Kamis, 06 Agustus 2009

Belajar dan Pengkondisian

Modul 7


Belajar dan Pengkondisian


PENGERTIAN


Pembelajaran adalah sebuah perubahan yang relatif menetap dalam perilaku (atau apa yang berpotensi menadi perilaku) sebagai akibat dari pengalaman.


Behaviorisme adalah sebuah pendekatan dalam ilmu pesikologi yag menekankan pada hal-hal yang menekankan pada hal-hal yang dapat dilihat dari perilaku dan peran lingkungan sebagai peentu perilaku.


Kondisioning adalah suatu jenis pembelajaran dasar yang melibatkan asosiasi antara stimulus dalam lingkungan dan respons organisme.


Kondisioning Klasik


1.Latar Belakang Kondisioning Klasik


Ivan Pavlov (1849-1936) mempelajari proses produksi air liur pada ajing, sebagai bagian dari sebuah program penelitian mengenai pencernaan. Salah satu prosedur yang dilakukan adalah dengan membuat lubang di pipi anjing dan memasukkan sebuah tabung yang dapat menampung air liur yang dihasilkan oleh kelenjar liur agar volume liur tersebut dapat diukur.


Setelah seekor anjing dibawa ke laboratoorium selama beberapa kali, anjing tersebut terlihat mulai menghasilkan liur sebelum makanan diletakkan di mulutnya.Terlihat atau terciumnya makanan tersebut, tempat makanan tersebut disimpan, atau bahkan orang yang mengantarkan makanan tersebut ternyata cukup untuk membuat mulut anjing dibasahi oleh air


Respon-respon ini bukan sesuatu yang diturunkan melainkan diperoleh melalui pengalaman.Pada awalnya Pavlov menganggap kejadian tersebut merupakan sekresi air liur yang mengganggu. Tetapi kemudian dia menyadari bahwa apa yang terjadi adalah sebuah fenomena penting, fenomena yang membuat Pavlov percaya dan akhirnya menadi dasar bagi proses belajar pada manusia maupun hewan lainnya (pavlov, 1927).


Pavlov menyebut fenomena ni sebagai refleks “kondisional”. Disebut kondisional karena tergantung pada kondisi lingkungan. Kemudian Pavlov mengubah penelitannya sebelumnya menjadi penelitian mengenai refleks-refleks yang terkondisi.Pertanyaan dalam penelitiannya adalah “mengapa anjing-anjing dapat menghasilkan respon mengeluarkan liur pada hal-hal selain makanan?


Prosedur Kondisioning Klasik


Menurut Pavlov refleks mengeluarkan air liur terdiri dari sebuah stimulus yang tidak terkondisi (unconditioned stimulus/US), berupa makanan, an sebuah respon yang tidak terkondisi (unconditioned response/UR), yaitu produksi air liur.


Stimulus tidak terkondisi adalah sebuah kejadian atau satu hal yang menghasilkan sebua respons secara otomatis atau menghasilkan refleks yang alami. Respon tidak terkondisi adalah respons yang dihasilkan secara otomatis.


Menurut Pavlov, proses pembelajaran terjadi ketika sebuah stimulus netral (stimulus yang tidak atau belum menghasilkan sebuah respons tertentu, seperti berliur) dipasangkan secara teratur dengan sebuah stimulus tidak terkondisi selama beberapa kali. Stimulus netral ini kemudian akan berubah menjadi stimulus yang terkondisi (conditioned stimulus/ CS), yang menghasilkan sebuah proses pembelajaran atau respons terkondisi (conditioed response/CS) yang biasanya serupa dengan respons alamiah yang tidak perlu dipelajari. (gambar: transparansi).


Dalam laboratorium Pavlov, terlihat piring makanan anjing yang sebelumnya tidak menghasilkan liur pada anjing, menjdai sebuah stimulus terkondisi yang menghasilkan respons produksi air liur.


Prosedur di mana stimulus yang semula netral memperoleh kemampuan untuk menghasilkan sebuah respons melalui asosiasi dengan stimulus yang telah meghasilkan respons yang mirip atau berhubungan disebut kondisioning klasik


Dalam kondisioning klasik terdapat beberapa prinsip yaitu:


1. Extinction yaitu melemahnya dan pada akhirnya menghilangnya respons yang telah dipelajari; dalam kondisioning klasik, ini terjadi ketika stimulus terkondisi tidak lagi dipasangkan dengan stimulus tidak terkondisi.


2.Spontaneous recovery yaitu tampilnya kembali respon-respon yang telah dipelajari setelah tampak hilang atau mengalami extinction.


3. Kondisioning tingkat tinggi yaitu sebuah prosedur di mana stimulus netral menjadi stimulus terkondisi melalui asosiasi dengan stimulus terkondisi yang telah lebih dahulu terbentuk.


4. Generalisasi stimulus yaitu setelah kondisioning, kecenderungan untuk berespon terhadap stimulus yang menyerupai stimulus yang terlibat dalam kondisioning awal.


5. Diskriminasi stimulus yaitu kecenderungan untuk berespon dengan acra yang berbeda pada dua atau lebih stimulus yang serupa; dalam kondisioning klasik terjadi ketika stimulus yang serupa dengan stimulus yang terkondisi gagal memicu respons terkondisi.



KONDISIONING KLASIK DALAM KEHIDUPAN NYATA


John B. Watson (psikolog yang mendirikan aliran behaviorisme) percaya bahwa rangkaian kehidupan manusia yang kaya akan emosi dan perilaku dapat dijelaskan dengan menggunakan prinsip-prinsip kondisioning.


Kondisioning klasik memberikan peran yang besar dalam respons emosional kita terhadap berbagai benda, orang, simbol, kejadian, dan tempat. (gambar: transaparansi)


Bukan hanya emosi-emosi positif yang dapat terkondisi melalui kondisioning klasik, emosi negatif dan ketidaksukaan, seperti rasa takut juga dapat dipelajari dengan cara yang sama. Kontrakondisioning yaitu merupakan proses pemasangan stimulus terkondisi dengan stimulus yang menghasilkan respon yang tidak cocok atau sesuai dengan respon terkondisi yang tidak diharapkan.


KONDISIONING OPERANT


Pada akhir abad ke-19, dalam salah satu penelitian pertama mengenai rasa marah, G. Stanley Hall (1899) memimta sejumlah orang untuk mendeskripsikan suatu peristiwa amarah yang telah mereka alami atau lihat.


Seorang respondeng menceritakan seorang gadis berusia 3 tahun yang mengeluarkan rasa marah dengan menangis tanpa terkontrol ketika dia dihukum dnegan cara ditinggalkan d rumah dan tidak diajak pergi jalan-jalan. Di tengah rasa marahnya, anak ini tiba-tiba berhenti menangis dan bertanya kepada pengasuhnya dalam suara yang sangat tenang apakah ayahnya berada di rumah. Ketika dijawab tidak, dia kemudian melanjutkan rauangannya.


Anak dalam penelitian ini menunjukkan bahwa munculnya raunagn dan tangisan ini akan memberikan nya perhatian dan kemungkinan ajakan dari orang tua untuk pergi keluar bersama seperti yang ia inginkan.


Keadaan meledak-ledak menunjukkan salah satu hukum paling mendasar dari pembelajaran : Perilaku akan semakin sering atau semakin jarang muncul tergantung pada konsekuensi yang mengikutinya.


LAHIRNYA BEHAVIORISME RADIKAL


Kondisioning operant yaitu suatu proses di mana sebuah respons semakin mungkin terjadi atau semakin jarang terjadi tergantung pada konsekuensinya. Kondisioning operant dipelajari semenjak awal abad ke-20 oleh Edward Thorndike (1898). Ia melakukan percobaan denga mengobservasi kucing-kucing ketika mereka berusaha untuk keluar dari sebuah labirin yang rumit untuk mencapai potongan ikan yang diletakkan di bagian luar labirin tersebut.


Awalnya kucing-kucing ini akan mencoba mencakar, menggigit, ataupun mendorong bagian-bagian dalam labirin engan cara yang sangat acak dan tidak beraturan.Kemudian setelah beberapa menit, kucing-kucing ini dapat menghasilkan respon yang tepat (mengendurkan sebuah palang dalam kotak, menarik sebuah benang, atau menekan sebuah tombol) dan bergerak dengan segera ke luar kotak tersebut untuk mendapatkan penghargaan yang diinginkan.


Ketika kembali diletakkan ke dalam kotak, kucing tersebut membutuhkan waktu yang lebih singkat untuk dapat keluar. Setelah beberapa kali percobaan, kucing-kucing ini dengan tepat menghasilkan respon yang dibutuhkan untuk keluar. Menurut Thorndike, respon ini telah “ditanamkan” dalam diri kucing melalui hasil akhir yang memuaskan. Perilaku diatur oleh konsekuensi yang mengikutinya.


B.F (Burhuss Frederic) Skinner (1904-1990) menyebut pendekatan ini sebagai “behaviorisme radikal” untuk membedakannya dengan behaviorisme yang dianut oleh John Watson (kondisioning klasik). Skinner menyatakan bahwa untuk memahami perilaku, kita sebaiknya memusatkan perhatian pada penyebab eksternal dari perilaku dan konsekuensi yang mengikuti perilaku tersebut



KONSEKUENSI PERILAKU


Tiga (3) konsekuensi dari sebuah respon yaitu:


1. Sebuah konsekuensi netral tidak akan meningkatkan ataupun menurunkan kemungkinan terjadinya perilaku di masa yang akan datang.


2. Reinforcement memperkuat atau meningkatkan kemungkinan terjadinya respon di masa yang akan datang. Reinforcement adalah proses di mana sebuah stimulus atau kejadian memperkuat atau meningkatkan kemungkinan munculnya respon yang mengikutinya.


3. Hukuman (punishment) memperlemah respon tertentu atau mengurangi kemungkinan respon tersebut muncul di masa datang.


Konsekuensi Perilaku yang lain menurut Skinner :


1. Reinforcement primer adalah stimulus yang secara alami memperkuat suatu perilaku, biasanya karena dapat memenuhi kebutuhan fisiologis; contohnya makanan.


2. Reinforcement sekunder adalah stimulus yang memiliki keammpuan untuk memperkuat perilaku melalui asosiasi dengan reinforcement lainnya.


3. Reinforcement positif adalah suatu prosedur yang memperkuat perilaku di mana respon diikuti oleh penyajian atau peningkatan intensitas stimulus yang memperkuat perilaku; sebagai hasilnya, respon ini semakin kuat dan semakin mungkin terjadi.


4. Reinforcement negatif adalah prosedur yang memperkuat perilaku di mana respon diikuti oleh penghilangan, penundaan, atau pengurangan intensitas sebuah stimulus yang tidak menyenangkan; dan sebagai hasilnya, respon ini menjadi semakin kuat dan semakin mungkin terjadi.


5. Hukuman primer adalah stimulus yang secara alami memperlemah suatu perilaku; seperti sengatan listrik.


6. Hukuman sekunder adalah stimulus yang emiliki kemampuan untuk memperlemah perilaku karena dibentuk melalui asosiasi dengan hukuman lainnya.


7. Reinforcement intrinsik adalah reinforcement perilaku yang secara alami terkait dengan aktivitas yang sedang diperkuat.


8. Reinforcement ekstrinsik adalah reinforcement perilaku yang tidak secara alami terkait dengan aktivitas yang sedang diperkuat.


PRINSIP KONDISIONING OPERANT




  1. Extincion; respon yang dipelajari akan melemah dan kemudian menghilang apabila tidak diberi reinforcement.


  2. Generalisasi stimulus ; dalam kondisioning operant, kecenderungan respon, yang telah diberikan reinforcement (atau diberi hukuman) terhadap satu stimulus tetapi tidak dengan adanya stimulus lain yang serupa dengan stimulus tersebut pada dimensi tertentu.


  3. Stimulus diskriminatif ; suatu stimulus yang memberi tanda apakah respons terentu akan diikuti oleh konsekuensi tertentu pula.


  4. Continuous reinforcement; jadwal pemberian penguat di mana respon tertentu selalu diberi reinforcement.


  5. Partial reinforcement; reinforcement diberikan pada beberapa respon tertentu, tidak pada keseluruhan respon.


  6. Shaping; prosedur di mana setiap respon yang semakin mendekati respon yang dikehendaki siberikan reinforcement.


  7. Successive approximation; perilaku yang disusun dari kedekatan yang meningkat ke perilaku yang diharapkan.

KONDISIONING OPERANT DALAM KEHIDUPAN NYATA


¨ Modifikasi perilaku yaitu penerapan teknik-teknik kondisioning operant untuk mengejarkan respon baru atau untuk mengurangi atau menghilangkan perilaku maladaptif atau yang tidak diinginkan; disebut juga sebagai analisis perilaku terapan.


¨ Hukuman berhasil (penjara, hukuman mati, denda, dll).


¨ Hukuman gagal (dalam keluarga, sekolah, lingkungan kerja, dll).


¨ Penelitian laboratorium dan penelitian lapangan menemukan bahwa bentuk hukuman sering kali gagal untuk alasan-alasan sebagai berikut :


1. Orang sering kali memberikan hukuman dengan tidak tepat atau tanpa pertimbangan terlebih dahulu.


2. Penerima hukuman sering kali merespon dengan kecemasan, rasa takut atau rasa marah


3. Efektivitas penggunaan hukuman sering kali bersifat sementara, bergantung pada kehadiran orang yang memberikan hukuman ataupun situasi dan kondisinya.


4. Kebanyakan perilaku yang tidak tepat tidak dapat dihukum dengan segera.


5. Hukuman sering kali mengandung sedikit sekali informasi.


6. Perilaku yang ditunjukkan untuk menghukum malah mungkin dianggap sebagai reinforcement karena hal ini memberikan perhatian.


Teori Pembelajaran Behaviorisme


adalah perubahan tingkah laku setelah terjadi proses belajar dalam diri siswa.


I. Ivan Pavlov


(1) Pengertian Teori Pelaziman Klasik Pavlov


(a) Generalisasi : Rangsangan yg sama hasilkan tindak balas yg sama. Cth: Ali risau setiap kali diadakan ujian kimia. Ia juga risau dengan ujian biologi kerana dua matapel tersebut ada kaitan dgn yg lain. Oleh itu kerisauan kimia telah digeneralisasikan dgn biologi..


(b) Diskriminasi ; Tindakan individu terhadap suatu rangsangan tertentu shj. Cth Jika Ali ambil ujian Sejarah ia tak risau nak ambil ujian Bahasa Inggeris kerana ia tiada kaiatan dengan yg lain.


(c) Penghapusan; Rangsangan terlazim tidak disertai dgn rangsangan tidak terlazim. Cth Bunyi loceng biasanya rehat, tapi kita larang murid buat demikian, akibatnya bunyi loceng- murid tak kata itu tandanya rehat


(2) Kerangka berfikir teori : Setiap Rangsangan akan menimbulkan gerak balas. (anjing/air liur).


II. John Watson (1878 - 1958)


John Broades Watson dilahirkan di Greenville pada tanggal 9 Januari 1878 dan wafat di New York City pada tanggal 25 September 1958. Ia mempelajari ilmu filsafat di University of Chicago dan memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1903 dengan disertasi berjudul "Animal Education". Watson dikenal sebagai ilmuwan yang banyak melakukan penyelidikan tentang psikologi binatang.


Pada tahun 1908 ia menjadi profesor dalam psikologi eksperimenal dan psikologi komparatif di John Hopkins University di Baltimore dan sekaligus menjadi direktur laboratorium psikologi di universitas tersebut. Antara tahun 1920-1945 ia meninggalkan universitas dan bekerja dalam bidang psikologi konsumen.


John Watson dikenal sebagai pendiri aliran behaviorisme di Amerika Serikat. Karyanya yang paling dikenal adalah "Psychology as the Behaviourist view it" (1913). Menurut Watson dalam beberapa karyanya, psikologi haruslah menjadi ilmu yang obyektif, oleh karena itu ia tidak mengakui adanya kesadaran yang hanya diteliti melalui metode introspeksi. Watson juga berpendapat bahwa psikologi harus dipelajari seperti orang mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam. Oleh karena itu, psikologi harus dibatasi dengan ketat pada penyelidikan-penyelidikan tentang tingkahlaku yang nyata saja. Meskipun banyak kritik terhadap pendapat Watson, namun harus diakui bahwa peran Watson tetap dianggap penting, karena melalui dia berkembang metode-metode obyektif dalam psikologi.


Peran Watson dalam bidang pendidikan juga cukup penting. Ia menekankan pentingnya pendidikan dalam perkembangan tingkahlaku. Ia percaya bahwa dengan memberikan kondisioning tertentu dalam proses pendidikan, maka akan dapat membuat seorang anak mempunyai sifat-sifat tertentu. Ia bahkan memberikan ucapan yang sangat ekstrim untuk mendukung pendapatnya tersebut, dengan mengatakan: "Berikan kepada saya sepuluh orang anak, maka saya akan jadikan ke sepuluh anak itu sesuai dengan kehendak saya".


Teori Pelaziman Klasik Watson;


Bukti emosi manusia boleh dilazimkan dengan pelaziman klasik (Albert dan Tikus Putih) Oleh itu, guru perlu pilih rangsangan yg menyeronokkan utk bina pembelajaran.



III.Edward Lee Thorndike


Teori Pelaziman Operan Thorndike (Cuba Jaya)


(a) Hukum kesediaan: Persediaan individu utk belajar dari segi psikomotor, afektif dan kognitif.


(b) Hukum Latihan: Latihan diulang2 utk tingkat kemahiran.


(c) Hukum Kesan: Kesan yg menyeronokkan akan tingkatkan hubungan rangsangan dan gerak balas.


Kerangka berfikir teori : dengan menganut Cuba Jaya (ganjaran/dendaan)


IV.Burrhus F. Skinner (1904 - 1990)
Burrhus Frederic Skinner dilahirkan di sebuah kota kecil bernama Susquehanna, Pennsylvania, pada tahun 1904 dan wafat pada tahun 1990 setelah terserang penyakit leukemia. Skinner dibesarkan dalam keluarga sederhana, penuh disiplin dan pekerja keras. Ayahnya adalah seorang jaksa dan ibunya seorang ibu rumah tangga.


Skinner mendapat gelar Bachelor di Inggris dan berharap bahwa dirinya dapat menjadi penulis. Semasa bersekolah memang ia sudah menulis untuk sekolahnya, tetapi ia menempatkan dirinya sebagai outsider (orang luar), menjadi atheist, dan sering mengkritik sekolahnya dan agama yang menjadi panutan sekolah tersebut. Setelah lulus dari sekolah tersebut, ia pindah ke Greenwich Village di New York City dan masih berharap untuk dapat menjadi penulis dan bekerja di sebuah surat kabar.


Pada tahun 1931, Sk inner menyelesaikan sekolahnya dan memperoleh gelar sarjana psikologi dari Harvard University. Setahun kemudian ia juga memperoleh gelar doktor (Ph.D) untuk bidang yang sama. Pada tahun 1945, ia menjadi ketua fakultas psikologi di Indiana University dan tiga tahun kemudian ia pindah ke Harvard dan mengajar di sana sepanjang karirnya. Meskipun Skinner tidak pernah benar-benar menjadi penulis di surat kabar seperti yang diimpikannya, ia merupakan salah satu psikolog yang paling banyak menerbitkan buku maupun artikel tentang teori perilaku/tingkahlaku, reinforcement dan teori-teori belajar.
Skinner adalah salah satu psikolog yang tidak sependapat dengan Freud. Menurut Skinner meneliti ketidaksadaran dan motif tersembunyi adalah suatu hal yang percuma karena sesuatu yang bisa diteliti dan diselidiki hanya perilaku yang tampak/terlihat. Oleh karena itu, ia juga tidak menerima konsep tentang self-actualization dari Maslow dengan alasan hal tersebut merupakan suatu ide yang abstrak belaka.
Skinner memfokuskan penelitian tentang perilaku dan menghabiskan karirnya untuk mengembangkan teori tentang Reinforcement. Dia percaya bahwa perkembangan kepribadian seseorang, atau perilaku yang terjadi adalah sebagai akibat dari respond terhadap adanya kejadian eksternal. Dengan kata lain, kita menjadi seperti apa yang kita inginkan karena mendapatkan reward dari apa yang kita inginkan tersebut. Bagi Skinner hal yang paling penting untuk membentuk kepribadian seseorang adalah melalui Reward & Punishment. Pendapat ini tentu saja amat mengabaikan unsur-unsur seperti emosi, pikiran dan kebebasan untuk memilih sehingga Skinner menerima banyak kritik.


(1) Teori Pelaziman Operan Skinner (Peneguhan)


(a) Peneguhan Positif: (pujian, senyuman, hadiah - supaya teruskan kebaikan)


(b) Peneguhan negativ (marah, leteran - supaya buat kerja)


(c) Dendaan : halang daripada buat semula kesilapan


(i) Dendaan Persembahan: Lari keliling padang, beri kerja tambahan


(ii) Dendaan Penyingkiran: Dilarang menonton tv sebab nak periksa.


(d) Prinsip Premack: Kaitkan aktiviti yg tidak diminati dgn yg diminati (Belajar dulu jika nak main bola)


(e) Pelupusan: Tiada peneguhan dengan sendirinya lupus.


(2) Kerangka berfikir teori :operan conditioning, perilaku dapat dimanipulasi dengan mengelola kondisi reinforcement Teori Pelaziman Operan (ukur ganjaran/dendaan - Merpati).


(3) Aplikasi Teori Skinner dalam Bilik Darjah


(1) Beri peneguhan positif pd tindakan yg baik.


(2) Ganjaran harus sesuai dgn kesukaran pembelajaran.


(3) Hati-hati beri peneguhan negatif takut dianggap hukuman.


(4) Latihan berulang perlu utk pengukuhan pembelajaran


(5) Beri keutamaan pada Latihan yg wujudkan pengukuhan.




  1. Edward Tolman:

Tolman berpendapat bahwa melalui perilaku bertujuan, proses belajar bukanlah sesuatu situasi yang dapat diamati semuanya, tetapi proses nyata dari belajar terdiri dari operasi kognitif yang terpusat. Kerangka berfikir teori : teori behaviorisme purposif, yang mencakup segi positif dari konsep behavioristik dan kognitif.




  1. Albert Bandura (1925 - )

Albert Bandura dilahirkan pada tahun 1925 di Alberta, Canada. Dia memperoleh gelar Master di bidang psikologi pada tahun 1951 dan setahun kemudian ia juga meraih gelar doktor (Ph.D). Setahun setelah lulus, ia bekerja di Standford University.
Albert Bandura sangat terkenal dengan teori pembelajaran sosial (Social Learning Theory), salah satu konsep dalam aliran behaviorisme yang menekankan pada komponen kognitif dari pikiran, pemahaman dan evaluasi. Albert Bandura menjabat sebagai ketua APA pada tahun 1974 dan pernah dianugerahi penghargaan Distinguished Scientist Award pada tahun 1972.


BELAJAR dan PIKIRAN


Proses belajar dapat dijelaskan melalui pendekatan “ABC”, yaitu:


A = Antecedent (penyebab atau kejadian yang mendahului perilaku)


B = Behavior (perilaku itu sendiri)


C = Consequences (konsekuensi hal-hal yang mengikuti perilaku yang dimaksud.


Edward Tolman (Behaviorist) menentang kepercayaan yang berlaku saat itu pada saat melihat tikus-tikus yang digunakan dalam penelitiannya tampak berpikir ke arah mana mereka harus bergerak ketika mereka berhenti di persimpangan dalam sebuah labirin. Menurut Tolman, hewan-hewan ini tampaknya belajar, bahkan tanpa adanya reinforcement.


Dalam sebuah eksperimen klasik, Tolman dan C.H. Honzik (1930) menempatkan tiga 3 kelompok tikus dalam tiga labirn yang berbeda dan mengobservasi perilaku harian mereka selama kurun waktu 2 minggu


Tikus-tikus di kelompok pertama selalu diberikan makanan di ujung labirin dan dengan cepat mempelajari cara menemukan makanan tersebut tanpa harus melalui lorong-lorong buntu. Tikus-tikus di kelompok kedua tidak pernah mendapatkan atau menemui makanan, maka mereka tidak mengikuti rute yang spesifik. Sementara tikus-tikus di kelompok ketiga tidak menemukan makanan selama 10 hari, dan tampak berjalan secara acak, tetapi pada hari kesebelas mereka diberikan makanan, dan kemudian mereka dengan cepat belajar untuk mencapai titik akhir labirin dengan cepat. Keesokan harinya mereka melakukan tugasnya (menuju akhir labirin) sama baiknya denga kelompok pertama, yang telah mendapatkan reinforcement dari hari pertama.


Kelompok ketiga menunjukkan terjadinya pembelajaran laten (latent learning), yaitu pembelajaran yang tidak tampil langsung dalam respon yang jelas; ini terjadi tanpa adanya reinforcement yang jelas. Pembelajaran laten memunculkan pertanyaan mengenai apa, tepatnya, yang dipelajari selama pembelajaran.


Dalam penelitian Tolman dan Honzik, tikus-tikus yang tidak mendapatkan makanan hingga hari kesebelas tampak telah memiliki representasi mental dari labirin tersebut. Mereka telah mempelajari keseluruhan labirin tersebut tetapi tidak punya alasan untuk menenjukkan hasil pembelajaran sampai pada saat makanan mulai diberikan di akhir labirin. Yang diperoleh dari pembelajaran laten bukan sesuatu respon yang spesifik melainkan pengetahuan mengenai respon dan juga konsekuensinya.


TEORI BELAJAR SOSIAL-KOGNITIF


Manusia berbeda dengan tikus maupun kelinci, di mana manusia memiliki sikap, kepercayaan, dan harapan yang mempengaruhi cara mereka memperoleh informasi, membuat keputuan, melakukan penalaran, dan menjawab masalah.


Proses mental dalam diri individu mempengaruhi apa yang akan dilakukan dan pada umumnya sifat-sifat yang mereka kembangkan. Itu sebabnya mengapa dua orang dapat hidup dan menjalani peristiwa yang sama dan menarik pembelajaran yang berbeda dari peristiwa tersebut (Bandura, 2001).


Karena meletakkan fokusnya pada proses mental salah seorang dari pemikir utama aliran ini, Walter Mischel (1973 dan 1995) menyebutnya sebagai pendekatan teori pembelajaran sosial-kognitif.


Albert Bandura (1986) menyebut teorinya sebagai teori sosial-kognitif. Teori sosial -kognitif adalah teori yang menekankan bagaimana perilaku dipelajari dan dipertahankan melalui observasi dan imitasi perilaku orang lain, konsekuensi positif, serta proses kognitif seperti rencana, harapan, dan keyakinan.


Pembelajaran observasional adalah proses di mana individu mempelajari respon-respon baru dengan mengobservasi perilaku orang lain (seorang model) daripada melalui pengalaman langsung; terkadang disebut juga vicariuos kondisioning.


Teori Belajar Sosial (sosial Learning Theory) dikembangkan oleh Albert Bandura seorang psikolog pendidikan dari Stanford University, USA. Teori belajar ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana orang belajar dalam setting yang alami/lingkungan sebenarnya untuk melakukan perubahan-perubahan tingkah laku. Hasil penelitian para ahli teori belajar spt Skinner dan Thorndike dilakukan tidak dalam situasi sosial tetapi hasilnya untuk situasi sosial. Sedangkan menurut Bandura, dalam situasi sosial ternyata orang bisa lebih cepat belajar dengan mengamati tingkah laku orang lain.


Bandura (1977) menghipotesiskan bahwa baik tingkah laku (B), lingkungan (E) dan kejadian-kejadian internal pada pembelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi (P) adalah merupakan hubungan yang saling berpengaruh (interlocking), Harapan dan nilai mempengaruhi tingkah laku. Pengakuan sosial yang berbeda mempengaruhi konsepsi diri individu. Tingkah laku dihadirkan oleh “model”. Model diperhatikan oleh pelajar (ada penguatan oleh model). Dalam konsepnya, jelaslah bahwa Bandura meningikutsertakan unsur kognitif.


TEORI BELAJAR KOGNITIF


Psikologi kognitif mengatakan bahwa perilaku manusia tidak ditentukan oleh stimulus yang berada diluar dirinya, melainkan oleh faktor yang ada pada dirinya sendiri. Faktor-faktor internal itu berupa kemampuan atau potensi yang berfungsi untuk mengenal dunia luar, dan dengan pengenalan itu manusia mampu memberikan respon terhadap stimulus. Berdasarkan pada pandangan itu teori psikoloig kognitif memandang beljar sebagai proses pemfungsian unsur-unsur kognisi terutama pikiran, untuk dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar. Dengan kata lain, aktivitas belajar manusia ditentukan pada proses internal dalam berpikir yakni pengolahan informasi.


Intisari dari teori belajar konstruktivisme adalah bahwa belajar merupakan proses penemuan (discovery) dan transformasi informasi kompleks yang berlangsung pada diri seseorang. Individu yang sedang belajar dipandang sebagai orang yang secara konstan memberikan informasi baru untuk dikonfirmasikan dengan prinsip yang telah dimiliki, kemudian merevisi prinsip tersebut apabila sudah tidak sesuai dengan informasi yang baru diperoleh . Agar siswa mampu melakukan kegiatan belajar, maka ia harus melibatkan diri secara aktif.


Pembelajaran Aliran Kognitif.


Pembelajaran menurut Jean Piaget


Prinsip utama Pembelajaran :


1.Belajar aktif


Untuk membantu perkembangan kognitif anak, kepadanya perlu diciptakan kondisi belajar yang memungkinkan anak belajar sendiri, misalnya melakukan percobaan. Manipulasi symbol-simbol, mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban sendiri, membandingkan penemuan sendiri dengan penemuan temannya.


2. Belajar lewat interaksi sosial.


Tanpa intraksi sosial, perkembangan kognitif anank akan tetap bersifat egosentris. Sebaliknya lewat interaksi sosial, perkembangan kognitif anak akan mengarah pada banyak pandangan dengan macam-macam sudut pandang dari alternatif tindakan.


3. Belajar lewat pengalaman sendiri


Bahasa memang memegang peranan penting dalam perkembangan kognitif , namun bila menggunakan bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi tanpa pernah karena pengalaman sendiri makaperkembangan anak cenderung mengarah pada verbalisme.


Pembelajaran menurut JA Brunner


Dalam pengajaran disekolah, Brunner mengajukan bahwa dalam pembelajaran hendaknya mencakup :


· Pengalaman-pengalaman optimal untuk mau dan dapat belajar.


· Pensturkturasi pengetahuan untuk pemahaman optimal


Penyajian.


· Cara penyajian ikonik didasarkan atas pikiran internal. Pengetahuan disajikan oleh sekumpulan gambar-gambar yang mewakili suatu konsep, tetapi tidak mendefinisikan sepenuhnya konsep itu.


· Cara penyajian simbolik. Penyajian simbolik dibuktikan oleh kemauan seseorang lebih memperhatikan preposisi/ pernyataan daripada obyek-obyek yeng memberikan struktur hirarkis pada konsep-konsep an kemungkinan alternative dalam suatu cara kombinatorial


· Ekonomi. Dalam penyajian suatu pengetahuan akan dihubungkan dengan sejumlah informasi yang dapat disimpan dalam pikiran, dan diproses untuk mencapai pemahaman.


· Kekuasa kekuatan. Kuasa dari suatu penyajian juga dapat diartikan sebagai kemampuan penyajian itu untuk menghubung-hubungkan hal-hal yang kelihatannya dangat terpisah-pisah.


· Perincian urutan penyajian materi pelajaran.


· Cara pemberian “reinforcement”.


Teori Belajar Vygostky


Tokoh kontruktivis lain adalah Vygotsky. Sumbangan penting teori Vygotsky adalah penekanan pada hakekatnya pembelajaran sosiokultural. Inti teori Vygotsky adalah menekankan interaksi antara aspek “internal” dan “eksternal” dari pebelajaran dan penekanannya pada lingkungan sosial pebelajaran. Menurut teori Vygotsky, fungsi kognitif berasal dari interaksi sosial masing - masing individu dalam konsep budaya. Vygotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas - tugas yang belum dipelajari namun tugas- tugas itu berada dalam “zone of proximal development” mereka. Zone of proximal development adalah jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang ditunjukkan dalam kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat kemampuan perkembangan potensial yang ditunjukkan dalam kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu.


Teori Vygotsky yang lain adalah “scaffolding“. Scaffolding adalah memberikan kepada seseorang anak sejumlah besar bantuan selama tahap - tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri.


Vygotsky menjabarkan implikasi utama teori pembelajarannya yaitu 1) menghendaki setting kelas kooperatif, sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan saling memunculkan strategi - strategi pemecahan masalah yang efektif dalam masing - masing zone of proximal development mereka; 2) Pendekatan Vygotsky dalam pembelajaran menekankan scaffolding. Jadi teori belajar Vygotsky adalah salah satu teori belajar sosial sehingga sangat sesuai dengan model pembelajaran kooperatif karena dalam model pembelajaran kooperatif terjadi interaktif sosial yaitu interaksi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru dalam usaha menemukan konsep - konsep dan pemecahan masalah.


Oleh Sri Wulandari S. Psi, Psi

blog comments powered by Disqus

Poskan Komentar



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER