Kamis, 06 Agustus 2009

Proses Sensori

Modul 5


Proses Sensori


Indera Manusia


Indra mempunyai sel-sel reseptor khusus untuk mengenali perubahan lingkungan. Indra yang kita kenal ada lima, yaitu:




  1. Indra penglihat (mata)


  2. Indra pendengar (telinga)


  3. Indra peraba (kulit)


  4. Indra pengecap (lidah)


  5. Indra pencium (hidung).

Kelima indra tersebut berfungsi untuk mengenali perubahan lingkungan luar, oleh karenanya disebut eksoreseptor.


Reseptor yang berfungsi untuk mengenali lingkungan dalam, misalnya nyeri, kadar oksigen atau karbon dioksida, kadar glukosa dan sebagainya, disebut interoreseptor.


Sel-sel interoreseptor misalnya terdapat pada sel otot, tendon, ligamentum, sendi, dinding saluran pencernaan, dinding pembuluh darah, dan lain sebagainya. Akan tetapi, sesungguhnya interoreseptor terdapat di seluruh tubuh manusia. Interoreseptor yang membantu koordinasi dalam sikap tubuh disebut kinestesis.


INDERA PENGLIHAT (MATA)


Mata mempunyai reseptor khusus untuk mengenali perubahan sinar dan warna. Sesungguhnya yang disebut mata bukanlah hanya bola mata, tetapi termasuk otot-otot penggerak bola mata, kotak mata (rongga tempat mata berada), kelopak, dan bulu mata.


1. Bola Mata


Bola mata mempunyai 3 lapis dinding yang mengelilingi rongga bola mata. Ketiga lapis dinding ini dari luar ke dalam adalah sebagai berikut.


http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/Image/2-10a-1.jpg


Gbr. Struktur bola mata dilihat dari samping


image003


image004


a. Sklera


Sklera merupakan jaringan ikat dengan serat yang kuat; berwarna putih buram (tidak tembus cahaya), kecuali di bagian depan bersifat transparan, disebut kornea. Konjungtiva adalah lapisan transparan yang melapisi kornea dan kelopak mata. Lapisan ini berfungsi melindungi bola mata dari gangguan.


b. Koroid


Koroid berwarna coklat kehitaman sampai hitam; merupakan lapisan yang berisi banyak pembuluh darah yang memberi nutrisi dan oksigen terutama untuk retina. Warna gelap pada koroid berfungsi untuk mencegah refleksi (pemantulan sinar). Di bagian depan, koroid membentuk badan siliaris yang berlanjut ke depan membentuk iris yang berwarna. Di bagian depan iris bercelah membentuk pupil (anak mata). Melalui pupil sinar masuk. Iris berfungsi sebagai diafragma, yaitu pengontrol ukuran pupil untuk mengatur sinar yang masuk. Badan siliaris membentuk ligamentum yang berfungsi mengikat lensa mata. Kontraksi dan relaksasi dari otot badan siliaris akan mengatur cembung pipihnya lensa.


c. Retina


Lapisan ini peka terhadap sinar. Pada seluruh bagian retina berhubungan dengan badan sel-sel saraf yang serabutnya membentuk urat saraf optik yang memanjang sampai ke otak. Bagian yang dilewati urat saraf optik tidak peka terhadap sinar dan daerah ini disebut bintik buta.


Adanya lensa dan ligamentum pengikatnya menyebabkan rongga bola mata terbagi dua, yaitu bagian depan terletak di depan lensa berisi carian yang disebut aqueous humor dan bagian belakang terletak di belakang lensa berisi vitreous humor. Kedua cairan tersebut berfungsi menjaga lensa agar selalu dalam bentuk yang benar.


Kotak mata pada tengkorak berfungsi melindungi bola mata dari kerusakan. Selaput transparan yang melapisi kornea dan bagian dalam kelopak mata disebut konjungtiva. Selaput ini peka terhadap iritasi. Konjungtiva penuh dengan pembuluh darah dan serabut saraf. Radang konjungtiva disebut konjungtivitis.


Untuk mencegah kekeringan, konjungtiva dibasahi dengan cairan yang keluar dari kelenjar air mata (kelenjar lakrimal) yang terdapat di bawah alis.


Air mata mengandung lendir, garam, dan antiseptik dalam jumlah kecil. Air mata berfungsi sebagai alat pelumas dan pencegah masuknya mikroorganisme ke dalam mata.


2. Otot Mata


Ada enam otot mata yang berfungsi memegang sklera. Empat di antaranya disebut otot rektus (rektus inferior, rektus superior, rektus eksternal, dan rektus internal). Otot rektus berfungsi menggerakkan bola mata ke kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah. Dua lainnya adalah otot obliq atas (superior) dan otot obliq bawah (inferior).


3. Fungsi Mata


Sinar yang masuk ke mata sebelum sampai di retina mengalami pembiasan lima kali yaitu waktu melalui konjungtiva, kornea, aqueus humor, lensa, dan vitreous humor. Pembiasan terbesar terjadi di kornea. Bagi mata normal, bayang-bayang benda akan jatuh pada bintik kuning, yaitu bagian yang paling peka terhadap sinar.


Ada dua macam sel reseptor pada retina, yaitu sel kerucut (sel konus) dan sel batang (sel basilus). Sel konus berisi pigmen lembayung dan sel batang berisi pigmen ungu. Kedua macam pigmen akan terurai bila terkena sinar, terutama pigmen ungu yang terdapat pada sel batang. Oleh karena itu, pigmen pada sel basilus berfungsi untuk situasi kurang terang, sedangkan pigmen dari sel konus berfungsi lebih pada suasana terang yaitu untuk membedakan warna, makin ke tengah maka jumlah sel batang makin berkurang sehingga di daerah bintik kuning hanya ada sel konus saja.


Pigmen ungu yang terdapat pada sel basilus disebut rodopsin, yaitu suatu senyawa protein dan vitamin A. Apabila terkena sinar, misalnya sinar matahari, maka rodopsin akan terurai menjadi protein dan vitamin A. Pembentukan kembali pigmen terjadi dalam keadaan gelap. Untuk pembentukan kembali memerlukan waktu yang disebut adaptasi gelap (disebut juga adaptasi rodopsin). Pada waktu adaptasi, mata sulit untuk melihat.


Pigmen lembayung dari sel konus merupakan senyawa iodopsin yang merupakan gabungan antara retinin dan opsin. Ada tiga macam sel konus, yaitu sel yang peka terhadap warna merah, hijau, dan biru. Dengan ketiga macam sel konus tersebut mata dapat menangkap spektrum warna. Kerusakan salah satu sel konus akan menyebabkan buta warna.


Jarak terdekat yang dapat dilihat dengan jelas disebut titik dekat (punctum proximum). Jarak terjauh saat benda tampak jelas tanpa kontraksi disebut titik jauh (punctum remotum). Jika kita sangat dekat dengan obyek maka cahaya yang masuk ke mata tampak seperti kerucut, sedangkan jika kita sangat jauh dari obyek, maka sudut kerucut cahaya yang masuk sangat kecil sehingga sinar tampak paralel. Lihat Gambar 11.18. Baik sinar dari obyek yang jauh maupun yang dekat harus direfraksikan (dibiaskan) untuk menghasilkan titik yang tajam pada retina agar obyek terlihat jelas. Pembiasan cahaya untuk menghasilkan penglihatan yang jelas disebut pemfokusan.








Cahaya dibiaskan jika melewati konjungtiva kornea. Cahaya dari obyek yang dekat membutuhkan lebih banyak pembiasan untuk pemfokusan dibandingkan obyek yang jauh. Mata mamalia mampu mengubah derajat pembiasan dengan cara mengubah bentuk lensa. Cahaya dari obyek yang jauh difokuskan oleh lensa tipis panjang, sedangkan cahaya dari obyek yang dekat difokuskan dengan lensa yang tebal dan pendek. Perubahan bentuk lensa ini akibat kerja otot siliari. Saat melihat dekat, otot siliari berkontraksi sehingga memendekkan apertura yang mengelilingi lensa. Sebagai akibatnya lensa menebal dan pendek. Saat melihat jauh, otot siliari relaksasi sehingga apertura yang mengelilingi lensa membesar dan tegangan ligamen suspensor bertambah. Sebagai akibatnya ligamen suspensor mendorong lensa sehingga lensa memanjang dan pipih.Proses pemfokusan obyek pada jarak yang berbeda-berda disebut daya akomodasi.


http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/Image/2-10a-2.jpg


a. Akomodasi mata saat
melihat jauh

b. Akomodasi mata saat
melihat dekat


Cara kerja mata manusia pada dasarnya sama dengan cara kerja kamera, kecuali cara mengubah fokus lensa. Persamaan dan perbedaannya disajikan pada Tabel.


4. Kelainan pada Mata


Pada anak-anak, titik dekat mata bisa sangat pendek, kira-kira 9 cm untuk anak umur 11 tahun. Makin tua, jarak titik dekat makin panjang. Sekitar umur 40 tahun - 50 tahun terjadi perubahan yang menyolok, yaitu titik dekat mata sampai 50 cm, oleh karena itu memerlukan pertolongan kaca mata untuk membaca berupa kaca mata cembung (positif). Cacat mata seperti ini disebut presbiopi atau mata tua karena proses penuaan. Hal ini disebabkan karena elastisitas lensa berkurang. Penderita presbiopi dapat dibantu dengan lensa rangkap. Mata jauh dapat terjadi pada anak-anak; disebabkan bola mata terlalu pendek sehingga bayang-bayang jatuh di belakang retina. Cacat mata pada anak-anak seperti ini disebut hipermetropi.


Miopi atau mata dekat adalah cacat mata yang disebabkan oleh bola mata terlalu panjang sehingga bayang-bayang dari benda yang jaraknya jauh akan jatuh di depan retina. Pada mata dekat ini orang tidak dapat melihat benda yang jauh, mereka hanya dapat melihat benda yang jaraknya dekat. Untuk cacat seperti ini orang dapat ditolong dengan lensa cekung (negatif). Miopi biasa terjadi pada anak-anak.


Astigmatisma merupakan kelainan yang disebabkan bola mata atau permukaan lensa mata mempunyai kelengkungan yang tidak sama, sehingga fokusnya tidak sama, akibatnya bayang-bayang jatuh tidak pada tempat yang sama. Untuk menolong orang yang cacat seperti ini dibuat lensa silindris, yaitu yang mempunyai beberapa fokus.


http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/Image/2-10a-3.jpg


Gbr. Kelainan mata : (a) Miopi, (b) Hipermetropi


Katarak adalah cacat mata, yaitu buramnya dan berkurang elastisitasnya lensa mata. Hal ini terjadi karena adanya pengapuran pada lensa. Pada orang yang terkena katarak pandangan menjadi kabur dan daya akomodasi berkurang.


Kelainan-kelainan mata yang lain adalah:




  • Imeralopi (rabun senja): pada senja hari penderita menjadi rabun


  • Xeroftalxni: kornea menjadi keying dan bersisik


  • Keratomealasi: kornea menjadi putih dan rusak.

Indera Pendengar


Telinga mempunyai reseptor khusus untuk mengenali getaran bunyi dan untuk keseimbangan. Ada tiga bagian utama dari telinga manusia, yaitu bagian telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.


Telinga luar berfungsi menangkap getaran bunyi, dan telinga tengah meneruskan getaran dari telinga luar ke telinga dalam. Reseptor yang ada pada telinga dalam akan menerima rarigsang bunyi dan mengirimkannya berupa impuls ke otak untuk diolah.


Gelombang suara adalah suatu energi yang dihasilkan dari pemampatan dan perengangan molekul yang dihasilkan oleh sumber bunyi.Ketika penala bergetar ketika dia bergerak ke satu arah, maka dia akan menyebabkan pemempatan molekul udara yang searah, lalu ketika penala bergerak ke arah sebaliknya, hal ini akan menyebabkan perenggangan molekul udara di sekitarnya. Hal ini berlangsung terus menerus, sehingga menghasilkan gelombang udara yang terdiri dari pemampatan dan perenggangan molekul udara.


Selain melalui udara, getaran suara juga dapat merambat melalui air, namun getaran suara tersebut kurang efektif bila dibandingkan dengan jika merambat di udara. Diperlukan amplitudo/intensitas yang lebih besar untuk dapat merambat melalui air


Suara memiliki 3 kharakteristik :


1. Nada, yang diatur oleh frekuensi, tinggi rendahnya suara


2. Intensitas, yang diatur oleh amplitudo, keras lembutnya suara.


3. Timbre (warna suara) yang diatur oleh frekuensi tambahan yang menyertai nada murni. Nada murni memiliki 1 frekuensi utama, dan tidak ada frekuensi tambahan. Timbre berguna agar manusia dapat membedakan asal sumber suara tersebut, sehingga seseorang dapat membedakan suara wanita dan laki-laki.


1. Susunan Telinga


Telinga tersusun atas tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.


Telinga terbagi menjadi 3 bagian :


1. Telinga luar yang terdiri dari


a. Daun telinga (pinna)


b. Liang telinga (meatus akustikus eksternus)


c. Gendang telinga (membran timpani)


2. Telinga tengah, yang terdiri dari tulang-tulang pendengaran (MIS)


a. Maleus


b. Inkus


c. Stapes


3. Telinga dalam yang terdiri dari koklea yang berisi organ corti tempat terdapatnya saraf pendengaran


http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/Image/2-10b-1.jpg


Gbr. Struktur telinga pada manusia


image008




a. Telinga luar


Telinga luar terdiri dari daun telinga, saluran luar, dan membran timpani (gendang telinga). Daun telinga manusia mempunyai bentuk yang khas, tetapi bentuk ini kurang mendukung fungsinya sebagai penangkap dan pengumpul getaran suara. Bentuk daun telinga yang sangat sesuai dengan fungsinya adalah daun telinga pada anjing dan kucing, yaitu tegak dan membentuk saluran menuju gendang telinga. Saluran luar yang dekat dengan lubang telinga dilengkapi dengan rambut-rambut halus yang menjaga agar benda asing tidak masuk, dan kelenjar lilin yang menjaga agar permukaan saluran luar dan gendang telinga tidak kering.


Suara yang datang pertama kali akan ditangkap oleh daun telinga. Daun telinga pada binatang ada yang bisa dibelokkan ke berbagai arah untuk menangkap bunyi-bunyi di sekitarnya, namun pada manusia hanya ke arah depan saja dan memiliki gerak yang terbatas, naumn hal ini sudah cukup untuk memudahkan manusia membedakan bunyi dari arah depan atau belakang.


Manusia memiliki 2 telinga untuk dapat membedakan arah datangnya suara dari kanan atau kiri. Suara yang datang dari kanan akan lebih cepat dan lebih kuat diterima oleh telinga kanan dibandingkan telinga kiri.


Liang telinga berfungsi untuk menghantarkan getaran dari daun telinga ke gendang telinga. Liang telinga juga berfungsi untuk mencegah kotoran menempel di gendang telinga, yang dapat mengganggu getaran gendang telinga. Liang telinga memiliki rambut-rambut halus dan kelenjar keringat yang dimodifikasi menjadi penghasil serumen. Rambut-rambut halus dan serumen ini dapat digunakan sebagai barier untuk kotoran-kotoran tersebut.


Getaran dari liang telinga akan diteruskan ke gendang telinga. Getaran udara yang terdiri dari tekanan tinggi dan tekanan rendah, akan menggetarkan gendang telinga, sehingga gendang telinga bergetar.


Tekanan udara istirahat di kedua sisi gendang telinga haruslah sama agar gendang telinga dapat bergetar bebas. Bagian luar gendang telinga terpajan atmosfer di udara luar, sedangkan bagian dalam gendang telinga terpajan ke faring melalui tuba eustachii. Dalam keadaan normal, tuba eustachii tertutup. Tuba eustachii akan terbuka pada keadaan menguap, mengunyah, dan menelan. Pembukaan tersebut memungkinkan telinga tengah untuk menyamakan tekanan dengan telinga luar, karena faring terhubung ke lingkungan luar melalui mulut dan hidung


b. Telinga tengah


Bagian ini merupakan rongga yang berisi udara untuk menjaga tekanan udara agar seimbang. Di dalamnya terdapat saluran Eustachio yang menghubungkan telinga tengah dengan faring. Rongga telinga tengah berhubungan dengan telinga luar melalui membran timpani. Hubungan telinga tengah dengan bagian telinga dalam melalui jendela oval dan jendela bundar yang keduanya dilapisi dengan membran yang transparan.


Selain itu terdapat pula tiga tulang pendengaran yang tersusun seperti rantai yang menghubungkan gendang telinga dengan jendela oval. Ketiga tulang tersebut adalah tulang martil (maleus) menempel pada gendang telinga dan tulang landasan (inkus). Kedua tulang ini terikat erat oleh ligamentum sehingga mereka bergerak sebagai satu tulang. Tulang yang ketiga adalah tulang sanggurdi (stapes) yang berhubungan dengan jendela oval. Antara tulang landasan dan tulang sanggurdi terdapat sendi yang memungkinkan gerakan bebas.


Fungsi rangkaian tulang dengar adalah untuk mengirimkan getaran suara dari gendang telinga (membran timpani) menyeberangi rongga telinga tengah ke jendela oval.


Telinga tengah berfungsi menghantarkan getaran dari telinga luar ke telinga dalam. Getaran dari telinga luar ini akan diamplifikasi ke telinga dalam. Gendang telinga yang ukurannya jauh lebih besar dari pada jendela oval, yang merupakan pintu masuk ke telinga dalam, akan meningkatkan getaran yang diterimanya. Getaran suara yang diterima jendelo oval akan teramplifikasi 20 kali lipat dibandingkan getaran suara di gendang telinga.


Selain itu, fungsi pengungkit dari tulang-tulang pendengaran (Maleus, Inkus, Stapes) juga dapat mengamplifikasi getaran-getaran udara dari telinga luar.


Telinga tengah memiliki otot yang menahan tulang-tulang pendengaran agar dapat meredam getaran suara yang terlalu kuat untuk melindungi struktur telinga dalam agar tidak rusak oleh getaran yang terlampau kuat. Tapi respons ini relatif lambat, timbul paling sedikit 40mdet setelah pajanan.


Senapan mesin didesain untuk mengeluarkan bunyi yang keras. Hal ini digunakan agar dalam keadaan perang, prajurit yang memakai senapan mesin akan terbiasa dengan suara keras, sehingga otot-otot tulang pendengaran akan bekerja maksimal, sehingga ketika ada bom yang jatuh di dekat prajurit tersebut, prajurit tersebut tidak langsung tuli.


c. Telinga dalam


Bagian ini mempunyai susunan yang rumit, terdiri dari labirin tulang dan labirin membran.


Ada 5 bagian utama dari labirin membran, yaitu sebagai berikut.




  1. Tiga saluran setengah lingkaran


  2. Ampula


  3. Utrikulus


  4. Sakulus


  5. Koklea atau rumah siput

Sakulus berhubungan dengan utrikulus melalui saluran sempit. Tiga saluran setengah lingkaran, ampula, utrikulus dan sakulus merupakan organ keseimbangan, dan keempatnya terdapat di dalam rongga vestibulum dari labirin tulang.


Koklea mengandung organ Korti untuk pendengaran. Koklea terdiri dari tiga saluran yang sejajar, yaitu: saluran vestibulum yang berhubungan dengan jendela oval, saluran tengah dan saluran timpani yang berhubungan dengan jendela bundar, dan saluran (kanal) yang dipisahkan satu dengan lainnya oleh membran. Di antara saluran vestibulum dengan saluran tengah terdapat membran Reissner, sedangkan di antara saluran tengah dengan saluran timpani terdapat membran basiler. Dalam saluran tengah terdapat suatu tonjolan yang dikenal sebagai membran tektorial yang paralel dengan membran basiler dan ada di sepanjang koklea. Sel sensori untuk mendengar tersebar di permukaan membran basiler dan ujungnya berhadapan dengan membran tektorial. Dasar dari sel pendengar terletak pada membran basiler dan berhubungan dengan serabut saraf yang bergabung membentuk saraf pendengar. Bagian yang peka terhadap rangsang bunyi ini disebut organ Korti.


Cara kerja indra pendengaran


Gelombang bunyi yang masuk ke dalam telinga luar menggetarkan gendang telinga. Getaran ini akan diteruskan oleh ketiga tulang dengar ke jendela oval. Getaran Struktur koklea pada jendela oval diteruskan ke cairan limfa yang ada di dalam saluran vestibulum. Getaran cairan tadi akan menggerakkan membran Reissmer dan menggetarkan cairan
limfa dalam saluran tengah. Perpindahan getaran cairan limfa di dalam saluran tengah menggerakkan membran basher yang dengan sendirinya akan menggetarkan cairan dalam saluran timpani. Perpindahan ini menyebabkan melebarnya membran pada jendela bundar. Getaran dengan frekuensi tertentu akan menggetarkan selaput-selaput
basiler, yang akan menggerakkan sel-sel rambut ke atas dan ke bawah. Ketika rambut-rambut sel menyentuh membran tektorial, terjadilah rangsangan (impuls).
Getaran membran tektorial dan membran basiler akan menekan sel sensori pada organ Korti dan kemudian menghasilkan impuls yang akan dikirim ke pusat pendengar di dalam otak melalui saraf pendengaran.


2. Susunan dan Cara Kerja Alat Keseimbangan


Bagian dari alat vestibulum atau alat keseimbangan berupa tiga saluran setengah lingkaran yang dilengkapi dengan organ ampula (kristal) dan organ keseimbangan yang ada di dalam utrikulus clan sakulus.


Ujung dari setup saluran setengah lingkaran membesar dan disebut ampula yang berisi reseptor, sedangkan pangkalnya berhubungan dengan utrikulus yang menuju ke sakulus. Utrikulus maupun sakulus berisi reseptor keseimbangan. Alat keseimbangan yang ada di dalam ampula terdiri dari kelompok sel saraf sensori yang mempunyai rambut dalam tudung gelatin yang berbentuk kubah. Alat ini disebut kupula. Saluran semisirkular (saluran setengah lingkaran) peka terhadap gerakan kepala.


Alat keseimbangan di dalam utrikulus dan sakulus terdiri dari sekelompok sel saraf yang ujungnya berupa rambut bebas yang melekat pada otolith, yaitu butiran natrium karbonat. Posisi kepala mengakibatkan desakan otolith pada rambut yang menimbulkan impuls yang akan dikirim ke otak.


http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/Image/2-10b-2.jpg


Gbr. Alat-alat keseimbangan pada telinga


Indera Peraba


Kulit merupakan indra peraba yang mempunyai reseptor khusus untuk sentuhan, panas, dingin, sakit, dan tekanan.


1. Susunan Kulit


Kulit terdiri dari lapisan luar yang disebut epidermis dan lapisan dalam atau lapisan dermis. Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah dan sel saraf. Epidermis tersusun atas empat lapis sel. Dari bagian dalam ke bagian luar, pertama adalah stratum germinativum berfungsi membentuk lapisan di sebelah atasnya. Kedua, yaitu di sebelah luar lapisan germinativum terdapat stratum granulosum yang berisi sedikit keratin yang menyebabkan kulit menjadi keras dan kering. Selain itu sel-sel dari lapisan granulosum umumnya menghasilkan pigmen hitam (melanin). Kandungan melanin menentukan derajat warna kulit, kehitaman, atau kecoklatan. Lapisan ketiga merupakan lapisan yang transparan disebut stratum lusidum dan lapisan keempat (lapisan terluar) adalah lapisan tanduk disebut stratum korneum.


http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/Image/2-10c.jpg


Gbr. Penampang kulit manusia beserta reseptor-reseptornya


Penyusun utama dari bagian dermis adalah jaringan penyokong yang terdiri dari serat yang berwarna putih dan serat yang berwarna kuning. Serat kuning bersifat elastis/lentur, sehingga kulit dapat mengembang.


Stratum germinativum mengadakan pertumbuhan ke daerah dermis membentuk kelenjar keringat dan akar rambut. Akar rambut berhubungan dengan pembuluh darah yang membawakan makanan dan oksigen, selain itu juga berhubungan dengan serabut saraf. Pada setiap pangkal akar rambut melekat otot penggerak rambut. Pada waktu dingin atau merasa takut, otot rambut mengerut dan rambut menjadi tegak. Di sebelah dalam dermis terdapat timbunan lemak yang berfungsi sebagai bantalan untuk melindungi bagian dalam tubuh dari kerusakan mekanik.


2. Fungsi Kulit


Kulit berfungsi sebagai alat pelindung bagian dalam, misalnya otot dan tulang; sebagai alat peraba dengan dilengkapi bermacam reseptor yang peka terhadap berbagai rangsangan; sebagai alat ekskresi; serta pengatur suhu tubuh.


Sehubungan dengan fungsinya sebagai alat peraba, kulit dilengkapi dengan reseptorreseptor khusus. Reseptor untuk rasa sakit ujungnya menjorok masuk ke daerah epidermis. Reseptor untuk tekanan, ujungnya berada di dermis yang jauh dari epidermis. Reseptor untuk rangsang sentuhan dan panas, ujung reseptornya terletak di dekat epidermis.


Indera Pengecap


Lidah mempunyai reseptor khusus yang berkaitan dengan rangsangan kimia. Lidah merupakan organ yang tersusun dari otot. Permukaan lidah dilapisi dengan lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir, dan reseptor pengecap berupa tunas pengecap. Tunas pengecap terdiri atas sekelompok sel sensori yang mempunyai tonjolan seperti rambut.


Permukaan atas lidah penuh dengan tonjolan (papila). Tonjolan itu dapat dikelompokkan menjadi tiga macam bentuk, yaitu bentuk benang, bentuk dataran yang dikelilingi parit-parit, dan bentuk jamur. Tunas pengecap terdapat pada paritparit papila bentuk dataran, di bagian samping dari papila berbentuk jamur, dan di permukaan papila berbentuk benang.


http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/Image/2-10d.jpg


Gbr. Struktur lidah dan pembagian daerah perasanya


Indera Pembau


Indra pembau berupa kemoreseptor yang terdapat di permukaan dalam hidung, yaitu pada lapisan lendir bagian atas. Reseptor pencium tidak bergerombol seperti tunas pengecap. Epitelium pembau mengandung 20 juta sel-sel olfaktori yang khusus dengan akson-akson yang tegak sebagai serabut-serabut saraf pembau. Di akhir setiap sel pembau pada permukaan epitelium mengandung beberapa rambut-rambut pembau yang bereaksi terhadap bahan kimia bau-bauan di udara.


http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/Image/2-10e.jpg


Gbr. Struktur indera pembau


SENSASI


Sensasi adalah deteksi energi fisik yang dihasilkan atau dipantulkan oleh objek-objek fisik; terjadi ketika energi dalam lingkungan eksternal atau dalam tubuh merangsang reseptor dalam organ-organ indera.


Sensasi dimulai dari reseptor indera (sense receptor), sel yang terletak di organ indera. Reseptor untuk bau, tekanan, rasa sakit, dan suhu merupakan perpanjangan (dendrit) dari saraf-saraf sensorik. Reseptor untuk penglihatan, pendengaran, dan rasa merupakan sel-sel khusus yang terpisahkan dari saraf sensorik oleh sinapsis.


Ketika reseptor indera mendeteksi sebuah stimulus-cahaya, tekanan mekanis, atau molekul kimia-reseptor ini mengubah energi dari stimulus tersebut menjadi impuls listrik yang berjalan sepanjang saraf menuju otak.


Reseptor indera (pengawas) bertugas meneliti daerah tubuh untuk mencari tanda-tanda aktivitas. Pengawas tidak dapat membuat keputusan sendiri, melainkan harus meneruskan apa yang dipelajari kepada saraf-saraf sensorik (komandan lapangan). Saraf sensorik dalam sistem saraf perifer harus melaporkan pada pusat komando (sel-sel otak). Kemudian pusat komando bertanggung jawab untuk menganalisis laporan tersebut dan memutuskan apa arti informasi tersebut.


Semua saraf sensorik menggunakan bentuk komunikasi yang sama, yaitu impuls saraf. Sistem saraf mengubah pesan-pesan yang ditangkap menjadi kode. Salah satu jenis kode yaitu kode anatomis, yang dikenalkan oleh Johannes Muller (1826) sebagai doktrin energi saraf spesifik (doctrine of specific nerve energy).


Doktrin energi saraf spesifik adalah suatu prinsip yang menyatakan bahwa modalitas sensoris yang berbeda muncul karena sinyal-sinyal yang diterima oleh organ-oran indera merangsang jalan saraf yang berbeda-beda yang mengarah pada area-area yang berada di otak. Seperti: sinyal dari mata menyebabkan impuls berjalan sepanjang saraf optik menuju ke korteks visual. Sinyal dari telinga menyebabkan impuls berjalan dari saraf auditoris menuju korteks auditoris. Gelombang cahaya dan suara menghasilkan sensasi berbeda karena adanya perbedaan anatomi ini.


MENGUKUR INDERA


Sinestesia (synesthesia) adalah suatu kondisi di mana rangsangan pada satu indera mendorong rangsangan pada indera lainnya.Orang yang menderita sinestesia dapat mengatakan bahwa warna ungu tercium seperti bunga mawar, aroma kayu manis seperti kain beludru, atau suara sebuah nada pada klarinet terasa seperti buah ceri.


Ambang batas mutlak (absolute threshold) adalah jumlah terkecil energi fisik yang dapat secara konsisten terdeteksi indera. Ambang perbedaan (difference threshold) adalah perbedaan terkecil dalam stimulasi yang dapat dideteksi secara konsisten ketika dua stimulus dibandingkan; disebut juga just-noticeable difference (JND).


MENGUKUR BENDA


1. Spectrum Electromagnet, sistem visual kita hanya mendeteksi sebagian kecil dari energi elektromagnetis yang ada di sekitar kita.


2. Teori Sinyal-Deteksi (signal-detection theory) yaitu teori psikofisika yang membagi deteksi sinyal sensorik menjadi proses sensorik dan proses pengambilan keputusan. Menurut teori ini respon seorang pengamat dalam tugas mendeteksi sinyal dapat dibagi menjadi proses penginderaan yang tergantung pada intensitas stimulus dan proses keputusan yang dipengaruhi oleh kecenderungan pada respon pengamat.


ADAPTASI SENSORIK


* Adaptasi sensorik (sensory adaptation) adalah pengurangan atau menghilangnya kepekaan sensorik ketika stimulus tidak berubah atau terjadi berulang-ulang.


* Deprivasi sensorik (sensory deprivation) merupakan ketiadaan tingkat stimulasi sensoris yang normal


* Atensi selektif (selective attention) adalah pemusatan perhatian pada aspek-aspek lingkungan yang terpilih dan pengabaian aspek lainnya.


* Kebutaan inatensional (inattentional blindness) adalah kegagalan untuk secara sadar memprsepsikan sesuatu yang sedang kita lihat karena kita tidak memperhatika objek tersebut. Seperti pepatah “we look, but do not see” (Mack, 2003).


Oleh ; Sri Wulandari S.Psi, Psi

blog comments powered by Disqus

Poskan Komentar



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER