Sabtu, 12 September 2009

Kaidah Dasar Teknik Reportase 2

03. Pokok Bahasan : Kaidah Dasar Teknik Reportase


Mata Kuliah : Teknik WW dan Reportase TV


Dosen : Drs. Adi Badjuri MM



Deskripsi singkat :


Mata kuliah ini memberikan gambaran dan pemahaman mengenai Teknik Wawancara dan Reportase Televisi , sehingga mahasiswa dapat memahami langkah-langkah apa saja yang harus dipersiapkan dalam proses berlangsungnya wawancara dan reportase.


Tujuan Instruksi Umum :


Setelah mengikuti sessi ini diharapkan para mahasiswa akan memiliki kemampuan dan pemahaman :




  1. Memperoleh pengertian dan pemahaman bagaimana seharusnya seorang reporter bersikap ketika melakukan wawancara dan meliput suatu peristiwa.


  2. Memiliki sikap professional yaitu memiliki kedalaman bersikap dan keterampilan teknis dalam menghadapi nara sumber dan ketika wawancara sedang berlangsung.

Metode Pengajaran :


Mahasiswa yang telah ditentukan segera memberikan presentasi mata kuliah bersangkutan dilanjutkan dengan diskusi antar mahasiswa atau tanya jawab sesama mereka di bawah pengawasan dan bimbingan dosen serta ditutup dengan penjelasan dari dosen.


Dalam mempresentasikan kuliah, mahasiswa dapat menggunakan OHP atau secara lisan. Selama berlangsungnya diskusi antar mahasiswa dosen mendampingi dan menyertai diskusi tersebut sambil mencatat masalah-masalah yang berkembang dalam diskusi.



Liputan perlu kecepatan


Liputan di lapangan tidak hanya sekedar memiliki angle yang tepat dan teknologi yang memadai tetapi da satu faktor lain yang dibutuhkan dalam dunia jurnalistik, yakni kecepatan. Sehebat apapun seorang wartawan kalau sudah lewat deadline, berita itu tidak bisa dimuat.


Memang benar, kehebatan seorang jurnalis diuji oleh terbatasnya waktu. Waktu adalah musuh utama dalam peliputan. Sadar akan waktu merupakan masalah penting ketika berada di lapangan. Seorang wartawan yang diterjunkan ke lapangan seringkali berfikir bahwa inilah berita yang paling hebat, paling besar saat itu dan paling mungkin dijadikan headline.


Namun ilusi ini akan berbeda dengan pandangan editor yang melihat peta pemberitaan secara menyeluruh. Pandangan yang berlebihan terhadap berita yang dimuat seringkali menyebabkan keterlambatan. Salah satu penyebabnya, berita yang diliput seolah-olah yang terbesar -misalnya sidang MPR atau kecelakaan mobil beruntun di jalan tol - mempengaruhi pandangan kita di lapangan sehingga lepas dari kehebatan berita lainnya.


Tantangan terhadap deadline ini lebih hebat lagi bagi surat kabar yang terbit tengah malam dan radio yang harus segera mengambil manfaat dari perkembangan terbaru ini. Dengan demikian sadar akan deadline merupakan bagian dari wawasan jurnalis yang langsung berada di lapangan di tengah panasnya siang atau dinginnya malam atau di tengah hujan lebat.


Kecepatan ini semakin dibutuhkan tatkala perbedaan waktu dengan Indonesia sudah mencapai setengah hari. Liputan di London cukup berat. Perbedaan waktu enam sampai tujuh jam menyebabkan kecepatan liputan, perencanaan yang tepat serta bahan yang terkumpul cepat ikut mempengaruhi bentuk akhir dari beritanya. Perbedaan enam jam itu berarti, begitu kita bangun pagi di Jakarta dan WIB khususnya sudah siang hari. Jadi hanya butuh waktu enam jam agar berita liputan hari itu masuk dalam sidang rapat dan diperitmbangkan oleh dewan editor.


Lebih-lebih lagi ketika meliput konferensi yang belum selesai, konflik terbuka seperti perang dan menerobos lautan dan hutan untuk liputan khusus. Format straight news atau berita langsung seperti biasa perlu dipertimbangkan dan dipersiapkan matang jangan sampai tertinggal atau sulit dilengkapi editor yang berada di Jakarta atau kantor utama.


Kesadaran akan waktu juga digunakan ketika menyusun jadwal wawancara di lapangan dengan nara sumber. Jatuh dekatnya diperhitungkan dengan cermat sehingga tidak kedodoran ketika sudah sampai di tempat menginap untuk pengiriman berita. Susunlah wawancara denan para pakar sehingga bisa lebih senggang waktunya untuk menulis. Jangan biarkan, penulisan berita terdesak oleh deadline sehingga mutu laporannya akan rendah


Format-format berita itu antara lain:


Reader.


Ini adalah format berita TV yang paling sederhana, hanya berupa lead in yang dibaca presenter. Berita ini sama sekali tidak memiliki gambar ataupun grafik. Hal ini dapat terjadi karena naskah berita dibuat begitu dekat dengan saat deadline, dan tidak sempat dipadukan dengan gambar.

Voice Over (VO).


Voice Over (VO) adalah format berita TV yang lead in dan tubuh beritanya dibacakan oleh presenter seluruhnya. Ketika presenter membaca tubuh berita, gambar pun disisipkan sesuai dengan konteks isi narasi. VO durasinya sangat singkat (20-30 detik).


N atsound (natural sound, suara lingkungan).


Suara yang terekam dalam gambar bisa dihilangkan. Tetapi, biasanya natsound tetap dipertahankan, untuk membangun suasana dari peristiwa yang diberitakan. Sebelum menulis naskah berita, tentu Reporter harus melihat dulu gambar yang sudah diperoleh, karena tetap saja narasi yang ditulis harus cocok dengan visual yang ditayangkan.


Voice Over - Grafik.


Ini adalah format berita TV yang lead in dan tubuh beritanya dibacakan oleh presenter seluruhnya. Namun, ketika presenter membaca tubuh berita, tidak ada gambar yang menyertainya kecuali hanya grafik atau tulisan. Hal ini mungkin terpaksa dilakukan karena peristiwa yang diliput sedang berlangsung dan redaksi belum menerima kiriman gambar peliputan yang bisa ditayangkan.

Sound on Tape (SOT).


Ini adalah format berita TV yang hanya berisi lead in dan soundbite dari narasumber. Presenter hanya membacakan lead in berita, kemudian disusul oleh pernyataan narasumber (soundbite).

Format berita ini dipilih jika pernyataan narasumber dianggap lebih penting ditonjolkan daripada disusun dalam bentuk narasi.



Voice Over - Sound on Tape (VO-SOT).


VO-SOT adalah format berita TV yang memadukan voice over (VO) dan sound on tape (SOT). Lead in dan isi tubuh berita dibacakan presenter. Lalu di akhir berita dimunculkan soundbite dari narasumber sebagai pelengkap dari berita yang telah dibacakan sebelumnya. Format VO-SOT dipilih jika gambar yang ada kurang menarik atau kurang dramatis, namun ada pernyataan narasumber yang perlu ditonjolkan untuk melengkapi narasi pada akhir berita. Total durasi diharapkan tak lebih dari 60 detik, di mana sekitar 40 detik untuk VO dan 20 detik untuk soundbite.


Package (PKG).


Package adalah format berita TV yang hanya lead in-nya yang dibacakan oleh presenter, tetapi isi berita merupakan paket terpisah, yang ditayangkan begitu presenter selesai membaca lead in. Paket berita sudah dikemas jadi satu kesatuan yang utuh dan serasi antara gambar, narasi, soundbite, dan bahkan grafis. Lazimnya tubuh berita ditutup dengan narasi. Format ini dipilih jika data yang diperoleh sudah lengkap, juga gambarnya dianggap cukup menarik dan dramatis.



Live on Cam.


Ini adalah format berita TV yang disiarkan langsung dari lapangan atau lokasi peliputan. Sebelum reporter di lapangan menyampaikan laporan, presenter lebih dulu membacakan lead in dan kemudian ia memanggil reporter, di lapangan untuk menyampaikan hasil liputannya secara lengkap. Laporan ini juga bisa disisipi gambar yang relevan. Karena siaran langsung memerlukan biaya telekomunikasi yang mahal, tidak semua berita perlu disiarkan secara langsung.


Live on Tape (LOT).


Live on Tape adalah format berita TV yang direkam secara langsung di tempat kejadian, namun siarannya ditunda (delay). Jadi, reporter merekam dan menyusun laporannya di tempat peliputan, dan penyiarannya baru dilakukan kemudian.
Format berita ini dipilih untuk menunjukkan bahwa reporter hadir di tempat peristiwa. Namun, siaran tak bisa dilakukan secara langsung karena pertimbangan teknis dan biaya.


Live by Phone.


Live by Phone adalah format berita TV yang disiarkan secara langsung dari tempat peristiwa dengan menggunakan telepon ke studio. Lead in berita dibacakan presenter, dan kemudian ia memanggil reporter yang ada di lapangan untuk menyampaikan laporannya. Wajah reporter dan peta lokasi peristiwa biasanya dimunculkan dalam bentuk grafis. Jika tersedia, bisa juga disisipkan gambar peristiwa sebelumnya.

Phone Record.


Ini adalah format berita TV yang direkam secara langsung dari lokasi reporter meliput, tetapi penyiarannya dilakukan secara tunda (delay). Format ini sebetulnya hampir sama dengan Live by Phone, hanya teknis penyiarannya secara tunda. Format ini jarang digunakan, dan biasanya hanya digunakan jika diperkirakan akan ada gangguan teknis saat berita dilaporkan secara langsung.



Visual News.


Ini adalah format berita TV yang hanya menayangkan (rolling) gambar-gambar yang menarik dan dramatis. Presenter cukup membacakan lead in, dan kemudian visual ditayangkan tanpa tambahan narasi apa pun, seperti apa adanya. Format ini bisa dipilih jika gambarnya menarik, memiliki natural sound yang dramatis (misalnya: suara jeritan orang ketika terjadi bencana alam atau kerusuhan, dan sebagainya). Contoh berita yang layak menggunakan format ini: menit-menit pertama terjadinya bencana Tsunami di Aceh.

Struktur Penulisan Berita TV
Ada perbedaan besar antara menulis naskah berita untuk didengar (dengan telinga) dan menulis untuk dibaca (dengan mata). Narasi berita televisi yang baik memiliki awal (pembuka), pertengahan, dan akhir (penutup). Masing-masing bagian ini memiliki maksud tertentu.
Awal (pembuka). Setiap naskah berita membutuhkan suatu pengait (hook) atau titik awal, yang memberikan fokus yang jelas kepada pemirsa. Awal dari tulisan memberitahu pemirsa tentang esensi atau pokok dari berita yang mau disampaikan. Hal ini memberi suatu fokus dan alasan pada pemirsa untuk tertarik dan mau menyimak berita yang akan disampaikan.

Pertengahan. Karena semua rincian cerita tak bisa dijejalkan di kalimat-kalimat pertama, cerita dikembangkan di bagian pertengahan naskah. Bagian tengah ini memberi rincian dari Lead dan menjawab hal-hal yang ingin diketahui oleh pemirsa. Untuk memudahkan pemirsa dalam menangkap isi berita, sebaiknya kita membatasi diri pada dua atau tiga hal penting saja di bagian tengah ini.

Akhir (penutup). Jangan akhiri naskah berita tanpa kesimpulan. Rangkumlah dengan mengulang butir terpenting dari berita itu, manfaatnya bagi pemirsa, atau perkembangan peristiwa yang diharapkan akan terjadi.


Liputan di lapangan perlukan kecepatan


Liputan di lapangan tidak hanya sekedar memiliki angle yang tepat dan teknologi yang memadai tetapi da satu faktor lain yang dibutuhkan dalam dunia jurnalistik, yakni kecepatan.


Sehebat apapun seorang wartawan kalau sudah lewat deadline, berita itu tidak bisa dimuat, demikian kata guru saya ketika di tempat pelatihan Kompas, Anggrek.


Memang benar, kehebatan seorang jurnalis diuji oleh terbatasnya waktu. Waktu adalah musuh utama dalam peliputan. Sadar akan waktu merupakan masalah penting ketika berada di lapangan. Seorang wartawan yang diterjunkan ke lapangan seringkali berfikir bahwa inilah berita yang paling hebat, paling besar saat itu dan paling mungkin dijadikan headline.


Namun ilusi ini akan berbeda dengan pandangan editor yang melihat peta pemberitaan secara menyeluruh. Pandangan yang berlebihan terhadap berita yang dimuat seringkali menyebabkan keterlambatan. Salah satu penyebabnya, berita yang diliput seolah-olah yang terbesar -misalnya sidang MPR atau kecelakaan mobil beruntun di jalan tol - mempengaruhi pandangan kita di lapangan sehingga lepas dari kehebatan berita lainnya.


Tantangan terhadap deadline ini lebih hebat lagi bagi surat kabar yang terbit tengah malam dan radio yang harus segera mengambil manfaat dari perkembangan terbaru ini. Dengan demikian sadar akan deadline merupakan bagian dari wawasan jurnalis yang langsung berada di lapangan di tengah panasnya siang atau dinginnya malam atau di tengah hujan lebat.


Kecepatan ini semakin dibutuhkan tatkala perbedaan waktu dengan Indonesia sudah mencapai setengah hari. Liputan di London cukup berat. Perbedaan waktu enam sampai tujuh jam menyebabkan kecepatan liputan, perencanaan yang tepat serta bahan yang terkumpul cepat ikut mempengaruhi bentuk akhir dari beritanya. Perbedaan enam jam itu berarti, begitu kita bangun pagi di Jakarta dan WIB khususnya sudah siang hari. Jadi hanya butuh waktu enam jam agar berita liputan hari itu masuk dalam sidang rapat dan diperitmbangkan oleh dewan editor.


Lebih-lebih lagi ketika meliput konferensi yang belum selesai, konflik terbuka seperti perang dan menerobos lautan dan hutan untuk liputan khusus. Format straight news atau berita langsung seperti biasa perlu dipertimbangkan dan dipersiapkan matang jangan sampai tertinggal atau sulit dilengkapi editor yang berada di Jakarta atau kantor utama.


Kesadaran akan waktu juga digunakan ketika menyusun jadwal wawancara di lapangan dengan nara sumber. Jatuh dekatnya diperhitungkan dengan cermat sehingga tidak kedodoran ketika sudah sampai di tempat menginap untuk pengiriman berita. Susunlah wawancara denan para pakar sehingga bisa lebih senggang waktunya untuk menulis. Jangan biarkan, penulisan berita terdesak oleh deadline sehingga mutu laporannya akan rendah



Memilih Format Berita TV

Berita di media televisi dapat disampaikan dalam berbagai format. Untuk menentukan format mana yang akan dipilih, tergantung pada beberapa factor, antara lain:
Ketersediaan gambar dan momen terjadinya peristiwa atau perkembangan peristiwa yang akan diberitakan.



Format-format berita itu antara lain:


Reader.


Ini adalah format berita TV yang paling sederhana, hanya berupa lead in yang dibaca presenter. Berita ini sama sekali tidak memiliki gambar ataupun grafik. Hal ini dapat terjadi karena naskah berita dibuat begitu dekat dengan saat deadline, dan tidak sempat dipadukan dengan gambar.

Voice Over (VO).


Voice Over (VO) adalah format berita TV yang lead in dan tubuh beritanya dibacakan oleh presenter seluruhnya. Ketika presenter membaca tubuh berita, gambar pun disisipkan sesuai dengan konteks isi narasi.

Natsound (natural sound, suara lingkungan).


Suara yang terekam dalam gambar bisa dihilangkan. Tetapi, biasanya natsound tetap dipertahankan, untuk membangun suasana dari peristiwa yang diberitakan. Sebelum menulis naskah berita, tentu Reporter harus melihat dulu gambar yang sudah diperoleh, karena tetap saja narasi yang ditulis harus cocok dengan visual yang ditayangkan. VO durasinya sangat singkat (20-30 detik).

Voice Over - Grafik.


Ini adalah format berita TV yang lead in dan tubuh beritanya dibacakan oleh presenter seluruhnya. Namun, ketika presenter membaca tubuh berita, tidak ada gambar yang menyertainya kecuali hanya grafik atau tulisan. Hal ini mungkin terpaksa dilakukan karena peristiwa yang diliput sedang berlangsung dan redaksi belum menerima kiriman gambar peliputan yang bisa ditayangkan.

Sound on Tape (SOT).


Ini adalah format berita TV yang hanya berisi lead in dan soundbite dari narasumber. Presenter hanya membacakan lead in berita, kemudian disusul oleh pernyataan narasumber (soundbite).

Format berita ini dipilih jika pernyataan narasumber dianggap lebih penting ditonjolkan daripada disusun dalam bentuk narasi.



Voice Over - Sound on Tape (VO-SOT).


VO-SOT adalah format berita TV yang memadukan voice over (VO) dan sound on tape (SOT). Lead in dan isi tubuh berita dibacakan presenter. Lalu di akhir berita dimunculkan soundbite dari narasumber sebagai pelengkap dari berita yang telah dibacakan sebelumnya. Format VO-SOT dipilih jika gambar yang ada kurang menarik atau kurang dramatis, namun ada pernyataan narasumber yang perlu ditonjolkan untuk melengkapi narasi pada akhir berita. Total durasi diharapkan tak lebih dari 60 detik, di mana sekitar 40 detik untuk VO dan 20 detik untuk soundbite.

Package (PKG).


Package adalah format berita TV yang hanya lead in-nya yang dibacakan oleh presenter, tetapi isi berita merupakan paket terpisah, yang ditayangkan begitu presenter selesai membaca lead in. Paket berita sudah dikemas jadi satu kesatuan yang utuh dan serasi antara gambar, narasi, soundbite, dan bahkan grafis. Lazimnya tubuh berita ditutup dengan narasi.

Format ini dipilih jika data yang diperoleh sudah lengkap, juga gambarnya dianggap cukup menarik dan dramatis.



Live on Cam.


Ini adalah format berita TV yang disiarkan langsung dari lapangan atau lokasi peliputan. Sebelum reporter di lapangan menyampaikan laporan, presenter lebih dulu membacakan lead in dan kemudian ia memanggil reporter, di lapangan untuk menyampaikan hasil liputannya secara lengkap. Laporan ini juga bisa disisipi gambar yang relevan.

Karena siaran langsung memerlukan biaya telekomunikasi yang mahal, tidak semua berita perlu disiarkan secara langsung.





Live on Tape (LOT).


Live on Tape adalah format berita TV yang direkam secara langsung di tempat kejadian, namun siarannya ditunda (delay). Jadi, reporter merekam dan menyusun laporannya di tempat peliputan, dan penyiarannya baru dilakukan kemudian.

Format berita ini dipilih untuk menunjukkan bahwa reporter hadir di tempat peristiwa. Namun, siaran tak bisa dilakukan secara langsung karena pertimbangan teknis dan biaya.



Live by Phone.


Live by Phone adalah format berita TV yang disiarkan secara langsung dari tempat peristiwa dengan menggunakan telepon ke studio. Lead in berita dibacakan presenter, dan kemudian ia memanggil reporter yang ada di lapangan untuk menyampaikan laporannya. Wajah reporter dan peta lokasi peristiwa biasanya dimunculkan dalam bentuk grafis. Jika tersedia, bisa juga disisipkan gambar peristiwa sebelumnya.

Phone Record.


Ini adalah format berita TV yang direkam secara langsung dari lokasi reporter meliput, tetapi penyiarannya dilakukan secara tunda (delay). Format ini sebetulnya hampir sama dengan Live by Phone, hanya teknis penyiarannya secara tunda. Format ini jarang digunakan, dan biasanya hanya digunakan jika diperkirakan akan ada gangguan teknis saat berita dilaporkan secara langsung.



Visual News.


Ini adalah format berita TV yang hanya menayangkan (rolling) gambar-gambar yang menarik dan dramatis. Presenter cukup membacakan lead in, dan kemudian visual ditayangkan tanpa tambahan narasi apa pun, seperti apa adanya. Format ini bisa dipilih jika gambarnya menarik, memiliki natural sound yang dramatis (misalnya: suara jeritan orang ketika terjadi bencana alam atau kerusuhan, dan sebagainya). Contoh berita yang layak menggunakan format ini: menit-menit pertama terjadinya bencana Tsunami di Aceh.



Struktur Penulisan Berita TV

Ada perbedaan besar antara menulis naskah berita untuk didengar (dengan telinga) dan menulis untuk dibaca (dengan mata). Narasi berita televisi yang baik memiliki awal (pembuka), pertengahan, dan akhir (penutup). Masing-masing bagian ini memiliki maksud tertentu.

Awal (pembuka). Setiap naskah berita membutuhkan suatu pengait (hook) atau titik awal, yang memberikan fokus yang jelas kepada pemirsa. Awal dari tulisan memberitahu pemirsa tentang esensi atau pokok dari berita yang mau disampaikan. Hal ini memberi suatu fokus dan alasan pada pemirsa untuk tertarik dan mau menyimak berita yang akan disampaikan.

Pertengahan. Karena semua rincian cerita tak bisa dijejalkan di kalimat-kalimat pertama, cerita dikembangkan di bagian pertengahan naskah. Bagian tengah ini memberi rincian dari Lead dan menjawab hal-hal yang ingin diketahui oleh pemirsa. Untuk memudahkan pemirsa dalam menangkap isi berita, sebaiknya kita membatasi diri pada dua atau tiga hal penting saja di bagian tengah ini.

Akhir (penutup). Jangan akhiri naskah berita tanpa kesimpulan. Rangkumlah dengan mengulang butir terpenting dari berita itu, manfaatnya bagi pemirsa, atau perkembangan peristiwa yang diharapkan akan terjadi.


Referensi:


1, Baksin, Askurifai. 2006. Jurnalistik Televisi: Teori dan Praktik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.


2. Harahap, Arifin S. 2006. Jurnalistik Televisi: Teknik Memburu dan Menulis Berita. Jakarta: PT. Indeks, Kelompok Gramedia.


3. Ishadi SK. 1999. Prospek Bisnis Informasi di Indonesia. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.


4. Ishadi SK. 1999. Dunia Penyiaran: Prospek dan Tantangannya. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.


6. Smith, Dow. 2000. Power Producer: A Practical guide to TV news Producing - 2nd edition. Washington: Radio-Television News Directors Association.


7. Wahyuni, Hermin Indah. 2000. Televisi dan Intervensi Negara: Konteks Politik Kebijakan Publik Industri Penyiaran Televisi. Yogyakarta: Penerbit Media Pressindo.

blog comments powered by Disqus

Poskan Komentar



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER