Kamis, 06 Agustus 2009

Tujuan Instruksional umum:Evolusi Manusia

TATAP MUKA 3 - 4


EVOLUSI MANUSIA


Tujuan Instruksional umum:Evolusi Manusia


Mahasiswa dapat memahami Evolusi mahluk hidup



Tujuan Instruksional Khusus:


Setelah mempelajari modul ini mahasiswa diharapkan mampu untuk dapat menjelaskan sejarah asal usul manusia dalam sudut pandang ilmiah dan menkaji perkembangan yang terjadi.


3-4.1. PENGERTIAN DAN TEORI YANG TERKAIT


Dipandang dari sudut biologi, manusia hanya merupakan suatu macam mahluk diantara lebih dari sejuta mahluk lain yang pernah atau masih menduduki alam dunia ini. Pada pertengahan abad ke 19 ahli biologi C. Darwin mengumumkan teori tentang proses evolusi manusia. Menurut teorinya, bentuk-bentuk hidup tertua di muka bumi ini terdiri dari mahluk-mahluk satu sel yang sangat sederhana, seperti misalnya prozoa. Dalam jangka waktu beratus-ratus juta tahun lamanya timbul dan berkembang bentuk-bentuk hidup berupa mahluk-mahluk dengan organisasi yang makin lama makin kompleks, dan pada kurun waktu terakhir ini telah berkembang atau berevolusi mahluk-mahluk seperti kera dan manusia.


Dalam proses evolusi biologi yang telah berlangsung sangat lama itu. Banyak bentuk mahluk yang sederhana itu telah hilang dan punah dari muka bumi. Akan tetapi, banyak juga yang dapat bertahan macamnya dan hidup langsung sampai sekarang. Sedangkan bentuk-bentuk mahluk baru yang bercabang dari bentuk-bentuk yang lama itu menjadi sekian banyaknya, hingga jumlah mahluk yang sekarang menduduki bumi kita ini hampir mendekati angka satu juta.


Untuk mendapat suatu pengertian tentang jumlah aneka warna yang sebesar itu, para ahli biologi telah membuat suatu sistem klasifikasi dimana semua mahluk di dunia telah mendapat tempat yang sewajarnya berdasarkan atas morfologi dari organismenya. Bersama dengan beribu-ribu macam mahluk lain, manusia menyusui keturunannya. Dan berdasarkan ciri-ciri itulah manusia diklaskan bersama mahluk-mahluk lain tersebut ke dalam satu golongan, yaitu kelas binatang menyusui (mammalia).


Dalam kelas mammalia ini terdapat satu sub golongan atau suku, yaitu suku primat. Pada suku ini, semua jenis kera, mulai dari yang kecil sampai yang besar, diklaskan menjadi satu dengan manusia.


Sebelum zaman Darwin, para ahli biologi telah lama mengobservasi banyaknya persamaan ciri-ciri antara organisma kera dengan organisma manusia.








Suku Subsuku Infrasuku Keluarga Jenis Ras



image001 Australoid


image002 image001 image001 image001 image003 Homo Mongoloid Sapiens Caucasoid


image002 image001 image004 image001 Hominidae Neandertal Negroid


image003 image001 image005 image001 image001 Hominoid Ramapi- Pithecantropus


thecus


image006 image001 image007 image001 image002P Anthropoid Pongidae


image001R Cercopithecoid


image003 image001 I Ceboid


M


image001 image005A Tarsii formes


image001T Lorisiformes


image003 image001 image001 Porsimii Daubentonoid


image001 Tupaioid


image001 Lemuroid



Oleh para ahli biologi, manusia ditempatkan ke dalam subsuku Antropoid. Infrasuku Ceboid menggolongkan menjadi satu semua kera, baik yang sudah punah maupun yang masih hidup langsung di daerah tropik di benua Amerika. Infrasuku Cercopithecoid menggolongkan menjadi satu semua kera baik yang sudah punah maupun yang masih hidup langsung di daerah tropik di benua Asia dan Afrika. Sedangkan infrasuku Hominoid menggolongkan menjadi satu kera-kera besar dengan manusia.



3-4.2. EVOLUSI MAHLUK PRIMAT




  1. Evolusi Ciri-ciri Biologi

Dalam proses evolusi bentuk-bentuk mahluk yang baru timbul sebagai proses pencabangan dari bentuk-bentuk mahluk yang lebih tua. Dalam proses tersebut ciri-ciri biologi yang baru berwujud pada organisma suatu mahluk tertentu dan menyebabkan terjadinya bentuk yang agak berbeda dari bentuk organisme induk yang lama. Bentuk baru tadi terus berubah, dan dalam jangka waktu yang cukup lama perbedaan bentuk organisma mahluk induk yang lama dengan mahluk cabang yang baru makin lama makin besar.


Menurut para ahli biologi, ciri-ciri biologi itu dapat berubah karena termaktub di dalam gen (gene). Organisma dari semua mahluk di dunia, tidak hanya mahluk satu sel tetapi juga kera dan manusia terdiri dari sel. Pada mahluk yang organismanya kompleks seperti kera dan manusia, jumlah selnya mencapai 10 trilyun banyaknya. Serta bentuk dan macam sel-sel tsb berbeda menurut fungsi dan tugasnya dalam masing-masing organisma.


Meskipun demikian, setiap sel memiliki inti yang sama. Setiap sel manusia terdiri dari 46 bagian berupa ulat-ulat kecil yang terdiri dari serat-serat berspiral. Ulat-ulat kecil itu disebut kromosom. Pad kromosom-kromosom inilah terletak beribu-ribu pusat kekuatan dengan berbagai macam struktur biokimia yang khas, yang menjadi sebab dari segala ciri organisma mahluk yang bersangkutan.


Satu pusat kekuatan itulah yang disebut gen. Satu gen atau kombinasi beberapa gen menjadi penyebab dari satu ciri lahir dari organisma. Sedangkan adapula satu gen yang menjadi penyebab dari satu adanya beberapa ciri lahir.


Pada waktu konsepsi, apabila sel sperma berpadu dengan sel telur, maka akan terjadi suatu sel buah (zygote). Seluruh tubuh organisma baru akan timbul dari zygote tadi, dengan suatu proses yang disebut mitosis. Tiap-tiap kromosom akan membelah menjadi 2 sehingga timbul 2 sel baru. Ke 2 sel baru tadi melalui proses yang sama akan menjadi 4 sel yang baru, demikian seterusnya hingga terjadi beberapa trilyun sel yang merupakan bahan dari suatu organisma lengkap.


Dari ciri-ciri ayah dan ibu yang kebetulan dibawa oleh selo-sel sex, tidak semua akan tampak dalam organisma yang baru. Melainkan hanya ciri-ciri pada gen yang kuat (dominan) yang akan tampak. Sedangkan ciri-ciri pada gen yang tidak kuat (resesif) tidak akan tampak pada organisma yang baru.


Sungguhpun demikian, dalam kenyataan kita lihat bahwa kelompok-kelompok manusia yang mula-mula berasal dari sepasang nenek moyang, pada proses membanyak dan menyebar selalu menunjukan perbedaan ciri-ciri. Proses percabangan yang menimbulkan ciri-ciri baru dan terjadinya organisma-organisma baru tetapi gen nenek moyang tetap tersimpan. Percabangan ini terjadi karena beberapa proses evolusi yang menurut analisa para ahli biologi dapat dibagi ke dalam 3 golongan, yaitu:


1. Proses mutasi, yakni suatu proses yang berasal dari dalam organisma. Suatu gen yang telah lama diturunkan dari angkatan ke angkatan beribu-ribu tahun lamanya, pada suatu ketika pada saat gen itu dibentuk pada suatu zygote yang baru dapat berubah sedikit sifatnya. Akibatnya ialah bahwa individu baru yang tumbuh dari zygote tadi akan mendapat suatu ciri tubuh baru yang tidak ada pada nenek moyangnya.


2. Proses seleksi dan adaptasi, adalah suatu proses evolusi yang berasal dari sekitar alam.


3. Proses menghilangnya gen secara kebetulan (random genetic drift).




  1. Proses Percabangan Mahluk Primat


Manusia itu merupakan suatu jenis mahluk yang telah bercabang melalui proses evolusi dari semacam mahluk primat. Asal mula dan proses evolusi mahluk manusia secara khusus dipelajari dan diteliti oleh suatu sub ilmu dari antropologi biologi, yaitu ilmu paleoantropologi. Dengan menggunakan sebagai bahan penelitian bekas-bekas tubuh manusia yang berupa fosil yang terkandung dalam lapisan-lapisan bumi.


Namun karena manusia merupakan suatu cabang yang paling muda dari mahluk primat, maka asal mula dan proses evolusinya tidak dapat dilepaskan dari seluruh proses percabangan dari mahluk-mahluk primat. Walaupun masih banyak perbedaan pendapat antara para ahli paleoantropologi mengenai berbagai aspek dari proses percabangan itu, tetapi akhir-akhir ini mereka telah sepaham mengenai garis besar proses tsb.


Selain menganalisa data mengenai fosil-fosil kera dan manusia yang tersimpan dalam lapisan bumi, mereka juga mempergunakan data ilmu-ilmu lain seperti paleogeografi (ilmu bumi zaman purba) dan paleoekologi (ilmu tentang lingkungan), serta metode analisa potassium-argon (metode analisa terbaru mengenai umur dari lapisan-lapisan bumi) dan geologi.


Menurut penelitian-penelitian paling akhir, mahluk pertama dari suku primat muncul di muka bumi sebagai suatu cabang dari mahluk mammalia. Kira-kira 70 juta tahun yang lalu di dalam suatu zaman yang oleh para ahli geologi disebut Kala Paleosen Tua (kala paleosen adalah salah satu masa dalam perkembangan kulit bumi menurut umurnya dari yang paling tua hingga yang paling muda ke dalam kala-kala). Dalam masa yang amat lama, mahluk primat induk tadi bercabang lebih lanjut ke dalam berbagai subsuku dan infra suku khusus. Dan diantarnya telah terjadi proses percabangan antara kera-kera pongid atau kera-kera besar dari keluarga hominid yang mempunyai anggota nenek moyang manusia.


Telah terjadi paling sedikit 5 proses percabangan. Percabangan yang tertua, timbul kira-kira 30 juta tahun lalu dalam kala eosen akhir, adalah percabangan yang mengevolusikan kera gibon (hylobatidae).


Cabang yang timbul kemudian, pada permulaan kala miosen kira-kira 20 juta tahun yang lalu, adalah kera pongopygmeus (orang utan). Daerah asal orang utan adalah Afrika Timur, yang ketika itu masih menjadi satu dengan daerah Arab, hingga terletak lebih dekat pada Asia Selatan. Vegetasi di Afrika Timur waktu itu belum berupa sabana dengan gerombolan-gerombolan hutan yang jarang seperti halnya yang sekarang.


Orang utan tinggal di pucuk-pucuk pohon besar, bebas dari gangguan mahluk hutan rimba lainnya. Orang utan membiak dan menyebar melalui pucuk-pucuk pohon-pohon besar didaerah hutan rimba di Asia Barat Daya, Asia Selatan, hingga Asia Tenggara dalam jangka waktu satu dua juta tahun lamanya.


Kira-kira pada akhir kala miosen terjadi beberapa perubahan besar pada kulit bumi dan pada lingkungan alamnya. Benua Afrika membelah dari Asia, dan dalam proses tsb terjadilah Laut Merah dan belahan bumi berupa lembah yang dalam, bernama Great Rift Valley yang merupakan pemisah alam secara ekologi yang membujur dari Utara ke Selatan antara Afrika Barat dan Afrika Timur.


Proses perubahan besar lainnya adalh menyempitnya daerah hutan rimba Afrika yang menyebabkan lingkungan alam Afrika Timur menjadi sabana. Terjadinya gurun di daerah Arab serta berkurangnya daerah hutan rimba di India. Kera orang utan tadi, tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan besar dalam lingkungan alamnya tadi. Lalu menghilang dari Afrika, Asia Barat Daya, dan Asia Selatan, tetapi dapat bertahan di Asia Tenggara dimana hutan rimba lebat masih ada. Sampai sekarang sisa-sisanya yang terakhir hidup di hutan rimba di Kalimantn Barat dan Tengah.


Cabang ke 3 adalah sejenis mahluk yang menurut perkiraan para ahli menjadi nenek moyang manusia. Percabangan ini terjadi kira-kira 10 juta tahun yang lalu pada bagian terakhir dari kala miosen. Fosil-fosil mahluk ini menunjukan sifat yang lain daripada yang lain. Yaitu ukuran badan raksasa yang jauh lebih besar daripada kera gorila yang hidup sekarang.


Fosil-fosil itu ditemukan di bukit Siwalik di kaki Himalaya, dekat Simla (India Utara), dan dilembah Bengawan Solo di Jawa. Oleh para ahli fosil-fosil itu disebut Gigantanthropus (kera manusia raksasa). Para ahli memperkirakan bahwa kera manusia raksasa ini juga hidup dalam kelompok-kelompok seperti halnya jenis-jenis kera besar lainnya, dengan demikian dapat tahan hidup, membiak, dan seperti orang utan juga menyebar dari Afrika ke Asia Selatan dan Tenggara.


Namun karena perubahan-perubahan alam yang terjadi dalam bagian akhir kala miosen, maka sepeerti halnya orang utan juga, kera manusia raksasa ini menghilang dari Afrika dan Asia Selatan dan hanya bertahan di Asia Tenggara, hingga akhirnya kandas juga disana karena sebab-sebab yang belum dapat diketahui.


Cabang ke4 adalah cabang-cabang kera pongid yang lain yaitu gorila dan chimpanze yang terjadi kira-kira 12 juta tahun yang lalu pada akhir kala miosen. Kedua mahluk kera dari Afrika ini dapat menyesuaikan diri dengan berevolusi mengembangkan organisma yang dapat hidup pohon maupun di darat. Percabangan khusus atau spesialisasi biologi antara gorila dan chimpanze terjadi karena perkembangan dari 2 lingkungan ekologi yang khusus di Afrika Tengah sebelah Timur dari sungai Niger, dan di Afrika Barat sebelah barat dari sungai itu. Di daerah hutan di Afrika Tengah tadi berlangsung evolusi organisma dari kera gorila, sedangkan di daerah hutan Afrika Barat berlangsung evolusi organisma chimpanze.


Proses percabangan berikut terjadi di Afrika Timur timbul dari evolusi mahluk gigantanthropus, sebelum kera-kera manusia raksasa ini menghilang dari benua Afrika. Cabang inilah yang menurut para ahli akan berevolusi menjadi mahluk manusia. Mahluk yang akan menurunkan manusia ini berhasil menyesuaikan diri dengan proses menghilangnya hutan rimba di Afrika Timur dan proses timbulnya sabana-sabana terbuka dengan hutan-hutan terbatas dan gerombolan-gerombolan belukar tersebar disana sini.





  1. Mahluk Primat Pendahuluan Manusia


Kira-kira seabad yang lalu para ahli biologi dan paleoantropologi masih mengira soal siapakah nenek moyang manusia, dapat dipecahkan dengan usaha menemukan sejenis mahluk yang telah kandas, yang merupakan penghubung antara kera dan manusia dalam silsilah hidup. Dengan demikian usaha terpenting dari para ahli tsb adalh mencari mahluk penghubung yang hilang (missing link), dalam silsilah perkembangan alam mahluk di muka bumi.


Sekarang dengan kemajuan-kemajuan di bidang ilmu paleoantropologi dan geologi, konsepsi para ahli mengenai soal missing link itu sudah berubah. Mahluk itu sudah tidak lagi dipandang sebagai suatu mahluk yang berada di antara kera dan manusia, tetapi sebagai seekor mahluk pendahuluan (precursor) atau mahluk induk yang mendahului baik kera-kera besar (pongid) maupun manusia. Kedua-duanya hanya merupakan spesialisasi khusus dari mahluk induk tadi. Kecuali itu, karena proses percabangan antara berbagai jenis kera besar dengan manusia itu tidak terjadi hanya satu kali melainkan beberapa kali dan di beberapa tempat, maka dengan demikian sebenarnya ada lebih dari satu mahluk induk.








Konsepsi lama Konsepsi baru



image008 image008 image009 image008 Manusia kera-kera besar manusia



image008 image008 Missing link mahluk induk



Kera mahluk induk



Penelitian paleoantropologi pada permulaan abad 20, para ahli sudah mempunyai pendirian yang cukup mantap mengenai mahluk induk ini. Mahluk primat yang dianggap menurunkan jenis-jenis kera besar seperti orang utan, gorila dan chimpanze, maupun manusia adalah seekor mahluk yang fosilnya berupa rahang bawah ditemukan di Saint Gaudens, Perancis Selatan, pada pertengahan abad yang lalu.


Mahluk yang oleh para ahli diberi nama dryopithecus itu hidup dalam akhir kala oligosen serta permulaan kala miosen, kira-kira 21 juta tahun yang lalu, di hutan-hutan di daerah yang kini menjadi Eropa Selatan dan Afrika Utara.


Pengetahuan para ahli mengenai nenek moyang yang langsung dari manusia kini sudah mulai cukup mantap. Mahluk yang dapat disebut pendahuluan manusia itu adalah mahluk yang sudah dapat berjalan tegak di atas kedua kaki belakangnya secara lama terus menerus sepanjang jarak yang cukup jauh. Yang hidup dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari rata-rata 8 -10 individu. Dan yang secara berkelompok telah dapat melawan binatang-binatang penyaing yang lain.


Mahluk primat yang menurut wujud fosil-fosilnya menunjukan ciri-ciri tsb adalah mahluk yang pertama kali ditemukan pada tahun 1924 di Taungs, sebelah Utara Kimberley di Afrika Selatan. Oleh para ahli paleoantropologi mahluk itu disebut Australopithecus (kera dari Selatan).


Sekarang telah ditemukan lebih dari 65 fosil dari mahluk tsb. Semuanya di Afrika Selatan dan Timur. Beberapa diantaranya diperkirakan hidup dimuka bumi ini lebih dari 10 juta tahun yang lalu. Fosil dari keluarga Australopithecus yang akhir-akhir ini dalam tahun 1959 ditemukan , adalah fosil dari lembah Oldovai di Tanzania di Afrika timur. Fosil ini di analisa oleh L.S.B. Leaky dengan menggunakan metode baru untuk menganalisa umur dari lapisan bumi, yaitu metode potassium argon.


Hasil analisa ini adalah kesimpulan bahwa mahluk yang diberinya nama khusus yakni Zinjanthropus, itu hidup didaerah-daerah sabana di Afrika Timur kurang lebih 2 juta tahun yang lalu. Ia merupakan mahluk induk manusia jenis Australopithecus yang paling dekat. Pada masa 2 juta tahun yang lalu itu bumi mengalami suatu masa dalam sejarah perkembangan kulit bumi yang berbeda dengan sekarang. Yaitu suatu kala Es di daerah-daerah Utara dan Selatan, dan suatu kala kering di daerah tropik.


Kala Es atau kala Glasial adalah zaman ketika seluruh Eropa Utara sampai kira-kira garis pegunungan Alp di negara Swiss sekarang. Ketika sebagian dari Asia Utara ke seluruh Kanada dan Amerika Utara sampai kira-kira garis daerah danau Michigan sekarang. Dan ketika pucuk Selatan Amerika Selatan tertutup dengan lapisan-lapisan es yang tebal (gletcher).


Selama tiap kala glasial, daerah tropik bersifat lebih kering dari waktu kala interglasial, dan hutan-hutan rimba tropik berkurang padatnya dan berubah menjadi daerah padang rumput dengan gerombolan-gerombolan hutan yang tersebar.





  1. Bentuk-bentuk Manusia tertua


Bumi Indonesia telah memberi sumbangan sangat banyak kepada dunia ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah asal mula manusia. Karena di dalam kandungannyalah ditemukan bekas-bekas manusia yang tertua.


Tahun 1898 seorang dokter Belanda, Eugene Du Bois telah mendapatkan di lembah sungai Bengawan Solo, di dekat desa Trinil di Jawa Timur, sekelompok tengkorak atas, rahang bawah, dan sebuah tulang paha. Tengkorak atas seolah-olah sebuah tengkorak seekor kera besar. Isi otaknya jauh lebih besar bila dibandingkan dengan jenis kera manapun yang terkenal sekarang. Akan tetapi jauh lebih kecil daripada isi otak manusia. Gigi-giginya pun menunjukan sifat manusia, sedangkan bentuk tulang pahanya menunjukan bahwa mahluk itu berdiri tegak. Du Bois memberikan nama Pithecanthropus Erectus (manusia kera yang berjalan tegak), kepada fosil itu. Dan menganggapnya contoh daripada nenek moyang manusia zaman sekarang.


Pada tahun1931 dan 1934, geologi Jerman G.H.R. von Konigswald menemukan 14 fosil Pithecanthropus di utara Trinil. Ahli paleoantropologi Indonesia Teuku Jacob yang meniliti 14 fosil itu menyebutnya Pithecanthropus Soloensis. Umurnya diperkirakan antara 800 ribu - 200 ribu.


Dua buah penemuan lain dalam tahun 1936 di desa Perning dekat Majakerta dan di desa Sangiran dekat Surakarta, mempunyai arti yang sangat khusus. Karena kedua fosil itu diperkirakan berumur 2 juta tahun. Fosil-fosil itu disebut Pithecanthropus Majakertensis.


Pada tahun1941 di dekat desa Sangiran ditemukan fosil yang bagian rahang bawahnya bersifat rahang manusia, tetapi ukurannya luar biasa besarnya melebihi ukuran gorila laki-laki. Karena besarnya fosil tsb maka diberi nama Meganthropus Paleojavanicus.


Pecahnya perang Dunia II di Asia setahun kemudian menyebabkan bahwa penelitian terhadap fosil tsb tidak dapat dilanjutkan. Usia fosil itu sangat tua 2 juta tahun. Dengan demikian jumlah fosil Pithecanthropus seluruhnya yang dimiliki oleh dunia ilmiah ada 41 buah.


Di luar Indonesia juga ditemukan beberapa fosil yang banyak menunjukan persamaan dengan fosil Pithecanthropus Erectus. Tahun 1927 & 1936 di dekat gua Chou Kou tien sebelah Barat Peking ditemukan fosil-fosil tab, dan diberi nama Pithecanthropus Pekinensis.


Teuku Jacob meragukan bahwa mahluk Pithecanthropus sudah memiliki kebudayaan. Karena tidak pernah ditemukan bekas alat-alat didekat fosil tsb, selain itu volume otaknya masih terlampau kecil dibandingkan dengan mahluk manusia sekarang. Dan yang lebih penting lagi bahwa rongga mulut Pithecanthropus menunjukan mahluk itu belum dapat menggunakan bahasa. Walaupun Ia juga tidak menyangkal bahwa mahluk tsb mungkin sudah mulai mempergunakan alat-alat batu atau kayu yang dipungutnya. Namun tanpa bahasa suatu kapasitas otak yang memungkinkan aktivitas akal tidak mungkin menggunakan alat-alat tadi menjadi pola mantap yang dikonsepsikan oleh mahluk tadi secara sadar.


Pithecanthropus dan Meganthropus oleh para ahli dianggap sebagai mahluk pendahuluan manusia di kawasan luas Asia khususnya Asia Tenggara. Sementara itu mahluk Pithecanthropus berevolusi terus. Isi otaknya menjadi lebih besar. Dan suatu hal yang istimewa adalah bahwa beberapa bagian organismanya seperti tenggorokan, rongga mulut, lidah dan bibir, berevolusi menjadi sedemikian rupa sehingga ia dapat membuat variasi suara yang makin lama makin banyak dan kompleks. Sehingga terjadi bahasa.


Rupa-rupanya evolusi organisma yang memungkinkan berkembangnya bahasa itu didorong oleh kebutuhan untuk mempunyai suatu sistem komunikasi yang kompleks dan berkembang karena terdorong oleh kebutuhan untuk melaksanakan suatu sistem pembagian kerja yang kompleks. Dalam usahanya untuk memburu berbagai macam binatang yang sering jauh lebih kuat dan cepat darinya. Pithecanthropus tadi terpaksa mengembangkan sistem pembagian kerja diantara individu dalam kelompok berburu yang kecil itu.


Sistem pembagian kerja hanya dapat menjadi makin kompleks bila komunikasi antara warga kelompok dapat ditingkatkan menjadi makin lama makin kompleks pula.


Bahasa juga menyebabkan lebih berkembangnya otak, begitu juga sebaliknya. Teuku Jacob menganggap bahwa kedua unsur dalam kehidupan manusia yaitu akal dan bahasa merupakan landasan yang memungkinkan kebudayaan berevolusi.










image010




image011 Kebudayaan


M


A


N otak akal


image012 image013U


I organisma


A utk bicara bahasa


image014


image015 image016


P pembagian ’


R kerja ’


image017I ’


M kehidupan kolektif


A ’


T ’ image018


Evolusi



Mahluk yang telah mempunyai kebudayaan itulah yang baru dapat disebut mahluk manusia secara penuh. Mahluk Pithecanthropus berevolusi menjadi mahluk semacam itu dalam jangka waktu yang sangat lambat, yaitu lebih dari 1,5 juta tahun lamanya. Sisa-sisa mahluk manusia keturunan Pithecanthropus tadi ditemukan dalam lapisan bumi yang muda, yaitu lapisan bumi yang oleh para alhli geologi disebut lapisan pleistosen muda.


Fosil-fosil manusia yang berasal dari kala pleistosen muda berumur kira-kira 200 ribu tahun. Berjumlah amat banyak dan terdapat di banyak tempat di dunia. Fosil-fosil itu tidak hanya berupa tengkorak, melainkan banyak juga berupa kerangka yang lengkap. Salah satu ditemukan dalam tahun 1856 dalam gua dilembah sungai Neander dekat kota Dusseldorf, Jerman. Menjadi terkenal denga nama Homo Neandertalensis (manusia dari lembah Neander).


Di luar Eropa mahluk jenis Homo Neandertalensis meninggalkan sisa-sisa di Palestina. Yang disebut Homo Palestinensis. Ditemukan di gua Tabun di dekat Mount Carmel.


Hampir semua fosil Homo Neandertalensis dan fosil-fosil sebangsa terdapat terdapat berdekatan dengan berbagai macam alat batu, sisa-sisa kebudayaan lama. Yang memberikan kepada kita sekedar keterangan mengenai kehidupan mahluk Homo Neandertalensis sebagai manusia yang telah berkebudayaan itu. Fosil-fosil Homo Neandertalensis di Eropa sering ditemukan bersamaan dengan bekas-bekas api yang menunjakan bahwa mereka hidup dalam suatu lingkungan iklim yang dingin di daerah lapisan-lapisan es di Eropa kala glasial terakhir.


Bekas alat-alat menunjukan bahwa mereka hidup dari berburu, dan alat-alat batunya dipakai untuk memotong daging hasil berburu mereka. Tetapi kemudian juga sebagai senjata.


Fosil purba yang ditemukan di gua Broken Hill di Rhodesia, Afrika Selatan, sebagi mahluk yang dianggap sebagai nenek moyang yang berasal dari zaman yang sudah sangat tua dari penduduk Afrika ras negroid sekarang. Diberi nama Homo Rhodesiensis, yang tidak digolongkan menjadi satu dengan Homo Neandertalensis.


Homo Soloensis yang ditemukan di Ngandong, mempunyai ciri-ciri yang lebih dekat dengan Pithecanthropus Erectus, dibandingkan dengan Homo Neandertalensis. Maka oleh Teuku Jacob disebut Pithecanthropus Soloensis.


Manusia Homo Neandertalensis dan sejenisnya, mula-mula tidak dianggap oleh para ahli sebagai salah satu nenek monyang ras manusia yang ada sekarang. Melainkan sebagai salah satu cabang evolusi mahluk manusia yang kandas. Tetapi akhir-akhir ini ada pendirian yang mantap dengan bukti-bukti yang baru. Bahwa Homo Neandertalensis itu tidak kandas melainkan telah berevolusi dalam jangka waktu yang kira-kira 120 ribu tahun menjadi manusia Homo Sapiens yang sekarang ini.





  1. Manusia Sekarang (Homo Sapiens)


Bekas-bekas Homo Sapiens yang tertua juga terkandung dalam lapisan pleistosen muda. Berarti mahluk hidup itu hidup pada akhir kala glasial terakhir, atau kurang lebih 80 ribu tahun yang lalu. Lapisan-lapisan bumi yang terjadi dalam akhir sesudah kala glasial terakhir, memang tidak lagi mengandung fosil manusia yang berbeda bentuknya dari manusia sekarang.


Zaman holosen penemuan fosil manusia ditemukan bersama bekas-bekas kebudayaan dan mulai menunjukan perbedaan keempat ras pokok yang pada saat itu menduduki muka bumi kita ini, yaitu:




  1. Ras Australoid, yang hampir kandas dan yang kini sisa-sisanya masih hidup di daerah pendalaman benua Australia.


  2. Ras Mongoloid, merupakan ras yang paling besar jumlahnya dan yang paling luas daerah penyebarannya.


  3. Ras Kaukasoid, tersebar di Eropa, Afrika, sebelah Utara Gurun Sahara, di Asia Barat Daya, di Australia dan benua Amerika Utara dan Selatan.


  4. Ras Negroid, yang kini menduduki benua Afrika sebelah Selatan dan gurun Sahara.


Mahluk manusia Homo Sapiens yang pertama-tama menunjukan ciri-ciri ras Australoid adalah mahluk yang fosilnya ditemukan di dekat desa Wajak dilembah sungai Brantas, dekat Tulung Agung Jawa Timur. Dalam lapisan bumi pleistosen muda. Fosil itu disebut Homo Wajakensis, diperkirakan hidup 40 ribu tahun yang lalu.


Di daerah Irian, menurut teuku Jacob telah berkembang dari ras Wajak ini suatu ras khusus yang menjadi nenek monyang penduduk asli Australia sekarang, yang merupakan sisa-sisa hidup dari Australia.


Homo Sapiens yang pertama-tama menunjukan ciri-ciri ras Mongoloid adalah mahluk yang fosilnya ditemukan di dekat gua Chou Kou Tien, dimana ditemukan fosil Pithecanthropus Pekinensis. Merupakan nenek monyang dari semua ras khusus mongoloid di Asia Timur, Tenggara, Tengah, Utara, Timur laut, dan benua Ameika Utara dan Selatan. Hidup diantara 40 ribu - 30 ribu tahun yang lalu, dan dianggap telah berevolusi langsung dari Pithecanthropus Pekinensis.


Homo Sapiens yang pertama menunjukan ciri-ciri ras kaukasoid adalah mahluk yang fosilnya ditemukan dekat desa Les Eyzies di Perancis. Disebut Homo Sapiens Cromagnon, dan dianggap nenek monyang penduduk Eropa sekarang. Hidup kira-kira 60 ribu tahun yang lalu.


Homo Sapiens yang pertama menunjukan ciri-ciri ras Negroid fosilnya ditemukan ditengah-tengah Gurun Sahara. Homo Sapiens Asselar ini dianggap nenek monyang dari ras negroid. Hidup kira-kira 14 ribu tahun yang lalu. Ras negroid dianggap sebagai ras manusia yang paling muda.



3-4.3. ANEKA WARNA MANUSIA



Mahluk manusia yang tersebar diseluruh muka bumi dan hidup di dalam segala macam alam, menunjukan suatu aneka warna fisik yang tampak nyata. Ciri-ciri lahir seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut, bentuk bagian muka, dsb. Hal ini menyebabkan timbulnya pengertian ”ras” sebagai suatu golongan manusia yang menunjukan berbagai ciri tubuh yang tertentu dengan suatu frekuensi yang besar.


Dalam sejarah bangsa-bangsa, konsepsi mengenai aneka warna ciri tubuh manusia itu telah menyebabkan kesedihan dan kesengsaraan. Salah paham itu telah mengacaukan ciri-ciri ras yang sebenarnya harus dikhususkan kepada ciri-ciri jasmani semata. Bukan sebagai ciri-ciri rohani. Lebih dari itu, salah paham tadi memberikan penilaian tinggi rendah kepada ras-ras berdasarkan perbedaan tinggi rendah rohani daripada ras-ras tsb. Maka timbul anggapan bahwa ras caucasoid (ras kulit putih) lebih kuat dari pada ras-ras lain. Tetapi lebih dari itu ada anggapan bahwa ras kulit putih pada dasarnya juga lebih pandai, lebih maju, lebih luhur, atau lebih tinggi rohaninya daripada ras-ras lain.


Anggapan salah itu timbul bersama perkembangannya kekuasaan bangsa-bangsa Eropa (ras kulit putih), terhadap bangsa-bangsa lain di luar Eropa (bukan ras kulit putih). Dan dipraktekan ke dalam gejala sosial yang terdapat di banyak negara di dunia sampai sekarang ialah gejala diskriminasi ras.


Anggapan mengenai keunggulan jasmani serta rohani ras-ras kulit putih terhadap ras-ras lain tsb, justru dikuatkan oleh teori-teori yang bersifat sok ilmiah, yang berasal dari sarjana-sarjana reaksioner. Merupakan suatu reaksi terhadap pergolakan-pergolakan rakyat yang mulai mengguncangkan banyak sistem kekuasaan di negara-negara Eropa Barat. Pada akhir abad 18 terjadi pendirian tentang persamaan semua mahluk manusia.


Untuk jangka waktu yang cukup lama tentang bagaimana masalah cara mengklasifikasikan atau menggolongkan aneka warna ras manusia di dunia merupakan pusat perhatian yang terpenting bagi ilmu antropologi fisik.


Ciri-ciri marfologi pada tubuh individu-individu berbagai bangsa di dunia. Ciri-ciri tsb merupakan ciri-ciri fenotipe, terdiri dari 2 golongan, yaitu:


1. Ciri-ciri kualitatif, seperti warna kulit, bentuk rambut, dsb


2. Ciri-ciri kuantitatif, seperti berat badan, ukuran badan, index cephalicus, dsb. Dalam ilmu antropologi fisik telah berkembang metode-metode pengukuran yang selalu dipertajam dan disebut dengan metode antropometri.



Akhir-akhir ini dalam ilmu antropologi fisik, klasifikasi yang hanya berdasarkan morfologi telah dianggap penting lagi. Para ahli lebih tertarik kan masalah sebab-sebab daripada perbedaan-perbedaan serta persamaan-persamaan antar ras-ras manusia. Sehingga pada saat sekarang klasifikasi yang filogenetik. Suatu klasifikaasi yang kecuali hanya menggambarkan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan antara ras-ras, juga menggambarkan hubungan-hubungan asal usul antara ras-ras serta percabangannya


Untuk membangun suatu klasifikasi serupa itu pengetahuan mengenai ciri-ciri genotipe sangat penting. Ciri-ciri genotipe dapat diketahui pada gen yang tidak mudah diubaholeh pengaruhproses-proses mutasi, seleksi, dsb. Misalnya gen pada untuk golongan darah A-B-C, gen untuk tipe darah MN, gen untuk kemampuan mencium bau zat phenylthiocarbomide, dsb.


Saat sekarang sudah berkembang metode-metode untuk mengklasifikasikan ras-ras berdasarkan frekuensi golongan darah. Misalnya di suatu daerah terdapat individu-individu dari semua golongan darah. Dalam satu kelurga inti pun ayah mungkin mempunyai darah A, ibu O, anak-anak mungkin ada yang A, AB, O, dsb. Tetapi suatu frekuensi tertentu dari satu macam golongan darah akan tampak juga dalam daerah-daerah tertentu di muka bumi ini. Misalnya pada orang Sunda terdapat individu-individu dari semua golongan darah, namun konon ada suatu persentase tinggi (yaitu kurang lebih 51%) penduduk Jawa Barat yang berdarah O. Demikian pula walaupun di antara penduduk Tokyo umpanya terdapat individu-individu dari semua golongan darah, tetapi diantara kira-kira 30 ribu individu yang pernah diteliti, terdapat suatu frekuensi tinggi dari darah A dan B.


Dengan demikian, apabila daerah-daerah dengan persentase-persentase golongan darah yang sama itu dihubungkan dengan garis-garis di atas peta (isogenes) maka kita mungkin dapat membuat suatu gambaran dari bangsa-bangsa yang dadhulu berasal dari satu nenek monyang. Metode-metode klasifikasi yang serupa inilah yang sekarang mulai benyak dipergunakan dalam ilmu antropologi. Walaupun masih banyak dikritik.


Mengenai ras manusia masih ada banyak sistem klasifikasi yang berasal dari ahli-ahli lain. Semua klasifikasi itu masih berdasarkan metode-metode morfologikal yang lama karena metoe-metode klasifikasi baru yang berdasarkan frekuensi gen yang tertentu itu masih dalam taraf perkembangan dan belum dalakukan secara luas. Adanya berbagai sistem klasifikasi itu disebabkan karena tiap ahli mempergunakan salah satu ciri tertentu sebagai dasar klasifikasinya.


Klasifikasi C.Linnaeus (1725) mempergunakan warna kulit sebagai ciri terpenting dalam sistemnya. Klasifikasi J.F.Blumenbach (1755) yang mengkombinasikan ciri-ciri morfologi dengan geografi dalam sistemnya. Klasifikasi J.Deniker (1889) memakai warna dan bentuk rambut sebagai ciri-ciri terpenting dalam sistemnya. Metode-metode klasifikasi yang juga memperhatikan unsur-unsur filogenetik baru tampak kira-kira 30 tahun yang lalu. Salah satu klaisfikasi dari sarjana antropologi fisik ternama seperti metode E.von Eickstedt dan metode E.A.Hoo.


Klasifikai A.L.Kroeber di mana tampak secara terang garis besar penggolongan ras-ras yang terpenting di dunia serta hubungannya satu sama lain.


1. Australoid


Penduduk asli Australia


2. Mongoloid


- Asiatic mongoloid (Asia Utara, Tengah, Timur)


- Malayan mongoloid (Asia Tenggara, kep.Indonesia, Malaysia, Filipina, dan penduduk asli Taiwan)


- American mongoloid (penduduk asli benua Ameri Utara dan Selatan dari orang Eskimo di Amerika Utara sampai penduduk terra del Fuego di Amerika Selatan)


3. Caucasoid


- Nordic (Eropa Utara sekitar laut Baltik)


- Alpine (Eropa Tengah dan Timur)


- Mediterranean (penduduk sekitar Laut Tengah, afrika Utara, Armenia, Arab, Iran)


- Indic (Pakistan, India, Bangladesh, Sri Lanka)


4. Negroid


- African negroid (Benua Afrika)


- Negrito (Afrika Tengah, Semenanjung Melayu, Filipina)


- Melanesian (Irian, Melanesia)


5. Ras-ras khusus


Tidak dapat diklasifikasikan ke dalam empat ras pokok


- Bushman (di daerah gurun Kalahari di Afrika Sletan)


- Veddoid (di pendalaman Srilangka dan Sulawesi Selatan)


- Polynesian (di kepulauan Mikronesia dan Polinesia)


- Ainu ( di pulau Karafuto dan Hokkaido di Jepang Utara)



3-4.4. ORGANISMA MANUSIA



Mahluk manusia adalah mahluk yang hidup dalam kelompok, dan mempunyai organisma yang secara biologis sangat kalah kemampuan fisiknya dengan jenis-jenis binatang berkelompok yang lain. Walaupun demikian otak manusia telah berevolusi paling jauh jika dibandingkan dengan mahluk lain. Otak manusia yang telah dikembangkan oleh bahasa, tetapi juga yang mengembangkan bahasa mengandung kemampuan akal, yaitu kemampuan untuk membentuk gagasan, konsep, yang makin lama makintajam untuk memilih alternatif tindakan yang menguntungkan bagi kelangsungan hidup manusia.


Bahasa menyebabkan bahwa manusia tidak hanya dapat belajar mengenai keadaan sekitarnya dengan mengalami secara konkret peristiwa yang dihadapi. Dengan bahasa manusia mengabstraksikan dan menyimpan tiap pengetahuan baru ke dalam lambang vokal atau kata-kata baru, yang makin lama makin banyak jumlahnya. Generasi manusia berikutnya tidak perlu mengalami kembali setiap peristiwa yang telah terjadi di dalam alam sekitarnya untuk mendapat pengetahuan tentang keadan alam tadi. Mereka cukup belajar dari generasi-generasi sebelumnya mengenai segala pengetahuan yang telah dimiliki melalui uraian bahasa. Serta menambahnya lagi dengan pengalaman-pengalaman baru mereka sendiri.


Pengalaman yang kian bertambah banyak itu kemudian disimpan dan diatur oleh akal menjadi suatu sistem pengetahuan. Untuk diteruskan lagi kepada generasi berikutnya, demikian seterusnya.


Kemampuan organisma manusia memang terbatas jika dibandingkan dengan mahluk-mahluk lain. Kemampuan daripada semua pancainderanya menyebabkan bahwa ia tidak dapat lari, loncat, memanjat pohon, menyelam dalam air, ataupun terbang seperti halnya jenis-jenis binatang tertentu lainnya. Walaupun demikian kapasitas otaknya yang unggul yang berupa akal tadi menyebabkan ia dapat mengembangkan sistem pengetahuan yang menjadi dasar dari kemampuannya.


Kemampuannya tsb untuk membuat bermacam-macam alat hidup, seperti senjata, alat-alat produksi, alat-alat berlindung, alat-alat transport, dsb. Peralatan hidup dan sistm teknologi manusia inilah yang menjadi penyambung dari keterbatasan kemampuan organismanya.


Kemampuan otak manusia untuk membentuk gagasan-gagasan dari konsep-konsep dalam akalnya menyebabkan bahwa manusia dapat membayangkan dirinya sendiri sebagai suatu identitas tersendiri, lepas dari lingkungan dan alam sekelilingnya. Kemampuan ini merupakan dasar dari kesadaran identitas diri dan kesaaran kepribadian diri sendiri.


Manusia juga mempunyai kemampuan untuk membayangkan dengan akalnya peristiwa-peristiwa yang mungkin dapat terjadi terhadapnya, baik yang bahagia dan menyenangkan, maupun yang sengsara dan menakutkan. Rasa takut yang terbesar adalah rasa takut terhadap peristiwa yang ia sadari pasti akan terjadi padanya, ialah tibanya maut. Kesadaran akan tibanya maut inilah yang merupakan salah satu sebab timbulnya suatu unsur penting dalam kehidupan manusia, yaitu religi.


Walaupun organisma manusia memang kalah kemampuannya dengan banyak jenis binatang berkelompok lainnya, namun kemampuan otaknya, yang kita sebut akal budi itu, telah menyebabkan berkembangnya sistem-sistem yang dapat membantu dan menyambung keterbatasan kemampuan organismanya itu. Keselurahan dari sistem-sistem itu yaitu :


1. Sistem perlambangan vokal atau bahasa


2. Sistem pengetahuan


3. Organisasi sosial


4. Sistem peralatan hidup dan teknologi


5. Sistem mata pencarian hidup


6. Sistem religi dan


7. Kesenian adalah yang disebut kebudayaan manusia



Kebudayaan manusia tidak terkandung dalam kapasitas organismanya, artinya tidak tertentukan dalam sistem gennya berbeda dengan kemampuan-kemampuan organisma binatang.


Manusia harus mempelajari kebudayaannnya sejak lahir, selama seluruh jangka waktu hidupnya, hingga saatnya ia mati. Semuanya dilakukan dengan jerih payah. Walaupun demikian dengan kenudayaan manusia dapat menjadi mahluk yang berkuasa dan berkembang biak paling luas di muka bumi ini.



Latihan tatap muka 3


Sebutkan dan jelaskan proses percabangan yang menimbulkan ciri-ciri baru dan terjadinya organisma-organisma baru tetapi gen nenek moyang tetap tersimpan, dan menurut analisa para ahli biologi dapat dibagi ke dalam 3 golongan



Pembahasan latihan pada tatap muka 3



Proses percabangan yang menimbulkan ciri-ciri baru dan terjadinya organisma-organisma baru tetapi gen nenek moyang tetap tersimpan. Percabangan ini terjadi karena beberapa proses evolusi yang menurut analisa para ahli biologi dapat dibagi ke dalam 3 golongan, yaitu:


1. Proses mutasi, yakni suatu proses yang berasal dari dalam organisma. Suatu gen yang telah lama diturunkan dari angkatan ke angkatan beribu-ribu tahun lamanya, pada suatu ketika pada saat gen itu dibentuk pada suatu zygote yang baru dapat berubah sedikit sifatnya. Akibatnya ialah bahwa individu baru yang tumbuh dari zygote tadi akan mendapat suatu ciri tubuh baru yang tidak ada pada nenek moyangnya.


2. Proses seleksi dan adaptasi, adalah suatu proses evolusi yang berasal dari sekitar alam.


3. Proses menghilangnya gen secara kebetulan (random genetic drift).



Latihan tatap muka 4



Sebutkan dan jelaskan Klasifikai A.L.Kroeber di mana tampak secara terang garis besar penggolongan ras-ras yang terpenting di dunia serta hubungannya satu sama lain.



Pembahasan latihan pada tatap muka 4



Klasifikai A.L.Kroeber di mana tampak secara terang garis besar penggolongan ras-ras yang terpenting di dunia serta hubungannya satu sama lain.


1. Australoid


Penduduk asli Australia


2. Mongoloid


a. Asiatic mongoloid (Asia Utara, Tengah, Timur)


b. Malayan mongoloid (Asia Tenggara, kep.Indonesia, Malaysia, Filipina, dan penduduk asli Taiwan)


c. American mongoloid (penduduk asli benua Ameri Utara dan Selatan dari orang Eskimo di Amerika Utara sampai penduduk terra del Fuego di Amerika Selatan)


3. Caucasoid


a. Nordic (Eropa Utara sekitar laut Baltik)


b. Alpine (Eropa Tengah dan Timur)


c. Mediterranean (penduduk sekitar Laut Tengah, afrika Utara, Armenia, Arab, Iran)


d. Indic (Pakistan, India, Bangladesh, Sri Lanka)


4. Negroid


a. African negroid (Benua Afrika)


b. Negrito (Afrika Tengah, Semenanjung Melayu, Filipina)


c. Melanesian (Irian, Melanesia)


5. Ras-ras khusus


Tidak dapat diklasifikasikan ke dalam empat ras pokok


a. Bushman (di daerah gurun Kalahari di Afrika Sletan)


b. Veddoid (di pendalaman Srilangka dan Sulawesi Selatan)


c. Polynesian (di kepulauan Mikronesia dan Polinesia)


d. Ainu ( di pulau Karafuto dan Hokkaido di Jepang Utara)


Nunnie widagdo, P.Si. MM

blog comments powered by Disqus

Poskan Komentar



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER