Sabtu, 12 September 2009

Stand Up atau On Screen

04. Pokok Bahasan : Stand Up atau On Screen


Mata Kuliah : Teknik WW dan Reportase TV


Dosen : Drs. Adi Badjuri MM



Deskripsi singkat :


Mata kuliah ini memberikan gambaran dan pemahaman mengenai Teknik Stand Up atau On Screen , sehingga mahasiswa dapat memahami langkah-langkah apa saja yang harus dipersiapkan dalam proses berlangsungnya Stand Up atau On Screen .


Tujuan Instruksi Umum :


Setelah mengikuti sessi ini diharapkan para mahasiswa mengerti, memahami dan mampu :


Melakukan laporan langsung dengan cara Stand Up atau On Screen.


Memperoleh pengertian dan pemahaman bagaimana seharusnya seorang reporter bersikap ketika melakukan Stand Up atau On Screen di tempat kejadian.


Memiliki sikap professional yaitu memiliki kedalaman bersikap dan keterampilan teknis dalam melakukan Stand Up atau On Screen.



Metode Pengajaran :


Mahasiswa yang telah ditentukan segera memberikan presentasi mata kuliah bersangkutan dilanjutkan dengan diskusi antar mahasiswa atau tanya jawab sesama mereka di bawah pengawasan dan bimbingan dosen dan ditutup dengan penjelasan dari dosen.



Dalam mempresentasikan kuliah, mahasiswa dapat menggunakan OHP atau secara lisan. Selama berlangsungnya diskusi antar mahasiswa dosen mendampingi dan menyertai diskusi tersebut sambil mencatat masalah-masalah yang berkembang dalam diskusi.



Stand Up atau On Screen


Adalah sebuah kepuasaan dan merupakan prestasi tersendiri bagi crew televisi yang terdiri reporter dan juru kamera bekerja sama di lapangan jika berhasil mengirimkan laporannya secara langsung “on air” pada saat peristiwa itu terjadi. Berarti di sana ada nilai-nilai kecepatan yang dilakukan crew televisi sebagai pekerja profesional.


Kecepatan adalah salah satu kelebihan media televisi dibanding media cetak. Akan lebih hebat lagi jika laporannya itu dilengkapi dengan potongan suara dari lokasi, biasanya berupa wawancara atau rekaman suasana, dengan kualitas suara dan gambar yang jelas.


Stand Up artinya seorang reporter melaporkan suatu peristiwa dari tempat kejadian lengkap dengan gambar yang melukiskan keadaan sebenarnya di lokasi. Sosok reporter jelas di tengah-tengah kejadian sementara sosok juru kamera tidak tampil di layar karena pada saat yang sama ia bertugas mengoperasikan kamera. Namun justru baik atau tidaknya Stand Up atau On Screen sanga tergantungada juru kamera.


Di tengah kancah peperangan antara Israel dan Laskar Hizbullah di Libanon atau baku tembak antara pasukan TNI dengan GAM di Aceh beberapa waktu lalu atau perang antar suku di Mimika Papua, atau di tengah-tengah amukan Tsunami yang memporakporandakan rumah-rumah penduduk, seorang reporter dengan tenang melaporkan dari lokasi langsung stand up diserta kualias gambar yang prima.


Namun tidak selamanya reporter , terutama reporter muda, mampu melakukan stand up dengan tenang, sikapnya terkontrol, berbicara teratur, pesan-pesan yang disampaikan jelas dan tegas sesuai dengan apa yang dilihatnya dari tempat kejadian . Bahaya di hadapan mata terkadang membuat reporter tidak konsentrasi pada laporan yang disampaikan. Bunyi tembakan yang dekat dengan dirinya juga dapat membuat grogi. Sementara bagi reporter yang jam terbangnya masih belm tinggi akan sangat mudah dijangkiti penyakit demam kamera yang membuat perasaannya takut kalau-kalau berpenampilan jelek dan salah-salah dalam berbicara hingga tidak focus, akhirnya yang terjadi adalah salah tingkah.


Grogi dapat diatasi dengan jalan segenap perasaan dan pikirannya focus dengan apa yang dilihat dan ingin disampaikan. Cara terbaik untuk membiasakan Stand Up atau On Screen .adalah dengan berlatih di muka cermin, berlatih dengan segala improfisasinya, berlatih mengeluarkan suara bebas dan mentalitas yang kuat.


Saat reporter stand up hanya memegang mike dan catatan kecil berisi pointer tentang kondisi yang harus dilaporkan. Akan lebih baik lagi apa-apa yang akan disampaikan mengalir begitu saja dari mulutnya tanpa memegang catatan apapun, tampil dengan prima dan meyakinkan , tidak tampak sedikit pun rasa takut. Dan yang tak kalah penting bagi seorang reporter adalah kontak mata dengan pemirsa melalui kamera (tatap kamera dengan improfisasi yang meyakinkan) karena ribuan atau bahkan jutaan penonton sedang menontonnya di rumah.


Stand up bagi seorang reporter sangat dimungkinkan karena adanya sistem yang disebut “Reporter on the Spot and on the Screen” (ROOS) yang memang telah menjadi bagian dalam jurnalistik televisi. Sistem ROOS dibedakan menjadi empat :


Reporter on the Spot and on the Screen , ketika seorang reporter berada di lokasi kejadian dan ketika ditayangkan harus tampak sosok reporter dengan jelas di layar televisi. Dengan demikian maka reporter harus di-shoot dengan latar belakang kejadian atau lokasi kejadian berikut obyeknya. Untuk kegiatan ini mic sudah di tangan dan yakin sudah berfungsi dengan baik.


Reporter on the Spot but off the Screen , reporter berada di lokasi kejadian tapi tidak muncul di layar televisi ketika berita disiarkan. Kameraman tidak harus men-shoot reporter tapi hanya mengambil gambar untuk mengisi narasi. Dalam mengedit, suara dan gambar lokasi kejadian dipadukan.


Reporter off the Spot and on the Screen , dengan sistem ini dimaksudkan reporter tidak berada di lokasi tetapi ketika berita disiarkan maka dia muncul di layar. Untuk sistem ini maka kameraman tidak perlu mengambil gambar reporter tetapi lebih banyak mengambil gambar sesuai dengan keinginan reporter. Dengan bantuan teknik blue screen maka seolah reporter berada di lokasi kejadian.


Reporter off the Spot but off the Screen , reporter tidak berada di lokasi kejadian dan juga reporter tidak muncul di layar. Itu artinya anchor akan membawakan berita dan ketika unsur audio visualnya muncul maka tidak ada reporter ikut muncul di layar kaca. Dan kameraman tidak perlu mengambil gambar dari lokasi kejadian tapi cukup mengambil dari perpustakaan audio visual, bisa dari internet, CD, maupun sumber lainnya.


Reporter yang stand up dengan sistem ROOS model pertama yaitu melaporkan langsung dari tempat kejadan (on the spot) dan muncul di layar kaca (on the screen) . Untuk keperluan ini ada dua kemungkinan stand up ; Pertama, stand up yang dilakukan secara live (langsung dari tempat kejadian) . Untuk keperluan ini pihak stasion TV harus menggunakan SNG (Satelit News Gatherintg) yang dihubungkan dengan anchor di studio. Kedua, stand up yang dibuat untuk keperluan paket berita.


Untuk yang pertama, seorang reporter harus betul-betul prima dalam melaporkan secara langsung dari tempat kejadian. Muncul dengan keyakinan, percaya diri sehingga penonton pun mendengarkan penuh pesona. Kesalahan sedikir saja pasti akan dicemooh oleh penonton. Yang kedua, direkam terlebih dahulu, bila dalam rekaman terjadi kesalahan bisa diulang untuk “take” yang kedua, dst. Sehingga muncul di layar kaca dipastika tidak ada kesalahan, karena rekaman.


Untuk apa ROOS


Berdasarkan sistem ROOS yang lazim berlaku dalam reportase televisi karena beberapa alasan :


Memuaskan penonton. Jika reporter langsung melaporkan dari tempat kejadian maka pemirsa akan merasa puas karena kejadian itu diperoleh pada saat itu juga dari first hand (orang pertama)


Memperlihatkan faktualitas, di mana reporter melakukan stand up secara faktual dapat memperlihatkan lokasi dan tempat kejadian. Penonton percaya bahwa reporter memang berada di lokasi. Tidak direkayasa misalnya dengan blue screen.


Mengejar aktualitas. Dengan stand up dipastikan berita yang disiarkan sangat aktual. Pada saat kejadian langsung diinformasikan kepada khalayak. Misalnya peristiwa pengepungan terhadap tokoh teroris DR. Azhari di Komplek Flamboyan, Batu, Malang. Berita tersebut memiliki nilai tinggi di mata pemirsa.


Memperlihatkan how to.


Stand up biasanya digunakan untuk memperlihatkan cara kerja profesionalisme dalam pemberitaan.


Bukti Autentik.


Stand up dapat dijadikan bukti autentik apabila nara sumber tidak mau memberikan keterangan kepada reporter


Mendekatkan diri secara psikologis.


Untuk seorang reporter tentu ingin sekali pemirsa ikut merasakan apa yang terjadi di lokasi kejadian. Misalnya bencana alam Stunami reporter di tempat kejadian melaporkan betapa dahsyatnya gelompang yang memporak porandakan rumah-rumah penduduk, orang-orang berlarian sambil menangis ketakutan. Ada orang yang terseret gelombang dsb. Reporter berdiri di tempat kejadian sambil melaporkan berdasarkan pandangan matanya yang dibantu oleh kameraman yang terus melakukan shooting keadaan.



Daftar Pustaka.




  1. Deddy Mulyana dan Idi Suandy Ibrahim. Bercinta dengan Televisi. PT. Rosdakarya. Bandung Th.1997.


  2. Albert L.Hester dan Way Lan J.to. Diterjemahkan Abdullah Alamudi Pedoman untuk Wartawan. The Center for International Mass Communication Training and Reseach. USIS Jakarta Th 1987.


  3. Sedia Willing Barus. Jurnalistik Petunjuk Praktis Menulis Berita. CV. Mini Jaya Abadi Th. 1996.


  4. Jakob Oetama. Pers Indonesia, Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Tulus. Peerbit Buku Kompas. Th. 2001. Deddy Iskandar Muda. Jurnalistik Televisi, Menjadi Reporter Profesional. PT. Remaja Rosdakarya Bandung. Th.2005.


  5. Imam Suhirman. Menjadi Jurnalis Masa Dewpan. Dimensi Publisher. Th. 2005


  6. Pengantar Komunikasi Massa (Rajawali Pers, 2007), di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum, Jombang, 29 Nopember 2007.
blog comments powered by Disqus

Poskan Komentar



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER