Minggu, 09 Agustus 2009

KLASIFIKASI DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN

MODUL 12


AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH I


image001


RESKINO, SE, M.Si, Akt



PENILAIAN PERSEDIAAN:


PENDEKATAN DASAR BIAYA




KLASIFIKASI DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN


image002


Klasifikasi


Persediaan adalah pos-pos aktiva yang dimiliki oleh perusahaan untuk dijual dalam operasi bisnis normal, atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam membuat barang yang akan dijual


Berdasarkan pengertian di atas maka perusahaan jasa tidak memiliki persediaan, perusahaan dagang hanya memiliki persediaan barang dagang sedang perusahaan industri memiliki 3 jenis persediaan yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi (siap untuk dijual).


Dalam laporan keuangan, persediaan merupakan hal yang sangat penting karena baik laporan Rugi/Laba maupun Neraca tidak akan dapat disusun tanpa mengetahui nilai persediaan. Kesalahan dalam penilaian persediaan akan langsung berakibat kesalahan dalam laporan Rugi/Laba maupun neraca.


Dalam perhitungan Rugi/Laba nilai persediaan (awal & akhir) mempengaruhi besarnya Harga Pokok Penjualan (HPP).



HPP = PERSEDIAAN AWAL+ PEMBELIAN BERSIH - PERSEDIAAN AKHIR


Perencanaan dan pengendalian


Suatu rencana adalah langkah realistis yang telah ditentukan sebelumnya, rencana memuat rincian kagiatan untuk mencapai tujuan. Rencana harus menetapkan kriteria penilaian dan standart pengukuran serta memberi peluang bagi kreativitas dan fleksibilitas. Dalam merencanakan kita harus memperhitungkan berbagai kondisi yang terjadi diperusahaan, Perencanaan juga harus saling berhubungan untuk memperbaiki profitabilitas


Perencanaan menentukan terlebih dahulu apa yang harus dilakukan, bagaimana harus dilaksanakan, kapan dan bagaimana alternatif untuk mencapai tujuan, termasuk biaya-biaya yang akan terjadi juga harus diukur. Untuk merencanakan besarnya jumlah persediaan, perlu mempertimbangkan biaya-biaya variabel berikut ini :


1. Biaya penyimpanan(holding costs atau carrying costs), yaitu terdiri atas biaya-biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan. Biaya penyimpanan per periode akan semakin besar apabila kuantitas bahan yang disimpan semakin besar. Biaya-biaya yang termasuk sebagai biaya penyimpanan adalah:


· Biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan (termasuk penerangan, pendingin ruangan, dan sebagainya).


· Biaya modal (opportunity cost of capital), yaitu alternatif pendapatan atas dana yang diinvestasikan dalam persediaan.


· Biaya Keuangan.


· Biaya perhitungan fisik.


· Biaya asuransi persediaan.


· Biaya pajak persediaan.


· Biaya pencurian, pengrusakan, atau perampokan.


· Biaya penanganan persediaan dan sebagainya.



2. Biaya pemesanan atau pembelian(ordering costs atau procurement costs), biaya-biaya ini meliputi :


· Pemprosesan pesanan dan biaya ekspedisi.


· Upah.


· Biaya telepon.


· Pengeluaran surat menyurat.


· Biaya pengepakan dan penimbangan.


· Biaya pemeriksaan (inspeksi) penerimaan.


· Biaya pengiriman ke gudang.


· Biaya utang lancar dan sebagainya.


3 . Biaya penyiapan (manufacturing) atau set-up cost. Hal ini terjadi apabila bahan-bahan tidak dibeli, tetapi diproduksi sendiri oleh perusahaan, perusahaan menghadapi biaya penyimpanan untuk memproduksi komponen tertentu. Biaya-biaya ini terdiri dari :


· Biaya mesin-mesin menganggur.


· Biaya persiapan tenaga kerja langsung.


· Biaya penjadwalan.


· Biaya ekspedisi dan sebagainya.


4. Biaya kehabisan atau kekurangan bahan ( shortage costs) adalah biaya yang timbul apabila persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan. Biaya-biaya yang termasuk biaya kekurangan bahan adalah sebagai berikut :


· Kehilangan penjualan.


· Kehilangan pelanggan.


· Biaya pemesanan khusus.


· Biaya ekspedisi.


· Selisih harga.


· Terganggunya operasi.


· Tambahan pengeluaran kegiatan manajerial dan sebagainya.


Biaya kekurangan bahan sulit diiukur dalam prakteknya, terutama karena kenyataan biaya ini sering merupakan opportunity costs yang sulit diperkirakan secara objektif.


2. Pengendalian


Pengendalian meliputi langkah yang dilakukan oleh manajemen untuk memperbesar kemungkinan pencapaian sasaran yang telah ditetapkan dalam tahap perencanaan dan juga untuk memastikan bahwa seluruh bagian organisasi berfungsi sesuai tujuan organisasi. Pengendalian menurut Dlenn. Welsch Ronald W Hilton Paul (1995), adalah suatu proses untuk memastikan tindakan yang efisien untuk mencapai tujuan organisasi. Pengendalian ini mencakup ; 1) Penetapan sasaran dan standart, 2) Membandingkan hasil dengan sasaran dan standart, 3) Mendorong keberhasilan dan memperbaiki kekurangan


Adadua tujuan utama dalam pengendalian internal atas persediaan antaralain mengamankan persediaan dan melaporkan secara tepat dalam laporan keuangan. Pengendalian persediaan harus dimulai segera setelah persediaan diterima. Laporan penerimaan yang sudah diberi nomor sebelumnya harus diisi oleh departemen penerimaan perusahaan untuk menetapkan tanggung-gugat (account-ability) awal atas persediaan. Untuk memastikan bahwa persediaan yang diterima sesuai yang dipesan, setiap laporan penerimaan harus cocok dengan pesanan pembelian.


Pengendalian internal juga bersifat :


1. Preventif (pencegahan), pengendalian preventif dirancang untuk mencegah kesalahan atau kekeliruan pencatatan.


2. Detektif, ditujukan untuk mendeteksi kesalahan atau kekeliruan yang telah terjadi.


3. Meningkatkan efisiensi dengan melaksanakan kebijakan dan prosedur untuk melakukan peningkatan yang mungkin dicapai.


Suatu sistem pengendalian internal merupakan bagian dari sebuah sistem pengendalian manajemen. Sistem pengendalian manajemen meliputi pengendalian administratif seperti anggaran untuk perencanaan dan pengendalian operasi, dan pengendalian akuntansi seperti prosedur pengendalian internal mengenai pemisahan tugas orang yang menghitung kas dari tugas orang yang memiliki akses terhadap pencatatan piutang.


Untuk mencatat taransaksi-transaksi yang mempengaruhi nilai persediaan, terdapat 2 metode sebagai berikut :



1. Metode Fisik


Metode fisik adalah metode penghitungan secara langsung (stock opname) jika ingin mengetahui persediaan akhir. Setelah persediaan barang yang ada di gudang dihitung baru bisa diketahui persediaan akhirnya. Dari persediaan ini kemudian diperhitungkan harga pokoknya.


Kelemahan metode fisik adalah jika ingin menyusun laporan keuangan dalam jangka pendek maka penghitungan persediaan ini akan memakan waktu yang lama. Mutasi keluar masuk persediaan tidak diketahui jadi kemungkinan ada penyimpangan persediaan tidak diketahui.


Dalam metode ini pencatatan persediaan hanya dilakukan pada akhir periode akuntansi melalui ayat jurnal penyesuaian. Transaksi yang mempengaruhi persediaan, dicatat masing-masing dalam perkiraan tersendiri sebagai berikut: Pembelian , Retur pembelian , Penjualan dan Retur penjualan.


PERIODE AWAL













Perobahan persediaan (Harga Pokok)


999,999.99


Persediaan


999,999.99



PEMBELIAN
















Pembelian (Harga Pokok)


999,999.99


999,999.99


Utang / Kas


999,999.99



PENJUALAN
















Piutang/ Kas /Bank


999,999.99


Penjualan


999,999.99


999,999.99



AKHIR PERIODE













Persediaan


999,999.99


Perubahan Persediaan (Harga Pokok)


999,999.99



Untuk mendapatkan nilai persediaan secara periodik dilakukan perhitungan fisik (Stock Opname).


Metode ini sudah mulai ditinggalkan karena secara jelas tidak mendukung integrasi system dimana, sepanjang peridode akuntansi berjalan tidak tersedia data mengenai posisi persediaan. Hal ini menyebabkan data bagian akuntansi kurang mendukung operasional. Laporan neraca dan rugilaba tidak akan dapat dibuat sebelum nilai persediaan diketahui.



2. Metode Buku (Perpetual)



Dalam metode buku setiap jenis persediaan dibuatkan rekening sendiri-sendiri. Setiap terjadi masuk dan keluar barang dicatat pada buku sehingga dengan cepat dapat diketahui persediaan akhir. Kelebihan metode buku adalah adanya kontrol terhadap persediaan barang, misalnya pada akhir tahun dilakukan stock opname jika catatan pada buku tidak sama dengan fisik yang sebenarnya maka ada kesalahan. Mungkin ada barang yang hilang atau ada kesalahan dalam pencatatan pada buku.



Dalam metode ini pencatatan persediaan dilakukan setiap terjadi transaksi yang mempengaruhi persediaan. Saldo perkiraan persediaan akan menunjukan saldo persediaan yang sebenarnya. Dengan demikian pada saat penyusunan laporan keuangan tidak diperlukan ayat jurnal penyesuaian. Pencatatan transaksi kedalam perkiraan persediaan, adalah berdasarkan harga pokok produksi, baik transaksi pembelian maupun penjualan. Metode ini akan menampilkan dapat menyediakan laporan neraca setiap saat baik untuk di print_out maupun secara visual.


A. WAKTU PEMBELIAN
















Persediaan


999,999.99


999,999.99


Utang/Kas/Bank


999,999.99



B. WAKTU DISTRIBUSI (PEMAKAIAN)













Persediaan barng dalam proses


999,999.99


Pesediaan bahan baku


999,999.99



C. PENERIMAAN HASIL PRODUKSI













Persediaan barang Jadi


999,999.99


Persediaan Dalam Proses


999,999.99



PENJUALAN


1. Harga Jual
















Piutang/Kas/Bank


999,999.99


Penjualan


999,999.99


999,999.99



2. Harga Pokok













Harga Pokok Penjualan


999,999.99


Persediaan Barang yang dijual


999,999.99



PENYESSUAIAN AKHIR


1. JIKA SALDO SEMENTARA < STOCK OPNAME













Koreksi persediaan/Barang dalam proses


999,999.99


Koreksi pemakaian bahan


999,999.99



2. JIKA SALDO SEMENTARA > STOCK OPNAME













Koreksi pemakaian Bahan


999,999.99


Persediaan/Barang dalam prosess


999,999.99



Walaupun system perpetual menyediakan data persediaan secara terus menerus namun tetap diperlukan perhitungan fisik yang berfugnsi untuk mencocokan fisik dengan catatan buku.


Penilaian Persediaan


Masalah-masalah yang timbul dalam penilaian persediaan dalam satu periode adalah :


Menetapkan jumlah dan nilai persediaan yang sudah terjual / sudah menjadi biaya.


Menentukan jumlah dan nilai persediaan yang belum terjual (yang harus dilaporkan dineraca)


Harga Pokok (Cost) dalam persediaan adalah semua pengeluaran-pengeluaran langsung/tidak langsung yang timbul untuk perolehan penyiapan dan penempatan agar persediaan tersebut dapat dijual.



BARANG KONSINYASI


Penjualan konsinyasi merupakan suatu sistem perjanjian penjualan dimana salah satu pihak yang memiliki barang menyerahkan sejumlah barang kepada pihak lain untuk dijualkan dengan jalan memberikan komisi tertentu.



A. Pihak yang terlibat dalam penjualan konsinyasi :




  1. Pengamanat (Consignor) adalah pihak pemilik barang, sedangkan transaksi pengiriman barang dari pemilik ke pihak komisioner disebut barang konsinyasi (Consigment Out).


  2. Komisioner (Consignee) pihak penerima barang dari pemilik barang, sedangkan transaksi penerimaan barang dari pemilik ke pihak komisioner disebut barang komisi (Consigment In).


B. Perlakuan akuntansi atas penjualan konsinyasi


Terdapat perbedaan antara transaksi penjualan biasa (reguler) dengan penjualan konsinyasi, yakni dalam hubungannya dengan pemindahan hak milik atas barang bersangkutan. Dalam transaksi penjualan biasa (reguler) hak milik atas barang berpindah kepada pembeli pada saat penyerahan barang, dan keadaan tersebut dalam akuntansi digunakan sebagai dasar pengakuan terhadap timbulnya pendapatan. Sedangkan dalam transaksi penjualan konsinyasi penyerahan barang dari pihak pengamanat kepada komisioner tidak berarti adanya penyerahan hak milik atas barang yang bersangkutan, atau hak milik atas barang tersebut akan berpindah dari pengamanat apabila komisioner telah berhasil menjualbarang tersebut kepada pembeli.



C. Faktor yang menyebabkan pihak pengamanat memillih penjualan konsinyasi:





  1. Konsinyasi merupakan suatu cara untuk lebih memperluas pasaran yang dapat dijamin oleh pihak produsen, pabrikan atau distributor.


  2. Risiko tertentu dapat dihindarkan oleh pengamanat, seperti kebangkrutan yang dialami pihak komisioner


  3. Pihak pengamanat ingin memperoleh penjualan khusus dalam perdagangan barangnya.


  4. Harga barang eceran yang bersangkutan dapat dikontrol oleh pihak pengamanat


D. Faktor yang menyebabkan pihak komisioner memillih penjualan konsinyasi :




  1. Pihak komisioner dilindungi dari kemungkinan risiko gagal untuk memasarkan barang


  2. Risiko rusaknya barang dan adanya fluktuasi harga dapat dihindarkan


  3. Kebutuhan akan modal kerja dapat dikurangi


E. Masalah pencatatan akuntansi yang timbul bagi pihak komisioner :




  1. Apabila transaksi penjualan konsinyasi dicatat secara terpisah maka pendapatan dan laba dari penjualan konsinyasi ditentukan secara terpisah dari laba/rugi kegiatan penjualan biasa (reguler).


  2. Apabila transaksi penjualan konsinyasi dicatat secara tidak terpisah maka pendapatan dan laba dari penjualan konsinyasi ditentukan tidak secara terpisah dari laba/rugi kegiatan penjualan biasa (reguler).

terdapat beberapa biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan persediaan antara lain harga beli, biaya-biaya pembelian, ongkos angkut, pajak, asuransi, pergudangan dan lain-lain, namun harga pokok barang biasanya hanya terdiri dari harga beli ditambah ongkos angkut sedangkan biaya-biaya lain dicatat sebagai biaya dalam perkiraan tersendiri untuk periode yang bersangkutan.


Dalam perusahaan industri maupun perusahaan dagang, transaksi menyangkut persediaan adalah hal pokok yang menyangkut sebagian besar system akuntansi. Untuk itu perlu dibedakan dengan jelas sehingga dapat dipahami bahwa subs system Inventory hanyalah bagian tertentu dari persediaan


Subs system yang secara langsung berkaitan dengan persediaan adalah Accounts Payable, Accounts Receivable sedangkan Kas yang telah kita bahas dapat berhubungan secara langsung dan dapat pula tidak.


Subs System Inventory, Purchase dan Invoice biasa merupakan subs system khusus mengolah data operasional yang menghasilkan output sebagai bukti transasksi yang digunakan sebagai dasar pecatatan ke buku besar buku jurnal.


Persediaan dicatat melalui jurnal Pembelian dan jurnal penjualan sesuai dengan pilihan metode yang dipilih. Pada aplikasi ini adalah system perpetual Inventory. Proses menyusun jurnal transaksi dilakukan oleh aplikasi dari file transaksi sehingga pemakai hanya mencatat transaksi pada formulir elektronik yang disediaakan selanjutnya adalah tugasnya komputer.



Istilah yang digunakan untuk menamai barang-barang yang dimiliki perusahaan tergantung jenis perusahaan tersebut. Untuk perusahaan dagang, persediaannya disebut persediaan barang dagangan. Untuk perusahaan manufaktur, persediaan barangnya terdiri dari persediaan bahan baku dan penolong, persediaan supplies pabrik, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi. Persediaan bahan baku adalah bahan utama untuk menghasilkan sebuah produk, contohnya : perusahaan mebel bahan bakunya kayu, sedangkan bahan penolongnya adalah paku, cat, plitur dll. Persediaan supplies adalah barang-barang yang mempunyai fungsi untuk memperlancar proses produksi, contoh : oli mesin, bahan pembersih mesin. Persediaan barang dalam proses adalah barang-barang yang masih dalam proses pengerjaan. Persediaan barang jadi adalah persediaan produk yang sudah jadi.

Pengaruh Ausumsi Aliran Kos terhadap Laporan Keuangan

















FIFO


Menggambarkan nilai yang mendekati harga pasar (harga yang bisa direalisir)


Menggambarkan harga pokok penjualan yang tidak sebanding dengan harga pasar. Dalam hal ini laba dinilai terlalu besar


LIFO


Menggambarkan nilai persediaan yang terlalu kecil


Menggambarkan harga pokok penjualan yang mendekati harga pasar. Dalam hal ini laba dinilai wajar


Average


Menggambarkan nilai persediaan yang terlalu kecil tetapi lebih besar daripada LIFO


Menggambarkan harga pokok penjualan yang mendekati harga pasar, tetapi lebih kecil daripada LIFO. Dalam hal ini laba dinilai lebih besar daripada LIFO, tetapi lebih kecil dari FIFO

blog comments powered by Disqus

Poskan Komentar



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER