Jumat, 14 Agustus 2009

TUGAS & FUNGSI BAGAIAN PEMBERITAAN

image001



image002



PEMBERITAAN



Pemberitaan merupakan salah satu bagian penting dalam penyelenggaraan suatu stasiun penyiaran. Dalam struktur organisasi umum suatu satiun penyiaran pemberitaan termasuk dalam Divisi Programming. Namun demikian karena kekhususannya , bagian pemberitaan berkembang menjadi suatu divisi yang berdiri sendiri dan seringkali menentukan laju tidaknya suatu stasiun penyiaran. Dengan kenyataan ini maka seringkali publik menyatakan Divisi Pemberitaan merupakan salah satu Divisi Kunci dalam suatu stasiun penyiaran.



SIFAT KHUSUS PEMBERITAAN :


· Tepat sasaran


· Cepat


· Lugas


· Memenuhi azas Legalitas


· Bertanggungjawab secara moral


· Mentaati perauran perundang-undangan yang berlaku


MEKANISME REDAKSI PEMBERITAAN



Ketika kita menonton sebuah berita, sebenarnya yang kita saksikan adalah sebuah hasil dari proses panjang yang bisa disebut sebagai mekanisme kerja redaksi. Yang dimaksud dengan mekanisme kerja redaksi di sini adalah sebuah proses pengelolalan pemberitaan, yang meliputi perencanaan liputan, proses produksi sampai pada penayangan berita. Pada setiap kantor redaksi media televisi, yang di dalamnya memiliki program pemberitaan, biasanya memiliki divisi atau bagian yang bertugas mengolah informasi maupun fakta untuk diberitakan atau disiarkan kepada publik.


Sebuah informasi memiliki perjalanan panjang dalam manajemen redaksi. Satu program berita, yang rata-rata memiliki durasi 30 menit terdapat 15 sampai 20 item berita, melibatkan tidak kurang dari 50 orang. Dalam hal tanggungjawab mereka bertanggungjawab terhadap pekerjaan masing-masing, namun tanggungjawab terhadap suatu berita terletak pada Pemimpin Redaksi yang ditunjuk.



Pemimpin Redaksi bertanggunjawab keluar dan ke dalam dalam manajemen pemberitaan. Maksudnya sebuah berita yang akan ditayangkan harus diketahui oleh pemimpin redaksi sehingga apanbile terdapat penyimpangan terlebih yang menyebabkan opini publik dia dapat mempertanggungjawabkannya.



Orang-orang yang berada di bawah koordinasi pemimpin redaksi adalah :


· koordinator liputan,


· produser,


· reporter,


· kameraman,


· video editor,


· graphic editor, dan


· editor gambar yang melakukan tugas mixing atau pasca produksi.


· Presenter


· Petugas teleprompter



Setelah berita dikemas, lalu menuju proses penyiaran. Di sini melibatkan divisi lain, yaitu urusan studio dan penyiaran, yang berarti melibatkan banyak unsur Iagi, mulai dari presenter dari news, kamerawan studio, audioman; lightingman, switcher, vtr-man, komputer grafis. Sidang siaran ini dikomandani program director atau pengarah acara yang bertanggungjawab dalam proses penyiaran. Di bidang lain juga melibatkan petugas di master control, yang secara kontinyu memang bertugas mengatur siaran baik siaran langsung maupun tidak langsung.



Gambaran singkat ini menjelaskan bahwa penyiaran adalah kerja kolektif. Meski demikian setiap bagian memiliki tanggungjawab masing-masing. Dalam bidang keredaksian, tanggungjawab utama atas sebuah siaran berita adalah pada penangungjawab atau pemimpin redaksi. Tetapi dalam prakteknya, tidak semua berita dikontrol oleh pernimpiun redaksi, karena dia telah menugaskan kepada bawahannya yang secara khusus diberi tugas untuk mengontrol yakni produser, koordinator liputan, dan reporter. Dengan demikian setiap berita yang diproduksi dan akan ditayangkan harus diketahui dan dibaca oleh setiap orang yang terlibat dalam proses produksinya. Dengan kata lain ’check and recheck’ harus dilakukan secara berurutan mulai dari awal peliputan sampai dengan ketika akan disiarkan oleh presenter (pembawa berita) termasuk petugas teleprompter yang membantu presenter dalam membawakan berita.



PROSES PENGEMBANGAN BERITA


Dalam modul terdahulu dijelaskan pekerjaan pada setiap bagian dalam stasion penyiaran pada dasarnya adalah proses menegemen. Definisi managemen antara lain menyebutkan bahwa menagemen merupakan proses membuat perencanaan, pengorganisasian, memimpin, mengendalikan berbagai usaha anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Dari definisi tersebut setidaknya ada lima unsur manajemen yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), pengendalian (controlling), penilaian (evaluating). Prinsip-prinsip tersebut diterapkan dalam pengembangan program berita.



Secara lebih rinci, proses perjalanan sebuah berita mulai dari perencanaan liputan hingga berita itu ditayangkan dapat dilihat dalam bagan sebagai berikut:



PE RENCANAAN


• Menentukan topik liputan


• Menentukan reporter dan kamerawan yang bertugas



PELIPUTAN


• Proses pencarian berita


• Memperhatikan batas waktu peliputan


• Selalu berkomunikasi dengan produsuer



PRODUKSI


• Previeu, meIih at gambar yang didapat


• Memilih topik berita


• Menentukan durasi berita


• Membuat naskah


• Editing gambar


• Dubbing


• Membuat grafik



PASCA PRODUKSI:


• Periksa video


• Periksa audio


• Periksa materi


• Persetujuan layak tayang


• Penyusunan rundown



PENAYANGAN


• Penampilan presenter


• Penayangan niateri siaran berita


• Realisasi rundown


• Kontrol kualitas gambar dan audio


• Evaluasi kualitas topik, produksi dan tayangan



Personal yang terlibat dalam Proses Produksi:



1. Produser liputan + Produksi


2. Reporter dan kamerawan


3. Video editor dan graphic editor


4. Crew studio (audio, VTR, lighting, kamerawan)


5. Program director


6. Presenter


7. Petugas teleprompter



Berdasarkan proses perjalanan sebuah berita dari peliputan hingga penayangan tersebut nampak jelas bahwa sebuah berita yang ditayangkan adalah hasil dari kerjasama tim yang dikomandani oleh produser. Namun di atas semua itu penangungjawab utama suatu berita adalah pemimpin redaksi. Sebagai penanggungjawab utama seluruh berita yang ditayangkan dalam job description atau pembagian tugas di jajaran redaksi, pemimpin redaksi memiliki tanggungjawab yang sangat besar, karena dialah yang memegang kebijakan atau policy pemberitaan.



Policy pemberitaan merupakan ketentuan baku yang tidak bisa ’ditawar’. Hal ini karena policy pemberitaan ditentukan berdasarkan visi dan misi dari stasiun penyiaran tersebut. Dalam menentukan policy pemberitaan kepentingan pemilik stasiun penyiaran dalam hal ini ”stake holder” merupakan penentu utama.



Biasanya dalam sebuah divisi pemberitaan televisi memiliki job dicription yang jelas, yang mengatur fungsi dan wewenang, serta ketentuan-ketentuan policy yang biasanya diwujudkan dalam bentik memo ataupun ketentuan tertulis kebijakan redaksi. Ketentuan itu menjadi pedoman bagi seluruh produser pemberitaan, reporter dan kamerawan. Penyimpangan dari ketentuan redaksi, biasanya akan berakibat pada sanksi administratif.



Ketentuan ini sebenarnya merupakan bagian dari wujud kepedulian pimpinan untuk menjaga agar pemberitaan tidak mengakibatkan kerugian bagi pihak lain, yang mengakibaitkan tuntutan hukum baik per-data maupun pidana.



Jika ketentuan interen ini dilanggar maka pimpinan redaksi dapat melimpahkan pertanggungjawabannya kepada produser. Meski demikian, karena proses produksi berita melibatkan banyak pihak, maka kesalahan dapat terjadi di setiap bagian, dan secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama dapat dimintai pertangungjawaban. Karena itu setiap bagian harus mengontrol setiap hal yang dikerjakan.


KEGIATAN PEMBERITAAN


Reportase


Reportase adalah kegiatan jurnalis televisi dalam mengumpulkan bahan-bahan berita dan menyeleksisnya untuk dijadikan berita. Banyak kalangan jurnalis menyebutnya news gathering atau melakukar peliputan berita. Reportase juga sering diartikan laporan pandangan mata. Dalam hal ini reporter yang berada di lapangan melaporkan kejadian baik disiarkan langsung maupun tunda.


Ada dua jenis reportase atau peliputan yang berlaku di media televisi. Pertama adalah reportase terencana, yaitu reportase yang dilakukan berdasarkan perencanaan. Bisanya melalui rapat redaksi. Kedua adalah reportase tidak langsung dan biasanya mendadak dilakukan langsung di lapangan. Ini terjadi misalnya ketika reporter dan kamerawan akan meliput sesutu acara ternyata di jalan menemukan peristiwa kecelakan di jalan tol.


Terhadap peristiwa yang didapatkan di lapangan langsung, biasanya reporter akan melakukan kontak dengan koordinator liputan maupun produser di news room untuk memastikan apa yang akan dilakukannya. Di samping itu juga untuk menentukan prioritas apa yang harus dikerjakan, atau agar liputan yarig direncanakan mungkin bisa digantikan orang lain. Selain itu reporter juga menjelskan kebutuhan peralatan tambahan sehingga dapat segera disupply apabila waktu memungkinkan. Di sinilah kreativitas dan kemampuan reporter diuji apakah dapat menghasilkan berita yang baik dengan segala prasarana yang sudah disiapkan walaupun terdapat kekurangan yang cukup mengganggu.



Rapat redaksi - merencanakan liputan


Terhadap liputan yang terencana, sidang redaksi akan membagi reporter pada bidang liputannya masing-masing, sekalian menentukan sudut pandang atau angle berita. Diskusi biasanya lebih pada penentuan kebijakan redaksi, ke arah mana liputan difokuskan dari sekian banyak topik yang bisa digarap. Misalnya dalam kasus Penyerangan Majalah Tempo oleh sekelompok massa yang ’diduga orang-orangnya Tomi Winata, DPR menggelar pertemuan dengan pimpinan Redaksi Tempo dan Tomi Winata.


Acaranya sendiri sudah menarik, tetapi untuk berita yang lebih mendalam mungkin reporter tidak hanya melaporkan peristiwanya, apalagi ada sejumlah program berita yang harus di isi dengan berita tersebut, misalnya berita siang, sore, malam ataukah berita yang ditayangkan setiap jam sekali. Bahkan mungkin, karena peristiwanya menarik perhatian publik, sejumlah stasiun televisi akan melakukan siaran langsung. Maka bisa jadi rapat redaksi memutuskan personal yang akan terlibat siaran langsung dengan menggunakan OB Van (out broadcsting van) atau mobil siaran luar. Sedangkan pembahasan fokus liputan diarahkan pada aspek politiknya, aspek hukumnya, atau mungkin kepentingan bisnis yang melingkupi kasus tersebut.


Wawancara dengan siapa saja yang diperlukan untuk melengkapi berita tersebut juga akan ditentukan dalam rapat redaksi. Termasuk sejumlah pertanyaan yang akan diajukan kepada nara sumber. Gambar-gambar yang mendukung liputan juga sering dibicarakan dalam rapat redaksi, termasuk kelengkapan data dari perpustakaan (library).


Pendek kata, rapat redaksi akan bermanfaat terhadap kualitas peliputan berita karena didalamnya terjadi dialog atau diskusi yang akan mempertajam wawasan bagi reporter dan, kamerawan dan video editor, manajer pemberitaan dan produser serta koordinator liputan. Dengan begitu liputan akan terarah, run down atau urutan berita yang akan disiarkan dapat disiapkan lebih dini.


Sebagai dasar menentukan apakah sesuatu kejadian, gagasan, informasi itu perlu diliput atau tidak, harus dinilai apakah ia memiliki nialai berita atau tidak. Maka, kita kembali pada pertanyaan awal ketika memahami apakah itu berita.


Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah :


· Apakah ada sesuatu yang baru?


· Apakah ada hal yang luar biasa?


· Apakah sesuatu itu penting?


· Apakah ada yang menarik.?


· Apakah menyangkut kehidupan manusia?


· Apakah akan mempengaruhi opini publik ?


· Apakah akan menyebabkan perubahan kebijakan dalam satiun tersebut ?



Persiapan Liputan



Setelah rapat redaksi biasanya reporter dan kamerawan melanjutkan dikusi untuk menentukan langkah apa yang diambil ketika sudah di lapangan. Sejumlah langkah yang adalah sebagai berikut:


1. Mempertanyakan kembali peristiwa apa yang akan diliput, nilai berita apakah yang sangat ditunggu pemirsa?


2. Apakah yang akan diliput termasuk running story atau cerita bersambung yang setiap hari mungkin ada kelanjutannya. Jika demikian - seperti kasus Majalah penyerangan massa terhadap Majalah Tempo di atas ­perkembangan terakhir apa yang terjadi?


3. Siapa yang terpengaruh dengan berita tersebut?


4. Siapa yang layak menjadi nara sumber? Siapa yang bertanggungjawab terhadap peristiwa atau kasus yang diliput?


5. Siapa pemain kuncinya?


6. Apakah diperlukan wawancara dengan seorang pengamat atau ahli yang independen?


7. Pertanyaan-pertanyaan apa yang perlu dikemukakan?


8. Apa gambarnya? Sekuen-sekuen apa saja yang diperlukan? Perlukah gambar dokumentasi? Ataukah gambar pendukung lainnya?, Diskusikan dengan kamerawan!


9. Perlukah seorang reporter on screen atau stand up?


10Apaangle beritanya?


11. Buatlah janji kepada nara sumber untuk melakukan wawancara



Simbolisasi Naskah berita


Banyak peristiwa atau kejadian yang sudah cukup kuat dengan gambar yang terjadi di lapangan saat kejadian itu berlangsung. Seperti dalam berita­-berita kecelakaan, bencana alam, kriminalitas, sidang-sidang pengadilan, siding­-sidang DPR, dan lain-lain. Semua peristiwa itu cukup kuat dari sisi gambar, dan narasi adalah menjelaskan atau memberi makna dari gambar dimaksud.



Di luar itu masih banyak berita yang dari sisi materi atau isi (content) sangat kuat, tetapi sulit visualisasinya karena sifat berita itu memang bukan peristiwa. Jenis berita semacam ini lebih banyak pada berita ekonomi, misalnya soal perbankan, perkembangan industri, investasi, transportasi, dan sebagainya.



Untuk mendukung berita-berita yang dilihat dari gambar kurang kuat maka diperlukan simbolisasi seperti telah diterangkan di muka.


Misalnya kasus kelangkaan harga solar karena ulah spekulan sehingga menimbulkan banyak nelayan tidak melaut karena tidak mendapatkan pasokan solar untuk menggerakkan kapal motornya. Dalam contoh ini, yang diperlukan adakah gambar pengisian BBM (solar) di SPBU yang kosong atau habis, tidak aktivitas, ada tulisan solar habis, tangki-­tangki solar kosong, nelayan menganggur, dan kapal-kapal motor ditambatkan. Jika akibat nelayan tidak melaut kemudian harga ikan naik, maka perlu dilengkapi gambar ikan hasil tangkapan nelayan yang ada di pasar atau di pelelangan ikan. Untuk mendukung isi berita, perlu ditambahkan data-data pendukung, misalnya harga ikan sekarang dan sebelumnya.


Contoh lain adalah kelangkaan semen. Gambar yang diperlukan adalah stok semen di toko bangunan kosong, adukan semen kering, pembangunan perumahan terhenti, dan sebagainya.


Contoh lain lagi adalah inflasi naik 5 persen tahun ini. Gombar yang diperlukan adalah gambar yang mewakili penyebab inflasi. Apakah karena naiknya harga kebutuhan pokok, misalnya? Ataukah karena yang lain. Kalau karena kenaikan bahan pokok, harus ada gambar beras, terigu, minyak dan sebagainya.



Selain berita-berita ekonomi, ada juga berita-beritan yang memerlukan simbolisasi misalnya berita yang diperoleh dari:


• Jumpa pers,


• Press release


• Keputusan pejabat pemerintah


• Pandangan orang seorang ahli


• Dan sebagainya.



Untuk diingat:


Utamakan gambar aktifitas manusia dan ditempatkan di bagian awal berita. Gambar-gambar jumpa pers di awal berita tidak akan menarik pemirsa dan bahkan akan menyebabkan pemirsa pindah channel yang akan berakibat berkurangnya penonton stasiun tersebut yang apad akhirnya akan berakibat fatal pada perolehan peringkat program tersebut (rating) dan perolehan penonton (audience share).



Peristiwa mendadak


Peristiwa mendadak adalah peristiwa atau kejadian yang terjadi tiba-tiba, tidak diketahui sebelumnya. Contohnya adalati kecelakaan, bencana alam, dan musibah lainnya. Semua peristiwa ini cara melakukan reportasenya sama dengan peristiwa terencana. Bedanya adalah kecepatan pengambilan keputusan akan sangat menentukan kecepatan berita ini terpublikasikan dan kelengkapan gambar atau visualnya.



Itulah sebabnya, seorang reporter dan kamerawan akan selalu koordinasi dengan koordinator liputan di lapangan ketika di jalan mendapati musibah atau kejadian luar biasa yang memiliki nilai berita. Soal angle, fokus liputan dan lain-lainya akan dikoordinasikan dengan korlip (koordinator liputan). Bahkan mungkin korlip akan menurunkan tim lagi untuk memback up liputan utama.



Sebagai dasar liputan, maka seorang kamerawan biasanya akan mengambil semua kejadian yang ada. Kamerawan setelah dialog singkat dengan reporter akan menentukan berapa item dapat dibuat. Milsanya seorang reporter rnenemukan kejadian pesawat jatuh di kawasan halim, tepatnya di jalan raya Jakarta - Bogor. Setelah koordinasi dengan korlip, kamerawan melakukan tugasnya mengambil gambar apa yang ia lihat dan reporter mengumpulkan data-data. Mungkin dalam hal ini reporter akan melakukan reportase secara off screen atauatau on screen tentang peristiwa ini, atau menjelaskan tentang kemana para korban dibawa.


Yang dimaksud dengan off screen adalah beritalkan ditayangkan dengan diawali munculnya presenter lalu diselangseling dengan gambar kejadian, sedangkan off screen presentar tidak akan muncul sama sekali. Dalam hal ini presenter dapat diwakili oleh narator yang membawakan berita.



Berbeda dengan narator program yang tidak bersifat berita, seorang narator berita haruslah seorang yang memiliki wawasan luas dan mengerti betul isi berita yang dibawakannya dan juga harus mempunyai kualitas suara yang bagus, intonasi yang baik dan mengalun dan artikulasi yang jelas.



Di luar itu, reporter dan kameraman mungkin akan mewawancarai saksi mata, pengguna jalan, polisi atau petugas berwenang lainnya. Juga lari ke rumah sakit, untuk melihat bagaimana penanganannya. Dan sebagainya. Jadi dalam satu persitiwa, dapat dibuat menjadi beberapa item berita. Perlu diingat, dalam berita televisi, satu item berita hanya berisi satu angel, fokus!. Ini merupakan syarat mutlak dalam membuat suatu berita, karena akan membuat pemirsa tertarik dan benar-benar mengikuti berita tersebut sehingga nantinya diharapkan cdapat menghasilkan perolehan penonton yang baik bagi program tersebut. Selain itu juga dapat digunakan oleh peneglola stasiu penyiaran untuk menbgevaluasi kinerja para penyelenggara. Hal ini dimungkinkan karena semakin banyak penirsa yang menyaksikan program tersebut maka dapat dikatakan kapabilitas orang-orang yang terlibat dalam prose produksinya sangat baik. Bahkan tidak menutup kemungkinan dari suatu berita yang bagus dapat menghasilkan topik lain yang selanjutnya dapat dikembangkan menjadi suatu program tersendiri untuk mengisi slot satsiun penyiaran tersebut. (ops.Lisapalindih/priv.doc)

blog comments powered by Disqus

Poskan Komentar



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER