Rabu, 12 Agustus 2009

STATSIUN RELAY

MODUL 7


STASIUN RELAY


Oleh : Drs. Andi Fachrudin M.M.Si




Stasiun relay pada penyiaran radio dan televisi maksudnya adalah sistem penyiaran antara pemancar ke pemancar (transmitter) yang secara kontineu wilayah lain yang lebih jauh. Hal ini dikenal juga dengan istilah sistem terresterial/diatas tanah. Gelombang mikro yang digunakan untuk siaran televisi, merambat lurus dan tidak dapat mengikuti lengkungan bumi. Gelombang televisi ini hanya dapat diterima bila tidak terhalang. Walaupun tidak ada penghalang, tetapi jika jarak antara pemancar dan penerima ini sangat jauh, gelombang televisi juga tidak dapat diterima oleh pesawat penerima televisi. Jika gelombang terhalang oleh gunung maka di atas gunung dipasang stasiun relay, demikian selanjutnya hingga dapat diterima dengan baik oleh pesawat penerima televisi serta stasiun penyiaran televisi lain di daerah selanjutnya.



Sebagai contoh stasiun televisi TVRI di Jakarta mengirimkan gelombang elektromagnetik melalui kanal Very High Frequency pada wilayah Ibukota Jakarta melalui pemancarnya di Senayan. Sedangkan agar dapat menghubungkan siarannya dengan stasiun penyiaran di Bandung (termasuk wilayah diantara kedua kota tersebut) maka TVRI mengirim sinyal gelombang elektromagnetik (Super High Frequency) ke stasiun relay di Gunung Tella (Bogor). Stasiun relay di Bogor ini juga berfungsi sebagai stasiun penguat pada kanal Ultra High Frequency. Pancaran sinyal dari Bogor inilah yang mengirim gambar ke Ibukota Jakarta juga tetapi melalui kanal UHF. Mengapa TVRI mengirimkan gelombang siarannya dengan dua kanal berbeda? Karena sejak awal tahun 1962 stasiun televisi masih jarang dan jalur siarannya berada pada kanal VHF. Ketika tahun 1990 dimana stasiun televisi swasta mulai berdiri, pemerintah menempatkannya pada kanal UHF, karena VHF ketika itu telah penuh. Untuk mengikuti perkembangan jaman maka manajemen TVRI memindahkan juga pada UHF dengan pemancar sterio dari Gunung Tella. Akan tetapi hingga saat ini pembangunan stasiun transmisi Gunung Tella yang lebih canggih dari pemancar di Senayan tidak mengangkat kualitas gambar siaran TVRI secara signifikan. Hal ini terjadi karena pemancar TVRI opposite/bertolak belakang dengan pemancar televisi swasta yang berkumpul di wilayah barat Jakarta, berpusat mengikuti trend RCTI yang telah leading dengan pemancar di Kebun Jeruk. Selanjutnya kebijakan manajemen TVRI akan membangun pemancar di wilayah Joglo yang diharapkan akan beroperasi pada tahun 2007. Maka fungsi stasiun relay ialah untuk menerima gelombang elektromagnetik dari stasiun pemancar, kemudian memancarkan gelombang itu di daerahnya.



Dibeberapa negara tetangga dapat kita lihat bahwa fungsi pemancar (transmitter) beberapa stasiun televisi dijadikan satu berpusat pada suatu pemancar yang tinggi dan indah. Hal ini dapat dijadikan tempat untuk pusat tujuan pesawat penerima televisi di setiap daerah untuk menerima sinyal. Selain tujuan utama telah didapatkan maka kepentingan selanjutnya untuk tempat rekreasi dan pariwisata daerah tersebut. Dimana setiap wisatawan dapat menikmati pemandangan kota secara luas melalui pemancar tersebut. Beberapa pemancar televisi yang dikenal adalah Menara Eiffel, Shanghai Pearl Tower, Tokyo Tower, Kuala Lumpur Tower, dan lain-lainnya.



Gelombang mikro yang digunakan untuk siaran televisi, merambat lurus dan tidak dapat mengikuti lengkungan permukaan bumi. Gelombang televisi ini hanya dapat diterima baik bila tidak terhalang. Walaupun tidak ada penghalang, tetapi jarak antara pemancar dan penerima ini sangat jauh, gelombang televisi juga tidak dapat diterima oleh pesawat penerima televisi. Jika gelombang terhalang oleh gunung maka diatas gunung dipasang stasiun relai.












Stasiun relai dipasang di Puncak agar siaran televisi dari Jakarta dapat diterima dengan baik di kota Bandung yang terhalang oleh pegunungan. Sedangkan untuk jarak Jakarta - Lampung atau Jakarta - Yogyakarta diperlukan beberapa stasiun relai untuk menyambungkan gelombang elektromagnetik. Fungsi stasiun relai ialah untuk menerima gelombang elektromagnetik dari stasiun pemancar, kemudian memancar luaskan gelombang itu didaerahnya.



Stasiun relai adalah bagian departemen teknik yang membuat suatu media penyiaran tetap mengudara. Stasiun penyiaran radio dan televisi harus memiliki tiga fasilitas pendukung utama siaran, yaitu ; menara atau antena pemancar, studio dan kantor pengelola. Ketiga fasilitas penyiaran itu tidak harus berada di satu lokasi yang sama. Banyak juga stasiun penyiaran yang memiliki studio/kantor yang terpisah dengan pemancar. Hal ini terjadi karena masing-masing fasilitas itu terkadang membutuhkan kondisi lingkungan yang berbeda-beda, seperti;


- TVRI memiliki kantor di kawasan Senayan, pemancarnya terletak di Senayan (VHF) hanya untuk kawasan Jakarta. Serta di Gunung Tela (Bogor) dan sekarang di pindahkan ke daerah Joglo.


- Indosiar memiliki kantor di jalan Daan Mogot, pemancarnya terletak di daerah Joglo dan yang terbaru serta tertinggi (390 m) di jalan panjang (samping RCTI).


- ANTV memiliki kantor di kawasan Kuningan, pemancarnya di daerah Joglo.


- SCTV memiliki kantor di kawasan Senayan City, pemancarnya di daerah Joglo.


- Trans TV memiliki kantor di kawasan Mampang, pemancarnya di daerah Joglo.


- TV7 juga memiliki pemancar di Joglo. Setelah dibeli oleh TRANS TV pemancarnya dapat bergabung.


- RCTI dan Global TV memiliki pemancar dan gedung yang bersamaan tempatnya.


- TPI memiliki kantor di daerah Cibubur sedangkan pemancarnya dapat mengunakan pemancar RCTI di Kebon Jeruk, karena memiliki manajemen yang satu atap.



Antena pemancar inilah yang selanjutnya akan memancarkan siaran televisi secara berantai keseluruh wilayah Indonesia kecuali daerah yang dibatasi oleh lautan yang sangat luas, tidak akan terjangkau. Sehingga harus menggunakan pengiriman sinyal ke satelit komunikasi di luar angkasa.



Kondisi pemancar televisi di Jakarta yang hampir seluruhnya berada di daerah Joglo dan Kebon Jeruk bukan merupakan ketidak segajaan. Akan tetapi hal itu disebabkan karena kondisi penyiaran diIndonesia yang menuntut akan kondisi tersebut. Pada awalnya pemancar televisi di Jakarta berpusat ke kawasan Senayan dimana TVRI memiliki pemancar. Namun sejak tahun 1989, ketika RCTI mulai melakukan siarannya dengan lokasi menara pemancar di Kebon Jeruk. Maka arah antena penerima televisi dirumah-rumah akan diarahkan ke Kebon Jeruk. Seiring dengan berdirinya beberapa televisi swasta di Jakarta, seluruhnya akan mencari perhatian pemirsa dengan mengikuti lokasi terdekat dari RCTI. Adapun wilayah yang tanahnya luas dan tidak padat penduduk serta gedung-gedung tinggi adalah kawasan Joglo. Hal ini memang saling menguntungkan karena stasiun televisi (komunikator) membutuhkan pemirsa (komunikan) demikian sebaliknya (dua arah). Dengan demikian akan menyebabkan arah antena pemirsa televisi akan dengan mudah menerima seluruh siaran televisi karena ada di kawasan yang searah.



Lokasi yang bagus untuk studio (biasanya yang mudah diakses dan memiliki nilai bisnis yang tinggi) belum tentu bagus secara estetis dan teknis untuk dipasang menara pemancar (biasanya dilokasi yang memiliki lahan luas, tidak terdapat gedung-gedung tinggi), demikian pula sebaliknya. Namun biasanya ketiga fasilitas pendukung itu berada di bawah kontrol pemilik yang sama, walaupun ada juga dalam kasus tertentu stasiun penyiaran menyewa antena pemancar dari pihak lain.



Stasiun relai berbeda dengan stasiun produksi dan penyiaran. Namun stasiun produksi dan penyiaran dapat berfungsi sebagai stasiun relai. Stasiun produksi dan penyiaran adalah stasiun penyiaran yang mampu menyiarkan dan memproduksi siarannya sendiri di suatu wilayah siarannya. Sehingga stasiun produksi dan penyiaran harus mampu memproduksi program siaran yang dibeli ataupun yang diproduksi sendiri, yang biasanya tentang ciri khas wilayahnya sendiri. Seperti siaran berita lokal, siaran program yang favorit di daerah tersebut, Ketoprak di Surabaya. Stasiun produksi dan penyiaran dapat juga dikatakan televisi lokal, namun apabila stasiun tersebut dimiliki oleh stasiun induknya yang berada didaerah lain, maka fungsinya dapat menjadi stasiun relai yang menyiarkan program yang disiarkan stasiun induknya tersebut, selain menyiarkan program yang diproduksinya sendiri. Jumlah pegawainya dapat sekitar 10 sampai ratusan orang tergantung kebutuhan dan kemampuannya untuk mengerakkan operasional siarannya secara efektif. Sedangkan peralatan yang harus dimiliki tentunya sesuai dengan standar suatu stasiun penyiaran, kalau televisi yaitu peralatan master control, studio minimum dua buah, peralatan sistem lighting dan kamera yang lengkap. Sedangkan radio hampir sama hanya saja tidak diperlukan peralatan sistem kamera, karena tidak ada visualnya.



Sedangkan stasiun relai adalah antena pemancar untuk penyiaran radio ataupun televisi yang dibangun di beberapa wilayah tertentu untuk memancarkan siaran gelombang elektromagnetik secara berantai diwilayah yang dituju sebagai target siarannya. Biasanya dibangun didaerah yang tinggi (bukit atau pegunungan) untuk mendapatkan hasil yang maksimal sebagai penangkap dan pengirim gelombang elektromagnetik. Stasiun relai tidak dapat memproduksi dan menyiarkan sendiri siarannya. Melainkan hanya menerima dari stasiun induknya yang biasanya berada di kota besar/padat penduduk. Hal inilah yang diinginkan dalam Undang-undang penyiaran No 32 tahun 2002 agar stasiun televisi swasta nasional memanfaatkan stasiun televisi lokal sebagai jaringannya yang berfungsi sebagai stasiun relai. Bukan mendirikan stasiun relai disetiap daerah yang bertujuan menangkap siarannya dari Jakarta. Padahal daerah terpencil tidak membutuhkan siaran dari Jakarta. Melainkan siaran tentang wilayahnya sendiri yang lebih utama dibutuhkan. Jumlah pekerja dalam stasiun relai sangat kecil yang mungkin hanya 2 (dua) orang saja. Bekerja dalam dua bagian setiap harinya, untuk mengontrol solar yang dibutuhkan, perawatan menara pemancar, menghidupkan transmisi dan tentunya menjaga keamanan stasiun relai dari segala sesuatu yang menganggu siaran. Stasiun tersebut tidak membutuhkan sistem kamera, studio dan master control produksi.



Seseorang yang bertugas di stasiun relai tidak harus memiliki kemampuan manajemen. Akan tetapi dibutuhkan kemampuan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman atas seluk beluk urusan teknik mulai dari elektronika, pemancar, listrik, dan tentunya sistem penyiaran radio ataupun televisi. Ia sebaiknya juga harus tahu hal ihwal pemeliharaan peralatan elektronik, terus menerus mengikuti perkembangan teknologi termasuk perkembangan dalam teknologi, gaya dan format penyiaran serta perlengkapan digital.



Modal terbesar untuk membangun suatu media penyiaran sesudah bangunan gedung adalah peralatan siaran. Sehingga beberapa tokoh berpengalaman mengatakan membangun gedung penyiaran yang bermodal besar tersebut, sebaiknya tidak dilakukan. Karena akan membahayakan kelangsungan perusahaan penyiaran. Lebih baik disarankan dan lebih sukses dengan menyewa suatu gedung di pusat bisnis. Adapun peralatan siaran yang termasuk biaya besar seperti pemancar menaranya, peralatan untuk master control dan studio. Membangun pemancar, yaitu alat untuk menyiarkan program, sebenarnya bisa tidak mengeluarkan biaya besar. Tentunya dengan kualitas yang berbeda, namun sudah dapat dimanfaatkan. Hal itu dapat terjadi karena banyak orang yang pandai elektronika, mengutak atik komponen elektronika dan mampu merakit pemancar sendiri. Banyak stasiun radio atau televisi kecil yang baru berdiri dan memulai siaran dengan peralatan pemancar sederhana.



Biaya termahal dalam membangun media penyiaran, khususnya televisi adalah membangun dan memasang peralatan untuk memproduksi program. Bukan untuk membangun pemancarnya. Biaya besar yang dikeluarkan untuk membangun menara dan komponen pemancarnya memang besar tetapi dilakukan sekali dan dapat bertahan selama 30 tahun lebih dengan pemeliharaan yang baik tentunya. Adapun pemeliharaan yang baik adalah dengan melakukan pengecetan minimum 3 tahun sekali. Sedangkan komponen pemancar berlaku setiap saat bila dibutuhkan, seperti teknologi baru yang muncul akan mempengaruhi pemeliharaan untuk mengantinya dengan yang lebih baik. Sedangkan membangun dan memasang peralatan untuk produksi akan berkali lipat biayanya sesuai dengan keinginan yang ditargetkan, semakin mahal biayanya akan semakin bagus kualitasnya.



Seperti untuk membangun bagian pemberitaan (news departement) dibutuhkan sejumlah reporter, juru kamera, editor gambar hingga supir dan kendaraan operasional. Semuanya membutuhkan peralatan seperti kamera televisi, mesin editing, grafik dan sebagainya. Semua itu peralatan untuk memproduksi program. Dinegara-negara berkembang seperti Indonesia, pilihan atas alat-alat penyiaran masih sangat terbatas. Distributor biasanya tidak mempunyai stok peralatan siaran. Kebanyakan distributor bahkan tidak mempunyai pengetahuan tentang peralatan profesional yang mereka jual. Peluang untuk berbuat curang dan penipuan sangat besar.



Salah satu peralatan yang telah menjadi peralatan mendasar dalam bidang penyiaran adalah komputer. Di stasiun televisi besar yang memiliki lebih dari 25 unit komputer mungkin diperlukan departemen sistem informasi. (IT) yang terpisahkan dari bagian teknik. Karena komputer membutuhkan perawatan yang detail, sehingga sistem penyiaran yang sudah mengunakan sepenuhnya komputer harus dipantau aktivitasnya. Jangan sampai terjadi kegagalan akibat komputer yang tidak berfungsi.



Bila stasiun produksi dan penyiaran justru berbeda, dimana sangat dibutuhkan karyawan yang sangat lengkap kemampuan dan keterampilannya. Oleh sebab itu apabila stasiun relai didaerah dimanfaatkan oleh stasiun swasta nasional, dengan berjaringan pada stasiun penyiaran lokal akan lebih efisien dan efektif. Dimana stasiun penyiaran swasta tidak perlu membangun stasiun relai disetiap daerah yang menjadi target siaran. Hal ini akan lebih menyeimbangkan sistem penyiaran radio dan televisi di Indonesia yang berdampak pada penyebaran penduduk dan perekonomian di seluruh wilayah tanah air.


Stasiun lokal didaerah-daerah khususnya diluar Pulau Jawa atau daerah yang terpencil akan memiliki potensi bisnis. Dimana pembangunan menara pemancar untuk stasiun relai yang memancarkan siaran stasiun lokal (tentunya siarannya bisa 24 jam dan berkualitas) akan diupayakan karena ada dukungan dana (berjaringan).



Masyarakat yang mengelola stasiun penyiaran lokal juga lebih mengerti lokasi-lokasi yang layak dibangun stasiun relai. Baik secara bisnis, pendekatan budaya dan tentunya keamanan wilayahnya. Walaupun disetiap regional tertentu akan lebih efisien dengan mengunakan satelit komunikasi, tetap saja kehadiran dari stasiun relai dibutuhkan untuk memancarakan lebih luas lagi siaran sebuah stasiun penyiaran di wilayah tersebut kepada pemirsa melalui pesawat penerimanya.



Sedangkan untuk komunikasi jarak jauh, dipasang satelit pada ketinggian kurang lebih 36.000 km diatas garis katulistiwa bumi. Satelit dapat berfungsi sebagai stasiun relai di angkasa sebagai penganti stasiun relai didaratan. Satelit adalah teknologi modern yang lebih mahal namun lebih efektif dan efisien untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit ditembus, serta efektif waktu agar siaran cepat terealisasi. Sehingga terkadang lebih murah dibandingkan dengan membangun stasiun relai yang ada didaratan.



Satelit dapat digunakan sebagai stasiun relai untuk siaran televisi, radio, telepon dan telegraf. Satelit Palapa adalah satelit untuk komunikasi dalam negeri dan dapat menjangkau negara-negara regional se ASEAN. Satelit ini beredar mengelilingi bumi seperti halnya bulan mengelilingi bumi. Sistem komunikasi Satelit Palapa disebut Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) karena digunakan untuk komunikasi domestik (dalam negeri). Dibeberapa tempat di Indonesia dibangun stasiun bumi untuk menangkap gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh Satelit Palapa.


Untuk transmisi siaran televisi dengan mengunakan Satelit Palapa, maka siaran televisi dari stasiun pusat Jakarta ke stasiun bumi di Cibinong terlebih dahulu, kemudian dari Cibinong dipancarkan ke Satelit Palapa. Satelit Palapa kemudian merelai dan memancarkannya ke stasiun bumi yang ada daerah lain. Dari stasiun bumi, transmisi diteruskan ke studio televisi yang memancarkannya ke pesawat penerima televisi di rumah.



Untuk dapat menguasai dunia atau melakukan komunikasi diseluruh dunia, diperlukan tiga satelit komunikasi. Yang melayani lintas komunikasi didunia secara komersial. Seperti perusahaan satelit Intelsat (Amerika Serikat) menempatkan satelit komunikasinya di atas Samudra India, Samudra Atlantik, dan Samudra Pasifik.

blog comments powered by Disqus

Posting Komentar



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER