Sabtu, 22 Agustus 2009

Pengukuran Polygon

Modul 10
Garis Kontur


Pengukuran Polygon


Ir. Zainal Arifin



10.1 Kontur


Salah satu unsur yang penting pada suatu peta topografi adalah informasi tentang tinggi suatu tempat terhadap rujukan tertentu. Untuk menyajikan variasi ketinggian suatu tempat pada peta topografi, umumnya digunakan garis kontur (contour-line).


Garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan ketinggian sama. Nama lain garis kontur adalah garis tranches, garis tinggi dan garis lengkung horisontal.


Garis kontur + 25 m, artinya garis kontur ini menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian sama + 25 m terhadap referensi tinggi tertentu.


Garis kontur dapat dibentuk dengan membuat proyeksi tegak garis-garis perpotongan bidang mendatar dengan permukaan bumi ke bidang mendatar peta. Karena peta umumnya dibuat dengan skala tertentu, maka bentuk garis kontur ini juga akan mengalami pengecilan sesuai skala peta.


Gambar 10.1.: Pembentukan Garis Kontur dengan membuat proyeksi tegak garis perpotongan bidang mendatar dengan permukaan bumi


Dengan memahami bentuk-bentuk tampilan garis kontur pada peta, maka dapat diketahui bentuk ketinggian permukaan tanah, yang selanjutnya dengan bantuan pengetahuan lainnya bisa diinterpretasikan pula informasi tentang bumi lainnya.


10.2 Interval Kontur dan Indeks Kontur


Interval kontur adalah jarak tegak antara dua garis kontur yang berdekatan. Jadi juga merupakan jarak antara dua bidang mendatar yang berdekatan.


Pada suatu peta topografi interval kontur dibuat sama, berbanding terbalik dengan skala peta. Semakin besar skala peta, jadi semakin banyak informasi yang tersajikan, interval kontur semakin kecil.


Indeks kontur adalah garis kontur yang penyajiannya ditonjolkan setiap kelipatan interval kontur tertentu; mis. Setiap 10 m atau yang lainnya.


Rumus untuk menentukan interval kontur pada suatu peta topografi adalah:


i= (25 / jumlah cm dalam 1 km) meter, atau


i = n log n tan a , dengan n = (0.01 S + 1)1/2 meter.


Contoh:


· Peta dibuat pada skala 1 : 5 000, sehingga 20 cm = 1 km,
maka i = 25 / 20 = 1.5 meter.


· Peta dibuat skala S = 1 : 5 000 dan a = 45° ,
maka i = 6.0 meter.


Berikut contoh interval kontur yang umum digunakan sesuai bentuk permukaan tanah dan skala peta yang digunakan.


Tabel 10.1: Interval kontur berdasarkan skala dan bentuk medan





















Skala


Bentuk muka tanah


Interval Kontur


1 : 1 000


dan


lebih besar


Datar


Bergelombang


Berbukit


0.2 - 0.5 m


0.5 - 1.0 m


1.0 - 2.0 m


1 : 1 000


s / d


1 : 10 000


Datar


Bergelombang


Berbukit


0.5 - 1.5 m


1.0 - 2.0 m


2.0 - 3.0 m


1 : 10 000


dan


lebih kecil


Datar


Bergelombang


Berbukit


Bergunung


1.0 - 3.0 m


2.0 - 5.0 m


5.0 - 10.0 m


0.0 - 50.0 m



10.3 Sifat Garis Kontur


a. Garis-garis kontur saling melingkari satu sama lain dan tidak akan saling berpotongan.


b. Pada daerah yang curam garis kontur lebih rapat dan pada daerah yang landai lebih jarang.


c. Pada daerah yang sangat curam, garis-garis kontur membentuk satu garis.


d. Garis kontur pada curah yang sempit membentuk huruf V yang menghadap ke bagian yang lebih rendah.Garis kontur pada punggung bukit yang tajam membentuk huruf V yang menghadap ke bagian yang lebih tinggi.


e. Garis kontur pada suatu punggung bukit yang membentuk sudut 90° dengan kemiringan maksimumnya, akan membentuk huruf U menghadap ke bagian yang lebih tinggi.


f. Garis kontur pada bukit atau cekungan membentuk garis-garis kontur yang menutup-melingkar.


g. Garis kontur harus menutup pada dirinya sendiri.


h. Dua garis kontur yang mempunyai ketinggian sama tidak dapat dihubungkan dan dilanjutkan menjadi satu garis kontur.


10.4 Kemiringan Tanah dan Kontur Gradient


Kemiringan tanah a adalah sudut miring antara dua titik = tan-1(D hAB/sAB). Sedangkan kontur gradient b adalah sudut antara permukaan tanah dan bidang mendatar..


Gambar 4.6: Kemiringan tanah dan kontur gradient


Titik-titik yang menggambarkan kontur gradient harus dipilih dalam pengukuran titik detil sehingga dapat dibuat interpolasi linier dalam penggambaran garis kontur di daerah pengukuran.


10.5 Kegunaan Garis Kontur


Selain menunjukkan bentuk ketinggian permukaan tanah, garis kontur juga dapat digunakan untuk:




  1. Menentukan potongan memanjang ( profile, longitudinal sections ) antara dua tempat.


  2. Menghitung luas daerah genangan dan volume suatu bendungan.


  3. Menentukan route / trace dengan kelandaian tertentu.


  4. Menentukan kemungkinan dua titik di langan sama tinggi dan saling terlihat

10.6 Penentuan dan Pengukuran Titik Detil Untuk Pembuatan Garis Kontur


Semakin rapat titik detil yang diamati, maka semakin teliti informasi yang tersajikan dalam peta. Dalam batas ketelitian teknis tertentu, kerapatan titik detil ditentukan oleh skala peta dan ketelitian (interval) kontur yang diinginkan.
Pengukuran titik-titik detil untuk penarikan garis kontur suatu peta dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.


10.6.1 Pengukuran tidak langsung


Titik-titik detil yang tidak harus sama tinggi, dipilih mengikuti pola tertentu, yaitu: pola kotak-kotak (spot level), pola profil (grid) dan pola radial. Titik-titik detil ini, posisi horizontal dan tingginya bisa diukur dengan cara tachymetri - pada semua medan, sipat datar memanjang ataupun sipat datar profil - pada daerah yang relatif datar.


Pola radial digunakan untuk pemetaan topografi pada daerah yang luas dan permukaan tanahnya tidak beraturan.


10.6.2 Pengukuran langsung


Titik-titik detil ditelusuri sehingga dapat ditentukan posisinya dalam peta dan diukur pada ketinggian tertentu - ketinggian garis kontur. Cara pengukurannya bisa menggunakan cara tachymetri atau cara sipat datar memanjang dan diikuti dengan pengukuran polygon.


Cara pengukuran langsung lebih rumit dan sulit pelaksanaannya dibanding dengan cara tidak langsung, namun ada jenis kebutuhan tertentu yang harus menggunakan cara pengukuran kontur cara langsung, misalnya pengukuran dan pemasangan tanda batas daerah genangan.


10.7 Interpolasi Garis Kontur


Pada pengukuran garis kontur cara langsung, garis-garis kontur sudah langsung merupakan garis penghubung titik-titik yang diamati dengan ketinggian yang sama, sedangkan pada pengukuran garis kontur cara tidak langsung umumnya titik-titik detil itu pada ketinggian sembarang yang tidak sama. Bila titik-titik detil yang diperoleh belum mewujudkan titik-titik dengan ketinggian yang sama, maka perlu dilakukan interpolasi linier untuk mendapatkan titik-titik yang sama tinggi. Interpolasi linier bisa dilakukan dengan cara: taksiran, hitungan dan grafis.


10.7.1 Cara taksiran (visual)


Titik-titik dengan ketinggian yang sama secara visual diinterpolasi dan diinterpretasikan langsung di antara titik-titik yang diketahui ketinggiannya.


10.7.2 Cara hitungan (numeris)


Cara ini pada dasarnya juga menggunakan dua titik yang diketahui posisi dan ketinggiannya, hanya saja hitungan interpolasinya dikerjakan secara numeris (eksak) menggunakan perbandingan linier.


Pada Gambar 10.14 di atas, titik R yang terletak pada garis ketinggian + 600 berada pada jarak BR =(D hBR / D hBC) ´ jarakBC.


10.7.3 Cara grafis


Pada kertas transparan, buat interpolasi dengan membuat garis-garis sejajar dengan interval tertentu pada selang antara dua titik yang sudah diketahui ketinggiannya. Kemudian plot salah satu titik pada kertas transparan. Titik ini kemudian diimpitkan dengan titik yang sama pada kertas gambar dan keduanya ditahan berimpit sebagai sumbu putar. Selanjutnya putar kertas transparan hingga arah titik yang lain yang diketahui ketinggiannya terletak pada titik yang sama pada kertas gambar. Maka dengan menandai perpotongan garis-garis sejajar denga garis yang diketahui ketinggiannya diperoleh titik-titik dengan ketinggian pada interval tertentu.


Pertanyaan dan Soal Latihan


1. Dari sebuah peta topografi yang dibuat oleh BAKOSURTANAL atau peta geologi dari Dir. Geologi di Bandung pada skala tertentu, misalnya 1 : 50 000:


a. Amati dan catat interval kontur yang ada serta catat jarak dua kontur di peta. b. Perbesar peta ini, misal dengan mesin copy hingga 200%.


b. Ulangi pengamatan seperti di 1.a. Apa yang terjadi ?


c. Bandingkan peta untuk tempat yang sama dengan peta rupabumi dari BPN Apa yang terlihat ? Kesimpulannya ?


2. Tarik garis kontur dengan interval 2.5 m dan indeks kontur tiap kelipatan genap 10 m dari data ukur pengukuran kontur cara grid yang sudah diplot pada sket berikut. Pada satu kotak = (1 cm x 1 cm) = (500 m x 500 m).


a. Apakah ada bukit dan cekungan ? Bila ada tunjukkan letaknya.


b. Berapa garis kontur terendah dan tertinggi ?


3. Buat pola garis kontur pada:




  1. Sekitar suatu sungai bertanggul di kanan dan kiri.


  2. Jalan menurun yang di salah satu sisinya terdapat sungai kecil dan sawah di sisi lainnya.

4. Pada pengukuran batas genangan suatu bendung, akan ditentukan batas genangan tertinggi pada ketinggian + 775.500 m. Bagaimana cara menentukan lokasi titik-titik ini di lapangan bila pengukuran dimulai dari BM (bench mark) BS-01 di dekat lokasi sumbu bendung dengan ketinggian + 774.795 m ?


Bila bacaan benang tengah sipat datar pada rambu di BM-01 = 1.937 m, maka tentukan berapa seharusnya bacaan benang tengah pada rambu yang berdiri tepat di ketinggian + 775.500 m.


Rangkuman


Garis kontur menghubungkan titik-titik dengan ketinggian sama. Pada daerah landai garis kontur jarang dan semakin rapat pada derah yang semakin terjal. Interval kontur dipengaruhi oleh bentuk medan dan skala peta yang berkaitan dengan tujuan pemakaian peta. Membesarkan peta dari peta skala kecil menjadi peta skala besar akan diperoleh peta dengan informasi yang "hilang" atau tidak tercakup, termasuk garis kontur pada peta skala besar. Berdasarkan pola kontur bisa diinterpretasikan kondisi fisik rupabumi dan dibuat keputusan-keputusan pada pekerjaan perencanaan dan perancangan bangunan rekayasa sipil.


Daftar Pustaka




  1. Purworhardjo, U.U., (1986), Ilmu Ukur Tanah Seri C - Pengukuran Topografi, Jurusan Teknik Geodesi ITB, Bandung, Bab 5.


  2. Sosrodarsono, S. dan Takasaki, M. (Editor), (1983), Pengukuran Topografi dan Teknik Pemetaan, PT Pradnya Paramita, Jakarta, Bab 5.


  3. Wirshing, J.R. and Wirshing, R.H., (1985), Teori dan Soal Pengantar Pemetaan - Terjemahan, Introductory Surveying, Schaum Series, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1995, Bab 8.


  4. Wongsotjitro, Soetomo, (1980), Ilmu Ukur Tanah, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, Bab 8.
blog comments powered by Disqus

Poskan Komentar



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER