Minggu, 13 September 2009

INSTRUMENT WAWANCARA TV DAN EQUIPMENT PENDUKUMG PAKET HARD NEWS

MODUL 4


INSTRUMENT WAWANCARA TV DAN EQUIPMENT PENDUKUMG PAKET HARD NEWS


Oleh : Sainuddin, S.Sos



Wawancara dalam dunia jurnalistik adalah hal yang sangat penting, karena sumber berita selain didapat dari suatu peristiwa atau kegiatan kejadian lapangan juga bisa didapat melalui wawancara. Wawancara (interview) pada dasarnya suatu upaya untuk menggali serta mempertajam keterangan yang lebih dalam untuk mengungkapkan fakta sebuah berita dari sumber lain yang relevan. Dengan demikian berita yang disajikan merupakan perpaduan antara fakta (facs news) dan opini atau pendapat atau omongan (talk news). Untuk menggali keterangan atau informasi atau keterangan dari seseorang,wawancara yang diperlukan tidak sekadar sambil lalu, tetapi memerlukan kekhususan.



Ada beberapa bentuk wawancara antara lain adalah:


1.Wawancara berita (News interview), baik untuk wawancara hardnews, wawancara softnews, features, dll.


2. Wawancara yang pertanyaanya disiapkan disiapkan terlebih dahulu (Prepard question interview).


3. Wawancara melalui telepon.


4. Wawancara pribadi(personality interview).


5. Wawancara dengan banyak orang.


6. Wawancara dadakan / mendesak (spontanity interview).


7. Wawancara serombongan (Group interview).



Dalam suatu wawancara tentunya harus ada langkah-langkah persiapan seperti :


1. Tahapan Biografis: Tahapan untuk mengumpulkan tentang nama, gelar, tempat tinggal, data-data umum lain.


2. Tahapan non biografis: Tahapan yang mengumpulkan keterangan seputar subyek, seperti terkait dengan kehidupan tokoh selain biografis.



Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam wawancara adalah :


1. Lakukanlah persiapan sebelum melakukan wawancara. Persiapan tersebut menyangkut outline wawancara, penguasaan materi wawancara, pengenalan mengenai sifat/karakter/kebiasaan orang yang hendak kita wawancarai, dan sebagainya.


2. Taatilah peraturan dan norma-norma yang berlaku. Sopan santun, jenis pakaian yang dikenakan, pengenalan terhadap norma/etika setempat, adalah hal-hal yang juga perlu diperhatikan agar kita dapat beradaptasi dengan lingkungan tempat pelaksanaan wawancara.


3. Jangan mendebat nara sumber. Tugas seorang pewawancara adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya dari nara sumber, bukan berdiskusi. Jika Anda tidak setuju dengan pendapatnya, biarkan saja. Jangan didebat. Kalaupun harus didebat, sampaikan dengan nada bertanya, alias jangan terkesan membantah.


Contoh yang baik: “Tetapi apakah hal seperti itu tidak berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri, Pak?”


Contoh yang lebih baik lagi: “Tetapi menurut Tuan X, hal seperti itu kan berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri. Bagaimana pendapat Bapak?”


Contoh yang tidak baik: “Tetapi hal itu kan dapat berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri, Pak.”


4. Hindarilah menanyakan sesuatu yang bersifat umum. Biasakanlah menanyakan hal-hal yang khusus. Hal ini akan sangat membantu untuk memfokuskan jawaban nara sumber.


5. Ungkapkanlah pertanyaan dengan kalimat yang sesingkat mungkin dan to the point. Selain untuk menghemat waktu, hal ini juga bertujuan agar nara sumber tidak kebingungan mencerna ucapan si pewawancara.


6. Hindari pengajuan dua pertanyaan dalam satu kali bertanya. Hal ini dapat merugikan kita sendiri, karena nara sumber biasanya cenderung untuk menjawab hanya pertanyaan terakhir yang didengarnya.


8. Pewawancara hendaknya pintar menyesuaikan diri terhadap berbagai karakter nara sumber. Untuk nara sumber yang pendiam, pewawancara hendaknya dapat melontarkan ungkapan-ungkapan pemancing yang membuat si nara sumber “buka mulut”. Sedangkan untuk nara sumber yang doyan ngomong, pewawancara hendaknya bisa mengarahkan pembicaraan agar nara sumber hanya bicara mengenai hal-hal yang berhubungan dengan materi wawancara.


9. Pewawancara juga hendaknya bisa menjalin hubungan personal dengan nara sumber. Dengan cara memanfaatkan waktu luang yang tersedia sebelum dan sesudah wawancara. Kedua belah pihak dapat ngobrol mengenai hal-hal yang bersifat pribadi, atau hal- hal lain yang berguna untuk mengakrabkan diri. Ini akan sangat membantu proses wawancara itu sendiri, dan juga untuk hubungan baik dengan nara sumber di waktu-waktu yang akan datang.


10. Memihak Narasumber. Jika kita mewawancarai seorang tokoh yang memiliki lawan ataupun musuh tertentu, bersikaplah seolah-olah kita memihaknya, walaupun sebenarnya tidak demikian. Seperti kata pepatah, “Jangan bicara tentang kucing di depan seorang pecinta anjing”.



Pelaksanaan Wawacara


Hal yang harus diperhatikan selama wawancara, yaitu menjaga suasana, bersikap wajar, memelihara situasi, tangkas dalam menarik kesipulan, menjaga pokok persoalan, kritis, dan menjaga sopan santun.


Menjaga Suasana. Ini sangat penting dalam pelaksanaan wawancara dibuat lebih rileks, sehingga berjalan dengan santai tidak terlalu formal meskipun membahas masalah yang serius.


Untuk menciptakan suasana yang nyaman dan baik memerlkan waktu, karena itu sebelum memasuki materi yang akan dipercakapkan lebih enak kalau dibuka dengan hal-hal yang umum. Misalnya, soal keadaan nara sumber baik itu masalah kesehatan, hobi dan sebagainya yang mungkin menyetuh hati. Meski sifat basa-basi ini diperlukan untuk menarik simpati supaya nara sumber sehingga tidak terlalu pelit dengan pernyataan atau pendapat baru. Kecuali kalau pewawancara sudah sangat dekat basa-basi itu bisa dikurangi, lebih-lebih kalau memang waktu untuk wawancara sangat terbatas, pewawancara harus tanggap. Itupun juga kita dibicarakan sebelum melangsungkan wawancara.


Dalam menjaga suasana ini sudah selayaknya dilakukan, antara lain jangan membuat nara sumber marah atau tersinggung, sehingga percakapan langsung diputus.Jangan marah-marah atau memojokkan nara sumber.



Bersikap Wajar. Dalam wawancara seringkali berhadapan dengan nara sumber yang benar-benar pakar, tetapi tidak jarang yang dihadapi tidak menguasai persoalan. Namun demikian tidak perlu rendah diri atau merasa lebih tinggi dari nara sumber, seharusnya bisa mengimbangi atau mengangkatnya. Pewawancara juga harus bisa mencegah supaya nara sumber tidak berceramah, karena itu persiapan menghadapi berbagai karakter ini sangat diperlukan.


Karena itu dalam persiapan wawancara ini diperlukan,menguasai materi, selain menguasai nara sumber dan pandai-pandai membawakan diri agar tidak direndahkan.


Apabila menghadapi nara sumber yang tidak menguasai masalah bisa mengarahkan tetapi tanpa harus menggurui, sehingga bisa memahami persoalan yang akan digali.


Memelihara Situasi. Secara sadar sering terbawa emosi, sehingga lupa sedang menghadapi nara sumber, karena itu dalam wawancara harus pandai-pandai memelihara situasi supaya mendapat informasi yang dibutuhkan dan jangan sampai terjebak ke dalam situasi perdebatan dengan nara sumber yang diwawancarai. Juga perlu dihindari situasi diskusi yang berkepanjangan atau bertindak berlebihan sampai menjurus ke arah interograsi apalagi menghakimi.


Misalnya wawancara dengan seorang direktur rumah sakit terkait dengan kasus flu burung, karena etika kedokteran, sehingga harus dijaga dirahasiakan. Namun pewawancara memaksakan kehendak, sehingga menimbulkan ketegangan dan menghakimi direktur tersebut, bukan mendapat informasi malah tidak mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Dalam menghadapi kasus seperti itu pewawancara harus mampu mencari celah untuk kembali pada situasi, agar mendapatkan informasi yang


lebih jelas.


Tangkas Menarik Kesimpulan. Pada saat wawancara berlangsung dituntut untuk secara setia mengikuti setiap jawaban yang diberikan nara sumber untuk menarik kesimpulan dengan tangkas. Dengan kesimpulan yang tepat wawancara terus bisa dilanjutkan secara lancer. Kesalahan yang sering dilakukan wartawan pada saat mengambil kesimpulan kurang tangkas, sehingga nara sumber harus mengulang kembali apa yang telah disampaikan.


Kalau itu terjadi berulangkali maka akan membuat nara sumber bosan, sehingga wawancara tidak berkembang, membuat pintu informasi menjadi tertutup. Akibat yang paling parah kehilangan sumber berita, karena nara sumber takut salah kutip. Bagi narasumber yang teliti dan kritis, satu persatu kalimat akan menjadi pengamatan. Salah kutip ini harus dihindari dalam setiap wawancara, Jangan takut minta pernyataan diulang atau bahkan ada kata yang kurang jelas seperti ucapan bahasa Inggris harus selalu dicek kebenaran arti dan ejaannya.


Menjaga Pokok Persoalan. Menjaga pokok persoalan sangat penting dalam setiap wawancara agar dalam menggali informasi mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dan hasil yang memuaskan. Seringkali dalam menjaga pokok persoalan ini diliputi perasaan rikuh kalau kebetulan ayng diwawancari pejabat atau mempunyai otoritas dalam hal tertentu.


Serngkali untuk menjaga situasi ini ada anjuran pewawancara mengikuti apa yang dikatakan nara sumber



Kriteria Kelayakan Berita


Apakah semua peristiwa layak dijadikan berita? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk menjadi berita, antara lain:


1. Penting. Pengesahan RUU Sisdiknas adalah penting, karena menyangkut kepentingan rakyat banyak, yang menjadi pembaca media bersangkutan. Maka layak jadi berita. Ini juga relatif tergantung dari khalayak pembaca yang dituju. Isu Amien Rais menjadi calon presiden tentu penting untuk dimuat di Harian Republika, tetapi kurang penting dimuat di Majalah Gadis, karena khalayak pembacanya berbeda.


2. Baru terjadi, bukan peristiwa lama. Peristiwa yang telah terjadi pada 10 tahun yang lalu jelas tidak bisa jadi berita.


3. Unik, bukan sesuatu yang biasa. Seorang mahasiswa yang kuliah tiap hari adalah peristiwa biasa. Tetapi jika mahasiswa berkelahi dengan dosen di dalam ruang kuliah, itu luar biasa.


4. Asas keterkenalan. Kalau mobil anda ditabrak mobil lain, tidak pantas jadi berita. Tetapi kalau mobil yang ditumpangi putri Diana ditabrak mobil lain, itu jadi berita dunia.


5. Asas kedekatan. Asas kedekatan ini bisa diukur secara geografis maupun kedekatan emosial. Banjir di Cina yang telah menghanyutkan ratusan orang, masih kalah nilai beritanya dibandingkan banjir yang melanda Jakarta, karena lebih dekat dengan kita.


6. Magnitude(dampak dari suatu peristiwa). Demonstrasi yang dilakukan oleh 10.000 mahasiswa tentu lebih besar magnitudenya dibanding demonstrasi oleh 100 mahasiswa.


7. Trend. Sesuatu bisa menjadi berita ketika menjadi kecenderungan yang meluas dimasyarakat. Misalnya, sekarang orang mudah marah dan mudah membunuh pelaku kejahatan kecil (pencuri, pencopet) dengan cara dibakar hidup-hidup.



Teknik Wawancara


Berita sebagai produk jurnalistik hanya bisa lahir dari fakta-fakta yang ada di masyarakat. Dan di balik fakta-fakta itu tentu ada aktornya. Untuk kelahiran sebuah produk jurnalistik yang sehat, jurnalis harus mampu membuat si aktor bicara. Cara efektif untuk itu, tidak ada lain, kecuali dengan jalan melakukan wawancara.


Dalam aktifitas jurnalistik, sebuah wawancara sudah barang tentu memerlukan berbagai sentuhan teknik dalam aplikasinya. Dan berbicara ikhwal teknik wawancara, tentu saja kita akan berhadapan dengan sesuatu yang dinamis bahkan progresif dan juga fleksibel. Artinya, teknik wawancara itu bukan merupakan sesuatu yang musti baku, kaku, apalagi sakral. Teknik itu berkembang secara dinamis seiring dengan perkembangan masyarakat. Karenanya, para jurnalis juga dituntuk untuk senantiasa memberdayakan diri sesuai tuntutan jaman.


Terpenuhinya prinsip-prinsip keberimbangan bagi sebuah berita, hanya bisa ditempuh dengan wawancara. Dan sekali lagi, hanya dengan wawancara, maka berita sebagai hasil karya jurnalistik akan memiliki daya hidup sekaligus bisa dipertanggungjawabkan. Sebab, dengan wawancara, fakta-fakta dari masyarakat yang dihimpun wartawan akan terekonstruksi dengan baik.


Namun, Wartawan tidak boleh mengabaikan anatomi persoalan yang terkait dengan temuan fakta-fakta tersebut di lapangan. Dan untuk persoalan-persoalan tertentu, Wartawan wajib memetakannya. Penyiapan anatomi persoalan itu bahkan merupakan langkah awal sebelum berlangsungnya sebuah wawancara. Bermutu tidaknya sebuah wawancara, biasanya justru lebih banyak ditentukan oleh hal tersebut. Misalnya, seorang Wartawan ingin mengetahui secara detail tentang posisi, peran dan sumbangan intelektual dalam mendorong demokrasi di Indonesia, maka Wartawan harus mampu menggambarkan bagaimana kaum intelektual Indonesia mengembangkan wacana yang beragam atas wacana resmi Orde Baru di sekitar tema-tema pokok "Pembangunan", "Dwi fungsi", "Demokrasi Pancasila","Persatuan dan kesatuan" serta "Sara". Itu yang penting !.


Dari sana akan bisa dibuat kategori-kategori intelektual Indonesia. Dan mungkin saja akan segera terpetakan adanya intelektual ortodoks, revisionis dan mungkin oposisionis. Secara demikian, setidaknya telah tercipta sarana pemahaman baru yang lebih memadai tentang intelektual Indonesia.


Untuk sampai pada pemahaman itu, seorang Wartawan harus memiliki referensi cukup tentang berbagai bidang yang diminati. Jadi, wawancara seorang jurnalis hanya akan sukses dan bermutu, manakala ia telah memiliki kesiapan seperti dimaksud. Namun, yang justru tampak rumit, adalah aktifitas di balik teknik wawancara itu.


Adapun teknik wawancara bisa dikelompokkan menjadi dua (2) bagian.


1. Teknik verbal yang betul-betul memerlukan alat bantu hard ware yang diperlukan.


2. Teknik substansial - teknik yang terkait dengan kemampuan jurnalis dari segi ketajaman nuraninya dalam menentukan pilihan tema, tempat dan saat yang tepat bagi berlangsungnya sebuah wawancara. Disini perlu adanya ketajaman analisis sosial.


Itulah pentingnya seorang Wartawan menguasai materi yang hendak diwawancarakannya terhadap narasumber. Hanya dengan cara seperti itu, ia mampu memperoleh informasi banyak dan akurat serta signifikan.


Konkritnya, beberapa hal dibawah ini bolehlah dianggap sebagai tip untuk menunjang suksesnya sebuah wawancara.


1. Wartawan harus memakai kalimat tanya yang bisa membuahkan jawaban obyektif.


2. Pertanyaan harus selalu diusahakan dengan menggunakan kalimat pendek dan mudah dimengerti.


3. Tidak boleh segan-segan mengajukan pertanyaan ulang atas hal-hal yang belum jelas untuk dimengerti.


4. Tahu momentum yang tepat. Juga tahu apa yang layak dan tidak layak untuk ditanyakan, sekaligus cara bertanya yang pas.


5. Jauhi pertanyaan yang bernada menggurui.


6. Hindari gaya interogasi.


7. Hindari pertanyaan yang sifatnya mencari legitimasi dari frame pemikiran yang sebetulnya sudah dimiliki.


8. Hindari pertanyaan yang bersifat menguji nara sumber.


9. Tumbuhkan sifat empaty dalam wawancara.


10. Untuk hal-hal yang spesifik, wartawan perlu terlebih dahulu memaparkan persoalan yang hendak dimintakan pendapat dari nara sumber.


11. Hindari kalimat tanya yang bersifat mengadu domba.


12. Buat pertanyaan yang mampu menggugah daya nalar, ingatan serta perspektif nara sumber.


Ke dua belas tips itu, mungkin akan menjadi jaminan suksesnya sebuah wawancara. Tetapi, mungkin juga takkan berguna apa-apa, jika tidak diimbangi dengan kemampuan jurnalistik individu yang mengoperasikannya. Karena itu pula, seorang jurnalis "haram" mendatangi nara sumber dengan kepala kosong.



Persyaratan Berita


Persyaratan wawancara berita, yaitu mempunyai tujuan yang jelas, efisien, menyenangkan, mengandalkan persiapan dan riset awal, melibatkan khalayak, menimbulkan spontanitas, pewawancara sebagai pengendali, dan mengembangkan logika.


Jenis-jenis wawancara berita, yaitu wawancara sosok pribadi, wawancara berita, wawancara jalanan, wawancara sambil lalu, wawancara telepon, wawancara tertulis, dan wawancara kelompok.


Pola wawancara berita, menurut Bruce D. Itule terdapat dua macam pola wawancara. Pertama, Funnel interview, yaitu pola wawancara yang disusun seperti bentuk corong atau cerobong. Pola wawancara seperti ini diawali dengan perbincangan. Kedua, interved funnel interview, yaitu pola wawancara yang disusun seperti cerobong terbalik. Reporter langsung menanyakan hal yang pokok tanpa memulai hal yang umum.



Syarat Judul Berita


Judul adalah pemicu daya tarik pertama bagi pembaca untuk membaca suatu berita. Judul berita yang baik harus memenuhi tujuh syarat, yaitu:




  • Provokatif


  • Singkat dan padat


  • Relevan


  • Fungsional


  • Formal


  • Representatif


  • Merujuk pada bahasa baku


  • Spesifik


Persiapan, Pelaksanaan Wawancara dan Beat Reporting


Ada beberapa persiapan yang harus anda lakukan sebelum melakukan wawancara, diantaranya:


Penentuan tema. Mengapa suatu tema harus diangkat? Kenapa harus sekarang? Pertama-tama tanyakan pada diri anda sendiri - mengapa kasus dibawakan sekarang? Dari awal harus sudah jelas peran apa yang akan anda bawakan - informasi apa yang anda mau dari narasumber, apakah perspektifnya, dimana mereka akan anda posisikan.


Menentukan Angle. Angle atau sudut pandang sebuah berita ini dibikin untuk membantu tulisan supaya terfokus. Kita tidak mungkin menulis seluruh laporan tentang apa yang kita lihat, atau menulis seluruh uraian yang disampaikan oleh narasumber. Tulisan yang tidak terfokus hanyalah akan membingungkan pembaca. Untk mebentukan angle salah satu cara yang termudah adalah membuat sebuah [pertanyaan tunggal tentang apa yang mau kita tulis. Jawaban pertanyaan tidak boleh melebar kemana-mana. Hal-hal yang tidak relevan dengan angle sebaiknya tidak ditanyakan. Jika ada informasi lain yang disampaikan maka bisa dibuat judul lain. Atau informasi yang sangat penting tersebut tidak cukup untuk dibuat dalam berita tersendiri, maka bikinlah sub judul.


Susunlah outline. Agar memudahkan dalam wawancara maka sebaiknya anda menyusun kerangka berita (outline) atau istilah yang lebih lazim flowchart. Outline berisi antara lain:


1. Tema berita


2. Angle


3. Latar belakang masalah


4. Narasumber


5. Daftar pertanyaan


Wawancara merupakan metode pencarian berita yang baik dan sangat penting bagi wartawan. Melalui metode ini lebih banyak informasi dapat digali. Wawancara memiliki keluwesan karena informasi yang diperoleh cenderung dianggap “sah” dan tidak diragukan kebenarannya sejauh menyebutkan atribusi dan nama sumbernya.


Wawancara adalah kegiatan pencarian informasi dengan cara menanyakan secara mendetil dan mendalam; memancing dengan pernyataan maupun mengkonfirmasi suatu hal, agar dapat diperoleh gambaran yang utuh tentang narasumber atau peristiwa maupun isu tertentu.


Wawancara dapat disamakan dengan obrolan. Namun ada perbedaan mendasar antara obrolan biasa dengan wawancara. Hal-hal yang membedakan tersebut adalah tujuannya, hubungan antara narasumber dan pewawancara, tata krama, dan batasan waktunya. Untuk dapat mempersiapkan dan melaksanakan wawancara dengan baik serta sesuai dengan tujuannya; kita perlu mengetahui jenis-jenis wawancara untuk berita, wawancara untuk features, dan orang terkenal, serta wawancara biografi.


Dalam situasi tertentu akan mendesak wawancara dapat dilkakukan dengan cara melalui telepon secara tertulis, atau wawancara secara serempak, dalam bentuk kelompok diskusi. Suatu wawancara dapat berlangsung dengan baik bila dipersiapkan dengan baik. Hal-hal yang harus dipersiapkan dalam wawancara adalah mempersiapkan diri dengan informasi yang berkaitan dengan permasalahan atau orang yang akan diwawancarai, mengkonfirmasi tentang tujuan wawancara dan jenis informasi yang harus diperoleh. Mempersiapkan mental untuk menghadapi situasi dan karakter narasumber, membaca berita terakhir dan memprediksi ke mana arah itu berkembang, merancang pertanyaan sebagai panduan wawancara, serta membuat janji wawancara dengan narasumber.



Beat Reporting


Beat reporting hádala sebuah bentuk treporting yang dilakukan di institusi-institusi/lembaga tempat reporter ditugaskan secara rutin.


Di lembaga mana pun beat reporter berada, prinsip kerja yang harus dipegang adalah mempersiapkan diri, siap siaga, gigih dan keras hati, siap di tempat, dan waspada.


Selain menggunakan metode yang secara khusus memang tumbuh dari dunia jurnalistik, reporter dapat pula menggunakan beberapa metode ilmu sosial seperti metode pengamatan terlibat, studi sistematis terhadap dokumen, eksperimen, dan poll opini publik



Mengumpulkan Informasi dengan Tepat


Ketidak akuratan (kesalahan) dalam pemberitaan kebanyakan disebabkan oleh kelalaian (kesembronoan) yang tidak disengaja. Seorang reporter mungkin tidak menggunakan waktu secukupnya untuk mengecek informasinya sebelum menulis berita. Kemudian ia salah menuliskan nara sumber berita.


Seorang wartawan kawakan akan mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghindari kesalahan fakta:


Bila anda mewawancarai seseorang, tanyakan nama, umur, alamat, dan nomor teleponnya. Setelah mengumpulkan informasi, ejalah namanya dan bacakan informasi yang anda peroleh (tangkap) sehingga sumber berita bisa mengoreksinya. Nomor telepon tidak ditulis dalam berita, namun reporter harus mengetahuinya untuk mengadakan kontak dengan sumber berita tersebut.


Bila informasi nara sumber anda peroleh dari tangan kedua, harap dicek pada sumber berita untuk membetulkannya.


Jangan sekali-kali beranggapan bahwa bahwa anda mengetahui semuanya. Anda selalu harus mengecek ulang setiap informasi yang penting.


Bila tulisan anda menyangkut materi yang rumit, pastikanlah dulu bahwa anda mengetahui hal itu.


Umumnya seorang wartawan mengambil peranan sebagai seorang pembaca kebanyakan, dan megajukan pertanyaan sesuai dengan posisi itu.


Bila menggunakan statistik atau data matematis, reporter harus mengecek angka-angkanya dan menghitung. Banyak wartawan yang berdalih bermacam-macam bila seorag pembaca yang kritis mengirim surat ke redaksi dan menunjukkan perhitungan yang keliru dalam tulisan wartawan.


Statistik harus dicermati benar dengan penuh kecurigaan. Anda bisa membuktikan apa saja dengan statistik, tergantung bagaimana cara anda menyajikannya dan apa saja yang anda masukkan atau tinggalkan. Tanyakanlah kepada sumber secara cermat untuk meyakinkan kebenaran angka-angka tersebut.


Seorang reporter tidak boleh membiarkan dirinya menjadi alat untuk menipu masyarakat. Kekritisan dan pengecekan yang teliti sering bisa menghindarkan hal itu terjadi.



Teknik Penulisan Berita


Setelah mendapat informasi dari lapangan, maka tugas reporter selanjutnya adalah menyampaikan informasi tersebut kepada pembaca secara cepat, jelas, dan akurat.



Unsur-Unsur Suatu Berita


Berita yang baik umumnya harus memenuhi unsur: 5 W + 1 H


Yakni: (Who, What, Where, When, Why) + How


Atau : (Siapa, Apa, Dimana, Kapan, Mengapa) + Bagaimana



Kriteria Khusus:


Kebijakan redaksional/misi media. Masing-masing media memiliki kebijakan redaksional dan misi yang berbeda.


Pendekatan keamanan (ancaman pembredelan, dan sebagainya). Berita yang mengkritik keras korupsi dan kolusi antara penguasa dan pengusaha bisa berujung pada pembredelan atau teguran terhadap media yang bersangkutan. Atau bisa memakan korban wartawan media itu sendiri, seperti kasus yang menyebabkan terbunuhnya wartwan Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin.


Kepekaan masyarakat pembaca dan kemungkinan dampak negatif berita terhadap pembaca. Misalnya untuk isu-isu yang menyangkut SARA (suku, Agama, Ras, dan antar golongan). Atau bisa menyinggung perasaan atau martabat pembaca.



Beberapa Macam Berita:


Dari segi sifatnya, kita kenal dua macam: Hard News dan Soft News.


Hard News/Straight News


Berita yang lugas, singkat, langsung kepokok persoalan dan fakta-faktanya. Biasanyaharus memenuhi unsur 5W+1H secara ketat dan harus cepat-cepat dimuat, karena terlamba sedikit bisa basi. Istilah Hard News lebih mengacu pada isi berita, sedangkan istilah Straight News lebih mengacu pada cara penulisannya (struktur penulisanya).


Soft News


Berita yang dari segi struktur penulisannya relatif lebih luwes, dan dari segi isi tidak terlalu berat. Soft news umumnyatidak terlalu lugas, tidak kaku, atau ketat khususnya dalam soal waktunya. Misalnya tulisan untuk menggambarkan kesulitan yang dihadapi rakyat kecil akibat krisis ekonomi. Selama krisis ekonomi masih berlanjut, berita itu bisa diturunkan kapan saja. Biasanya lebih banyak mengangkat aspek kemanusiaan (human interest).


Dari segi bentuknya, soft news masih bisa kita perinci lagi menjadi dua: News Features dan Feature. Feature adalah teknik penulisan yang khas berbentuk luwes, tahan lama, menarik, strukturnya tidak kaku, dan biasanya megangkat aspek kemanusiaan. Pada hakekatnya penulisan feature adalah seorang yang berkisah. Ia melukis gambar dengan kata-kata, ia menghidupkan imajinasi pembaca, ia menarik pembaca kedalam cerita dengan mengidentififkasikan diri dengan tokoh utama. Panjang tulisan feature bervariasi dan boleh ditulis seberapa panjang pun, sejauh masih menarik.


Sedangkan News Feature adalah Feature yang mengandung unsur berita. Misalnya tulisan yang menggambarkan peristiwa penangkapan Tommy Suharto oleh polisi, yang diawali dengan penyadapan telepon dengan bantuan Roy Suryo seorang pakar Multimedia dan Komunikasi, pembongkaran ruang bawah tanah, sampai proses tertangkapnya disajikan secara seru, menarik, dan dramatis. Seperti menonton film saja.



Struktur Penulisan Berita


Hard news/straight news biasanya ditulis dalam bentuk struktur "piramida terbalik" yakni inti berita ditulis pada bagian paling awal, dan hal-hal yang tidak penting ditulis belakangan.


Soft news, News Feature dan Feature ditulis dengan gaya yang tidak kaku. Hal-hal yang penting bisa ditulis di bagian awal, namun juga tidak mutlak. Yang pening tetap menarik untuk dibaca. Lebih jauh mengenai teknik penulisan Feature akan dibahas pada pertemuan berikutnya.



Penulisan Judul


Judul merupakan inti dari teras berita. Judul harus jelas, mudah dimengerti dengan sekali baca dan menarik, sehingga mendorong pembaca untuk mengetahui lebih lanjut isi tulisan. Selain itu judul juga harus menggigit, perlu kejelasan makna asosiatif setiap unsur Subyek, Obyek, dan Keterangan.


Panjang judul maksimal dua baris terdiri atas empat hingga enam kata. Bila panjang judul satu baris, maksimal terdiri atas lima kata. Untuk judul berita utama maksimal lima kata.


Semua kata di dalam judul dimulai dengan huruf besar, kecuali kata sambung seperti dan, di, yang, bila, dalam, pada, oleh, dan kata tugas lainnya yang ditentukan redaksi.


Penulisan judul tidak boleh dimulai dengan angka. Hindari penggunaan singkatan yang tidak populer. Judul bersifat tenang dan tidak bombastis.


Riset/Latar Belakang Informasi


Ø Mewawancarai adalah sebuah seni mendapatkan informasi, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang kebenaran, dengan cara/ jenis yg beragam. (Lihat jenis wawancara sesuai tujuannya)


Ø Aturan pertama mewawancarai adalah : “mengetahui siapa yang diwawancara & mengapa diwawancara”.


Ø Tetapkan apa yg ingin diharapkan dari wawancara


Ø Langkah selanjutnya melakukan riset, sampai sedalam apa riset, disesuaikan dengan tujuan & jenis wawancara.



Pointers & Check List


Ø Pointers


- Pointers adalah point-point mengenai subyek yang akan dikembangkan dalam wawancara.


- Point-point ini adalah ide-ide umum yang terjadi di lapangan untuk dibahas, namun masih dalam lingkup/ fokus interview.


- Lebih baik menyiapkan pointers dari pada daftar pertanyaan yang terinci, agar jalannya wawancara berlangsung alamiah, spontan, tidak kaku. (kecuali ada pertanyaan yg sensitif/ berbahaya ditulis dg ringkas)


- Dalam membuat pertanyaan harus pertanyaan terbuka, bukan pertanyaan yang jawabannya ya atau tidak


- Susun pertanyaan dari yang mudah/ netral ke pertanyaan yg sulit/ antagonis


- Buat pertanyaan yg jelas dan tidak menimbulkan salah interpretasi/ bermakna ganda


- Pertanyaan harus fokus dan menjawab pertanyaan bagaimana & mengapa


- Jangan menanyakan pertanyaan yg mudah diprediksi, karena narasumber akan memberikan jawaban yg mudah diprediksi pula (mis. Bagaimana perasaan anda, dst)


- Gunakan bahasa yang lazim/ terjemahkan istilah asing


- Tanyakan pertanyaan yg relevan ditanyakan kepada narasumber (sesuai dengan keahliannya)


- Tanyakan pertanyaan yg kita tau jawabannya


- Tanyakan pertanyaan lanjutan untuk mengklarifikasi,


- Chek kembali bila menggunakan data statistik serta tanggal-tanggal


- Tanyakan contoh-contoh sebagai penjelasan


- Buat pertanyaan yg logis dari segi penggalan waktu


- Jangan pernah mengikuti permintaan narasumber untuk memberikan pertanyaan/ pointers sebelum wawancara dimulai


- Jangan melakukan latihan wawancara sebelum wawancara resmi dimulai


- Dengan pertimbangan etika, pastikan ada kesepahaman dengan narasumber mengenai pertanyaan yg tidak boleh muncul.



Check List


Persiapan


- Pastikan secara spesifik informasi yg diperlukan


- Riset tentang subyek


- Siapkan pertanyaan umum seputar subyek


- Mengetahui latar belakang informasi yg relevan tentang narasumber


- Mengetahui keahlian narasumber


- Siapkan waktu & tempat wawancara yg netral & nyaman,


- Sesuaikan wawancara dengan kebutuhan berita & sudah dibicarakan dengan cameraman



Wawancara Hard News


- Baru/aktual


- Singkat


- To the point


- Hanya menggali fakta-fakta penting


- Untuk kebutuhan utama berita


(Pointers yg disiapkan untuk wawancara hard news disesuaikan dengan kebutuhan fakta-fakta penting & utama)




Ketika bertemu Narasumber & Wawancara


- Pastikan posisi duduk sudah sesuai


- Pastikan posisi kamera sudah sesuai


- Brief narasumber dengan percakapan ringan


- Bicarakan sebelum wawancara apabila ada hal-hal sensitif


- Jangan memberi kesan mengancam narasumber lewat nada bicara


- Buat catatan kecil hal-hal yg penting



Usai Wawancara


- Tanyakan apakah ada data yg ingin ditambahkan


- Cek kembali ejaan, tanggal, angka statistik, kutipan-kutipan


- Katakan masih akan menghubungi apabila masih kurang


- Beri tahu narasumber kapan akan di tayangkan


- Catat informasi yg berhubungan



Persiapan Teknis Wawancara TV


- Siapkan equipments selengkap mungkin (camera, tripod, mikrofon/ clip on, batere, tool kit, dst)


- Usahakan tiba lebih awal, agar memiliki waktu untuk menyiapkan segala sesuatu & lebih tenang/ rileks


- Bertindaklah profesional dan percaya diri


- Bicarakan hal-hal yg ringan untuk mencairkan suasana dan mencatat latar belakang informasi


- Jagalah bahasa tubuh, yang hangat, tidak menakutkan/ bersahabat,


- Buatlah narasumber merasa dia orang yg ahli yg kita perlukan



Untuk berita hard news :


Tipe Shot & framming


- Medium Shot


- Medium close up


- Profile (tidak frontal)


- Over shoulder


- Arah pandangan narasumber melihat ke luar layar


- Arah pandangan pewawancara berlawanan/ seolah berhadapan



Cutaway/Insert


Jika hanya menggunakan satu kamera, maka harus disiapkan gambar insert (wajah pewawancara) Untuk menjembatani antara pewawancara & narasumber dalam proses editing. Ini disebut cutaway, gunanya apabila ada isi wawancara harus diedit menjadi tidak jump cut

blog comments powered by Disqus

Poskan Komentar



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER