Kamis, 06 Agustus 2009

PIKIRAN DAN BAHASA

MODUL 13


PIKIRAN DAN BAHASA



BERPIKIR


1. Pengertian dan Definisi Berpikir


Berpikir merupakan aktivitas mental, aktivitas kognitif yang berujud mengolah atau memanipulasi informasi dari lingkungan dengan symbol-simbol atau materi-materi yang disimpan dalam ingatannya khususnya yang ada dalam long term memory. Individu mengaitkan pengertian satu dengan yang lain serta kemungkinan-kemungkinan yang ada sehingga menemukan pemecahan masalahnya.


Sudut pandang behaviorisme khususnya fungsionalos akan memandang berpikir itu sebagai penguatan antara stimulus dan respon. Sedangkan sudut pandang kaum asosiasionis memandang berpikir hanya sebagai asosiasi antara tanggapan atau bayangan satu dengan lainnya yang saling kait mengkait.


Berpikir meliputi sejumlah besar kegiatan mental Berpikir membutuhkan kemampuan untuk membayangkan atau menggambarkan benda dan peristiwa secara fisik tidak ada dihadapannya.


Pendapat para ahli mengenai berpikir bermacam-macam, tetapi mengandung persamaan pengertian sebagai berikut :




  1. Berpikir itu adalah aktivitas, artinya subjek berpikir itu aktif


  2. Aktivitas berpikir itu sifatnya abstraksional bukan sensori maupun motoris, walaupun keduanya dapat menyertai, karena berpikir itu menggunakan abstraksi-abstraksi/ide


  3. Dalam berpikir itu orang meletakkan hubungan antara bagian informasi yang ada pada dirinya.


  4. Berpikir itu adalah proses yang dinamik yang dapat dilukiskan menurut proses atau jalannya

Berpikir adalah suatu proses dimana gambaran-gambaran mental terbentuk melalui transformasi informasi oleh hubungan-hubungan yang kompleks dari sifat-sifat mental; seperti kemampuan untuk memutuskan, penalaran, imaging dan problem solving.


Ada3 gagasan mengenai berpikir/thinking, yaitu :


1. Berpikir adalah proses kognisi sehingga terjadi secara internal dalam otak namun kesimpulannya dapat dilihat dari perilakunya


2. Berpikir adalah proses yang meliputi beberapa penggunaan pengetahuan dalam sistem kognisi. Dilihat dinamikanya kemampuan masa lalu ditambah informasi yang diperoleh akan mengubah pengetahuannya tentang suatu kondisi


3. Berpikir itu diarahkan akan menghasilkan perilaku yang mengatasi masalah atau diarahkan untuk pengambilan keputusan.


Salah satu sifat dari berpikir adalah goal directed yaitu berpikir tentang sesuatu, untuk memperoleh pemecahan masalah atau untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Berpikir juga dapat dipandang sebagai pemrosesan informasi dari stimulus yang ada ( starting position) sampai pemecahan masalah (finishing position). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa berpikir itu merupakan proses kognitif yang berlangsung antara stimulus dan respon.


Sebagai contoh ilustrasinya sebagai berikut : seseorang akan membeli televise. Oleh penjual ditawarkan berbagai macam merk dengan bermacam harga. Sebelum pembeli memutuskan sesuatu jenis televisi yang dibelinya, pembeli mengolah informasi-informasi atau pengertian-pengertian yang ada pada dirinya, kelebihan serta kekurangan dari masing-masing merk sehingga akhirnya pembeli memutuskan pada merk tertentu. Dengan contoh tersebut lebih jelas apa yang dimaksud dengan berpikir itu.


Definisi Berpikir




  1. Phillip L Harriman

Berpikir merupakan suatu istilah yang mempunyai arti luas, dapat diartikan sebagai fantasi, reasoning, kreatifitas; tersirat dalam penggunaan bahasa, aktivitas ideasional/gagasan-gagasan umum, problem solving, penilaian, perencanaan dsb




  1. James Drever; Berpikir adalah rangkaian ide-ide yang tersusun karena adanya suatu problem


  2. Immanuel Kant; berpikir berarti berbicara dengan diri sendiri dengan berbicara dinyatakan hal-hal yang dipikirkan.


  3. Clifford T Morgan; berpikir adalah rangkaian proses simbolik yang menggambarkan hasil belajar dan pengalaman masa lalu


  4. Ernest Hilgard; berpikir adalah setiap perbuatan yang menggunakan ide-ide yang merupakan suatu gambaran atau suatu proses simbolik

Kesimpulan :


Berpikir adalah serangkaian proses simbolik yang diserap melalui panca indera dan berkaitan dengan daya ingat dalam rangka pemecahan masalah.





  1. Proses Berpikir

Simbol-simbol yang digunakan dalam berpikir pada umumnya berupa kata-kata atau bahasa (language) karena itu sering dikemukakan bahwa bahasa dan berpikir mempunyai kaitan yang erat. Dengan bahasa manusia dapat menciptakan ratusan, ribuan symbol-simbol yang memungkinkan manusia dapat berpikir begitu sempurna bila dibandingkan dengan makhluk lain.


Sekalipun bahasa merupakan alat yang cukup ampuh (powerfull) dalam proses berpikir, namun bahasa bukan satu-satunya alat yang dapat digunakan dalam proses berpikir, sebab masih ada lagi yang dapat digunakan yaitu bayangan atau gambaran (image).


Untuk menjelaskan hal ini diberikan contoh sebagai berikut. Bayangkan bahwa Anda ada disuatu tempat disudut Margonda, Anda diminta datang ke Universitas Indonesia. Dalam kaitan ini Anda akan menggunakan gambaran atau bayangan kota Depok, khususnya yang berkaitan dengan Margonda dan UI, menentukan jalan-jalan mana saja yang akan ditempuh dari Margonda sampai di UI. Jadi disini Anda menggunakan bayangan atau image yang merupakan visual map atau disebut juga dengan cognitive map yang memberikan gambaran tentang keadaan yang dihadapi. Biasanya seseorang memasuki kota atau tempat yang baru, akan memperoleh gambaran tentang kota atau tempat yang baru itu. Dan ini memberikan gambaran kepada orang yang bersangkutan, atau memberikan visual map atau cognitive map. Ini yang sering disebut dengan Non Verbal Thinking. Demikian juga apabila orang berpikir menggunakan skema-skema tertentu, atau gambar-gambar tertentu termasuk dalam klasifikasi tersebut.


Walaupun berpikir dapat menggunakan gambaran-gambaran/bayangan-bayangan/ image, namun sebagian terbesar dalam berpikir orang menggunakan bahasa atau verbal, yaitu berpikir dengan menggunakan symbol-simbol bahasa dengan segala ketentuan-ketentuannya. Karena bahasa merupakan alat yang penting dalam berpikir, maka sering dikemukakan bila seseorang itu berpikir orang itu berbicara dengan dirinya sendiri.





  1. Logika

Berpikir menunjukkan proses mengingat suatu masalah didalam otak, sementara logic adalah ilmu tentang berpikir. Walaupun 2 orang sedang memikirkan hal yang sama tetapi kesimpulannya bisa berbeda mungkin logical atau illogical. Berpikir dan logik menjadi subjek spekulasi selama bertahun-tahun. Aristoteles mengenalkan suatu sistem penalaran atau argumen yang valid yang dinamakna syllogism.





  1. Konsep atau Pengertian

Seperti yang telah dipaparkan di depan dalam berpikir digunakan symbol-simbol, gambaran-gambaran, kata-kata, pengertian-pengertian yang ada dalam ingatan khususnya ingatan yang berkaitan dengan LTM. Pengertian atau konsep merupakan konstruksi simbolik yang melambangkan ciri atau beberapa cirri umum sesuatu objek atau kejadian. Misalnya pengertian manusia, merah, segitiga, belajar, dan lain-lain. Dengan kemampuan manusia untuk membentuk konsep atau pengertian memungkinkan manusia untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan benda-benda atau kejadian-kejadian. Misalnya manusia dapat menggolongkan yang merah dan yang bukan merah, dapat menggolongkan manusia dan yang bukan manusia, demikian juga yang lain-lain. Karena itu konsep atau pengertian merupakan alat atau tools yang baik atau tepat (convenience) dalam berpikir atau problem solving.


Dalam pengertian atau konsep didapati ada beberapa macam konsep, yaitu :


a. Konsep-konsep atau pengertian-pengertian yang sederhana (simple concept)


b. Konsep-konsep yang kompleks (complexs concept)


Pengertian yang sederhana merupakan pengertian yang dibatasi oleh cirri atau atribut tunggal, misalnya “merah “ namun justru banyak pengertian atau konsep yang digunakan dalam berpikir dibatasi oleh cirri yang tidak tunggal yang disebut dengan konsep kompleks. Disamping itu ada yang disebut dengan konsep konjungsif. Konsep konjungtif merupakan konsep yang dibatasi adanya kaitan (joint) dua atau lebih sifat atau cirri yang membentuk konsep tersebut. Misalnya : zebra, merupakan binatang menyusui seperti kuda tetapi loreng. Konsep disjungsif merupakan konsep yang dibatasi dengan tiap cirri atau sifat yang membawa objek dalam kelas dari konsep, misalnya konsep alat transport, dapat kuda, truk, becak dan sebagainya.


Disamping itu ada juga konsep relational yaitu konsep atau pengertian yang mempunyai kaitan dalam pengertian yang lain. Dalam keadaan sehari-hari misalnya “lebih berat dari”, “lebih kurang dari” dan sebagainya. Dalam sementara buku sifat atau cirri yang membentuk konsep dan pengertian itu disebut dengan Isi Pengertian, sedangkan pengertian-pengertian yang tercakup dalam suatu pengertian itu disebut dengan Luas Pengertian. Isi dan luas pengertian berbanding terbalik, artinya semakin sedikit isi dari suatu pengertian, semakin banyak pengertian yang tercakup didalamnya sebaliknya semakin banyak cirri-ciri yang membentuk pengertian itu, akan semakin sedikit pengertian yang tercakup didalamnya.



Cara Memperoleh Konsep atau Pengertian


Untuk memperoleh pengertian ada beberapa macam cara, yaitu dengan tidak sengaja dan dengan sengaja. Pengertian yang diperoleh dengan tidak sengaja, ini yang sering disebut dengan Pengertian Pengalaman. Tetapi ini tidak berarti bahwa pengertian yang diperoleh dengan sengaja itu bukan melalui pengalaman. Yang dimaksud dengan pengertian pengalaman disini adalah pengertian yang diperoleh dengan secara tidak sengaja, diperoleh sambil lalu dengan melalui pengalaman-pengalaman. Misalnya pengertian anak pada umumnya, diperoleh melalui pengalaman, tidak dengan sengaja. Proses memperolehnya pada umumnya melalui proses generalisasi, kemudian atas daya berpikirnya timbul proses differensiasi, yaitu proses membedakan satu dengan yang lainnya.


Pengertian yang diperoleh dengan sengaja, yaitu usaha dengan sengaja untuk memperoleh pengertian atau konsep, yang kadang-kadang disebut dengan pengertian ilmiah. Karena pengertian atau konsep ini diperoleh dengan sengaja, maka pengertian ini dbentuk dengan penuh kesadaran. Prosedur memperolehnya berbeda dengan prosedur pada pengertian yang tidak disengaja. Prosedurnya melalui beberapa tingkatan contohnya untuk memperoleh pengertian mengenai gas :


1. Tingkat Analisis, yaitu tingkat atau taraf orang mengadakan analisis bermacam-macam gas, dan masing-masing gas diteliti sifat-sifat dan semua sifat itu dicatat secara seksama.


2. Tingkat mengadakan Komperasi, yaitu tingkat mengkomperasikan sifat-sifat yang diperoleh satu dengan yang lain, dicari sifat-sifat yang umum dan khusus


3. Tingkat Abstraksi, yaitu tingkat ,menyatukan sifat-sifat yang sama dan menyampingkan sifat-sifat yang tidak sama.


4. Tingkat Menyimpulkan, yaitu tingkat menarik kesimpulan setelah mengadakan abstraksi dan memberikan pengertian atau konsep bahwa “gas itu benda yang selalu memenuhi tempatnya.


Dengan melalui proses belajar orang akan banyak memperoleh pengertian atau konsep. Karena pengertian dapat diperoleh dengan belajar, maka faktor transfer akan banyak berpengaruh dalam kaitannya mendapatkan pengertian. Transfer dapat positip maupun negative. Bila seseorang telah mempunyai pengertian atau konsep dan konsep ini membantu dalam memperoleh pengertian atau konsep baru, ini yang dimaksud dengan Transfer Positip. Namun sebaliknya kalau pengertian yang telah ada itu justru menghambat dalam memperoleh pengertian baru ini yang dimaksud dengan Transfer Negatif. Dengan demikian transfer negative akan menghambat dalam memperoleh konsep atau pengertian baru.


5. Berpikir Kreatif


Telah dipaparkan didepan bahwa dalam problem solving seseorang atau organism mencari pemecahan masalah yang dihadapi. Namun dalam masalah berpikir orang akan akan dapat menemukan sesuatu yang baru yang sebelumnya mungkin belum terdapat. Hal ini dapat dijumpai misalnya dalam diri seorang penulis cerita, ataupun pada seorang ilmuwan atau pada bidang-bidang lainnya. Ini yang sering berkaitan dengan berpikir kreatif (creative thinking).


Dengan berpikir kreatif orang menciptakan sesuatu yang baru, timbulnya atau munculnya hal baru yang secara tiba-tiba ini berkaitan dengan insight.Sebenarnya yang telah dipikirkan tersebut sudah berlangsung namun belum memperoleh suatu pemecahan dan masalah itu tidak hilang sama sekali, tetapi terus berlangsung dalam jiwa seseorang yang pada suatu waktu memperoleh pemecahan



6. Tingkatan-tingkatan dalam berpikir kreatif


Dalam berpikir kreatif ada beberapa tingkatan /stages sampai seseorang memperoleh sesuatu hal yang baru atau pemecahan masalah, tingkatan-tingkatan itu adalah :


1. Persiapan (Preparation), yaitu tingkatan seseorang memformulasikan masalah, dan mengumpulkan fakta-fakta atau materi yang dipandang berguna dalam memperoleh pemecahan yang baru. Ada kemungkinan apa yang dipikirkan itu tidak segera memperoleh pemecahannya, tetapi persoalan itu tidak hilang begitu saja, tetapi masih terus berlangsung dalam diri individu yang bersangkutan. Hal ini menyangkut fase atau tingkatan yang kedua yaitu fase Inkubasi


2. Tingkat Inkubasi, yaitu berlangsungnya masalah tersebut dalam jiwa seseorang, karena individu tidak segera memperoleh memecahan masalah


3. Tingkat Iluminasi/Pemecahan, yaitu tingkat mendapatkan pemecahan masalah, orang mengalami AHA secara tiba-tiba memperoleh pemecahan masalah tersebut.


4. Tingkat Evaluasi, yaitu mengecek apakah pemecahan yang diperoleh pada tingkat iluminasi tersebut cocok atau tidak. Apabila tidak cocok lalu meningkat pada tingkat berikutnya yaitu


5. Tingkat revisi, yaitu mengadakan revisi terhadap pemecahan yang diperolehnya.



7. Sifat-sifat Orang yang Berpikir Kreatif


Orang berpikir kreatif itu mempunyai bermacam sifat mengenai pribadinya yang merupakan original person yaitu :


a. Memilih fenomena atau keadaan yang kompleks


b. Mempunyai psikodinamika yang kompleks dan mempunyai skope pribadi yang luas


c. Dalam judgmentnya lebih mandiri


d. Dominan dan lebih besar pertahanan dirinya


e. Menolak suppression sebagai mekanisme control



8. Hambatan dalam Proses Berpikir


Seperti telah dipaparkan didepan bahwa dalam proses berfikir adanya titik tolak yang dijadikan titik awal dalam berpikir itu. Berpikir bertitik tolak pada masalah yang dihadapi oleh seseorang. Hal-hal atau fakta-fakta dapat dijadikan titik tolak pemecahan masalahnya. Dalam proses berpikir tidak selalu berlangsung begitu mudah, sering orang menghadapi hambatan-hambatan dalam proses berpikir. Sederhana tidaknya dalam memecahkan masalah bergantung pada masalah yang dihadapinya.Memecahkan masalah 6 X 7 akan lebih mudah apabila dibandingkan dengan memecahkan masalah atau soal-soal statistika, misalnya. Hambatan-hambatan yang mungkin timbul dalam proses berpikir dapat disebabkan antara lain :


1.Data yang kurang sempurna sehingga masih banyak data yang harus diperoleh


2. Data yang dalam keadaaan confuse, data yang satu bertentangan dengan data yang lain sehingga hal ini akan membingungkan dalam proses berpikir


Kekurangan data dan kurang jelasnya data akan menjadiikan hambatan dalam proses berpikir seseorang, lebih-lebih kalau datanya bertentangan satu sama lain, misalnya : dalam cerita-cerita detektif. Karena itu rumit atau tidaknya suatu masalah, lengkap tidaknya data akan dapat membawa sulit tidaknya proses berpikir seseorang.


Oleh : Sri Wulandari S. Psi, Psi

blog comments powered by Disqus

Poskan Komentar



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER