Sabtu, 12 September 2009

Klasifikasi WW Berita TV

11. Pokok Bahasan : Klasifikasi WW Berita TV


Mata Kuliah : Teknik WW dan Reportase TV


Dosen : Drs. Adi Badjuri MM



Deskripsi singkat :


Mata kuliah ini memberikan gambaran dan pemahaman mengenai : Klasifikasi WW Berita TV , agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami teknik-teknik dan langkah-langkah apa saja yang harus dipersiapkan dalam proses berlangsungnya wawancara dan melakukan reportase berita untuk Media TV.


Tujuan Instruksi Umum :


Setelah mengikuti sessi ini diharapkan para mahasiswa akan memiliki pengetahuan, kemampuan dan pemahaman :




  1. Memperoleh pengertian dan pemahaman bagaimana seharusnya seorang reporter bersikap ketika melakukan wawancara dan meliput suatu peristiwa.


  2. Memiliki sikap professional yaitu memiliki kedalaman bersikap dan keterampilan teknis dalam menghadapi nara sumber ketika wawancara dan reportase berlangsung.

Metode Pengajaran :


Mahasiswa yang telah ditentukan memberikan presentasi mata kuliah bersangkutan, dilanjutkan dengan diskusi antar mahasiswa atau tanya jawab sesama mereka di bawah pengawasan dan bimbingan dosen dan ditutup dengan penjelasan terperinci mengenaj hal-hal yang berkembang dalam diskusi dari dosen.


Dalam mempresentasikan kuliah, mahasiswa dapat menggunakan OHP atau secara lisan. Selama berlangsungnya diskusi antar mahasiswa, dosen mendampingi dan menyertai diskusi tersebut sambil mencatat masalah-masalah yang berkembang dalam diskusi.


Wawancara yang Baik dan Benar.


Walsh mengatakan kunci menuju wawancara yang baik adalah mendengarkan dengan baik. “Dalam wawancara, jika sdr tulus dan sumber tahu bahwa sdr mempunyai rasa sempati, mereka akan bicara. Sebagian besar dari keterampilan hanyalah “sifat terbuka” bagi apa yang ingin mereka katakan. Mike Fancher dari Seattle Times mengatakan bahwa wawancara yang baik adalah wartawan harus memungkinkan bagi sumber untuk menyatakan apa yang sebenarnya dipikirkan dari pada harus memikirkan apa yang harus dikatakan.


Tiap wawanacara mempunai gaya tersendiri dalam berwawancara. Demikian pula tiap orang yang diwawancara tidak ada yang sama. Karena itu pewawancara harus mengembangkan berbagai kemampuan pribadinya agar wawancara yang dilakukannya itu berhasil. Wawancaraa bukanlah sesuatu yang dipelajari kemudian diterapkan begitu saja. Wawancara adalah suatu proses tertentu yang mengharuskan penafsiran dan penyesuaian terus menerus . Karena itu cara terbaik untuk belajar wawancara adalah dengan berwawancara sendiri.


Kadang-kadang seorang wartawan muda merasa bahwa mengajukan pertanyaan yang benar itu susah , sebab khawatir pertanyaan itu mungkin akan menyinggung atau menyudutkan yang diwawancara. Oriana Fallaci, seorang wartawati Italia yang terkenal dengan wawancaranya mengatakan bahwa kesuksesannya dalam mewawancarai para pemimpin dunia mungkin karena ia berhasil mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah diajukan oleh wartawan-wartawan lain.


“Ada wartawan yang berani hanya jika mereka menulis, jika mereka sendirian dengan mesin tiknya, tidak jika mereka sedang berhadapan dengan orang yang berkuasa. Mereka tidak pernah mengajukan pertanyaan seperti ini , “Tuan, karena anda seorang diktator, kita semua tahu bahwa anda korup. Berapa besar anda korup”


Ajaibnya, para kepala pemerintahan, raja-raja dan para pemimpin gerilya terbuka pada Fallaci. Salah satu alasan untuk ini adalah anggapannya bahwa public berhak untuk mendapat jawaban dari hal yang ingin mereka ketahui dan keengganannya untuk disepelekan orang. Ketika juara tinju kelas berat Muhammad Ali membentak-bentak dalam menjawab pertanyaannya, Fallaci melempar mikrofon tape-recordernya ke muka sang juara. Alasan lain dari keefektifannya adalah “bakat keakrabannya” seperti yang dikemukakan seorang wartawan. “Dia dengan mudah membangun suasana kepercayaan dan kedekatan dan menciptakan kesan bahwa dia akan menceritakan pada sdr segalanya. Sebagai akibatnya, sdr merasa aman untuk melakukan yang sama padanya, “tulis Diana Loercher dalam The Christian Science Monitor.


Prinsip Dasar.


Pengertian orisinil dari wawancara adalah pertemuan tatap muka. Wawancara melibatkan intertaksi verbal antara dua orang atau lebih, tetapi biasanya diprakarsai untuk suatu maksud khusus dan biasanya difokuskan pada suatu masalah khusus. Dalam hal ini wawancara berbeda dari konversasi biasa antar-teman. Pewawancara harus berusaha menjaga agar subyeknya tidak beralih dari masalah yang dibicarakan. Karena itu perlu ada control. Bagaimana wartawan bisa mengontrol wawancara? Itulah yang kadang-kadang jadi dilemma.


Dengan tatap muka maka semua indera pewawancara dapat menyerap informasi, kata-kata, sekaligus penggambaran seseorang. Visi adalah pelengkap yang sangat penting dalam diskusi. Sdr dapat melihat ekspresi, gerakan, suasana, lingkungan. Sdr melihat mata orang, mata itu mampu bercerita banyak ketika sdr mengajukan pertanyaan. Apakah orang itu bergairah, apakah orang itu gelisah, tenang atau barangkali merasa terjebak dan berbohong. Semua ini akan membentuk pertanyaan atau arah dari pertanyaan wawancara. Wawancara tatap muka adalah cara yang paling langsung untuk mendapatkan informasi dari seseorang. Sdr dapat mencermati pakaian, gerak atau bahasa tubuh, ekspresi wajah. Misalnya wawancara di rumah seseorang. Kita dapat mencermati selera dan kerajinan orang itu dari cara menata rumahnya.


Ada pula yang melakukan wawancara melalui telepon. Wawancara melalui telepon adalah bagaikan orang memakai topeng pada suatu pesta. Orang yang diwawancara secara fisik tersembunyi. Suatu wawancara telepon mungkin kurang dapat menyajikan seseorang secara utuh, walapun kita dapat mendengar irama, suara, ataupun keragu-raguannya.


Ada beberapa prinsip dasar wawancara yaitu :


Pertama,


Dari definisinya, wawancara adalah sebuah konversasi atau perbincangan. Biasanya dilakukan antara dua orang dengan tujuan untuk mendapatkan informasi atas nama audiences yang tidak tampak . Konversasi ini biasanya berupa pertukaran informasi yang bisa mengasilkan sesuatu tingkat intelegensia yang tidak dapat dicapai oleh orang bila dilakukannya sendiri.


Kedua,


Dalam sebuah wawancara, tidaklah berarti bahwa wartawan harus banyak bicara . Yang baik justru kebalikannya. Namun wartawan mempunyai tanggungjawab yang serius untuk melakukan pekerjaan dalam mempersiapkan wawancara sehingga tingkat konversasi tidak seperti di tingkat taman kanak-kanak. Selanjutnya dianjurkan agar wartawan , dengan mata yang ditujukan pada kebutuhan dan kepentingan audienc yang tak tampak, akan menunjukkan macam pertanyaan yang akan mendapat jawaban yang sesuai untuk pembaca.


Ketiga,


Melalui sebuah wawancara, dianjurkan agar wartawan menjadi ahli setelah meneliti sebuah topik dengan mendalam. Dalam hal ini, orang akan lebih berterus terang jika sdr terbuka dan berterus terang.


Prinsip Praktis


Selain prinsip-prinsip dasar tersebut , ada beberapa prinsip praktis lainnya yang layak dipertimbangkan untuk dipergunakan.


1. Terbuka dan beri perhatian.


Reportase, kata A.J Lebling, umumnya adalah menaruh perhatian pada setiap orang yang sdr jumpai. Sdr tidak harus menyukai setiap orang yang sdr wawancarai.


2. Sdr akan menuai hasil dari apa yang sdr tanam.


Pertanyaan yang bodoh sama dengan jawaban yang bodoh pula. Tipu dan kebohongan menghasilkann tipu dan kebohongan. Ketulusan membuahkan ketulusan.


3. Orang akan bicara lebih bebas jika mereka senang.


Sdr bisa membuat wawancara menyenangkan dengan cara mendengarkan sungguh-sungguh, dengan menghargai orang sebagai teman sesama, dengan tawa menyambut banyolan mereka, dengan mengajukan pertanyaan yang didasarkan pada persiapan matang sebelumnya dan dengan mendengarkan apa yang mereka katakan.


4. Dalam konversasi sdr harus menambang berton-ton bijih untuk mendapatkan satu gram emas.


Kebanyakan orang hanya omong. Mereka menjawab pertanyaan sdr sebisanya. Mereka tidak merasa perlu untuk bicara menurut bentuk cerita yang ingin sdr tulis. Tugas sdrlah untuk membentuk semuanya itu menjadi cerita yang enak dibaca.


5. Wawancara dianggap berhasil bila yang diwawancara merasa bebas untuk mengatakan apa yang sebenarnya dipikirkan dan dirasakan.


Ini berarti bahwa sdr harus mendengarkan tanpa rasa ingin mengadili, yang berarti berusaha mengerti pesan dari sudut pandang orang lain. Dengan melakukan ini bisa dihilangkan sikap ketidaktulusan. Defensive yang berlebihan, kebohongan, dan kepalsuan, yang menurut seorang ahli psikoterapi Carln Rogers, sebagai “ciri kegagalan dalam komunikasi pribadi”.



Sepuluh Tahap Wawancara.


Prinsip dasar dan prinsip praktis sebuah wawancara memang ditujukan untuk mempersiapkan sebuah wawancara yang sesungguhnya. Namun prinsip-prinsip tersebut tidak “berhenti” ketika sang wartawan sedang atau sudah selesai mewawancarai seorang nara sumber . Prinsip-prinsip wawancara tersebut juga dapat dipakai untuk mengukur keberhasilan sebuah wawancara, karena pada dasarnya sebuah wawancara hanyalah salahsatu alat utuk memperoleh kebenaran.


Dalam pelaksanaan wawancara sendiri, sekurang-kurangnya seorang wartawan harus melewati dan menjalani sepuluh tahap atau tingkat, yaitu ;


1. Jelaskan maksud wawancara.


Wawancara tanpa tujuan yang jelas cenderung akan ngalor-ngidul tidak menentu. Tujuannya harus diketahui oleh kedua belah pihak.


2. Lakukan riset latar belakang.


Pelajari kliping Koran di perpustakaan tentang orang yang akan diwawancarai atau topic yang akan dibicarakan . Dalam banyak tulisan sdr harus menghubungi banyak orang. Sdr akan mewawancarai keluarga, teman, kolega, atau malah saingan dari orang yang sdr wawancara.


3. Ajukan, biasanya melalui telepon , janji untuk wawancara.


Jelaskan tujuannya. Bersiaplah untuk menjual gagasan tulisan sdr bila orang yang ingin sdr wawancarai itu tidak antusias.


4. Rencanakan strategi wawancara sdr.


Susun pertanyaan menurut rencana yang sdr ingin tanyakan. Dengan riset latar belakang seharusnya sdr tahu jalan terbaik untuk menuju suatu topik. Jika orang yang akan sdr hadapi itu dikenal sebagai pendiam atau suka mengelak , carilah sedapatnya tentang hobi , opini, minat dan lainnya sehingga bisa bicarakan bersama dengan topik yang ingin bahas.


5. Temui responden sdr.


Ulangi maksud wawancara. Perkenalkan diri dan jual gagasan sdr sekali lagi. Gunakan komentar-komentar untuk mencairkan suasana. Ice-breaker.


6. Ajukan pertanyaan serius yang pertama.


Mulailah dengan topic yang menguatkan ego orang yang diwawancara. Ciptakan suasana yang serasi dalam konversasi.


7. Lanjutkan menuju inti dari wawancara.


Dengarkan. Ajukan pertanyaan-pertanaan yang mendalam.


8 Ajukan pertanyaan-pertanyaan keras (yang sensitive dan menyinggung) bilaperlu.


Namun simpanlah pertanyaan-pertanyaan demikian untuk akhir wawancara.


9. Pulihkan, bila perlu, dampak dari pertanyaan-pertanyaan keras itu.


10. Akhiri dan simpulkan wawancara .


Memang wawancara membutuhkan keberanian tersendiri., karena sdr bertemu dengan orang-orang yang tidak kenal dan berbicara tentang masalah yang sedikit saja sdr ketahui. Sdr menghadapi resiko disepelekan orang - atau dikritik tentang pakaian atau potongan rambut sdr. Tetapi tidak mengajukan pertanyaan adalah lebih buruk. Sdr tidak pernah akan tahu tentang hal-hal yang mungkin yang akan mengagumkan sdr. Kesemapatan untuk bertemu dengan orang-orang menarik pun akan hilang. Akhirnya dengan banyak bertanya, ada sebuah hadiah menanti; sdr belajar ; Belajar bukan hanya tentang fakta dan opini yang akan dipakai sebagai bahan tulisan, tetapi juga akan menambah pengetahuan. “Dia yang tertanya adalah orang bodoh untuk lima menit. Dia yang tidak bertanya adalah orang bodoh untuk selamanya”, tulis Ken Metzler dalam bukunya ; News gathering, yang mengutip pepatah Cina.



Daftar Pustaka.




  1. Deddy Mulyana dan Idi Suandy Ibrahim. Bercinta dengan Televisi. PT. Rosdakarya. Bandung Th.1997.


  2. Albert L.Hester dan Way Lan J.to. Diterjemahkan Abdullah Alamudi Pedoman untuk Wartawan. The Center for International Mass Communication Training and Reseach. USIS Jakarta Th 1987.


  3. Sedia Willing Barus. Jurnalistik Petunjuk Praktis Menulis Berita. CV. Mini Jaya Abadi Th. 1996.


  4. Jakob Oetama. Pers Indonesia, Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Tulus. Peerbit Buku Kompas. Th. 2001. Deddy Iskandar Muda. Jurnalistik Televisi, Menjadi Reporter Profesional. PT. Remaja Rosdakarya Bandung. Th.2005.


  5. Imam Suhirman. Menjadi Jurnalis Masa Dewpan. Dimensi Publisher. Th. 2005


  6. Pengantar Komunikasi Massa (Rajawali Pers, 2007), di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum, Jombang, 29 Nopember 2007.
blog comments powered by Disqus

Poskan Komentar



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER