Kamis, 06 Agustus 2009

Ritme Tubuh dan Kondisi Mental

Modul 4


Ritme Tubuh dan Kondisi Mental


Ritme Biologis


Ritme biologis adalah fluktuasi periodik yang kurang lebih teratur dalam sistem biologis kita; ritmr ini mungkin memiliki implikasi psikologis, dan mungkin juga tidak. Entrainment adalah sinkronisasi ritme biologis dengan indikasi eksternal, seperti fluktuasi sinar matahari. Endogen dihasilkan dari dalam tubuh dan bukan oleh faktor eksternal.


Ritme sirkadian adalah sebuah ritme biologis dengan lama periode (dari puncak hingga kembali ke puncak) sekitar 24 jam. Ritme sirkadian ditemukan pada tumbuh-tumbuhan, hewan, serangga, dan juga manusia. Ritme ini menunjukkan proses adaptasi dari organisme terhadap banyak perubahan yang terjadi karena rotasi bumi pada porosnya, seperti perubahan cahaya, tekanan udara, dan temperatur. Ritme sirkadian dikendalikan oleh jam biologis, yang terletak dalam sebuah bagian kecil di hipotalamus yang berbentuk seperti tetes air yang isinya berupa kumpulan sel dan disebut sebagai suprachiasmatic nucleus (SCN).


Jalur saraf dari reseptor-reseptor khusus yang terletak di belakang mata mengantarkan informasi ke SCN dan memungkinkan SCN merespon perubahan cahaya atau kegelapan sekitar. Kemudian SCN mengirimkan pesan membuat otak dan tubuh kita beradaptasi dengan perubahan-perubahan ini. SCN mengatur fluktuasi tingkat hormon dan cairan neurotransmiter dan kemudian keduanya menyediakan umpan balik yang mempengaruhi kerja dan fungsi SCN. Contoh: malam hari salah satu hormon yang dikendalikan oleh SCN, melatonin dilepaskan oleh kelenjar pineal yang terletak di bagian dalam otak. Ketika tidur di ruang yang gelap, kadar melatonin meningkat, dan ketika bangun di pagi hari di ruang yang cukup terang, kadar melatonin akan turun. Melatonin adalah hormon yang dilepaskan oleh kelenjar pineal;yang berperan menjaga waktu biologis yang sesuai dengan siklus gelap-terang. Melatonin juga digunakan untuk membantu orang-orang dengan gangguan insomnia dan menyesuaikan siklus terjaga-tidur pada mereka yang buta, yaitu mereka yang kekurangan persepsi mengenai cahaya ataupun mereka yang produksi melatoninnya tidak normal.


Dalam keadaan normal, ritme-ritme yang diatur oleh SCN biasanya tersinkronisasi satu sama lain. Meskipun puncak dari setiap ritme tidak bersamaan, namun seirama satu sama lain. Bila kita mengetahui kapan sebuah ritme mencapai puncak, maka kita dapat memprediksikan kapan puncak ritme lainnya. Saat rutinitas harian kita berubah, ritme sirkadian kita mungkin tidak akan sejalan atau mengganggu ritme yang lainnya. Desinkronisasi internal sering terjadi ketika kita terbang melewati beberapa zona waktu. Pola tidur dan terjaga biasanya dapat menyesuaikan diri dengan cepat, tetapi siklus temperatur dan hormon biasanya membutuhkan beberapa hari untuk kembali ke kondisi normal. Kelelahan akibat perjalanan ini bisa mempengaruhi tingkat energi, keterampilan mental, dan koordinasi motorik.


Desinkronisasi internal dapat terjadi pada para pekerja yang harus menyesuaikan diri dengan jadwal kerja barunya. Hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi yang menurun, sering merasa lelah dan mudah terganggu. Lebih rentan terhadap kecelakaan kerja, dan mengalami gangguan tidur maupun gangguan pencernaan. Ritme sirkadian dapat berbeda antara satu individu dengan individu yang lain akibat adanya pengaruh perbedaan faktor genetis. Ritme sirkadian dapat dipengaruhi oleh rasa sakit, stres, kelelahan, kegembiraan, olahraga, obat-obatan, waktu makan, dan pengalaman biasa sehari-hari.


Ritme Tidur


Nathaniel Kleitman dan Eugene Aserinsky (1995) meneliti pergerakan bola mata melambat saat orang mulai tidur di malam hari, hasilnya adalah ternyata orang tidur pergerakan matanya tidak lambat melainkan sangat cepat.


Rapid Eye Movement (REM) adalah periode tidur yang ditandai dengan pergerakana mata, hilangnya kekuatan otot, dan mimpi yang tampak nyata. Periode REM muncul secara bergantian dengan periode dimana pergerakan mata tidak sedemikian cepat, atau disebut juga tidur non-REM (NREM), dalam siklus setiap 90 menit. Periode REM berlangsung selama beberapa menit hingga satu jam, dengan rata-rata sekitar 20 menit. Ketika periode ini dimulai, pola aktivitas elektrik dalam otak orang yang tidur berubah menjadi seperti orang yang berada dalam keadaan bangun dan waspada penuh.


Ketika kita pertama naik ke tempat tidur, menutup mata dan melemaskan semua otak, otak kita menghasilkan sekumpulan gelombang alfa. Pada pencatatan EEG, gelombang alfa memiliki ritme yang lambat dan teratur dan amplitudo yang besar (tinggi). Secara bertahap gelombang ini kemudian melambat dan kita masuk ke dalam empat (4) tahap, yang masing-masing menunjukkan proses tidur yang lebih dalam dibandingkan dengan sebelumnya:


Tahap 1. Gelombang otak menjadi kecil dan tidak beraturan, dna kita merasa bahwa kita berada di ujung kesadaran, dalam keadaan tidur ringan. Bila dibangunkan pada saat ini, kita dapat mengingat kembali fantasi-fantasi atau gambar-gambar visual yang kita lihat


Tahap 2. Otak kita terkadang menghasilkan rentetan singkat gelombang yang cepat dan memiliki puncak gelombang yang tinggi, yang biasa disebut sebagai sleep spindle. Gangguan suara dalam dalam kadar kecil, mungkin tidak akan mengganggu tidur kita.


Tahap 3. Sebagai tambahan gelombang yang menjadi karakteristik tahap 2, otak kita terkadang menghasilkan gelombang delta, yang sangat lambat dengan puncak yang cukup tinggi. Pernafasan dan detak jantung melambat, otot-otot melemas dan mulai sulit dibangunkan.


Tahap 4. Gelombang delta yang mengambil alih sebagian besar aktivitas, dan kita berada dalam tidur yang dalam. Saat ini mungkin diperlukan gangguan yang kuat atau suara yang sangat keras untuk membangunkan


Terjadinya rangkaian dari tahap-tahap ini berlangsung selama 30 sampai 45 menit. Selanjutnya akan bergerak kembali ke tahap awal, dari tahap 4 ke tahap 3 kemudian ke tahap 2 dan ke tahap 1. Pada titik ini, 70 hingga 90 menit sesudah mulainya tidur, sesuatu yang khas mulai terjadi. Tahap 1 tidak berlangsung seperti tahap dimana kita berada dalam keadaan terbangun dan merasa mengantuk, tetapi otak mulai menghasilkan sederet panjang gelombang otak yang bergerak sangat cepat dan tidak teratur. Kecepatan detak jantung ddaan tekanan darah meningkat, pernafasan semakin cepat dan tidak teratur, wajah dan jari mungkin terdapat sedikit kejang. Pada saat bersamaan, sebagian otot penunjang tulang menjadi lemas, mencegah otak kita yang aktif menghasilkan gerakan fisik. Kita masuk ke dalam tahap REM.


Tidur REM sering disebut “tidur yang paradoks” karena otak berada dalam kondisi sangat aktif sementara tubuh tidak aktif sama sekali. Pada saat ini terjadi mimpi-mimpi yang jelas. Tidur terjadi untuk menyediakan waktu beristirahat, sehingga tubuh dapat membuang semua zat limbah dari otot, memperbaiki sel, menyimpan atau mengembalikan energi, memperkuat sstem kekebalan tubuh, atau mengembalikan kemampuan yang hilang dalam satu hari.


Ketika kita tidak mendapatkan tidur yang cukup, badan kita bekerja dengan tidak normal. Contoh: menurunnya kadar hormon yang dibutuhkan untuk perkembangan otot normal dan fungsi sitem kekebalan tubuh (Leproult, Van Reeth, dkk., 1997). Pada sebuah kasus, laki-laki 51 tahun mengalami kekurangan tidur. Setelah semakin merasakan lelah yang amat sangat, dia terserang infeksi jantung dan meninggal. Hasil otopsi menunjukkan bahwa dia telah kehilangan hampir semua saraf besar di dua (2) area dari talamus yang berkaitan dengan tidur dan ritme sirkadian hormonal (Lugaresi dkk, 1986)


Leproult dkk (1997) mengatakan bahwa kekurangan tidur yang kronis dapat meningkatkan hormon stres kortisol, yang dapat merusak atau menggangu selsel otak yang dibutuhkan untuk pembelajaran dan ingatan. Selain itu, sel-sel otak yang baru dapat gagal berkembang atau dapat juga tumbuh secara abnormal (Guzman-Marin dkk., 2005). Mungkin sebagai dampak dari kerusakan itu adalah terganggunya fleksibilitas mental, atensi, dan kreativitas. Setelah beberapa hari berada dalam keadaan terjaga terus menerus, biasanya seseorang akan mulai mengalami halusinasi dan delusi (Dement, 1978).


Menurut National Sleep Foundation sekitar 10% dari para dewasa diganggu oleh insomnia kronis, yaitu kesulitan untuk merasa mengantuk atau tetap tertidur. Insomnia dapat terjadi karena kecemasan dan kekhawatiran, masalah psikologis, hot flashes selama menopause, artritis, dan bekerja atau belajar secara tidak teratur dan dalam kondisi yang terlalu menuntut.


Penyebab lain dari rasa kantuk di siang hari adalah sleep apnea, yaitu suatu gangguan di mana proses bernapas berhenti sejenak saat tidur, menyebabkan orang tersebut tersedak dan sesak napas, lalu terbangun sesaat.


Sleep apnea memiliki beberapa penyebab, diantaranya terhalangnya jalan udara hingga kegagalan otak untuk mengatur pernafasan dengan tepat, hal ini dapat menyebabkan seseorang mengalami tekanan darah yang tinggi dan detak jantung yang tidak teratur.


Narkolepsi adalah suatu gangguan tidur berupa serangan rasa kantuk tiba-tiba dan tidak terduga pada siang hari yang membuat seseorang langsung masuk ke dalam tahap REM.Narkolepsi kemungkinan disebabkan oleh menurunnya fungsi dari sejumlah saraf dalam hipotalamus, yang bisa disebabkan oleh malfungsi kekebalan tubuh atau abnormalitas genetis (Lin, Hungs, & Mingot, 2001; Mieda dkk., 2004).


Tidur sangat dibutuhkan untuk konsolidasi, yaitu sebuah proses dimana terjadi perubahan sinapsis yang membuat ingatan yang baru saja disimpan menjadi lebih bertahan lama dan stabil (Sickgold, 1995).



Dunia Mimpi


Mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra-indra lain dalam tidur, terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat (rapid eye movement/REM sleep).


Kejadian dalam mimpi biasanya mustahil terjadi dalam dunia nyata, dan di luar kuasa pemimpi. Perkecualiannya adalah dalam mimpi yang disebut lucid dreaming. Dalam mimpi demikian, pemimpi menyadari bahwa dia sedang bermimpi saat mimpi tersebut masih berlangsung, dan terkadang mampu mengubah lingkungan dalam mimpinya serta mengendalikan beberapa aspek dalam mimpi tersebut.


Pemimpi juga dapat merasakan emosi ketika bermimpi, misalnya emosi takut dalam mimpi buruk. Ilmu yang mempelajari mimpi disebut oneirologi.


Setiap budaya memiliki teori masing-masing mengenai mimpi. Dalam beberapa budaya, mimpi dipercaya terjadi ketika roh atau jiwa meninggalkan tubuh fisik untuk berpetualang menjelajah dunia atau berbicara dengan para dewa. Pada budaya lainnya, mimpi dianggap sebagai pengungkapan masa yang akan datang.


Para peneliti percaya bahwa setiap orang bermimpi, dna bahkan kebanyakan orang yang mengatakan tidak pernah bermimpi, pasti dapat melaporkan terjadinya mimpi saat ia dibangunkan pada tidur REM. Ada beberapa kasus yang sangat langka dari beberapa orang yang tampaknya sama sekali tidak pernah bermimpi, kebanyakan dari individu ini mengalami gangguan atau cedera pada otak (pagel, 2003; Solms, 1997).


Dalam mimpi, pusat perhatian kita adalah diri kita sendiri, walaupun terkadang kejadian di luar diri, sepert bunyi sirine yang melengking dapat mempengaruhi isi miimpi. Ketika mimpi berlangsung, mimpi tersebut dapat terlihat sangat hidup dan jelas namun dapat juga terlihat samar-samar.


Walaupun kebanyakan dari kita menyadari mengenai tubuh kita atau di mana kita berada saat mimpi, beberapa orang mengatakan bahwa mereka terkadang memiliki lucid dream, di mana mereka mengetahui bahwa mereka sedang bermimpi dan seolah-olah mereka sadar akan hal tersebut (laBergee, 1986; La Bergee & Levitan, 1995).


Ada empat (4) teori yang menjelaskan mengenai mimpi, yaitu:


1. Psikoanalisis


2. Berfokus pada masalah (problem-focused approach)


3. Kognitif


4. Aktivasi-Sintesis


1. Psikoanalisa


Sigmund Freud menganalisis mimpi-mimpi dari pasiennya dan beberapa mimpinya sendiri, kemudian menyimpulkan bahwa fantasi-fantasi yang kita alami di malam hari memberikan gagasan atau penjelasan mengenai keinginan, motif-motif, dan konflik-konflik yang sering kali tidak kita sadari- sebuah jalan emas menuju ketidaksadaran”. Dalam mimpi kita dapat mengekspresikan semua hasrat dan keinginan terpendam, yang seringkali merupakan sesuatu yang terkait dengan seksualitas dan kekerasan.


Setiap mimpi memiliki makna, tidak peduli seberapa aneh gambaran yang terlihat dalam mimpi itu. Tetapi bila sebuah pesan dalam mimpi menimbulkan kecemasan, bagian rasional dari pikiran harus menyingkirkan atau mengubahnya. Kalau tidak, mimpi dapat masuk ke dalam kesadaran dan membangunkan si pemimpi tadi.


2. Berfokus pada masalah


Mimpi merefeksikan hal-hal dalam kehidupan kita yang pada saat itu terus menerus memenuhi pikiran, seperti masalah atau urusan kita mengenai hubungan dengan kekasih, pekerjaan, aktivitas seks, ataupun kesehatan (Hall, 1953; Cartwright, 1977).Simbol-simbol dan metafora dalam mimpi tidak menutupi makna sesungguhnya, mereka malah menyatakannya. Mimpi cenderung menggambarkan isi yang terkait dengan keadaan seseorang pada saat ini (Domhoff, 1996). Peristiwa traumatis juga dapat mempengaruhi mimpi seseorang. Mimpi tidak hanya merefleksikan kecemasan utama kita saat ini, namun juga memberikan kesempatan bagi kita untuk mengatasinya (Barrett, 2001; Cartwright, 1990, 1996).


3. Pendekatan Kognitif


Mimpi menekankan perhatian kita saat ini, tetapi tidak menyatakan pemecahan masalah selama kita tidur. Mimpi merupakan modifikasi dari aktivitas kognitif yang terjadi saat kita terbangun.Kita membangun simulasi yang masuk akal dari dunia nyata, menggunakan jenis ingatan, pengetahuan, metafora, dan anggapan-anggapan mengenai dunia yang sama seperti yang kita lakukan ketika kita tidak sedang tidur (Domhoff, 2003, Antrobus, 1991, 2000; Foulkes, 1999). Isi mimpi dapat mencakup pikiran-pikiran, konsep-konsep dan skenario yang berhubungan maupun yang tidak berhubungan dengan masalah sehari-hari kita. Dalam pandangan kognitif, otak melakukan aktivitas kerja yang sejenis dengan kerja yang dilakukan saat kita terjaga. Beberapa bagian dari korteks serebral yang terlihat aktif saat kita terlibat dalam proses persepsi dan kognitif sangat aktif pada saat kita bermimpi. Bedanya, bahwa saat tidur kita terlepas dari proses input sensorik dan umpan balik dari dunia maupun pergerakan tubuh; satu-satunya input yang masuk ke otak adalah output dari otak itu sendiri.


4. Teori Aktivasi-Sintesis


J. Allan Hobson (1988, 1990) mengatakan bahwa mimpi bukan merupakan “anak-anak dari otak yang diam” melainkan merupakan hasil dari neuron-neuron bagian bawah otak (pons) yang bekerja secara spontan selama tidur REM.


Sinyal-sinyal yang berasal dari pons tidak memiliki makna psikologis sendiri. Tetapi korteks kemudian mencoba untuk membuatnya menjadi bermakna, dengan mensintesiskan atau mengintegrasikan sinyal-sinyal ini dengan pengetahuan dan ingatan-ingatan yang sudah ada untuk menghasilkan intepretasi yang logis.


Batang otak menentukan respon-respon bagian yang bertanggung jawab atas hal-hal emosional dan visual pada otak. Pada saat yang bersamaan, area otak yang mengatur pikiran logis dan sensasi dari dunia luar tertutup. Perubahan ini menjelaskan fakta mengapa mimpi seringkali membangkitkan respon-respon emosional, halusinasi, dan tidak logis.


Mengevalusi Teori Mimpi

























Teori


Tujuan Mimpi


Kelemahan


Psikoanalisa


Mengekspresikan keinginan, pikiran, dan konflik yang tak disadari


Intepretasi sering kali terlalu jauh; tidak ada cara yang dapat diandalkan untuk mengintepretasikan makna “terpendam”


Berfokus pada masalah


Mengekspresikan kecemasan yang sedang dirasakan pada kehidupan ‘terjaga’ dan/ atau mengatasi masalah atau kecemasan saat ini


Beberapa ahli teori merasa skeptis akan kemampuan mengatasi masalah saat tidur


Kognitif


Sama seperti kehidupan di saat kita terjaga-untuk mengekspresikan kecemasan dan minat


Beberapa pernyataan spesifik masih harus dibuktikan


Aktivasi-Sintesis


Tidak ada; mimpi terjadi karena sinyal acak dari batang otak, meskipun interpretasi dari korteks terhadap sinyal-sinyal ini dapat merefleksikan kecemasan ataupun konflik


Tidak menjelaskan mimpi yang logis, berupa cerita atau mimpi non-REM



Hipnosis


Hipnosis adalah sebuah prosedur dimana seorang praktisi mensugestikan perubahan sensasi, persepsi, pikiran, perasaan, atau perilaku dari subjek (Kirsch&Lynn, 1995). Orang yang terhipnotis mencoba mengubah proses kognisinya sejalan dengan dengan sugesti yang ditanamkan oleh penghipnotis (Nash&Nadon, 1997).


Hipnosis/hipnotis (Bahasa Inggris: hypnosis) adalah proses psikologis alami yang "melompati" proses berpikir kritis dan membentuk satu jenis pikiran dan persepsi tertentu


Karakteristik Hipnosis


Berdasarkan sejumlah penelitian laboratoruim yang terkontrol dan studi klinis, sebagian peneliti menyepakati hal-hal berikut (Kirsch&Lynn, 1995; Nash&Nadon, 1997):


1. Reaksi hipnosis lebih tergantung pada usaha dan kualitas orang yang sedang dihipnosis dibandingkan dengan keterampilan penghipnosis


2. Orang yang terhipnosis tidak dapat dipaksa melakukan hal yang bertentangan dengan keinginan mereka sendiri


3. Tindakan-tindakan yang dilakukan dibawah pengaruh hipnosis dapat juga dilakukan oleh orang yang termotivasi, tanpa harus menggunakan hipnosis


4. Hipnosis tidak meningkatkan ketepatan ingatan


5. Hipnosis tidak menghasilkan pengulangan kembali pengalaman kejadian di masa lalu


6. Sugesti hipnosis telah digunakan secara efektif untuk banyak tujuan psikologis atau medis


Teori Hipnosis


Beberapa teori hipnosis berusaha mendeskripsikan gejala ini dalam kaitannya dengan aktivitas otak sedangkan beberapa teori lainnya lebih berfokus pada pengalaman fenomenologisnya. Terdapat perbedaan fundamental dalam teori hipnosis, yaitu antara "keadaan" (state) dan "non-keadaan" (non-state). Penganut teori "keadaan" meyakini bahwa keadaan kesadaran yang berubah adalah bagian pokok dari hipnosis, sementara penganut teori "non-keadaan" percaya bahwa proses psikologis biasa, seperti perhatian terpusat dan pengharapan, sudah cukup untuk menerangkan gejala ini. Definisi yang tepat dari apa yang merupakan keadaan kesadaran yang berubah masih menjadi bahan perdebatan. Meskipun banyak orang yang dihipnosis mendeskripsikan pengalaman mereka sebagai "berubah", sulit untuk menggunakan istilah ini tanpa ada definisi yang jelas terlebih dahulu.


[ Teori Keadaan Alfa dan Theta


Melalui data yang dikumpulkan dari Electroencephalography (EEG), diidentifikasikan dari impuls elektrik yang dipancarkan oleh otak ada empat macam frekuensi pola gelombang otak yang pokok. Keadaan Beta (waspada/bekerja) didefinisikan sebagai 14-32 putaran per detik / cycles per second (CPS), keadaan Alfa (santai/relax) sebagai 7-14 CPS, keadaan Theta (mengantuk) sebagai 4-7 CPS, dan keadaan Delta (tidur/bermimpi/tidur pulas) kira-kira 3-5 CPS.


Satu definisi fisiologis dari keadaan hipnotis adalah bahwa tingkat gelombang otak yang diperlukan untuk mengatasi masalah seperti berhenti merokok, penanganan masalah berat badan, pengurangan fobia, peningkatan kemampuan olah raga, dll adalah keadaan alfa. Keadaan alfa pada umumnya diasosiasikan dengan menutup mata, relaksasi, dan melamun.


Definisi fisiologis lain menyebutkan bahwa keadaan theta diperlukan untuk perubahan therapeutic (berhubungan dengan pengobatan). Keadaan theta dikaitkan dengan hipnosis untuk pembedahan, hipnoanestesia (penggunaan hipnosis untuk mematirasakan rasa sakit), dan hipnoanalgesia (penggunaan hipnosis untuk mengurangi kepekaan terhadap rasa sakit), di mana pembedahan lebih siap dilakukan dalam keadaan theta dan delta. Obat bius (anestetik), zat penenang (sedatif) dan hipnosis mengacaukan keselarasan syaraf, yang dianggap mendasari terjadinya gelombang theta, baik dalam manusia maupun binatang.


Teori Hipnosis yang lain


1.Teori Disosiasi


Ernest Hilgrad (1977, 1986) menyatakan bahwa hipnosis, seperti mimpi yang jelas dan bahkan distraksi sederhana melibatkan disosiasi, yaitu terpisahnya kesadaran dimana satu bagian pikiran bekerja sendiri dan terlepas dari kesadaran lainnya.


2. Pendekatan Sosiokognitif


K,irsch (1997); Sarbin (1991); Spanos (1991) menyatakan bahwa efek hipnosis merupakan hasil interaksi antara pengaruh sosial yang dimiliki penghipnosis (sosio) dan kemampuan, kepercayaan, serta harapan subjek (kognitif).


Konstruksionisme sosial / teori permainan peran


Teori ini beranggapan bahwa individu yang dihipnosis memainkan peran dan membiarkan penghipnosis menciptakan realitas untuk mereka.


Umumnya, selama proses hipnosis orang menjadi lebih reseptif (mudah menerima) sugesti, menyebabkan mereka berubah dalam cara merasakan, berpikir, dan berperilaku. Beberapa psikolog seperti Robert Baker mengklaim bahwa apa yang kita sebut dengan hipnosis sebenarnya adalah bentuk dari perilaku sosial yang dipelajari. Sementara psikolog seperti Sarbin dan Spanos beranggapan bahwa subjek bermain peran dengan pengharapan sosial yang kuat, subjek percaya bahwa mereka dalam keadaan terhipnosis, kemudian mereka berperilaku dengan cara yang mereka bayangkan bagaimana seorang yang dihipnosis akan berperilaku.


Obat-obatan penggugah kesadaran


Obat psikoaktif adalah senyawa yang dapat mengubah persepsi, suasana hati, pikiran, ingatan, dan perilaku, dnegan cara mengubah zat-zat biokimia dalam tubuh.


1. Stimulan mempercepat ektivitas dalam sistem saraf pusat (nikotin, kafein, amfetamin, hidroklorida)


2. Depresan memperlambat aktivitas dalam sistem saraf pusat (alkohol, obat penenang, kelompok barbiturat)


3. Opiat meredakan rasa sakit (opium, morfin, heroin, obat-obat sintetis; metadhone)


4. Obat-obat psychedelic mengganggu pikiran yang normal (mescaline, salvia divinorum, psilocybin)


Psikologi dari pengaruh obat


1. Faktor individu mencakup berat badan, metabolisme, tahap awal dari rangsangan emosional, karakter kepribadian, dan toleransi fisik untuk obat tersebut.


2. Pengalaman dengan mencoba obat mengacu pada berapa kali seseorang telah mengkonsumsinya.


3. “Latar belakang lingkungan” mengacu pada konteks dimana seseorang menggunakan obat-obatan.


4. “Set mental” mengacu pada ekspektasi seseorang terhadap pengaruh obat tersebut dan alasan untuk mengkonsumsinya.


Oleh : sri Wulandari, S. Psi. Psi

blog comments powered by Disqus

Poskan Komentar



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER