Kamis, 06 Agustus 2009

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP ANTROPOLOGI

TATAP MUKA 1 - 2


PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP ANTROPOLOGI



Tujuan Instruksional umum:


Mahasiswa dapat memahami Antropologi



Tujuan Instruksional Khusus:


Setelah mempelajari modul ini mahasiswa diharapkan mampu untuk dapat menjelaskan arti dan tujuan antropologi, hubungan dengan ilmu sosial lain, dan metode ilmiah antropologi.



1-2.1. TUJUAN MEMPELAJARI ANTROPOLOGI



Antropologi adalah istilah dari bahasa Yunani, yaitu berasal dari kata anthropos dan logos. Anthropos berarti manusia, dan logos berarti memiliki arti cerita atau kata.


Antropologi psikologi adalah cabang dari antropologi yang bersifat interdisipliner dan mengkaji interaksi kebudayaan dan proses mental.


Jadi tujuan kita mempelajari antropologi yaitu;selain dapat memahami makna mengenai manusia, kita juga dapat lebih memahami kebudayaan dari manusia yang merupakan proses mental.



1-2.2. FASE-FASE PERKEMBANGAN ANTROPOLOGI





  1. Fase pertama (sebelum 1800)


Suku-suku bangsa penduduk pribumi Afrika, Asia, dan Amerika mulai didatangi oleh orang Eropa Barat sejak akhir abad ke 15 dan permulaan abad ke 16, dan lambat laun dalam suatu proses yang berlangsung kira-kira 4 abad lamanya, berbagai daerah dimuka bumi mulai terkena pengaruh negara-negara Eropa Barat.


Bersama dengan perkembangan itu mulai terkumpul buku-buku kisah perjalanan, laporan,dsb. Buku-buku tsb termuat suatu himpunan besar dari bahan pengetahuan berupa deskripsi tentang adat istiadat, susunan masyarakat, bahasa, dan ciri-ciri fisik dari beraneka warna suku bangsa di Afrika, Asia, Oseania (kepulauan di laut teduh), dan suku bangsa Indian, penduduk pribumi Amerika.


Bahan pengetahuan tadi disebut bahan etnografi, atau deskripsi tentang bangsa-bangsa dari kata ethnos = bangsa). Deskripsi tadi biasanya tidak teliti, sering kali bersifat kabur, dan kebanyakan hanya memperhatikan hal-hal yang dalam mata orang Eropa tampak aneh. Walaupun ada pula karangan-karangan yang baik dan lebih teliti sifatnya.


Justru karena keanehannya, maka bahan etnografi tadi amat menarik perhatian kalangan terpelajar di Eropa Barat sejak abad ke 18. kemudian dalam pandangan orang Eropa timbul 3 macam sikap yang bertentangan terhadap bangsa-bangsa di Afrika, Asia, Oseania, dan orang-orang Indian di Amerika tadi, yaitu:




  1. Sebagian orang Eropa memandang akan sifat keburukan dari bangsa-bangsa jauh tadi itu, dan mengatakan bahwa bangsa-bangsa itu bukan manusia sebenarnya, bahwa mereka manusia liar, turunan iblis, dsb. Maka muncul istilah-istilah seperti savages, primitives, yang dipakai orang Eropa untuk menyebut bangsa-bangsa tadi.


  2. Sebagian orang Eropa memandang akan sifat-sifat baik dari bangsa-bangsa jauh tadi itu, dan mengatakan bahwa masyarakat bangsa-bangsa itu adalah contoh dari masyarakat yang masih murni, yang belum kemasukan kejahatan dan keburukan seperti yang ada dalam masyarakat bangsa-bangsa Eropa Barat pada waktu itu.


  3. Sebagian orang Eropa tertarik akan adat istiadat yang aneh, dan mulai mengumpulkan benda-benda kebudayaan dari suku bangsa-bangsa di Afrika, Asia, Oseania, dan Amerika pribumi. Kumpulan-kumpulan pribadi tadi ada yang dihimpun menjadi satu, supaya dapat dilihat oleh umum, dengan demikian timbul museum-museum pertama tentang bangsa-bangsa di luar Eropa.


Pada permulaan abad 19 perhatian terhadap himpunan pengetahuan tentang masyarakat, adat istiadat dan ciri-ciri fisik bangsa-bangsa diluar Eropa dari pihak dunia ilmiah menjadi sangat besar, demikian besarnya sehingga timbul usaha-usaha pertama dari dunia ilmiah untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan pengetahuan etnografi tadi menjadi satu.





  1. Fase kedua (kira-kira pertengahan abad ke 19)


Integrasi yang sungguh-sungguh baru timbul pada pertengahan abad ke 19, yakni saat timbulnya karangan-karangan yang menyusun bahan etnografi tsb berdasarkan cara berfikir evolusi masyarakat. Secara singkat, cara berfikir itu dapat dirumuskan sebagai berikut: Masyarakat dan kebudayaan manusia telah berevolusi dengan sangat lamban dalam satu jangka waktu beribu-ribu tahun lamanya, dari tingkat-tingkat yang rendah, melalui beberapa tingkat sampai tingkat yang tertinggi.


Bentuk-bentuk masyarakat dan kebudayaan manusia yang tertinggi itu adalah bentuk-bentuk seperti yang ada di Eropa Barat. Semua bentuk masyarakat dan kebudayaan dari bangsa-bangsa diluar Eropa, oleh orang Eropa disebut primitif, dianggap sebagai contoh-contoh dari tingkat-tingkat kebudayaan yang lebih rendah, yang masih hidup sampai sekarang sebagai sisa-sisa dari kebudayaan-kebudayaan manusia zaman dahulu.


Berdasarkan cara berfikir tsb, maka semua bangsa didunia dapat digolongkan menurut berbagai tingkat evolusi itu. Dengan timbulnya beberapa karangan sekitar tahun 1860, yang mengklasifikasikan bahan tentang beraneka warna kebudayaan di seluruh dunia ke dalam tingkat-tingkat evolusi yang tertentu, maka timbulah Antropologi.


Dalam fase perkembangan yang ke 2 ini ilmu antropologi berupa suatu ilmu yang akademikal (artinya tidak mempunyai suatu tujuan secara langsung bersifat praktis, dan hanya dilakukan dalam kalangan-kalangan para sarjana di universitas/akademika). Dengan tujuan yang dapat dirumuskan sebagai berikut: mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk mendapat suatu pengertian tentang tingkat-tingkat kuno dalam sejarah evolusi dan sejarah penyebaran kebudayaan manusia.





  1. Fase ketiga


Dalam fase ketiga ini ilmu antropologi menjadi suatu ilmu yang praktis, dan tujuannya dapat dirumuskan sebagai berikut: mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa guna kepentingan pemerintah kolonial dan guna mendapat suatu pengertian tentang masyarakat masa kini yang kompleks.





  1. Fase keempat (sesudah kira-kira 1930)


Dalam fase ini ilmu antropologi mengalami masa perkembangannya yang paling luas, baik mengenai bertambahnya bahan pengetahuan yang jauh lebih teliti, maupun mengenai ketajaman dari metode-metode ilmiahnya. Kecuali itu kita lihat adanya dua perubahan didunia:




  1. Timbulnya antipati terhadap kolonialisme sesudah perang dunia II


  2. Cepat hilangnya bangsa-bangsa primitif 9dalam arti bangsa-bangs asli dan terpencil dari pengaruh kebudayaan Eropa-Amerika) yang sekitar tahun 1930 mulai hilang, dan sesudah perang dunia II memang hampir tak ada lagi dimuka bumi ini.


Proses-proses tsb menyebabkan bahwa ilmu antropologi seolah-olah kehilangan lapangan, dan dengan demikian terdorong untuk mengembangkan lapangan-lapangan penelitian dengan pokok dan tujuan yang baru.


Pokok atau sasaran dari penelitian para ahli antropologi sudah sejak tahun 1930 memang tidak lagi hanya suku-suku bangsa primitif yang tinggal dibenua-benua luar Eropasaja, melainkan sudah beralih kepada manusia di daerah pendesaan pada umumnya, ditinjau dari sudut aneka warna fisiknya, masayarakatnya, serta kebudayaannya. Dalam hal itu perhatian tidak hanya tertuju kepada penduduk daerah pendesaan di luar benua Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa-bangsa di daerah pendesaan di Eropa (seperti suku-suku bangsa Soami, Flam, Lapp, Albania, Irlandia, penduduk pegunungan Siera, dll), dan kepada penduduk beberapa kota kecil di Amerika serikat (Middletown, Jonesville,dll).



Tujuan ilmu antropologi yang baru dalam fase keempat ini dapat dibagi 2 yaitu:




  1. Tujuan akademikal, untuk mencapai pengertian tentang mahluk manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna bentuk fisiknya, masyarakat, serta kebudayaannya.


  2. Tujuan praktis, untuk mempelajari manusia dalam aneka warna masyarakat suku bangsa guna membangun masyarakat suku bangsa itu.


1-2.3. ILMU BAGIAN DARI ANTROPOLOGI


Di universitas-universitas Amerika Serikat, antropologi mencapai perkembangan yang luas, ruang lingkup dan batas lapangan perhatiannya yang luas itu menyebabkan adanya paling sedikit 5 masalah penelitian khusus yaitu:


1. Masalah sejarah asal dan perkembangan manusia (evolusinya) secara biologi.


2. Masalah sejarah terjadinya aneka warna mahluk manusia, dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya.


3. Masalah asal, perkembangan, dan penyebaran aneka warna bahasa yang diucapkan manusia diseluruh dunia.


4. Masalah perkembangan, penyebaran, dan terjadinya aneka warna kebudayaan manusia di seluruh dunia.


5. Masalah mengenai azas-azas dari kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat dari semua suku bangsa yang tersebar di seluruh muka bumi masa kini.



Kelima lapangan penelitian yang bertujuan untuk memecahkan lima masalah tsb adalah sedemikian luasnya, sehingga masing-masing merupakan ilmu-ilmu bagian antropologi yang membutuhkan ahli-ahli dengan kejuruan-kejuruan yang khusus. Terkait dengan pengkhususan ke dalam 5 lapangan tsb, ilmu antropologi mengenal juga ilmu-ilmu bagian, yaitu:


image001 1. Paleo antropologi kedua-duanya disebut antropologi


2. Antropologi fisik fisik dalam arti luas


image002 3. Etnolinguistik


4. Prehistori ketiga-tiganya disebut antropologi


5. Etnologi budaya





  1. Paleo antropologi


Adalah ilmu bagian yang meneliti soal asal usul atau soal terjadinya evolusi manusia dengan mempergunakan bahan penelitian sebagian sisa-sisa tubuh yang telah membantu, atau fosil-fosil manusia dari zaman dahulu yang tersimpan dalam lapisan-lapisan bumi yang harus didapat oleh si peneliti dengan berbagai metode penggalian.





  1. Antropologi fisik


Merupakan bagian dari ilmu antropologi yang mencoba mencapai suatu pengertian yang mencoba untuk mencapai suatu pengertian tentang sejarah terjadinya aneka warna manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya. Memakai sebagian bahan penelitiannnya ciri-ciri tubuh, baik yang lahir (fenotipik) seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut, bentuk hidung, tinggi dan bentuk tubuh. Maupun yang dalam (genotipik) seperti frekuensi golongan darah, dsb.


Manusia di muka bumi ini dapat digolongkan ke dalam beberapa golongan tertentu berdasarkan atas persamaan mengenai beberapa ciri tubuh. Adapun ciri-ciri tubuh itu terdapat pada sebagian besar dari individu-individunya, walaupun tiap individu memilikiciri-ciri tubuh yang berbeda-beda.


Kelompok manusia seperti itu dalam ilmu antropologi disebut “ras”. Pengertian terhadap aneka warna dari ras-ras didunia itu dicapai oleh para sarjana, terutama dengan mencoba menjalankan berbagi metode klasifikasi terhadap aneka warna itu. Bagian ini dari ilmu antropologi sering disebut antropologi fisik dalam arti khusus, atau somatologi.





  1. Etnolinguistik (antropologi linguistik)


Adalah suatu ilmu bagian yang pada asal mulanya berkaitan erat dengan ilmu antropologi. Bahkan penelitiannya yang berupa daftar kata-kata, pelukisan tentang ciri dan tata bahasa dari beratus-ratus bahasa suku bangsa yang tersebar diberbagai tempat di muka bumi ini, terkumpul bersama-sama dengan bahan kebudayaan suku bangsa.


Dari bahan ini telah berkembang berbagai macam metode analisa kebudayaan, serta berbagai metode untuk menganalisa dan mencatat bahasa-bahasa yang tidak mengenal tulisan. Semua bahan dan metode tsb sekarang telah terolah dalam ilmu linguistik umum. Walaupun demikian, ilmu etnolinguistik di berbagai pusat ilmiah di dunia masih tetap erat berkaitan dengan ilmu antropologi, bahkan merupakan bagian dari ilmu antropologi.





  1. Prehistori


Mempelajari sejarah perkembangan dan penyebaran semua kebudayaan manusia di bumi dalam zaman sebelum manusia mengenal huruf. Dalam ilmu sejarah, seluruh waktu dari perkembangan kebudayaan umat manusia mulai saat terjadinya manusia yaitu kira-kira 800.000 tahun yang lalu hingga sekarang dibagi ke dalam 2 bagian:




  1. Masa sebelum manusia mengenal huruf.


  2. Masa setelah manusia mengenal huruf.

Batas antara kedua masa ini diberbagai tempat di dunia dan dalam berbagai kebudayaan sangat berbeda. Zaman sebelum suatu bangsa mengenal huruf dalam ilmu pengetahuan disebut zaman prehistori (sebelum sejarah). Sedangkan zaman sesudah suatu bangsa mengenal huruf disebut zaman histori (sejarah).





  1. Etnologi


Adalah ilmu bagian yang mencoba menapai pengertian mengenai azas-azas manusia, dengan mempelajari kebudayaan-kebudayaan dalam kehidupan masyarakat dari sebanyak mungkin suku bangsa yang tersebar di seluruh muka bumi pada masa sekarang ini. Lebih khusus lagi dalam kalangan sub ilmu etnologi, akhir-akhir ini telah berkembang 2 aliran atau golongan penelitian;




  1. Golongan 1, menekankan kepada bidang diakronik. Descriptive integration untuk penelitian-penilitian diakronik. Sarjana-sarjana memakai nama ethnology. Descriptive integration dalam etnologi mengolah dan mengintegrasikan menjadi satu hasil -hasil penelitian dari sub-sub ilmu antropologi fisik, etnolinguistik, ilmu prehistori, dan etnografi (merupakan bagian dari etnologi yang meliputi segala cara pengumpulan bahan dan pelukisan tentang masyarakat dan kebudayaan dari suku bangsa disuatu daerah tertentu, etnografi adalah bagian deskriptif dari etnologi). Descriptive integration selalu mengenai suatu daerah tertentu. Dipandang dari metodenya, maka Descriptive integration termasuk dalam sub imu etnologi, tetapi mempunyai tujuan untuk mencari pengertian tentang sejarah perkembangan dari suatu daerah. Artinya, mencoba memandang suatu daerah pada bidang diakroniknya juga.




  1. Golongan 2, menekankan kepada bidang sinkronik dari kebudayaan umat manusia. Generalizing approach untuk penelitian sinkronik. Sarjana memakai nama social anthropology. Generalizing approach (antropologi sosial) dalam etnologi mencari azas persamaan di belakang aneka warna dalam beribu-ribu masyarakat dari kelompok-kelompok manusia di muka bumi ini. Pengertian tentang azas tsb, dapat dicapai dengan metode-metode yang dimasukan kedalam 2 golongan;




    1. Metode yang menuju ke arah penelitian mendalam dan bulat dari

Sejumlah masyarakat dan kebudayaan yang terbatas (3 max 5). Metode ini menyebabkan bahwa sarjana antropologi mencapai suatu pengertian yang bulat tentang unsur-unsur kebudayaan tertentu dalam rangka masyarakat yang dianalisa secara mendalam dan bulat tadi, dan dalam rangka masyarakat-masyarakat lain pada umunya.




  1. Metode yang menuju kearah perbandingan merata dari sejumlah unsur terbatas dalam suatu jumlah masyarakat yang sebanyak mungkin (2-300/ lebih). Dalam metode ini pengertian tentang azas-azas masyarakat dan kebudayaan manusia dicapai melalui sifat aneka warna atau diversitasnya.

Kedua metode tsb tidak terlepas satu sama lain, tetapi selalu saling membantu.



Etnopsikologi



Sejak setegah abad yang lalu (sekitar tahun 20an) telah berkembang suatu ilmu bagian yang baru, yaitu ilmu etnopsikologi (ethnopsychology). Sedangkan penerapan dari ilmu antropologi mula-mula adalah terhadap masalah pembangunan masyarakat desa , kemudian lebih luas lagi yaitu terhadap masalah ekonomi pendesaan, terhadap masalah kesehatan rakyat pendesaan, terhadap masalah kependudukan, dll, yang telah menimbulkan berbagai spesialisasi dalam ilmu antropologi.


Etnopsikologi, di Amerika setengah abad yang lalu telah berkembang penelitian-penelitian antropologi yang dalam analisanya mempergunakan banyak konsep psikologi. Penelitian-penelitian seperti itu dimulai karena timbulnya perhatian terhadap tiga macam masalah, yaitu:



1. Masalah ”kepribadian bangsa”


Timbul ketika hubungan antar bangsa- bangsa mulai makin intensif, terutama sesudah perang dunia I. Deskripsi-deskripsi tentang kepribadian suatu bangsa dalam karangan-karangan etnografi zaman lampau itu biasanya mempergunakan konsep-konsep dan istilah-istilah yang tak cermat dan kasar. Contohnya orang Belanda yang menjajah Indonesia melukiskan kepribadian suku bangsa Jawa sebagai malas, tak aktif, tak bergairah dalam tindakan (indolent). Kecuali ciri-ciri kepribadian yang negatif, tiap konsep yang dipakai dalam pelukisan seperti itu tidak cermat dipandang dari sudut ilmu psikologi. Sadar akan kekurangan ini, ada beberapa ahli antropologi sekitar tahun 1920, berhasrat untuk mendeskripsikan kepribadian bangsa dengan lebih cermat. Kecuali itu, mereka juga mempersoalkan secara ilmiah, apakah konsep kepribadian bangsa itu benar-benar ada. Dalam kenyataannya tentu ada orang Jawa yang tidak malas, yang jujur, yang lincah, dan bergairah dalam tindakan-tindakannya. Lalu timbulah pertanyaan, bilamanakah suatu ciri bangsa atau suku bangsa, dan sampai berapa jauhkah terkecualian terhadap kepribadian umum pada individu-individu tertentu sebagai warga bangsa itu mungkin. Untuk mempelajari soal-soal seperti itu , seorang ahli antropologi perlu mengetahui banyak tentang ilmu psikologi serta konsep-konsep dan teori-teori yang dikembangkan di dalamnya.



2. Masalah peranan individu dalam proses perubahan adat istiadat.


Banyak dipelajari sekitar tahun 1920 juga, ketika para ahli antropologi terutama di Ameria mulai mempelajari secara detail proses-proses perubahan kebudayaan (culture change). Sebelum itu para ahli antropologi biasanya hanya memperhatikan dan mencatat adat istiadat dan tingkah laku yang lazim dianut dan dijalankan oleh warga masyarakat. Tindakan individu yang menyimpang dari adat istiadat yang umum diabaikan, sampai saat timbulnya perhatian para ahli antropologi terhadap masalah perubahan kebudayaan. Dalam rangka itu ada kesadaran bahwa justru penyimpangan oleh individu-individu terhadap apa yang lazim dilakukan oleh umum yang patuh terhadap adat itulah yang merupakan pangkal dari proses perubahan kebudayaan. Perhatian terhadap tindakan yang menyimpang dari tindakan umum inilah yang menyebabkan bahwa para ahli antropologi kemudian menaruh perhatian terhadap konsep-konsep dan teori-teori psikologi. Karena seluk beluk dan kelakuan dan tindakan individu itu hanya dapat dipelajari dan dipahami melalui ilmu psikologi.



3. Masalah nilai universal dari konsep-konsep psikologi.


Mendapat perhatian para ahli antropologi dengan pengalaman mereka dalam hal mempelajari bangsa-bangsa di luar Eropa, memperdalam ilmu psikologi, maka mereka mulai meragukan nilai universal dari beberapa konsep dan teori psikologi. Mereka meragukan apakah konsep-konsep dan teori-teori itu juga berlaku untuk individu- individu yang hidup di luar lingkungan masyarakat Eropa - Amerika. Misalnya pada konsep ”kegoncangan batin masa remaja”, yang dianggap sebagai suatu masalah penting dalam pertumbuhan para remaja dalam masyarakat kota di negara-negara barat oleh para ahli psikologi. Sedangkan menurut beberapa ahli antropologi masalah tsb tidak dialami oleh para remaja dalam masyarakat diluar Eropa, seperti pada masyarakat penduduk Samoa di Polinesia. Dengan demikian konsep psikologi tsb hanya berlaku untuk masyarakat Eropa - Amerika, dan tidak mempunyai nilai universal. Sebenarnya hal tsb tidaklah mengherankan, karena ilmu tsb diteliti dan hanya tumbuh didalam masyarakat Ero- Amerika. Tetapi karena adanya masukan dari para ahli antropologi itu, membuat para ahli psikologi berusaha untuk lebih mempertajam konsep-konsep dan teori-teori yang mereka pergunakan.



Kompleks studi antropologi yang menggunakan ilmu psikologi sekarang ini dianggap sebagai suatu sub ilmu yang disebut etnopsikologi (etnopsychology) atau antropologi psikologi (psychology anthropology) atau disebut juga studi kebudayaan dan kepribadian (study of culture and personality). Semua ini akan dibahas pada tatap muka berikutnya.



1-2.4. METODE ILMIAH DARI ANTROPOLOGI



Metode ilmiah dari suatu ilmu pengetahuan adalah segala jalan atau cara dalam rangka ilmu tsb untuk sampai kepada kesatuan pengetahuan. Tanpa metode ilmiah, suatu ilmu pengetahuan sebenarnya bukan suatu ilmu, melainkan suatu himpunan pengetahuan saja, tentang berbagai gejala alam atau masyarakat, tanpa disadari adanya hubungan antara gejala yang satu dengan gejala yang lain. Kesatuan pengetahuan itu dapat dicapai oleh para sarjana dalam ilmu yang bersangkutan melalui 3 tingkatan, yaitu:





  1. Pengumpulan fakta


Untuk antropologi-budaya, tingkat ini adalah pengumpulan fakta mengenai kejadian dan gejala masyarakat dan kebudayaan untuk pengolahan data secara ilmiah. Dalam kenyataan, aktivitas pengumpulan fakta disini terdiri dari berbagai metode mengobservasi, mencatat, mengolah, dan melukiskan fakta-fakta yang terjadi dalam masyarakat yang hidup.


Pada umumnya, metode-metode pengumpulan fakta dalam ilmu pengetahuan dapat digolongkan kedalam 3 golongan, yaitu :





  1. Penelitian lapangan (field work)


Peneliti harus menunggu terjadinya gejala yang menjadi objek observasinya itu. Peneliti harus masuk kedalam objeknya, artinya ia sendiri harus memperhatikan hubungan antara objek dan dirinya sendiri.


Peneliti datang sendiri dan menceburkan diri dalam suatu masyarakat untuk mendapatkan keterangan tentang gejala kehidupan manusia dalam masyarakat itu. Di sana, keculai dari observasi sendiri ia mendapat sebagian besar dari bahan keterangannya dari orang-orang warga masyarakat yang didatanginya itu, yang merupakan orang-orang pemberi keterangan (informan).




  1. Penelitian di laboratorium


Gejala yang akan menjadi objek observasi dapat dibuat dan sengaja diadakan oleh peneliti. Peneliti berada diluar objeknya, artinya dirinya sendiri tidak ada hubungan dengan objek yang ditelitinya itu.





  1. Penelitian dalam perpustakaan


Gejala yang akan menjadi objek penelitian harus dicari dalam suatu himpunan dari beratus-ratus ribu buku yang beraneka ragam. Peneliti juga berada diluar objek yang diteliti.



Dalam ilmu antropologi budaya penelitian lapangan merupakan cara yang terpenting untuk mengumpulkan fakta-faktanya, disamping itu penelitian diperpustakaan juga penting. Sedangkan metode penelitian di laboratorium hampir tak berarti untuk ilmu antropologi.


Para peneliti antropologi budaya biasanya sangat tertarik kepada tindakan dan kelakuan manusia dalam hubungan kelompok-kelompok kecil. Kelompok-kelompok seperti itu yang biasanya tidak melebihi 3.000 individu yang dipilihnya untuk diteliti secara khusus dan mendalam sekali, sedapat mungkin dalam segala aspeknya. Hal itu menyebabkan bahwa seorang peneliti antropologi budaya menggunakan pendekatan metode penelitian kualitatif, dengan metode wawancara, dan catatan wawancara itu berupa catatan yang disebut field notes.


Field notes yang telah dikumpulkan tadi harus dirubah menjadi tulisan yang sifatnya sedemikian rupa sehingga bahan itu dapat dibaca dan dipergunakan oleh sarjana-sarjana lain yang akan mengolah bahan itu ke dalam teori-teori tentang azas-azas kebudayaan, dan yang mungkin akan datang sendiri didaerah yang bersangkutan dan memerlukan pengetahuan tentang hal bagaimana mereka harus berbuat apabila mereka berhadapan dengan penduduk daerah tsb.


Mengubah field notes menjadi karangan yang dapat dibaca orang lain memerlukan suatu rangkaian metode tersendiri. Bahan nyata yang tercatat dalam bentuk field notes harus diolah menjadi suatu deskripsi.


Seluruh metode mulai dari metode pengumpulan bahan konkret tentang suatu masyarakat yang hidup, sampai kepada metode untuk mengolah bahan tadi menjadi karangan yang dapat dibaca oleh orang lain, merupakan deskriptif dari ilmu antropologi yang disebut etnografi. Istilah etnografi yang berarti deskriptif tentang ethnos (suku bangsa), merupakan bahan tentang kehidupan masyarakat dan kebudayaan disuatu daerah.





  1. Penentuan ciri-ciri umum dan sistem


Hal ini adalah tingkat dalam cara berfikir ilmiah yang bertujuan untuk menentukan ciri-ciri umum dan sistem dalam himpunan fakta yang dikumpulkan dalam suatu penelitian. Tingkat dalam proses berfikir secara ilmiah dalam rangka ilmu antropologi ini, menimbulkan metode-metode yang hendak mencari ciri-ciri yang sama, yang umum, dalam aneka ragam fakta dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan umat manusia.


Proses berfikir disini berjalan secara induktif, dari pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa dan fakta-fakta khusus dan konkret, ke arah konsep-konsep mengenai ciri-ciri umum yang lebih abstarak.


Ilmu antropologi yang bekerja dengan bahan yang berupa fakta-fakta yang berasal dari sebanyak mungkin macam masyarakat dan kebudayaan dari seluruh dunia, dalam hal mencari ciri-ciri umum diantara aneka warna fakta masyarakat itu harus mempergunakan berbagai metode membandingkan atau metode komparatif. Biasanya metode komparatif dimulai dengan metode klasifikasi.


Seorang peneliti yang menghadapi suatu objek penelitian yang menunjukan sifat beraneka warna dengan adanya beribu-ribu macam bentuk yang berbeda-beda, harus berusaha dahulu agar aneka warna itu dapat dikuasai dengan akalnya, artinya ia harus mengecilkan jumlah aneka warna tadi menjadi suatu jumlah yang kecil berdasarkan beberapa perbedaan pokok saja.


Dalam ilmu-ilmu alam, penentuan ciri-ciri umum dan sistem dalam fakta-fakta alam dilakukan dengan cara mencari perumusan-perumusan yang menyatakan berbagai macam hubungan mantap antara fakta-fakta tadi. Hubungan itu biasanya adalah hubungan kovariabel (artinya, kalau suatu fakta berubah dengan cara yang tertentu, maka fakta-fakta laiin yang bersangkutan juga berubah). Atau hubungan itu mungkin sebagai hubungan sebab akibat (artinya suatu fakta menyebabkan timbulnya, berubahnya, atau hilangnya suatu fakta yang lain). Perumusan-perumusan yang menyatakan hubungan-hubungan mantap antara aneka fakta dalam alam disebut kaidah-kaidah alam.


Mengenai kemungkinan adanya kaidah-kaidah tentng tingkah laku manusia dalam kehidupan masyarakat, masih ada beberapa anggapan yang bertentangan diantara para ahli. Sebagian berkata bahwa fakta-fakta mengenai tingkah laku manusia itu tak mungkin dapat dirumuskan ke dalam kaidah-kaidah yang mantap, sedangkan sebagian lain berkata bahwa sapai suatu batas tertentu hal itu mungkin.


Anggapan yang lazim masa sekarang ini adalah diantara keduanya. Anggapan umum bahwa dalam dunia ilmiah sekarang ini mengenai gejala-gejala yang masih erat terjalin kedalam proses-proses kehidupan alam, hubungan atau fakta-fakta yang dapat dirumuskan ke dalam kaidah-kaidah alam adalah luas sekali. Namun hal ini tidak berarti bahwa semua gejala alam dapat difahami melalui kaidah-kaidah. Ada juga beberapa gejala alam yang sukar difahami dengan kaidah-kaidah alam.


Sebaliknya, gejala-gejala yang telah terlepas dari proses-proses alamiah, fakta-fakta yang dapat dirumuskan kedalam kaidah-kaidah itu memang jauh lebih sempit. Walaupun demikian, tidak benar mengatakan bahwa ilmu-ilmu sosial yang mempelajari gejala-gejala tsb sama sekali tidak dapat sampai kepada taraf perumusan kaidah-kaidah mengenai hubungan antara fakta sosial-budaya dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan.


Ilmu antropologi sebagian besar dari pengetahuan yang bersifat ”pengertian” mengenai kehidupan masyarakat dan kebudayaan. Namun ada pula pengetahuan yang berupa kaidah-kaidah sosial-budaya.





  1. Verifikasi (pengujian)


Metode untuk melakukan verifikasi dalam kenyataan terdiri dari cara-cara yang harus menguji kaidah-kaidah yang telah dirumuskan atau yang harus memperkuat ”pengertian” yang telah dicapai, dalam kenyatan-kenyataan alam atau dalam masyarakat yanga hidup.


Disini proses berfikir berjalan secara deduktif dari perumusan-perumusan umum, kembali ke arah fakta-fakta yang khusus. Ilmu antropologi yang mengandung pengetahuan yang lebih banyak berdasarkan ”pengertian” daripada pengetahuan berdasarkan kaidah, mempergunakan metode-metode verifikasi yang bersifat kualitatif.


Dengan mempergunakan metode-metode kualitatif, ilmu antropologi mencoba memperkuat pengertian itu dalam kenyataan beberapa masyarakat yang hidup, tetapi dengan cara khusus dan mendalam.


Lawan dari metode kualitatif adalah kuantitatif yaitu metode yang mencoba menguji kebenaran dari ”pengertian” dan kaidah-kaidah itu dengan mengumpulkan sebanyak mungkin fakta mengenai kejadian dan gejala sosial-budaya yang menunjukan azas-azas persamaan. Untuk metode kuantitatif sering dipergunakan cara-cara untuk mengolah fakta sosial dalam jumlah yang besar, dan metode itu disebut statistik.


Metode statistik yang dulu kurang dipergunakan dalam ilmu antropologi, sekarang ini mulai juga menjadi suatu metode analisa yang penting dalam ilmu antropologi.



1-2.5. HUBUNGAN ANTROPOLOGI DENGAN PSIKOLOGI



1. HAKIKAT ILMU ANTROPOLOGI PSIKOLOGI



Antropologi psikologi (psychology anthropology) adalah subdisiplin ilmu antropologi. Nama subdisiplin ilmu antropologi ini, sebenarnya nama baru dari ilmu yang dulu dikenal dengan nama culture and personality (kebudayaan dan kepribadian), atau kadang-kadang disebut juga ethno psychology (psikologi suku bangsa).


Sarjana yang pertama menganjurkan pemakaian nama baru ini adalah ahli antropologi AS terkemuka Francis L.K.Hsu. Anjuran ini kemudian diikuti para ahli antropologi AS pada umunya. Alasan para ahli antropologi AS mempergunakan istilah ini, karena lebih logis daripada culture and personality . karena istilah culture and personality memberi kesan bahwa kebudayaan dan kepribadian merupakan dua konsep yang berbeda, sedangkan dalam kenyataannya tidaklah demikian.


Ruth Benedict misalnya menganggap kebudayaan adalah psikologi individual yang disorot besarkan kelayar, sehingga memberikan ukuran raksasa serta berjangka waktu lama. Kluckhohn dan Murray juga tidak puas dengan istilah culture and personality itu diganti saja dengan istilah culture in personality (kebudayaan di dalam kepribadian), atau personality in culture (kepribadian di dalam kebudayaan).


Selanjutnya istilah etnopsikologi (ethnopsychology) tidak dipergunakan kebanyakan ahli antropologi, karena nama itu memberi kesan bahwa ilmu tsb hanya memperhatikan psikologi suku bangsa di daerah terpencil saja. Padahal sejak permulaan perkembangannya, ilmu antropologi psikologi sudah memperhatikan psikologi dari kolektif-kolektif di daerah perkotaan, bahkan juga watak bangsa (national character) dari bangsa-bangsa modern seperti Jerman, Jepang, Rusia, dll. Lebih penting lagi istilah ethnopsychology dapat memberi kesan bahwa ilmu ini adalah subdisiplin dari ilmu psikologi dan bukan dari ilmu antropologi.


Subdisiplin ini sejak lahirnya sudah bersifat antar disiplin. Hal ini disebabkan karena bukan saja teori, konsep, serta metode penelitiannya dipinjam dari berbagai disiplin seperti antropologi, psikologi, psikiatri, dan psikoanalisa. Melainkan juga para pendirinya berasal dari disiplin bermacam-macam. Sebelum mereka menjadi ahli antropologi psikologi. Mereka itu antara lain adalah : Ralph Linton, Margaret Mead, Cora DuBois (ketiganya ahli antropologi). Abraham Kardiner (seorang ahli psikiatri). W.H.R. River (seorang ahli psikologi). Erik H. Erikson (seorang ahli psikoanalisa Neo Freudian). Geza Roheim (seorang ahli psikoanalisa Freudian ortodoks), dll.


Dari nama-nama tsb dapat dikatakan bahwa di dalam ilmu antropologi psikologi para sarjana dari disiplin antropologi, psikologi, dan psikiatri, bertemu. Disanalah ilmu antropologi budaya dan sosial dapat berhubungan dengan ilmu psikologi kepribadian, psikologi perkembangan, ilmu psikiatri, dan psikoanalisa secara sangat akrab dan produktif.


Pada antropologi budaya memperhatikan cara hidup berbeda yang dikembangkan masyarakat di berbagai tempat berbeda di dunia. Sedangkan psikologi kepribadian (perkembangan dan psikiatri) adalah ilmu yang meneliti kepribadian manusia, yang karyanya menyangkut usaha untuk mengerti mengapa dan bagaimana pribadi berbeda saatu sama lain. Ilmu antropologi psikologi adalah ilmu yang menjembatani kebudayaan dan kepribadian yang menjadi fokus dari dua ilmu berbeda (antropologi dan psikologi), yang sebenarnya sangat erat hubungannya.


Berlandaskan kenyataan tsb di atas, maka karya-karya penelitian, yang dapat digolongkan ke dalam antropologi psikologi menurut Francis L.K.Hsu adalah:


a. suatu karya yang dihasilkan oleh seorang ahli antropologi, yang mempunyai pengetahuan baik mengenai konsep psikologi, atau karya yang dihasilkan oleh seorang ahli dari disiplin lain, yang mempunyai pengetahuan baik mengenai konsep antropologi disamping pengetahuan mengenai konsep psikologi (jika ia bukan seorang ahli psikologi).


b. Segala karya yang mempermasalahkan individu sebagai tempat atau wadah kebudayaan


c. Segala karya yang memberikan pengakuan serius kepada kebudayaan sebagai variabel bebas (independent variable) maupun variabel terikat (dependent variable), yang berhubungan dengan kepribadian.


d. Segala karya dari seorang ahli antropologi yang mempergunakan konsep atau teknik test psikologi, yang memberikan data tepat guna dalam bentuk yang dapat dipergunakan oleh para ahli antropologi.


e. Ruang lingkup antropologi psikologi sama dengan pengkajian secara lintas budaya (cross culture studies) mengenai kepribadian dan sistem sosial budaya.



Menurut Singer penelitian antropologi psikologi yang masih Ia sebut sebagi culture and personality dapat dikategorikan ke dalam 3 kelompok:


a. Kelompok hubungan kebudayaan dengan sifat pembawaan manusia (human nature). Penelitian yang pernah dilakukan oleh Bronislaw Malinowski untuk mencari oedipus complex diantara penduduk pulau Trobian (1927). Penelitian yang dilakukan oleh Margaret Mead untuk mengetahui apakah ketegangan yang dialami orang pada masa akil balig juga ada di masyarakat luar Ero-Amerika (1939). Atau oleh Geza Roheim untuk mencari lambang-lambang seks dalam folklor lisan (1950).



b. Kelompok hubungan kebudayaan dengan kepribadian khas kolektif tertentu (typical personality). Penelitian Ruth Benedict untuk mencari pola kebudayaan beberapa suku bangsa di dunia (1932). Penelitian Ralp Linton, Cora DuBois, dll untuk mencari struktur kepribadian dasar (basic personality structure) suku-suku bangsa di dunia (1939 & 1945). Penelitian Cora DuBois untuk mencari kepribadian rata-rata (modal personality) penduduk pulau Alor (1944). Atau penelitian Ruth Benedict, Margaret Mead, Geofrey Gorer, dll untuk mencari watak bangsa (national character) dari berbagai bangsa di dunia.


c. Kelompok hubungan kebudayaan dengan kepribadian individual (individual personality). Penelitian yang coba mengerti individu sebagai insan yang hidup di dalam kebudayaan, dan kebudayaan sebagai wadah tempat hidup individu-individu. Metode yang dipergunakan adalah dengan jalan mengumpulkan serta menganilisa riwayat hidup (life histories) responden tertentu, dan respons terhadap test-test proyeksi, mimpi, dsb.



2. PERKEMBANGAN ILMU ANTROPOLOGI PSIKOLOGI DAN


BEBERAPA PENELITIAN ANTROPOLOGI PSIKOLOGI



Ada dua anggapan yang salah, dan harus dikoreksi sehubungan dengan sejarah perkembangan ilmu antropologi psikologi, yaitu:




  1. Menganggap ilmu antropologi psikologi adalah sub disiplin baru dari ilmu antropologi umum.


  2. Menganggap ilmu antropologi psikologi adalah suatu ilmu yang diciptakan oleh sarjana Amerika saja.


Kedua anggapan tsb tidak benar. Ilmu antropologi psikologi hadir di dunia ilmu pengetahuan sejak pertengahan 1920. lahirnya ilmu ini sejak diadakan ekspedisi Cambridge ke selat Torres pada tahun 1898. bahkan menurut Victor Barnouw pelopor-pelopor antropologi psikologi bukan para ahli antropologi, melaikan para ahli ilmu sejarah kebudayaan (culture historians), seperti; Jacob Burckhardt, J.Huizinga, dan Oswald spengler.


Kalaupun para ahli ilmu sejarah kebudayaan itu tidak dapat dianggap sebagai pelopor, namun tidak dapat disangkal lagi bahwa merekalah yang telah memberi inspirasi sehingga memungkinkan berkembangnya sub ilmu antropologi inim di kemudian hari.


Mereka mengemukakan sifat-sifat khas (characteristic features) mengenai watak bangsa dari masyarakat yang mereka lukiskan. Mereka yakin pandangan hidup (world view) suatu masyarakat tercermin dalam berbagai unsur kebudayaan, seperti filsafat, kepercayaan, kesenian, kesusastraan, mode pakaian, dan adat istiadat populer. Untuk menonjolkan perbedaan atribut (sifat-sifat khusus) dari kebudayaan -kebudayaan abad pertengahan (medieval) dan Renaissance Eropa dan Italia; Apollonian dan Faustian; atau klasik dan peradaban barat modern.


Spengler ahli ilmu antropologi psikologi yang merupakan teoritikus pertama yang telah mengajukan pendapat tentang peminjaman unsur-unsur kebudayaan secara selektif (selective borrowing of cultural traits), yakni suatu bangsa jika meminjam unsur kebudayaan lain akan memilih yang sesuai dengan kebudayaannya sendiri. Jika kurang sesuai unsur kebudayaan asing tsb akan dirombak agar sesuai dengan kebudayaan pribuminya.


Pendapat yang mengira bahwa ilmu antropologi psikologi adalah ciptaan sarjana antropologi Amerika juga tidak daepat dipertahankan. Karena sebelum ilmu tsb dikembangkan di Amerika, beberapa sarjana antropologi Inggris sudah menjurus kesitu. Orang Inggris pertama yang mengarahkan perhatian terciptanya ilmu itu adalah C.G. Seligman (1924) menyarankan beberapa kemungkinan bagi perkembangan suatu lapangan pertemuan antara ilmu antropologi dan ilmu psikologi, yang sangat erat hubungannya dan maasih sangat sedikit dikenal orang.


Selanjutnya ia juga menyinggung konsep mengenai tipe introvert dan extravert dari carl Gustav Yung dalam hubungannya dengan pembawaan genetika dari ras-ras di dunia, seperti tercermin dalam kesenian mereka. Penggolongan kasar dari Seligman adalah sbb; kepribadian orang biadab (savages) adalah extravert. Walaupun ada kemungkinan para pemimpin dan para dukun mereka berkepribadian introvert. Orang Eropa pada umumnya adalah extravert, sedangkan orang India introvert, dsb.


Seligman menghimbau kepada para ahli antropologi agar mempelajari lebih dalam latar belakang kepercayaan dan kebiasaan manusia yang tidak dapat diterangkan hanya dengan kata-kata. Selain itu, ia juga menggunakan teori Sigmund Freud terhadap sekelompok orang yang diamati untuk menerangkan pertentangan antara keinginan dan ketakutan pribadi. Ia juga menunjukan pentingnya karya Freud dan Yung bagi ilmu antropologi, karena masalah psikologi yang timbul dalm penelitian antropologi terletak sebagian besar dalam bidang motivasi dan emosi, bukan dalam bidang kognisi.


Orang Inggris yang lebih besar pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu antropologi psikologi selain Seligman adalah Bronislaw Maliwnoski. Dalam penelitiannya mengenai penduduk pulau Trobrian di daerah Melanesia, berhasil mendekatkan ilmu antropologi dan psikologi. Maliwnoski telah memberi kredit pada Seligman, yang menurutnya telah memberi saran agar ia meneliti apakah oedipus complex merupakan manifestasi tak sadar (unconcious) juga timbul pada komunitas yang sistem kerabatannya berdasarkan matrilineal.


Penelitian Maliwnoski ini adalah yang pertama dalam sejarah antropologi yang menerapkan teori psikoanalisa, dalam penganalisaan kehidupan penduduk teknologi terbelakang. Saran Evan Pritchard berdasarkan penelitian Seligman dan Maliwnoski, yaitu:




  1. dapatkah para ahli antropologi mengumpulkan cukup banyak data untuk menerangkan teori psikoanalisa?


  2. Apakah fase perkembangan pribadi bayi, yang oleh para ahli psikoanalisa disebut sebagai fase oral, anal, dan laten itu umum terdapat pada semua ras dan kebudayaan yang ada di dunia?


  3. Jira ada apakah hal itu ditentukan oleh factor keturunan (biologis) atau kondisi kebudayaan?


  4. Apakah simbol yang sama juga dipergunakan ras-ras berlainan dalam keadaan yang sama?


  5. Apakah symptom formation dari anggota peradaban barat berbeda dengan peradaban lain?


Selain Freud masih ada beberapa ahli psikoanalisa lainnya yang juga menulis mengenai antropologi psikologi. Seperti Otto Rank, Ernest Jones, Wulf Sachs, dan Geza Roheim. Dari para ahli tsb, Roheim adalah yang paling menarik. Karena ia adalah seorang ahli etnologi yang telah mendapat pendidikan dalam ilmu psikoanalisa. Cara penelitian di lapangan (fieldwork) dan pandangannya yang paling dekat dengan pendekatan yang kemudian terkenal dengan nama pendekatan culture and personality.


Dalam metodeloginya Roheim menekankan bahwa tujuan utama para ahli antropologi adalah mencari wish-fullfilment (pelepasan ketegangan jiwa dengan jalan mengkhayalkan suatu situasi yang memuaskan atau dapat mengurangkan ketegangan yang laten) dalam setiap organisasi masyarakat yang spesifik. Seperti halnya kita meredusir suatu impian atau gangguan jiwa (neurosis) ke dalam suatu formula laten. Untuk dapat berbuat demikian Ia menganjurkan para ahli antropologi untuk mengumpulkan data yang dapat menerangkan keinginan tak sadar (unconsciousness) tsb yang berupa keterangan-keterangan mengenai mimpi, riwayat hidup, kehidupan seks, pengasuhan anak, upacara-upacara adat, adat kebiasaan yang diterangkan melalui pengetahuan, pengalaman pribadi dari informan, lelucon, komentar spontan (casual remarks), dan salah bicara (slip of the tongue).


Antropologi baru ini sudah tentu tidak dapat mengerjakan seluruh apa yang dapat dihasilkan seorang analis klinik, tetapi sedikitnya dapat mencapai lebih dari apa yang dihasilkan ahli antropologi kuno. Karena dengan metode pendekatan ini memungkinkan antropologi untuk mengklasifikasikan psikologi dari suatu kolektif.


Sebaliknya di AS karya-karya pioner Margaret Mead, Edward Spir, dan Ruth F benedict, segera diikuti dengan penelitian-penelitian antropologi psikologi. Banyak ahli antropologi psikologi yang telah mengalami pengpsikoanalisaan terhadap diri mereka sendiri, karena menurut mereka sebelum mengenal kepribadian orang lain, mereka harus terlebih dahulu mengenal kepribadiannya sendiri secara murni.


Perkembangan penelitian antropologi pasikologi terus berkembang hingga sekarang.



Latihan tatap muka 1



Antropologi mencapai perkembangan yang luas, terlebih di universitas-universitas Amerika. Sebutkan ruang lingkup dan batas lapangan perhatiannya yang luas itu menyebabkan adanya paling sedikit 5 masalah penelitian khusus!



Pembahasan latihan pada tatap muka 1



Di universitas-universitas Amerika Serikat, antropologi mencapai perkembangan yang luas, ruang lingkup dan batas lapangan perhatiannya yang luas itu menyebabkan adanya paling sedikit 5 masalah penelitian khusus yaitu:


1. Masalah sejarah asal dan perkembangan manusia (evolusinya) secara biologi.


2. Masalah sejarah terjadinya aneka warna mahluk manusia, dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya.


3. Masalah asal, perkembangan, dan penyebaran aneka warna bahasa yang diucapkan manusia diseluruh dunia.


4. Masalah perkembangan, penyebaran, dan terjadinya aneka warna kebudayaan manusia di seluruh dunia.


5. Masalah mengenai azas-azas dari kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat dari semua suku bangsa yang tersebar di seluruh muka bumi masa kini.



Latihan tatap muka 2



Penelitian-penelitian mengenai antropologi psikologi begitu banyak dan beragam. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh Seligman dan Maliwnoski, Evan Pritchard memeberikan beberapa saran, apakah saran-saran yang dimaksud Evan Pritchard tsb? Sebutkan!



Pembahasan latihan pada tatap muka 2



Saran Evan Pritchard berdasarkan penelitian Seligman dan Maliwnoski, yaitu:




  1. Dapatkah para ahli antropologi mengumpulkan cukup banyak data untuk menerangkan teori psikoanalisa?


  2. Apakah fase perkembangan pribadi bayi, yang oleh para ahli psikoanalisa disebut sebagai fase oral, anal, dan laten itu umum terdapat pada semua ras dan kebudayaan yang ada di dunia?


  3. Jira ada apakah hal itu ditentukan oleh factor keturunan (biologis) atau kondisi kebudayaan?


  4. Apakah simbol yang sama juga dipergunakan ras-ras berlainan dalam keadaan yang sama?


  5. Apakah symptom formation dari anggota peradaban barat berbeda dengan peradaban lain?


Oleh : Nunnie widagdo P.si MM

blog comments powered by Disqus

Poskan Komentar



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER