan utama dalam pengendalian internal atas persediaan antaralain mengamankan persediaan dan melaporkan secara tepat dalam laporan keuangan. Pengendalian persediaan harus dimulai segera setelah persediaan diterima. Laporan penerimaan yang sudah diberi nomor sebelumnya harus diisi oleh departemen penerimaan perusahaan untuk menetapkan tanggung-gugat (account-ability) awal atas persediaan. Untuk memastikan bahwa persediaan yang diterima sesuai yang dipesan, setiap laporan penerimaan harus cocok dengan pesanan pembelian.


Pengendalian internal juga bersifat :


1. Preventif (pencegahan), pengendalian preventif dirancang untuk mencegah kesalahan atau kekeliruan pencatatan.


2. Detektif, ditujukan untuk mendeteksi kesalahan atau kekeliruan yang telah terjadi.


3. Meningkatkan efisiensi dengan melaksanakan kebijakan dan prosedur untuk melakukan peningkatan yang mungkin dicapai.


Suatu sistem pengendalian internal merupakan bagian dari sebuah sistem pengendalian manajemen. Sistem pengendalian manajemen meliputi pengendalian administratif seperti anggaran untuk perencanaan dan pengendalian operasi, dan pengendalian akuntansi seperti prosedur pengendalian internal mengenai pemisahan tugas orang yang menghitung kas dari tugas orang yang memiliki akses terhadap pencatatan piutang.


Untuk mencatat taransaksi-transaksi yang mempengaruhi nilai persediaan, terdapat 2 metode sebagai berikut :



1. Metode Fisik


Metode fisik adalah metode penghitungan secara langsung (stock opname) jika ingin mengetahui persediaan akhir. Setelah persediaan barang yang ada di gudang dihitung baru bisa diketahui persediaan akhirnya. Dari persediaan ini kemudian diperhitungkan harga pokoknya.


Kelemahan metode fisik adalah jika ingin menyusun laporan keuangan dalam jangka pendek maka penghitungan persediaan ini akan memakan waktu yang lama. Mutasi keluar masuk persediaan tidak diketahui jadi kemungkinan ada penyimpangan persediaan tidak diketahui.


Dalam metode ini pencatatan persediaan hanya dilakukan pada akhir periode akuntansi melalui ayat jurnal penyesuaian. Transaksi yang mempengaruhi persediaan, dicatat masing-masing dalam perkiraan tersendiri sebagai berikut: Pembelian , Retur pembelian , Penjualan dan Retur penjualan.


PERIODE AWAL













Perobahan persediaan (Harga Pokok)


999,999.99


Persediaan


999,999.99



PEMBELIAN
















Pembelian (Harga Pokok)


999,999.99


999,999.99


Utang / Kas


999,999.99



PENJUALAN
















Piutang/ Kas /Bank


999,999.99


Penjualan


999,999.99


999,999.99



AKHIR PERIODE













Persediaan


999,999.99


Perubahan Persediaan (Harga Pokok)


999,999.99



Untuk mendapatkan nilai persediaan secara periodik dilakukan perhitungan fisik (Stock Opname).


Metode ini sudah mulai ditinggalkan karena secara jelas tidak mendukung integrasi system dimana, sepanjang peridode akuntansi berjalan tidak tersedia data mengenai posisi persediaan. Hal ini menyebabkan data bagian akuntansi kurang mendukung operasional. Laporan neraca dan rugilaba tidak akan dapat dibuat sebelum nilai persediaan diketahui.



2. Metode Buku (Perpetual)



Dalam metode buku setiap jenis persediaan dibuatkan rekening sendiri-sendiri. Setiap terjadi masuk dan keluar barang dicatat pada buku sehingga dengan cepat dapat diketahui persediaan akhir. Kelebihan metode buku adalah adanya kontrol terhadap persediaan barang, misalnya pada akhir tahun dilakukan stock opname jika catatan pada buku tidak sama dengan fisik yang sebenarnya maka ada kesalahan. Mungkin ada barang yang hilang atau ada kesalahan dalam pencatatan pada buku.



Dalam metode ini pencatatan persediaan dilakukan setiap terjadi transaksi yang mempengaruhi persediaan. Saldo perkiraan persediaan akan menunjukan saldo persediaan yang sebenarnya. Dengan demikian pada saat penyusunan laporan keuangan tidak diperlukan ayat jurnal penyesuaian. Pencatatan transaksi kedalam perkiraan persediaan, adalah berdasarkan harga pokok produksi, baik transaksi pembelian maupun penjualan. Metode ini akan menampilkan dapat menyediakan laporan neraca setiap saat baik untuk di print_out maupun secara visual.


A. WAKTU PEMBELIAN
















Persediaan


999,999.99


999,999.99


Utang/Kas/Bank


999,999.99



B. WAKTU DISTRIBUSI (PEMAKAIAN)













Persediaan barng dalam proses


999,999.99


Pesediaan bahan baku


999,999.99



C. PENERIMAAN HASIL PRODUKSI













Persediaan barang Jadi


999,999.99


Persediaan Dalam Proses


999,999.99



PENJUALAN


1. Harga Jual
















Piutang/Kas/Bank


999,999.99


Penjualan


999,999.99


999,999.99



2. Harga Pokok













Harga Pokok Penjualan


999,999.99


Persediaan Barang yang dijual


999,999.99



PENYESSUAIAN AKHIR


1. JIKA SALDO SEMENTARA < STOCK OPNAME













Koreksi persediaan/Barang dalam proses


999,999.99


Koreksi pemakaian bahan


999,999.99



2. JIKA SALDO SEMENTARA > STOCK OPNAME













Koreksi pemakaian Bahan


999,999.99


Persediaan/Barang dalam prosess


999,999.99



Walaupun system perpetual menyediakan data persediaan secara terus menerus namun tetap diperlukan perhitungan fisik yang berfugnsi untuk mencocokan fisik dengan catatan buku.


Penilaian Persediaan


Masalah-masalah yang timbul dalam penilaian persediaan dalam satu periode adalah :


Menetapkan jumlah dan nilai persediaan yang sudah terjual / sudah menjadi biaya.


Menentukan jumlah dan nilai persediaan yang belum terjual (yang harus dilaporkan dineraca)


Harga Pokok (Cost) dalam persediaan adalah semua pengeluaran-pengeluaran langsung/tidak langsung yang timbul untuk perolehan penyiapan dan penempatan agar persediaan tersebut dapat dijual.



BARANG KONSINYASI


Penjualan konsinyasi merupakan suatu sistem perjanjian penjualan dimana salah satu pihak yang memiliki barang menyerahkan sejumlah barang kepada pihak lain untuk dijualkan dengan jalan memberikan komisi tertentu.



A. Pihak yang terlibat dalam penjualan konsinyasi :




  1. Pengamanat (Consignor) adalah pihak pemilik barang, sedangkan transaksi pengiriman barang dari pemilik ke pihak komisioner disebut barang konsinyasi (Consigment Out).


  2. Komisioner (Consignee) pihak penerima barang dari pemilik barang, sedangkan transaksi penerimaan barang dari pemilik ke pihak komisioner disebut barang komisi (Consigment In).


B. Perlakuan akuntansi atas penjualan konsinyasi


Terdapat perbedaan antara transaksi penjualan biasa (reguler) dengan penjualan konsinyasi, yakni dalam hubungannya dengan pemindahan hak milik atas barang bersangkutan. Dalam transaksi penjualan biasa (reguler) hak milik atas barang berpindah kepada pembeli pada saat penyerahan barang, dan keadaan tersebut dalam akuntansi digunakan sebagai dasar pengakuan terhadap timbulnya pendapatan. Sedangkan dalam transaksi penjualan konsinyasi penyerahan barang dari pihak pengamanat kepada komisioner tidak berarti adanya penyerahan hak milik atas barang yang bersangkutan, atau hak milik atas barang tersebut akan berpindah dari pengamanat apabila komisioner telah berhasil menjualbarang tersebut kepada pembeli.



C. Faktor yang menyebabkan pihak pengamanat memillih penjualan konsinyasi:





  1. Konsinyasi merupakan suatu cara untuk lebih memperluas pasaran yang dapat dijamin oleh pihak produsen, pabrikan atau distributor.


  2. Risiko tertentu dapat dihindarkan oleh pengamanat, seperti kebangkrutan yang dialami pihak komisioner


  3. Pihak pengamanat ingin memperoleh penjualan khusus dalam perdagangan barangnya.


  4. Harga barang eceran yang bersangkutan dapat dikontrol oleh pihak pengamanat


D. Faktor yang menyebabkan pihak komisioner memillih penjualan konsinyasi :




  1. Pihak komisioner dilindungi dari kemungkinan risiko gagal untuk memasarkan barang


  2. Risiko rusaknya barang dan adanya fluktuasi harga dapat dihindarkan


  3. Kebutuhan akan modal kerja dapat dikurangi


E. Masalah pencatatan akuntansi yang timbul bagi pihak komisioner :




  1. Apabila transaksi penjualan konsinyasi dicatat secara terpisah maka pendapatan dan laba dari penjualan konsinyasi ditentukan secara terpisah dari laba/rugi kegiatan penjualan biasa (reguler).


  2. Apabila transaksi penjualan konsinyasi dicatat secara tidak terpisah maka pendapatan dan laba dari penjualan konsinyasi ditentukan tidak secara terpisah dari laba/rugi kegiatan penjualan biasa (reguler).

terdapat beberapa biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan persediaan antara lain harga beli, biaya-biaya pembelian, ongkos angkut, pajak, asuransi, pergudangan dan lain-lain, namun harga pokok barang biasanya hanya terdiri dari harga beli ditambah ongkos angkut sedangkan biaya-biaya lain dicatat sebagai biaya dalam perkiraan tersendiri untuk periode yang bersangkutan.


Dalam perusahaan industri maupun perusahaan dagang, transaksi menyangkut persediaan adalah hal pokok yang menyangkut sebagian besar system akuntansi. Untuk itu perlu dibedakan dengan jelas sehingga dapat dipahami bahwa subs system Inventory hanyalah bagian tertentu dari persediaan


Subs system yang secara langsung berkaitan dengan persediaan adalah Accounts Payable, Accounts Receivable sedangkan Kas yang telah kita bahas dapat berhubungan secara langsung dan dapat pula tidak.


Subs System Inventory, Purchase dan Invoice biasa merupakan subs system khusus mengolah data operasional yang menghasilkan output sebagai bukti transasksi yang digunakan sebagai dasar pecatatan ke buku besar buku jurnal.


Persediaan dicatat melalui jurnal Pembelian dan jurnal penjualan sesuai dengan pilihan metode yang dipilih. Pada aplikasi ini adalah system perpetual Inventory. Proses menyusun jurnal transaksi dilakukan oleh aplikasi dari file transaksi sehingga pemakai hanya mencatat transaksi pada formulir elektronik yang disediaakan selanjutnya adalah tugasnya komputer.



Istilah yang digunakan untuk menamai barang-barang yang dimiliki perusahaan tergantung jenis perusahaan tersebut. Untuk perusahaan dagang, persediaannya disebut persediaan barang dagangan. Untuk perusahaan manufaktur, persediaan barangnya terdiri dari persediaan bahan baku dan penolong, persediaan supplies pabrik, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi. Persediaan bahan baku adalah bahan utama untuk menghasilkan sebuah produk, contohnya : perusahaan mebel bahan bakunya kayu, sedangkan bahan penolongnya adalah paku, cat, plitur dll. Persediaan supplies adalah barang-barang yang mempunyai fungsi untuk memperlancar proses produksi, contoh : oli mesin, bahan pembersih mesin. Persediaan barang dalam proses adalah barang-barang yang masih dalam proses pengerjaan. Persediaan barang jadi adalah persediaan produk yang sudah jadi.

Pengaruh Ausumsi Aliran Kos terhadap Laporan Keuangan

















FIFO


Menggambarkan nilai yang mendekati harga pasar (harga yang bisa direalisir)


Menggambarkan harga pokok penjualan yang tidak sebanding dengan harga pasar. Dalam hal ini laba dinilai terlalu besar


LIFO


Menggambarkan nilai persediaan yang terlalu kecil


Menggambarkan harga pokok penjualan yang mendekati harga pasar. Dalam hal ini laba dinilai wajar


Average


Menggambarkan nilai persediaan yang terlalu kecil tetapi lebih besar daripada LIFO


Menggambarkan harga pokok penjualan yang mendekati harga pasar, tetapi lebih kecil daripada LIFO. Dalam hal ini laba dinilai lebih besar daripada LIFO, tetapi lebih kecil dari FIFO

PENYUSUTAN, PENURUNAN DAN DEPLESI

MODUL 14


AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH I


RESKINO


image002


PENYUSUTAN, PENURUNAN DAN DEPLESI


Aktiva tetap merupakan salah satu sarana pendukung kegiatan operasional
perusahaan. Namun seiring dengan pemakaiannya, suatu aktiva akan mengalami
penyusutan. Penyusutan aktiva tetap akan menimbulkan biaya penyusutan yang
dibebankan ke dalam laporan laba rugi setiap periode akuntansi.



Pengenalan terhadap aktiva pabrik



Aktiva pabrik adalah aktiva yang ditahan lebih dari satu tahun dan digunakan dalam operasi-operasi perusahaan. Tanah, bangunan, peralatan, perabotan, dan mesin adalah contoh aktiva-aktiva pabrik. Ketika suatu aktiva pabrik diperoleh pada awalnya, seluruh biaya yang terjadi untuk perolehan dan instalasi didebitkan pada perkiraan aktiva pabrik. Pengeluaran-pengeluaran yang berhubungan dengan tanah dapat didebitkan baik pada Tanah, Perbaikan Tanah, atau Bangunan, tergantung dari seberapa permanen mereka dan berapa lama mereka diharapkan untuk bertahan.



depresiasi


Seluruh aktiva pabrik, kecuali tanah, mengalami depresiasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi depresiasi adalah fisik dan fungsional. Depresiasi fisik muncul dari penggunaan aktiva pabrik yang sebenarnya. Depresiasi fungsional berhubungan dengan faktor-faktor keusangan seperti kemajuan teknologi dan kebutuhan yang kurang akan suatu produk. Tujuan mencatat depresiasi adalah untuk menunjukkan penurunan kegunaan dari suatu aktiva, bukan penurunan dari nilai pasarnya. Depresiasi hanya mengurangi nilai perkiraan aktiva pabrik, dia tidak mengurangi perkiraan kas atau mempengaruhi aliran kas.



menentukan depresiasi


Faktor-faktor yang menentukan beban depresiasi adalah biaya awal, nilai sisa dan usia kegunaan. Depresiasi hanya dapat diperkirakan karena dia tergantung dari beberapa perubahan unsur-unsur yang potensial. Nilai sisa adalah nilai apapun yang tetap ada setelah aktiva dihentikan. Perhitungan depresiasi berdasarkan biaya awal dikurangi nilai sisa. Beberapa metode digunakan untuk menghitung depresiasi. Metode garis lurus adalah yang paling terkenal. Metode-metode depresiasi yang berbeda dapat digunakan untuk informasi laporan keuangan dan keperluan pajak.



metode garis lurus


Metode garis lurus untuk depresiasi membebankan jumlah yang sama dari depresiasi untuk setiap periode selama usia kegunaan aktiva tersebut. Dia ditentukan dengan cara mengurangkan nilai sisa dari biaya awal dan membaginya dengan jumlah tahun dari perkiraan usia. Oleh karena kemudahannya, maka dia merupakan metode yang paling banyak digunakan.



metode unit produksi


Metode unit produksi menentukan beban depresiasi berdasarkan jumlah aktiva yang digunakan. Panjangnya usia dari suatu aktiva ditunjukkan dalam bentuk kapasitas produksi. Biaya mula-mula dikurangi nilai sisa apapun dibagi dengan kapasitas produksi untuk menentukan tingkat depresiasi unit produksi pemakaian per unit. Sebagai contoh, pemakaian unit-unit dapat diperlihatkan dalam kuantitas barang-barang yang diproduksi, jumlah jam yang digunakan, sejumlah pemotongan, jumlah mil yang dikendarai atau muatan ton. Beban depresiasi dalam suatu periode ditentukan dengan cara mengalikan pemakaian tingkat tetap unit produksi. Metode depresiasi ini umumnya digunakan ketika pemakaian aktiva berubah-ubah dari tahun ke tahun.



metode saldo menurun


Metode saldo menurun (dikenal juga sebagai saldo menurun ganda) merupakan bentuk yang popular untuk mempercepat depresiasi. Tingkat yang digunakan biasanya dua kali dari tingkat yang digunakan oleh metode garis lurus. Metode ini tidak memperhitungkan perkiraan nilai sisa dalam menentukan tingkat depresiasi atau menghitung depresiasi secara periodik. Meskipun demikian, suatu aktiva tidak dapat didepresiasikan melebihi perkiraan nilai sisa. Beban depresiasi adalah lebih tinggi di tahun pertama, dan menjadi lebih kecil di tahun berikutnya.



metode jumlah angka tahun


Metode jumlah angka tahun merupakan bentuk lain untuk mempercepat depresiasi. Depresiasi tahunan dihitung dengan cara mengurangi nilai sisa dari biaya sebenarnya, dan mengalikan jumlah ini dengan angka pecahan dari depresiasi. Penyebut pecahan adalah jumlah angka tahun dari usia kegunaan; untuk usia 5 tahun, penyebutnya = 1 + 2 + 3 + 4 + 5 =15. Pembilangnya adalah tahun dengan urutan mundur. Untuk tahun pertama, pembilangnya adalah 5 dan pecahannya adalah 5/15.



membandingkan metode-metode depresiasi


Metode-metode depresiasi yang berbeda memberikan hasil yang berbeda juga, dan dalam beberapa keadaan kegunaan dari metode depresiasi tertentu disarankan. Ketika penggunaan aktiva berfluktuasi dari waktu ke waktu, metode unit produksi dianjurkan. Untuk aktiva yang kegunaannya menurun lebih awal, dan mereka ditujukan terhadap biaya pemeliharaan yang tinggi sehubungan dengan bertambahnya usia mereka, maka bentuk dari depresiasi yang dipercepat harus digunakan, misalnya metode saldo menurun dan jumlah angka tahun.



depresiasi dan pendapatan pajak


Untuk kepentingan pajak, metode depresiasi garis lurus, saldo menurun, jumlah angka tahun, dan unit produksi diperkenankan sebelum tahun 1981. Antara tahun 1980 dan 1987, baik metode garis lurus maupun Sistem Pemulihan Biaya Dipercepat / Accelerated Cost Recovery System (ACRS) dapat digunakan. Undang-undang Perbaikan Pajak / The Tax Reform Act tahun 1996 merevisi ACRS dengan menyediakan daftar nilai depresiasi untuk delapan kelas aktiva pabrik. Penggunaan metode depresiasi dipercepat mengurangi kewajiban pajak dan meningkatkan aliran kas.



meninjau kembali perhitungan depresiasi


Oleh karena depresiasi merupakan perkiraan, maka dia perlu sering direvisi secara periodik selama kehidupan aktiva. Kesalahan dalam memperkirakan nilai sisa, tahun-tahun umur kegunaan, ataupun keduanya memerlukan suatu revisi. Revisi dari depresiasi hanya mempengaruhi beban depresiasi di masa yang akan datang.



membukukan beban depresiasi


Ketika depresiasi dibukukan, perkiraaan Beban Depresiasi didebitkan, dan Akumulasi Depresiasi dikreditkan. Akumulasi Depresiasi merupakam perkiraan lawan/pengganti aktiva yang menurunkan nilai aktiva pabrik. Penggunaan perkiraan lawan/pengganti membolehkan aktiva untuk diperlihatkan pada biaya, dan dengan demikian memberikan perhitungan yang lebih mudah jika suatu revisi diperlukan atau metode depresiasi yang berbeda digunakan. Pada saat suatu aktiva terjual, maka seluruh perkiraan yang berhubungan dengan depresiasi aktiva tersebut disesuaikan.



Belanja modal dan pendapatan


Pembelanjaan atas aktiva pabrik terdiri atas dua kategori:


1)- belanja modal: pembelanjaaan ini meningkatkan kapastitas produktif, efisiensi atau usia kegunaan dari aktiva, dan 2)- belanja pendapatan: pembelanjaan ini termasuk mempertahankan dan memperbaiki aktiva. Jika belanja meningkatkan efisiensi atau kapasitas suatu aktiva pabrik, maka perkiraan Aktiva Pabrik didebitkan. Jika belanja meningkatkan umur kegunaan dari suatu aktiva pabrik, maka perkiraan Akumulasi Depresiasi didebitkan. Belanja pendapatan dibebankan di tahun yang bersangkutan.



pelepasan aktiva pabrik


Aktiva pabrik dapat dilepas dengan cara menbuang, menjual, atau menukarkannya dengan aktiva lain. Tanpa memperhatikan bagaimana aktiva pabrik dilepaskan, nilai buku aktiva menjadi samasekali tidak berguna, dia diambil dari semua catatan perusahaan dengan cara mendebit perkiraan Akumulasi Depresiasi dan mengkredit perkiraan Peralatan. Ketika suatu aktiva dibuang sebelum usia kegunaanya dinilai, maka kerugian harus didebitkan pada perkiraan Kerugian atas Pelepasan Aktiva Pabrik.



pelepasan aktiva pabrik


Ketika suatu aktiva pabrik terjual, perkiraan Kas dan Akumulasi Depresiasi selalu didebitkan, dan perkiraan Peralatan dikreditkan. Pada saat terdapat kerugian atau keuntungan dari penjualan, maka baik perkiraan Kerugian atas Pelepasan Aktiva Pabrik ataupun Keuntungan atas Pelepasan Aktiva Pabrik akan memiliki suatu catatan akuntansi. Ketika aktiva pabrik yang lama ditukarkan dengan aktiva pabrik yang baru, maka biasanya disetujui bahwa keuntungan apapun dari suatu pertukaran tidak perlu diakui. Jumlah yang dimiliki setelah kredit untuk tukar tambah diketahui sebagai boot (sejumlah uang yang diserahkan besama aktiva terpakai untuk memperoleh aktiva baru), dimana dia juga memerlukan pembayaran tunai. Catatan transaksi akuntansi untuk keadaan ini adalah


ü Mendebit Depresiasi Akumulasi (peralatan lama)


ü Mendebit Aktiva Pabrik (peralatan baru)


ü Mengkredit Aktiva Pabrik (paralatan lama)


ü Mengkredit Kas.



buku besar tambahan untuk aktiva pabrik


Ketika perusahaan mempunyai sejumlah besar aktiva pabrik untuk tetap ditelusuri, maka kegunaan buku besar tambahan dianjurkan. Informasi yang terperinci dari masing-masing aktiva pabrik disimpan dalam buku besar tambahan. Seluruh aktiva pabrik dapat diidentifikasi secara khusus dengan angka yang diberikan. Bagian pertama dari angka berhubungan dengan perkiraan buku besar umum, sementara bagian kedua dari angka menunjukkan identifikasi yang diberikan terhadap aktiva. Secara periodik, adalah disarankan untuk membandingkan saldo-saldo dalam buku besar tambahan dengan perkiraan-perkiraan pengendalian dalam buku besar umum. Buku besar tambahan sangat berguna dalam menentukan beban depresiasi, memilah bentuk pajak dan asuransi, sama halnya seperti membukukan pelepasan aktiva pabrik.



metode penyusutan gabungan


Metode depresiasi penyusutan gabungan menentukan depresiasi dari sekelompok aktiva pabrik yang sama dengan menggunakan suatu nilai tunggal. Nilai ini ditentukan dengan cara membagi depresiasi tahunan dengan biaya total yang sebenarnya dari aktiva. Meskipun peralatan tertentu dalam kelompok mungkin ditanbahkan dan diberhentikan, metode ini mengasumsikan bahwa gabungan tersebut akan tetap didak berubah. Keuntungan dan kerugian dari pemberhentian atau pelepasan aktiva tidak diakui.



menyewakan aktiva pabrik


Suatu perusahaan dapat menyewa suatu properti untuk jangka waktu tertentu dibawah suatu kontrak yang dikenal sebagai sewa guna usaha. Orang yang menyewakan (lessor) adalah pemilik dari properti, dan penyewa (lessee) adalah pihak yang memiliki hak untuk menggunakan properti. Sewa guna usaha yang meliputi lebih dari sebagian besar umur aktiva, dan juga memindahkan kepemilikan kepada penyewa pada akhir sewa guna usaha, disebut dengan menyewakan modal. Aktiva yang berada dibawah modal harus ditunjukkan dalam neraca, dan oleh karenanya Aktiva Pabrik didebitkan dan perkiraan kewajiban modal dikreditkan.



aktiva tidak berwujud


Aktiva tidak berwujud tidak mempunyai keberadaan fisik. Mereka tidak dipegang untuk penjualan, dan biasanya mereka bernilai lebih tinggi bagi perusahaan. Mereka termasuk paten, hak cipta, merek dagang, goodwill, dan hak kelola. Kecuali untuk goodwill, sebagian besar aktiva tidak berwujud menerima perlindungan hukum untuk penggunaan ekslusif. Biaya perolehan perlindungan hukum untuk aktiva tidak berwujud harus didebitkan pada perkiraan aktiva tidak berwujud. Kerugian nilai periodik dari aktiva tidak berwujud disebut dengan amortiasi, dan dibebankan setiap tahun. Biaya penelitian dan pengembagan diperlakukan sebagai beban pada tahun yang bersangkutan, dan tidak dianggap sebagai aktiva tidak berwujud karena keberhasilan mereka di masa yang akan datang tidak pasti.



deplesi


Alokasi periodik atas penggunaan sumber daya alam disebut dengan deplesi. Lapisan mineral, batu bara, kayu, gas alam, dan minyak tanah merupakan subyek dari deplesi. Beban Deplesi didebitkan dan Akumulasi Deplesi dikreditkan untuk jumlah penggunaan selama periode yang bersangkutan. Penggunaannya didasarkan atas tahun berjalan produksi sebagai hitungan pecahan kapasitas total, dan penentuannya pada dasarnya sama dengan metode depresiasi unit produksi.



Penetapan dasar deplesi


j Biaya akuisisi deposit


k Biaya eksplorasi


l Biaya pengembangan


m Biaya restorasi



Biaya akuisisi


Adalah harga yang dibayarkan guna memperoleh hak properti untuk mencari dan menemukan sumber daya alam yang belum ditemukan atau harga yang harus dibayarkan untuk sumber daya yang telah ditemukan



Biaya eksplorasi


Diperlukan untuk menemukan sumber daya alam. Dalam banyak kasus, biaya ini dibebankan ketika terjadi. Apabila biaya ini berjumlah substansial dan risiko menemukan sumber daya tidak pasti, maka kapitalisasi dapat dilakukan.


Biaya pengembangan


Biaya pengembangan dibagi menjadi:




  1. peralatan berwujud


  2. biaya pengembangan tidak berwujd


Biaya restorasi


Biaya restorasi harus ditambahkan ke dasar deplesi untuk tujuan perhitungan biaya deplesi per unit. Kemudian, setiap nilai sisa yang diterima atas properti itu harus dikurangi dari dasar deplesi.



Masalah khusus dalam akuntansi deplesi


j Kesulitan mengestimasi cadangan yang dapat dipulihkan


k Masalah nilai penemuan


l Aspek pajak dan sumber daya alam


m Akuntansi untuk dividen likuidasi



image003


PENYAJIAN DAN ANALISIS


Penyajian Properti, Pabrik, Peralatan, dan Sumber Daya Alam


Dasar penilaian - biasanya biaya historis - untuk properti, pabrik, peralatan, dan sumber daya alam harus diungkapkan bersama dengan perjanjian, hak gadai, dan komitmen lainnya yang berhubungan dengan aktiva ini. Setiap kewajiban yang dijamin oleh properti, pabrik, dan peraltan, dan sumber daya alam tidak boleh dioffset terhadap aktiva ini, tetapi harus dilaporkan dalam kelompok kewajiban.


Apabila aktiva disusutkan, maka akun penilaian yang biasanya disebut akumulasi penyusutan dikredit. Penggunaan akun akumulasi penyusutan mengijinkan para pemakai laporan keuangan untuk melihat biaya awal aktiva dan jumlah penyusutan yang telah dibebankan sebagai beban pada tahun lalu.


Karena dampak yang signifikan dari metode penyusutan yang digunakan terhadap laporan keuangan, maka pengungkapan berikut harus dibuat:




  1. beban penyusutan untuk periode berjalan


  2. saldo kelas utama dari aktiva yang dapat disusutkan, menurut sifat dan fungsi


  3. akumulasi penyusutan, baik menurut kelas utama aktiva yang dapat disusutkan maupun dalam jumlah total


  4. suatu uraian umum tentang metode yang digunakan dalam menghitung penyusutan berkaitan dengan kelas utama aktiva yang dapat disusutkan


Analisis Properti, Pabrik, Peralatan, dan Sumber Daya Alam


Aktiva dapat dianalisis secara relatif dengan aktivitas dan profitabilitas. Seberapa efisien perusahaan menggunakan aktivanya untuk menghasilkan penjualan diukur dengan rasio perputaran aktiva. Rasio ini ditentukan dengan membagi penjualan bersih dengan rata-rata total aktiva selama periode berjalan. Jumlah yang dihasilkan adalah jumlah dollar penjualan yang diproduksi oleh setiap dolar yang diinvestasikan dalam aktiva.

PROPERTI PABRIK, dan PERALATAN

MODUL 13


AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH I


image001


RESKINO, SE, M.Si, Akt



AKUISISI DISPOSISI


PROPERTI PABRIK, dan PERALATAN




Karakteristik utama dari property, pabrik dan peralatan adalah:




  • Aktiva tersebut diperoleh untuk digunakan dalam operasi dan bukan untuk dijual kembali


  • Aktiva tersebut bersifat jangka panjang dan merupakan subjek penyusutan


  • Aktiva tersebut memiliki substansi fisik


AKUISISI PROPERTI, PABRIK, DAN PERALATAN


image002


Biaya historis merupakan dasar yang digunakan untuk menilai property, pabrik, dan peralatan. Biaya histories diukur oleh kas atau harga ekuivalen kas untuk memperoleh aktiva dan membawanya ke lokasi serta kondisi yang diperlukan untuk tujuan penggunaannya. Setiap biaya terkait yang muncul setelah akuisisi aktiva, seperti penambahan, perbaikan, atau penggantian, hanya akan ditambahkan ke biaya aktiva jika hal itu memberikan jasa potensial di masa depan.



Biaya harus menjadi dasar penggunaan pada tanggal akuisisi karena kas atau harga ekuivalen kas merupakan pengukur nilai aktiva terbaik pada saat itu. Ketidaksepakatan setelah akuisisi berkenaan dengan perbedaan antara biaya histories dan metode penilaian lainnya.



Alas an utama pernyataan ini adalah


(1) Akuntansi dollar konstan (penyesuaian atas perubahan tingkat harga umum)


(2) Akuntansi biaya berjalan (penyesuaian atas perubahan tingkat harga khusus)


(3) Nilai realisasi bersih


(4) Kombinasi dari akuntansi dollar konstan dan biaya berjalan atau nilai realisasi bersih



Biaya Tanah


Semua pengeluaran untuk mendapatkan tanah dan membuatkan hingga siap untuk digunakan dianggap sebagai bagian dari biaya tanah. Biaya tanah biasanya mencakup:




  1. Harga beli


  2. Biaya penutup, seperti sertifikat hak milik, honor pengarah, dan honor pencatat


  3. Biaya yang dikeluarkan untuk mempersiapkan tanah hingga siap digunakan, seperti meratakan, menimbun, menggosongkan, dan membersihkan


  4. Asum si mengenai hak gadai atau hipotik dan


  5. Setiap perbaikan tanah lainnya yang memiliki umur tidak terbatas


apabila tanah dibeli untuk tujuan membangun sebuah bangunan baru itu akan dianggap sebagai biaya tanah. Penghancuran bangunan lama - membersihkan, meratakan, dan menimbun - dianggap sebagai biaya tanah karena biaya-biaya ini diperlukan agar tanah berada pada kondisi yang siap untuk digunakan.



Biaya bangunan



Biaya-biaya ini termasuk


(1) Biaya bahan, tenaga kerja, dan overhead yang terjadi selama konstruksi


(2) Honor professional serta ijin mendirikan bangunan.



Salah satu masalah akuntansi yang terlibat adalah memutuskan apa yang harus dilakukan dengan bangunan lama yang berada pada lokasi konstruksi bangunan baru



Biaya peralatan



Istilah peralatan dalam akuntansi meliputi peralatan pengiriman, peralatan kantor, mesin-mesin, perabotan dan perkakas, perlengkapan tetap, peralatan pabrik, dan aktiva tetap sejenis lainnya. Biaya ini temasuk harga beli, biaya pengangkutan dan penanganan, asuransi peralatan ketika masih dalam perjalanan, biaya fondasi khusus jika diperlukan, biaya pemasangan dan perakitan, serta biaya untuk menjalankan uji coba.



Aktiva yang dibuat sendiri



Biasanya perusahaan membuat sendiri aktivanya. Penentuan biaya mesin dan aktiva tetap lainnya semacam itu dapat menimbulkan masalah. Tanpa melibatkan harga beli atau harga kontrak, perusahaan harus mengalokasikan biaya dan beban untuk mendapat biaya aktiva yang dibuat sendiri.



Pembebanan biaya produksi tidak langsung akan menimbulkan masalah khusus. Biaya tidak langsung ini, yang disebut overhead atau beban, terdiri dari biaya tenaga, pemanas, listrik, asuransi, pajak kekayaan atas bangunan pabrik dan peralatan, tenaga pengawas pabrik, penyusutan aktiva tetap dan perlengkapan.



Biaya-biaya ini dapat ditangani dengan salah satu dari tiga cara berikut:


(1) tidak membebankan overhead tetap ke biaya pembuatan aktiva


(2) membebankan bagian dari total overhead ke proses konstruksi


(3) alokasi berdasarkan produksi yang hilang



Biaya bunga selama konstruksi



Tiga pendekatan untuk memberlakukan bunga yang muncul dalam pembiayaan konstruksi atau akuisisi property, pabrik, dan peralatan:


(1) Tidak mengkapitalisasi beban bunga selam periode konstruksi


(2) Membebankan semua biaya dana yang digunakan, baik yang dapa diidentifikasi maupun yang tidak ke konstruksi


(3) Hanya mengkapitalisasi biaya bunga actual yang terjadi selam kontruksi



Aktiva yang memenuhi kualifikasi



Untuk memenuhi kualifikasi sebagai kapitalisasi bunga, aktiva harus memiliki periode waktu untukmenyiapkan agar dapat igunakan. Pengkapitalisasian biaya bunga dimulai dari pengeluaran pertama yang berhubungan dengan aktiva, dan kapitalisasi ini akn terus berlanjut hingga aktiva selesai dan siap digunakan



Periode kapitalisasi



Periode kapitalisasi adalah periode waktu dimana bunga harus dikapitalisasi, yang dimulai apabila tiga kondisi berikut terjadi:


u Pengeluaran untuk aktiva telah dilakukan


v Aktivitas yang diperlukan untuk mempersiapkan aktiva agar dapat digunakan sedang berjalan


w Biaya bunga telah terjadi



Jumlah yang harus dikapitalisasi



Jumlah yang harus dikapilatisasi dibatasi hingga periode jika biaya bunga actual terendah yang terjadi selama periode berjalan atau bunga yang dapat dihindarkan. Bunga yang dapat dihindarkan adalah jumlah biaya bunga selama periode berjalan yang secara teoritas dapat dihindari jika pengeluaran untuk membeli aktiva tidak dilakukan



Akumulasi pengeluaran rata-rat tertimbang. Dalam menghitung akumulasi pengeluaran rata-rata tertimbang, pengeluaran konstruksi ditimbang dengan jumlah waktu dimana terdapat biaya bunga akibat dari pengeluaran terebut.



Suku bunga. Prinsip yang digunakan dalam memilih suku bunga yang tepat untuk diaplikasikan pada akumulasi pengeluaran rata-rata tertimbang adalah



u Gunakan suku bunga yang terjadi atas pinjaman khusus


v Gunakan suku bungan rata-rata tertimbang yang terjadi atas semua hutang lainnya yang beredar selama periode perjalan



Masalah khusus yang berhubungan dengan kapitalisasi bunga


Tiga msalah yang berhubungan dengan kapitalisasi bungan yang memerlukan perhatian khusus.


u Pengeluaran untuk tanah


v Pendapatan bunga


w Signifikansi kapitalisasi bunga



image003


PENILAIAN



Aktiva harus dicata pada nilai pasar wajar yang diberikan pada saat akuisisi atau nilai wajar yang diterima, mana yang memiliki bukti lebih jelas. Akan tetapi, nilai pasar kadang-kadang menjadi tidak jelas akibat proses perolehan aktiva itu.



Diskon tunai


Apabila aktiva tetap dibeli dengan diskon tunai karena membayar lebih cepat, maka bagaimana diskon tersebut dilaporkan? Jika diskon ini diambil, maka hal tersebut harus dipertimbangkan sebagai pengurang harga beli aktiva. Akan tetapi, hal yang masih belum jelas adalah apakah pengurangan biaya atau harga pokok aktiva itu harus terjadi meskipun diskon tidak diambil.



Kontrak pembayaran yang ditangguhkan



Aktiva tetap seringkali dibeli atas dasar kontrak kredit jangka panjang dengan menggunakan wesel, hipotik, obligasi, atau kewajiban peralatan. Agar merekflesikan biaya secara tepat, aktiva, yang dibeli dengan kontrak kredit jangka panjang harus diperhitungkan pada nilai sekarang dari pertimbangan yang dipertukarkan antara pihak-pihak yang melakukan kontrak pada tanggal transaksi.



Pembelian lump sum



Permasalahan khusus dalam penentuan harga aktiva tetap muncul ketika sekelompok aktiva tetap dibeli pada harga lum sum tunggal. Apabila situasi semacam ini terjadi, dan bukan merupakan hal yang tidak biasa, maka prakteknya adalah mengalokasikan total biaya di antara berbagai aktiva berdasarkan nilai pasar wajar relatifnya.



Penerbitan saham



Apabila property diperoleh melalui penerbitan sekuritas seperti saham biasa, maka biaya property itu tidak dapat diukur secara tepat dengan nilai pari atau nilai ditetapkan saham tersebut. Jika saham itu sedang diperdagangkan secara aktif, maka nilai pasar saham yang diterbitkan merupakan indikasi yang wajar atas biaya property yang diperoleh karena saham merupakan ukuran yang baik atas harga ekuivalen kas berjalan.



Pertukaran aktiva Nonmoneter



Akuntansi yang tepat untuk pertukaran aktiva nonmoneter masih diperdebatkan atau masih controversial. Sebagian akuntan berpendapat bahwa akuntansi untuk jenis pertukaran ini harus didasarkan atas nilai wajar aktiva yang diberikan atau nilai wajar aktiva yang diterima, dengan mengakui suatu keuntungan atau kerugian.


Akuntansi yang biasa untuk pertukaran aktiva nonmoneter harus didasarkan atas nilai wajar aktiva yang diberikan atau nilai wajar aktiva yang diterima, dengan mengakui suatu keuntungan atau kerugian. Sebagian lagi berpendapat bahwa akuntansi harus didasarkan atas jumlah yang tercatat (nilai buku) dari aktiva yang diberikan, tanpa mengakui keuntungan atau kerugian. Sementara yang lainnya lagi memilih pendekatan yang akan mengakui kerugian dalam semua kasus, tapi menangguhkan keuntungan dalam situasi khusus.



Akuntansi yang biasa untuk pertukaran aktiva nonmoneter harus didasarkan atas nilai wajar aktiva yang diberikan atau nilai wajar aktiva yang diterima, mana yang memiliki bukti lebih jelas.



Guna mengilustasikan akuntansi untuk jenis transaksi yang berbeda tersebut,kita akan membahas tiga situasi berikut:



u Akuntansi untuk aktiva yang tidak sama


v Akuntansi untuk aktiva yang sama-situasi kerugian


w Akuntansi untuk aktiva yang sama - situasi keuntungan



Akuntansi untuk kontribusi



Perusahaan kadang-kadang dapat menjadi penerima atau pemberi kontribusi. Kontribusi semacam itu disebut transfer tanpa timbale balik karena mereka mentransfer aktiva pada satu arah.



Apabila aktiva diperoleh melalui donasi, maka konsep biaya yang ketat menyatakan bahwa penilaian atas aktiva ini harus nol. Namun penyimpangan dari prinsip biaya ini tampaknya dapat dibenarkan, karena satu-satunya biaya yang dikeluarkan (biaya hokum dan pengeluaran lainnya yang relative kecil) bukan meupakan dasar akuntansi yang tepat untuk aktiva yang diperoleh. Tidak mencatat sama sekali berarti mengabaikan realitas ekonomi dari kenaikan kekayaan dan aktiva. Karen aitu, nilai wajar aktiva harus digunakan untuk menentukan nilainya dalam pembukuan.



Metode penilaian lainnya



Suatu pengecualian dari prinsip biaya histories muncul dalam akuisisi aktiva tetap melalui donasi, yang didasarkan atas niali wajar. Pendekatan lainnya yang kadang-kadang diijinkan dan dianggap bukan merupakan pelanggaran (semoga biaya



BIAYA SETELAH AKUISIS



Setelah aktiva tetap dipasang dan siap untuk digunakan, dapat terjadi biaya tambahan yang berkisar dari reparasi biasa hingga penambahan yang signifikan. Biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh manfaat masa depan yang lebih besar harus dikapitalisasi, sementara pengeluaran yang hanya ditujukan untuk mempertahankan tingkat pelayanan ttt harus dianggap sebagai beban. Agar biaya-biaya ini dapat dikapitalisasi, tiga kondisi berikut harus dipenuhi:



u Umur manfaat aktiva harus meningkat


v Kuantitas unit yang diproduksi oleh aktiva harus meningkat


w Kuantitas unit yang diproduksi harus ditingkatkan



Pengeluaran yang tidak meningkatkan manfaat aktiva di masa depan harus dianggap sebagai beban. Perbedaan antara pengeluaran modal (aktiva) dan pengeluaran pendapatan (beban) tidak selalu jelas. Menentukan unit property yang berkaitan dengan biaya tersebut adalah sangat penting.



Secara umum terdapat empat jenis pengeluaran utama berkaitan denga aktiva yang ada:










Text Box: JENIS-JENIS PENGELUARAN UTAMA

















PENAMBAHAN . Penambahan atau pelunasan aktiva yang ada


PERBAIKAN DAN PENGGANTIAN . Penggantian aktiva dengan aktiva lainnya yang lebih baik.


PENYUSUNAN KEMBALI DAN PEMASANGAN KEMBALI . Pergerakan aktiva dari satu lokasi ke lokasi lainnya


REPARASI . Pengeluaran yang mempertahankan aktiva berada dalam kondisi untuk operasi







Penambahan



Penambahan umumnya tidak menimbulkan masalah akuntansi yang besar. Menurut definisinya setiap penambahan pada aktiva tetap akan dikapitalisasi karena aktiva baru telah diciptakan



Perbaikan dan penggantian



Perbaikan dan penggantian merupakan substitusi dari satu aktiva dengan aktiva lainnya. Apa perbedaan antara perbaikan dan penggantian? Perbaikan adalah penggantian aktiva yang sekarang sedang digunakan dengan aktiva lain yang lebih baik



Jika ditentukan bahwa pengeluaran meningkatkan potensi pelayanan masa depan dari aktiva, dan oleh karena itu, pengeluaran tersebut harus dikapitalisasi, maka akuntansinya diperlakukan dengan salah satu dari tiga cara berikut, tergantung pada situasinya:



u Pendekatan Substitusi


v Mengkapitalisasi biaya baru


w Membebankan ke akumulasi penyusutan



Penyusunan kembali dan pemasangan kembali



Biaya penyusunan kembali dan pemasangan kembali yang merupakan pengeluaran yang ditujukan untuk memberikan manfaat di periode msa depan, berbeda dengan penambahan, penggantian dan perbaikan



Reparasi



Adalah pengeluaran yang dilakukan untuk mempertahankan aktiva tetap berada dalam kondisi siap operasi; biaya ini dapat dibebankan kea kun beban selam periode terjadinya atas dasar bahwa periode tersebut merupakan periode yang paling banyak menerima manfaat



DISPOSISI AKTIVA TETAP


image005


Aktiva tetap dapat ditarik secara sukarela atau dilepaskan sebagai penjualan, pertukaran, konversi terpaksa, atau pembuangan. Tanpa memerhatikan waktu pelepasan, penyusutan harus dihitung hingga tanggal disposisi dan kemudian semua akun yang berhubungan dengan aktiva yang ditarik itu harus dihilangkan



Penjualan aktiva tetap



Penyusutan harus dicata selam periode waktu antara tanggal ayat jurnal penyusutan terakhir dibuat dan tanggal penjualan.



Konversi terpaksa



Kadang-kadang pelayanan suatu aktiva berakhir karena konversi terpaksa seperti kebakaran, banjir, pencurian, atau pembebasan. Keuntungan atau kerugian akan diperlakukan dengan cara yang tidak berbeda denganjenis disposisi lainnya kecuali bahwa hal itu seringkali dilaporkan dalam bagian pos luar biasa pada laporan laba-rugi

KLASIFIKASI DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN

MODUL 12


AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH I


image001


RESKINO, SE, M.Si, Akt



PENILAIAN PERSEDIAAN:


PENDEKATAN DASAR BIAYA




KLASIFIKASI DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN


image002


Klasifikasi


Persediaan adalah pos-pos aktiva yang dimiliki oleh perusahaan untuk dijual dalam operasi bisnis normal, atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam membuat barang yang akan dijual


Berdasarkan pengertian di atas maka perusahaan jasa tidak memiliki persediaan, perusahaan dagang hanya memiliki persediaan barang dagang sedang perusahaan industri memiliki 3 jenis persediaan yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi (siap untuk dijual).


Dalam laporan keuangan, persediaan merupakan hal yang sangat penting karena baik laporan Rugi/Laba maupun Neraca tidak akan dapat disusun tanpa mengetahui nilai persediaan. Kesalahan dalam penilaian persediaan akan langsung berakibat kesalahan dalam laporan Rugi/Laba maupun neraca.


Dalam perhitungan Rugi/Laba nilai persediaan (awal & akhir) mempengaruhi besarnya Harga Pokok Penjualan (HPP).



HPP = PERSEDIAAN AWAL+ PEMBELIAN BERSIH - PERSEDIAAN AKHIR


Perencanaan dan pengendalian


Suatu rencana adalah langkah realistis yang telah ditentukan sebelumnya, rencana memuat rincian kagiatan untuk mencapai tujuan. Rencana harus menetapkan kriteria penilaian dan standart pengukuran serta memberi peluang bagi kreativitas dan fleksibilitas. Dalam merencanakan kita harus memperhitungkan berbagai kondisi yang terjadi diperusahaan, Perencanaan juga harus saling berhubungan untuk memperbaiki profitabilitas


Perencanaan menentukan terlebih dahulu apa yang harus dilakukan, bagaimana harus dilaksanakan, kapan dan bagaimana alternatif untuk mencapai tujuan, termasuk biaya-biaya yang akan terjadi juga harus diukur. Untuk merencanakan besarnya jumlah persediaan, perlu mempertimbangkan biaya-biaya variabel berikut ini :


1. Biaya penyimpanan(holding costs atau carrying costs), yaitu terdiri atas biaya-biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan. Biaya penyimpanan per periode akan semakin besar apabila kuantitas bahan yang disimpan semakin besar. Biaya-biaya yang termasuk sebagai biaya penyimpanan adalah:


· Biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan (termasuk penerangan, pendingin ruangan, dan sebagainya).


· Biaya modal (opportunity cost of capital), yaitu alternatif pendapatan atas dana yang diinvestasikan dalam persediaan.


· Biaya Keuangan.


· Biaya perhitungan fisik.


· Biaya asuransi persediaan.


· Biaya pajak persediaan.


· Biaya pencurian, pengrusakan, atau perampokan.


· Biaya penanganan persediaan dan sebagainya.



2. Biaya pemesanan atau pembelian(ordering costs atau procurement costs), biaya-biaya ini meliputi :


· Pemprosesan pesanan dan biaya ekspedisi.


· Upah.


· Biaya telepon.


· Pengeluaran surat menyurat.


· Biaya pengepakan dan penimbangan.


· Biaya pemeriksaan (inspeksi) penerimaan.


· Biaya pengiriman ke gudang.


· Biaya utang lancar dan sebagainya.


3 . Biaya penyiapan (manufacturing) atau set-up cost. Hal ini terjadi apabila bahan-bahan tidak dibeli, tetapi diproduksi sendiri oleh perusahaan, perusahaan menghadapi biaya penyimpanan untuk memproduksi komponen tertentu. Biaya-biaya ini terdiri dari :


· Biaya mesin-mesin menganggur.


· Biaya persiapan tenaga kerja langsung.


· Biaya penjadwalan.


· Biaya ekspedisi dan sebagainya.


4. Biaya kehabisan atau kekurangan bahan ( shortage costs) adalah biaya yang timbul apabila persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan. Biaya-biaya yang termasuk biaya kekurangan bahan adalah sebagai berikut :


· Kehilangan penjualan.


· Kehilangan pelanggan.


· Biaya pemesanan khusus.


· Biaya ekspedisi.


· Selisih harga.


· Terganggunya operasi.


· Tambahan pengeluaran kegiatan manajerial dan sebagainya.


Biaya kekurangan bahan sulit diiukur dalam prakteknya, terutama karena kenyataan biaya ini sering merupakan opportunity costs yang sulit diperkirakan secara objektif.


2. Pengendalian


Pengendalian meliputi langkah yang dilakukan oleh manajemen untuk memperbesar kemungkinan pencapaian sasaran yang telah ditetapkan dalam tahap perencanaan dan juga untuk memastikan bahwa seluruh bagian organisasi berfungsi sesuai tujuan organisasi. Pengendalian menurut Dlenn. Welsch Ronald W Hilton Paul (1995), adalah suatu proses untuk memastikan tindakan yang efisien untuk mencapai tujuan organisasi. Pengendalian ini mencakup ; 1) Penetapan sasaran dan standart, 2) Membandingkan hasil dengan sasaran dan standart, 3) Mendorong keberhasilan dan memperbaiki kekurangan


Adadua tujuan utama dalam pengendalian internal atas persediaan antaralain mengamankan persediaan dan melaporkan secara tepat dalam laporan keuangan. Pengendalian persediaan harus dimulai segera setelah persediaan diterima. Laporan penerimaan yang sudah diberi nomor sebelumnya harus diisi oleh departemen penerimaan perusahaan untuk menetapkan tanggung-gugat (account-ability) awal atas persediaan. Untuk memastikan bahwa persediaan yang diterima sesuai yang dipesan, setiap laporan penerimaan harus cocok dengan pesanan pembelian.


Pengendalian internal juga bersifat :


1. Preventif (pencegahan), pengendalian preventif dirancang untuk mencegah kesalahan atau kekeliruan pencatatan.


2. Detektif, ditujukan untuk mendeteksi kesalahan atau kekeliruan yang telah terjadi.


3. Meningkatkan efisiensi dengan melaksanakan kebijakan dan prosedur untuk melakukan peningkatan yang mungkin dicapai.


Suatu sistem pengendalian internal merupakan bagian dari sebuah sistem pengendalian manajemen. Sistem pengendalian manajemen meliputi pengendalian administratif seperti anggaran untuk perencanaan dan pengendalian operasi, dan pengendalian akuntansi seperti prosedur pengendalian internal mengenai pemisahan tugas orang yang menghitung kas dari tugas orang yang memiliki akses terhadap pencatatan piutang.


Untuk mencatat taransaksi-transaksi yang mempengaruhi nilai persediaan, terdapat 2 metode sebagai berikut :



1. Metode Fisik


Metode fisik adalah metode penghitungan secara langsung (stock opname) jika ingin mengetahui persediaan akhir. Setelah persediaan barang yang ada di gudang dihitung baru bisa diketahui persediaan akhirnya. Dari persediaan ini kemudian diperhitungkan harga pokoknya.


Kelemahan metode fisik adalah jika ingin menyusun laporan keuangan dalam jangka pendek maka penghitungan persediaan ini akan memakan waktu yang lama. Mutasi keluar masuk persediaan tidak diketahui jadi kemungkinan ada penyimpangan persediaan tidak diketahui.


Dalam metode ini pencatatan persediaan hanya dilakukan pada akhir periode akuntansi melalui ayat jurnal penyesuaian. Transaksi yang mempengaruhi persediaan, dicatat masing-masing dalam perkiraan tersendiri sebagai berikut: Pembelian , Retur pembelian , Penjualan dan Retur penjualan.


PERIODE AWAL













Perobahan persediaan (Harga Pokok)


999,999.99


Persediaan


999,999.99



PEMBELIAN
















Pembelian (Harga Pokok)


999,999.99


999,999.99


Utang / Kas


999,999.99



PENJUALAN
















Piutang/ Kas /Bank


999,999.99


Penjualan


999,999.99


999,999.99



AKHIR PERIODE













Persediaan


999,999.99


Perubahan Persediaan (Harga Pokok)


999,999.99



Untuk mendapatkan nilai persediaan secara periodik dilakukan perhitungan fisik (Stock Opname).


Metode ini sudah mulai ditinggalkan karena secara jelas tidak mendukung integrasi system dimana, sepanjang peridode akuntansi berjalan tidak tersedia data mengenai posisi persediaan. Hal ini menyebabkan data bagian akuntansi kurang mendukung operasional. Laporan neraca dan rugilaba tidak akan dapat dibuat sebelum nilai persediaan diketahui.



2. Metode Buku (Perpetual)



Dalam metode buku setiap jenis persediaan dibuatkan rekening sendiri-sendiri. Setiap terjadi masuk dan keluar barang dicatat pada buku sehingga dengan cepat dapat diketahui persediaan akhir. Kelebihan metode buku adalah adanya kontrol terhadap persediaan barang, misalnya pada akhir tahun dilakukan stock opname jika catatan pada buku tidak sama dengan fisik yang sebenarnya maka ada kesalahan. Mungkin ada barang yang hilang atau ada kesalahan dalam pencatatan pada buku.



Dalam metode ini pencatatan persediaan dilakukan setiap terjadi transaksi yang mempengaruhi persediaan. Saldo perkiraan persediaan akan menunjukan saldo persediaan yang sebenarnya. Dengan demikian pada saat penyusunan laporan keuangan tidak diperlukan ayat jurnal penyesuaian. Pencatatan transaksi kedalam perkiraan persediaan, adalah berdasarkan harga pokok produksi, baik transaksi pembelian maupun penjualan. Metode ini akan menampilkan dapat menyediakan laporan neraca setiap saat baik untuk di print_out maupun secara visual.


A. WAKTU PEMBELIAN
















Persediaan


999,999.99


999,999.99


Utang/Kas/Bank


999,999.99



B. WAKTU DISTRIBUSI (PEMAKAIAN)













Persediaan barng dalam proses


999,999.99


Pesediaan bahan baku


999,999.99



C. PENERIMAAN HASIL PRODUKSI













Persediaan barang Jadi


999,999.99


Persediaan Dalam Proses


999,999.99



PENJUALAN


1. Harga Jual
















Piutang/Kas/Bank


999,999.99


Penjualan


999,999.99


999,999.99



2. Harga Pokok













Harga Pokok Penjualan


999,999.99


Persediaan Barang yang dijual


999,999.99



PENYESSUAIAN AKHIR


1. JIKA SALDO SEMENTARA < STOCK OPNAME













Koreksi persediaan/Barang dalam proses


999,999.99


Koreksi pemakaian bahan


999,999.99



2. JIKA SALDO SEMENTARA > STOCK OPNAME













Koreksi pemakaian Bahan


999,999.99


Persediaan/Barang dalam prosess


999,999.99



Walaupun system perpetual menyediakan data persediaan secara terus menerus namun tetap diperlukan perhitungan fisik yang berfugnsi untuk mencocokan fisik dengan catatan buku.


Penilaian Persediaan


Masalah-masalah yang timbul dalam penilaian persediaan dalam satu periode adalah :


Menetapkan jumlah dan nilai persediaan yang sudah terjual / sudah menjadi biaya.


Menentukan jumlah dan nilai persediaan yang belum terjual (yang harus dilaporkan dineraca)


Harga Pokok (Cost) dalam persediaan adalah semua pengeluaran-pengeluaran langsung/tidak langsung yang timbul untuk perolehan penyiapan dan penempatan agar persediaan tersebut dapat dijual.



BARANG KONSINYASI


Penjualan konsinyasi merupakan suatu sistem perjanjian penjualan dimana salah satu pihak yang memiliki barang menyerahkan sejumlah barang kepada pihak lain untuk dijualkan dengan jalan memberikan komisi tertentu.



A. Pihak yang terlibat dalam penjualan konsinyasi :




  1. Pengamanat (Consignor) adalah pihak pemilik barang, sedangkan transaksi pengiriman barang dari pemilik ke pihak komisioner disebut barang konsinyasi (Consigment Out).


  2. Komisioner (Consignee) pihak penerima barang dari pemilik barang, sedangkan transaksi penerimaan barang dari pemilik ke pihak komisioner disebut barang komisi (Consigment In).


B. Perlakuan akuntansi atas penjualan konsinyasi


Terdapat perbedaan antara transaksi penjualan biasa (reguler) dengan penjualan konsinyasi, yakni dalam hubungannya dengan pemindahan hak milik atas barang bersangkutan. Dalam transaksi penjualan biasa (reguler) hak milik atas barang berpindah kepada pembeli pada saat penyerahan barang, dan keadaan tersebut dalam akuntansi digunakan sebagai dasar pengakuan terhadap timbulnya pendapatan. Sedangkan dalam transaksi penjualan konsinyasi penyerahan barang dari pihak pengamanat kepada komisioner tidak berarti adanya penyerahan hak milik atas barang yang bersangkutan, atau hak milik atas barang tersebut akan berpindah dari pengamanat apabila komisioner telah berhasil menjualbarang tersebut kepada pembeli.



C. Faktor yang menyebabkan pihak pengamanat memillih penjualan konsinyasi:





  1. Konsinyasi merupakan suatu cara untuk lebih memperluas pasaran yang dapat dijamin oleh pihak produsen, pabrikan atau distributor.


  2. Risiko tertentu dapat dihindarkan oleh pengamanat, seperti kebangkrutan yang dialami pihak komisioner


  3. Pihak pengamanat ingin memperoleh penjualan khusus dalam perdagangan barangnya.


  4. Harga barang eceran yang bersangkutan dapat dikontrol oleh pihak pengamanat


D. Faktor yang menyebabkan pihak komisioner memillih penjualan konsinyasi :




  1. Pihak komisioner dilindungi dari kemungkinan risiko gagal untuk memasarkan barang


  2. Risiko rusaknya barang dan adanya fluktuasi harga dapat dihindarkan


  3. Kebutuhan akan modal kerja dapat dikurangi


E. Masalah pencatatan akuntansi yang timbul bagi pihak komisioner :




  1. Apabila transaksi penjualan konsinyasi dicatat secara terpisah maka pendapatan dan laba dari penjualan konsinyasi ditentukan secara terpisah dari laba/rugi kegiatan penjualan biasa (reguler).


  2. Apabila transaksi penjualan konsinyasi dicatat secara tidak terpisah maka pendapatan dan laba dari penjualan konsinyasi ditentukan tidak secara terpisah dari laba/rugi kegiatan penjualan biasa (reguler).

terdapat beberapa biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan persediaan antara lain harga beli, biaya-biaya pembelian, ongkos angkut, pajak, asuransi, pergudangan dan lain-lain, namun harga pokok barang biasanya hanya terdiri dari harga beli ditambah ongkos angkut sedangkan biaya-biaya lain dicatat sebagai biaya dalam perkiraan tersendiri untuk periode yang bersangkutan.


Dalam perusahaan industri maupun perusahaan dagang, transaksi menyangkut persediaan adalah hal pokok yang menyangkut sebagian besar system akuntansi. Untuk itu perlu dibedakan dengan jelas sehingga dapat dipahami bahwa subs system Inventory hanyalah bagian tertentu dari persediaan


Subs system yang secara langsung berkaitan dengan persediaan adalah Accounts Payable, Accounts Receivable sedangkan Kas yang telah kita bahas dapat berhubungan secara langsung dan dapat pula tidak.


Subs System Inventory, Purchase dan Invoice biasa merupakan subs system khusus mengolah data operasional yang menghasilkan output sebagai bukti transasksi yang digunakan sebagai dasar pecatatan ke buku besar buku jurnal.


Persediaan dicatat melalui jurnal Pembelian dan jurnal penjualan sesuai dengan pilihan metode yang dipilih. Pada aplikasi ini adalah system perpetual Inventory. Proses menyusun jurnal transaksi dilakukan oleh aplikasi dari file transaksi sehingga pemakai hanya mencatat transaksi pada formulir elektronik yang disediaakan selanjutnya adalah tugasnya komputer.



Istilah yang digunakan untuk menamai barang-barang yang dimiliki perusahaan tergantung jenis perusahaan tersebut. Untuk perusahaan dagang, persediaannya disebut persediaan barang dagangan. Untuk perusahaan manufaktur, persediaan barangnya terdiri dari persediaan bahan baku dan penolong, persediaan supplies pabrik, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi. Persediaan bahan baku adalah bahan utama untuk menghasilkan sebuah produk, contohnya : perusahaan mebel bahan bakunya kayu, sedangkan bahan penolongnya adalah paku, cat, plitur dll. Persediaan supplies adalah barang-barang yang mempunyai fungsi untuk memperlancar proses produksi, contoh : oli mesin, bahan pembersih mesin. Persediaan barang dalam proses adalah barang-barang yang masih dalam proses pengerjaan. Persediaan barang jadi adalah persediaan produk yang sudah jadi.

Pengaruh Ausumsi Aliran Kos terhadap Laporan Keuangan

















FIFO


Menggambarkan nilai yang mendekati harga pasar (harga yang bisa direalisir)


Menggambarkan harga pokok penjualan yang tidak sebanding dengan harga pasar. Dalam hal ini laba dinilai terlalu besar


LIFO


Menggambarkan nilai persediaan yang terlalu kecil


Menggambarkan harga pokok penjualan yang mendekati harga pasar. Dalam hal ini laba dinilai wajar


Average


Menggambarkan nilai persediaan yang terlalu kecil tetapi lebih besar daripada LIFO


Menggambarkan harga pokok penjualan yang mendekati harga pasar, tetapi lebih kecil daripada LIFO. Dalam hal ini laba dinilai lebih besar daripada LIFO, tetapi lebih kecil dari FIFO



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER