Rabu, 29 Juli 2009

GARIS DAN HURUF DALAM GAMBAR

MODUL KE 2


GARIS DAN HURUF DALAM GAMBAR


Setelah mempelajari bahan dalam bab ini, Anda seharusnya dapat:


1. Mengenal bermacam 4fpe garis dan bagaimana pemakaian garis-garis itu.


2. Menggambar garis pada sudut tertentu.


3. Membuat sketsa bermacam tipe garis.


4. Menambah huruf pada sketsa.


2.1 Garis


Dalam gambar dipergunakan beberapajenis garis, yang masing-masing mempunyai arti dan penggunaannya sendiri. Oleh karena itu penggunaannya harus sesuai dengan maksud dan tujuannya.


2.1.1 Jenis-jenis Garis


Jenis-jenis garis yang dipergunakan dalam gambar mesin ditentukan oleh gabungan bentuk dan tebal garis. Tiap jenis dipergunakan menurut peraturan tertentu. Ada empat jenis garis seperti berikut;


garis nyata ---------------


garis kontinu,


garis gores ---------------


garis pendek-pendek dengan jarak antara,


garis bergores -- - -- - -- - -


garis gores panjang dengan gores pendek


diantaranya.


garis bergores ganda - - - - - - -


garis gores panjang dengan gores pendek diantaranya.


Jenis garis menurut tebainya ada dua macam, yaitu: garis tebal, dan garis tipis. Kedua jenis tebal garis ini mempunyai perbandingan 1 : 0,5. Tebal garis dipilih sesuai besar kecilnya gambar, dan dipilih dari deretan tebal berikut : 0,18,0,25,0,35,0,5,0,7, 1, 1,4 dan 2 mm


Karena kesukaran-kesukaran yang ada pada cara reproduksi tertentu, tebal 0,18 mm sebaiknya jangan dipakai. Pada umumnya tebal garis tebal adalah 0,5 atau 0,7 mm. Jarak minimum antara garis (jarak antara garis tengah garis) sejajar termasuk garis arsir, tidak boleh kurang dari tiga kali tebal garis yang paling tebal dari gambar (Gb. 2.1). Dianjurkan agar ruang antara garis tidak kurang dari 0,7 mm. Pada garis-garis sejajar yang berpotongan (Gb. 2.2) jaraknya dianjurkan paling sedikit empat kali tebal garis. Bila beberapa garis berpusat pada sebuah titik, garis-garisnya tidak digambar berpotongan pada titik pusatnya, tetapi berhenti pada titik di mana jarak antara garis kurang lebih sama dengan tiga kali tebal garisnya (Gb. 2.3). Garis gores dan garis bertitik yang berpotongan, atau bertemu, harus diperlihatkan dengan jelas titik pertemuannya atau titik perpotongannya, seperti pada Gb. 2.4. Panjang garis gores dan jarak antaranya pada satu gambar harus sama. Panjang ruang antara harus cukup pendek dan jangan terlalu panjang.


2.1.2 Penggunaan Garis


Dalam gambar mesin dipergunakan beberapa jenis garis, dalam bentuk dan tebal sesuai penggunaannya, seperti pada Tabel 2.1.


2.1.3 Garis-garis yang berhimpit


Bila dua garis atau lebih yang berbeda-beda jenisnya berhimpit, maka penggambarannya harus dilaksanakan sesuai urutan prioritas berikut: 1) Garis gambar (garis tebal kontinu, jenis A), 2) Garis tidak tampak (garis gores tipis, jenis E)


3) Garis potong (garis bergores, yang dipertebal pada ujung-ujungnya dan tempat-tempat perubahan arah, jenis H) 4) Garis sumbu (garis bergores, jenis G)


5) Garis bantu, garis ukur dan garis arsir (garis tipis kontinu, jenis B).


image001


image002


2.2 Huruf-huruf


Dalam gambar huruf-huruf, angka-angka dan lambang-Iambang dipergunakan untuk memberi ukuran-ukuran, catatan-catatan, judul dsb., di samping gambar-gambar itu sendiri. Ciri-ciri yang perlu pada huruf dan angka pada gambar teknik, ialah:


- Jelas


- Seragam


- Dapat dibuat microfilm, atau lain cara reproduksi.


Oleh karena itu huruf dan angka harus "digambar" dengan cermat dan jelas, agar supaya tidak menimbulkan salah baca dari pembaca gambar yang berbeda-beda. Angka-angka baru dapat dibedakan dengan jelas; agar tidak menimbulkan keraguan antara mereka, walaupun terdapat kerusakan ringan.


image003


2.2.1 Ukuran huruf


Tinggi h dari huruf besar diambil sebagai dasar ukuran. Daerah standar tinggi huruf adalah sbb:


2,5, 3,5 ,5, 7, 10, 14 dan 20 mm. Angka Perbandingan $7 dalam daerah ukuran tinggi huruf diambil dari perbandingan


ukuran kertas gambar. Tinggi h (tinggi huruf besar) dan c (tinggi huruf kecil) tidak boleh kurang dari 2,5 mm. Ini berarti bahwa bila terdapat gabungan antara huruf besar dan kecil, dengan huruf kecil setinggi 2,5 mm, maka h akan menjadi 3,5 mm. Tabel huruf d ditentukan oleh dua perbandingan standar d/h, 1/14 dan 1/10. Perbandingan yang dianjurkan untuk tinggi huruf-huruf kecil, jarak antara huruf-huruf, ruang minimum antara garis dasar dan jarak antara perbatasan-perbatasan diberikan pada Table 2.2.


image004


image005


2.3 MENGGAMBAR GARIS MENDATAR (HORISONTAL)


Untuk menggambar garis mendatar, tekan kepala Siku-T dengan mantap terhadap pinggir kerja papan dengan tangan kiri; kemudian luncurkan tangan ke posisi yang ditunjukkan Gbr. 2.5a agar bilah tertekan dengan mantap terhadap kertas. Miringkan pensil searah garis pada sudut kira-kira 60° dengan kertas, dan tariklah garis dari kiri ke kanan (Gbr.2.5b). Tetapkan pensil dalam bidang vertikal; jika tidak, garis mungkin tidak lurus (Gbr 2.5c). Ketika menggambar garis biarkan jari kelingking menahan ringan gerakan pensil pada bilah siku-T dan putar pensil pelan-pelan, kecuali untuk pensil-pensil lead kecil, antara jari jempol dan jari telunjuk Anda untuk membagi pemakaian lead secara merata dan menjaga titik simetris. Pensil-pensil lead kecil hams dipegang hampir vertikal terhadap kertas dan jangan diputar. Juga, mendorong pensil lead kecil dari kiri ke kanan, daripada menariknya, cenderung memperkecil kemungkinan patahnya lead.


Jika ketepatan tinggi diperlukan, pensil bisa"dimiringkan" untuk menghasilkan garis yang benar-benar lums (Gbr. 2.5d). Orang-orang kidai: Secara umum, balikkan tata cara yang baru saja ditetapkan. Tempatkan kepala siku-T terhadap pinggir kanan papan dan dengan pensil pada tangan kiri, tarik garis dari kanan ke kiri.


2.4 MENGGAMBAR GARIS TEGAK LURUS (VERTICAL)


Pergunakan segitiga 45° atau segitiga 30° x 60° untuk menggambar garis tegak lurus atau vertical. Tempatkan segitiga di atas siku-T dengan pinggir vertikal pada sebelah kiri, seperti terlihat pada Gbr. 2.6a. Dengan tangan kiri, tekan kepala siku-T terhadap papan; kemudian luncurkan tangan ke posisi yang ditunjukkan di mana tangan memegang kedua siku-T dan segitiga dengan mantap dalam posisi. Tarik garis ke arah atas, sambil memutar pensil pelan-pelan di antara jari jempol dan telunjuk. Dianjurkan kepada pemakai tangan kanan (tidak kidal), agar membalik segitiga sehingga pinggiran vertikalnya di sebelah kanan yaitu apabila menggambar garis vertikal di dekat ujung kanan siku-T. Dalam hal ini garis ditarik ke arah bawah.


Miringkan kepala pensil ke arah garis pada sudut kira-kira 60° terhadap kertas dan dalam bidang vertikal (Gbr. 2.6b). Sementara, badan bagian atas hams diputar ke kanan (Gbr. 2.6c). (Orang-orang kidal: Secara umum, kebalikan tata cara yang lalu. Tempatkan kepala siku-T di sebelah kanan dan pinggir vertikal segitiga di sebelah kanan; kemudian dengan tangan kanan pegang siku-T dan segitiga bersama-sama secara mantap, dan dengan tangan kiri tarik garis ke arah atas).


2.5 SEG1TIGA


Banyak garis miring dalam menggambar mekanik dibuat pada sudut-sudut standar dengan segitiga 45° dan segitiga 30° x 60° (Gbr. 2.7 ). Segitiga dibuat dari plastik transparan sehingga garis-garis gambar dapat dilihat tembus. Gabungan yang bagus adalah segitiga 30° x 60° dengan sisi panjang 10" dan segitiga 45° dengan setiap kaki 8".


2.6 MENGGAMBAR GARIS MIRING


Posisi segitiga untuk menggambar garis pada semua sudut yang mungkin, ditunjukkan dalam Gbr. 2.8. Pada gambar tersebut jelas bahwa segitiga pada setiap posisi hams bersandar pada bilah siku-T. Jadi adalah mungkin membagi 360° ke dalam dua puluh empat 15° sektor dengan segitiga dipergunakan secara tunggal atau secara gabungan. Catat hati- hati arah menarik garis, seperti ditunjukkan oleh panah dan bahwa semua garis pada belahan kiri ditarik menuju pusat sementara yang di belahan kanan ditarik menjcmhi pusat.


image006


image007


Oleh : Ir. Nanang Ruhyat . MT

blog comments powered by Disqus

Poskan Komentar



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER