Sabtu, 29 Agustus 2009

Kualitas Hidup Manusia

MODUL III


Kualitas Hidup Manusia


Oleh : Ir. Henny Gambiro, M.Si



3.1. Pembukaan


3.1.1. Tujuan pembelajaran


Mahasiswa memahami materi yang meliputi, kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup sumberdaya alam dan buatan, sumberdaya terbarukan dan tidak terbarukan, dayadukung lingkungan berkelanjutan


3.1.2. Manfaat Pembelajaran


Mahasiswa dapat memahami pengertian materi, energi dan informasi dalam siklus rantai makanan dan dapat memahami perlunya pengelolaan lingkungan



3.2. Isi Pelajaran


3.2.1. Kualitas Hidup Manusia


Manusia pada hakekatnya adalah jenis mahluk hidup yang memperhatikan batas daya dukung lingkungan. Apabila populasinya sudah mendekati batas daya dukung maka akan terjadi perubahan laju kehidupan karena pengaruh kelentingan (resilience) yang menahan laju pertumbuhan sehingga terjadi pertumbuhan yang berimpit dengan batas daya dukung.


Dalam biologi dikenal adanya dua macam strategi hidup yang ekstrim, yaitu strategi hidup yang mengalami pertumbuhan cepat dengan mengabaikan terlampauinya daya dukung lingkungan. Di sisi lain, ada mahluk hidup yang berstrategi hidup, yang memperhatikan batas daya dukung lingkungan.


Akibat perkembangan kebudayaan, terlihat bahwa kebutuhan manusia tidak sekedar kebutuhan hidup yang dasar saja, seperti makan, minum dan memelihara kesehatan, melainkan juga adanya kebutuhan sekunder seperti pakaian, rumah, pendidikan, dsb lebih jauh manusia juga memiliki kebutuhan tersier, yakni kebebasan dalam melakukan pilihan. Akibat kebutuhan tersier inilah maka manusia dapat mengubah seluruh pola hidupnya. Sementara itu dengan keterbatasan sumberdaya yang tersedia, dan dengan populasi yang selalu bertambah, serta pola kebutuhan hidup yang selalu meningkat, maka sebenarnya kualitas hidup manusia makin menurun pula. Salah satu upaya yang harus dilakukan manusia adalah menekan pertumbuhan populasinya



3.2.2. Pengelolaan Lingkungan


Dari model kualitas hidup, tampak bahwa untuk meningkatkan kualitas hidup dapat diusahakan melalui kenaikan nilai tambah sumberdaya dengan jalan rekayasa atau teknologi. Secara hayati penggunaan teknologi oleh manusia itu menyebabkan kedudukan dan fungsinya dalam ekosistem berubah menjadi transedental terhadap kelompoknya sebagai mahluk hidup. Dengan demikian ekosistem atau lingkungan hidup alami berubah menjadi lingkungan hidup buatan (man-made environment)



Upaya menambah nilai sumberdaya melalui teknologi atau industrialisasi memang mungkin, tapi harus diingat bahwa usaha itu akan menghasilkan limbah, yang mana limbah tersebut tidak sempat diuraikan secara alami, karena kecepatan perombakan oleh pengurai (decomposer) atau proses daur ulang berlangsung tidak secepat terbentuknya limbah itu sendiri. Menumpuknya limbah ini karena limbah itu dikeluarkan dari sistem yang menghasilkannya sehingga menimbulkan “tragedi” milik umum, seperti halnya sungai dikotori, udara yang tercemar, timbunan limbah di pinggir jalan, dsb. Seharusnya diusahakan agar sistem itu mampu menyerap limbah melalui teknologi yang memanfaatkan jasad renik perombak misalnya.



Memang benar bahwa dengan menggunakan teknologi dalam proses industri primer (pertambangan dan pertanian), industri sekunder (manufaktur dan konstruksi) serta industri tersier (jasa dan komunikasi), maka daya dukung dapat dinaikkan. Tetapi perlu diingat bahwa dengan teknologi, daya dukung pada suatu saat akan mencapai batas maksimum. Berbagai kasus menunjukkan bahwa kualitas lingkungan masih akan terpelihara baik apabila manusia mengelola daya dukung pada batas diantara daya dukung minimum dan dayadukung optimum. Sebab, apabila sumberdaya dimanfaatkan di bawah minimum, berarti sumberdaya itiu tidak berfungsi dengan baik, kurang bermanfaat, sementara keadaan yang mendekati daya dukung maksimum akan mengandung resiko, seperti terjadinya pencemaran.



3.2.3. Orientasi Manusia Terhadap Alam


menurut Salura dalam ’Arsitektur dalam Bingkai Kebudayaan’, orientasi manusia terhadap alam dibedakan atas 3 jenis, sebagai berikut :


1. Manusia tunduk kepada alam


- manusia tunduk kepada alam mewarnai masyarakat yang tahap sosio budaya nya masih meramu dan mengumpulkan makanan berdasar kapada ‘kemurahan’ alam


- Mereka biasanya hidup dalam lingkungan alam yang masih murni, di hutan belantara, yang beriklim ekstreem dengan kondisi geografis dan geologis rawan.


- Alam dipandang sebagai kekuatan yang tidak bisa dikendalikan dan diramalkan. Kelompok sosial yang hidup dalam lingkungan alam tersebut pasrah terhadap kekuatan alam, menganut sistem nilai bersifat naturalistik, dan sebagian orang cenderung mengatakan fatalistik.


- Bencana dipandang sebagai hukuman dari yang maha kuasa. Hutan, gurun, tebing, pesisir, pantai merupakan tempat yang berbahaya, tempat roh jahat dan kekuatan supra natural lainnya



2. Manusia menguasai alam


- manusia yang berorientasi menguasai alam, umumnya terjadi di kalangan masyarakat barat yang bersumber dari pandangan Judea-Christian, bahwa manusia di tempatkan di alam ini sebagai mahluk yang sangat tinggi dibandingkan dengan mahluk lainnya.


- Manusia dapat mengeksploitasi alam sesuka hati untuk mendukung ‘survival’nya.


- Orientasi seperti itu melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat eksploitatif, yang justru kemudian menjadi masalah dunia, berupa kerusakan lingkungan di mana-mana.


- Alam diolah manusia menjadi lahan pertanian, perkebunan, permukiman di desa dan di kota yang berkonotasi ‘positif’ bagi kehidupan manusia karena nilai keindahannya tidak lagi terletak pada alam, melainkan pada transformasinya menjadi lingkungan hidup buatan.


- Nilai sosial yang dipandang penting dalam pandangan tersebut adalah pertumbuhan, pengembangan dan pemanfaatan (fungsional)



3. Manusia selaras dengan alam


- konsep ini dianut masyarakat di berbagai belahan dunia di Asia, afrika, Amerika Selatan dan Indian Amerika yang berpandangan bahwa tradisi diikat oleh aturan adat, baik tertulis maupun lisan.


- Konsep ini menekankan keselarasan antara manusia dengan alam dan Tuhan YME.


- Alam dipahami sebagai suatu sistem yang stabil, teratur, harmoni dan siklusnya berulang. Yang terkandung di dalam alam dianggap sakral, tidak boleh dieksploitasi secara berlebihan, melainkan harus memperhatikan dinamika dan perkembangan jagat raya itu sendiri


- Manusia perlu bertindak penuh tanggungjawab dalam mengelola alam, sekedar memenuhi kebutuhan yang biasa. Bila mengambil harus melakukan berbagai upacara suci sebagai manifestasi perilaku tertib, meminta ijin pada penguasa alam tersebut.



3.2.4. Materi, energi dan informasi


Materi


Tubuh manusia, hewan, tumbuhan dan lain-lain tersusun oleh materi. Materi tersebut terdiri dari unsur-unsur kimia, seperti karbon (C), hydrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N) dan fosfor (P). Unsur-unsur kimia tersebut berkombinasi membentuk molekul, misalnya dua atom O membentuk molekul gas oksigen. Dua atom H dan satu atom O membentuk molekul air H2O, atau membentuk molekul yang lebih kompleks, seperti gula tebu (C12 H22O11 )



Energi


Dari siklus rantai makanan ditunjukkan bahwa materi mengalir dari mata rantai makanan yang satu ke mata rantai makanan yang lain. Jika mahluk pemakan akhir mati, tidak berarti aliran materi berhenti, melainkan menjadi makanan mahluk yang lain, misalnya bangkai hewan dimakan oleh jasad renik seperti jamur, bakteri atau cacing dalam suatu proses yang disebut sebagai pembusukan. Dalam proses ini sebagian bangkai dimakan untuk menyusun tubuh jasad renik, sebagian lagi terurai menjadi gas, cairan dan mineral. Salah satu gas yang terbentuk adalah gas CO2, gas ini digunakan oleh tumbuhan berhijau daun untuk melakukan proses fotosintesis. Dengan demikian aliran materi merupakan suatu siklus. Materi mengalir dari dunia yang hidup ke dunia tidak hidup dan kembali lagi ke dunia hidup.



Energi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan suatu usaha / kerja. Energi tidak dapat dilihat. Yang terlihat adalah akibat adanya energi tersebut.


Semua organisme hidup membutuhkan energi karena banyak reaksi biokimia yang berlangsung dalam tubuhnya membutuhkan energi. Makanan yang dikonsumsi organisme akan mengalami proses pembakaran di dalam tubuhnya, dimana proses tersebut dikenal dengan metabolisme. Dalam proses metabolisme ini energi dalam makanan diubah menjadi energi yang dapat digunakan untuk melakukan kerja.


Energi secara terus menerus diterima dari matahari dengan kecepatan konstan. Panas matahari diradiasikan ke bumi. Dalam hal ini energi yang diperoleh dan yang hilang dari bumi harus seimbang. Dalam kondisi tertentu tumbuhan yang mati tidak membusuk, melainkan menjadi fosil, misalnya dalam bentuk batubara. Dari mahluk hidup yang lain, pada kondisi tertentu dapat terbentuk minyak bumi. Batu bara dan minyak bumi dikelompokkan sebagai bahan bakar fosil.



Sel mahluk hidup membutuhkan energi yang terus menerus untuk melakukan berbagai proses, seperti pertumbuhan, pembiakan. Energi ini diperoleh dengan oksidasi senyawa organik yang mengandung karbon (C). Oksidasi atau pembakaran di dalam sel ini disebut dengan respirasi. Respirasi tersebut dipercepat dengan katalis yang disebut enzym. Pada respirasi dihasilkan karbondioksida (CO2) dan air (H2O) melalui reaksi



image001 C6 H12 O6 + 6 O2 E + 6 CO2 + 6 H2O



Energi yang dibebaskan ini digunakan untuk berbagai proses kehidupan organisme. Untuk mendapatkan glukosa yang digunakan sel dalam proses respirasi ini tergantung pada tipe sel tersebut. Sel ototrop dapat mengolah sendiri makanannya, misalnya membuat glukosa sendiri. Jadi, sel ototrop adalah kelompok produsen (misalnya tumbuhan berhijau daun). Proses pembuatannya dilakukan dalam klorofil, yang membantu sel mengubah energi matahari menjadi energi kimia yang tersimpan dalam molekul-molekul senyawa organik. Inilah yang disebut dengan fotosintesis. Energi cahaya (foon) digunakan untuk membangun (mensistesis) senyawa kompleks dari senyawa yang lebih sederhana dalam daun. Dengan cara demikian karbondioksida dengan air dibantu klorofil dan energi matahari diubah menjadi glukosa dan oksigen.



image0026 CO2 + 6 H2O + E C6 H12 O6 + O2 , dengan E = energi matahari



Tidak semua sel dapat mengadakan proses fotosintesis. Sel heterotrof yang mengelola makanan dari sumber lain, harus memperoleh glukosa dari lingkungan. Karena itulah terjadi proses memangsa dalam rantai makanan.


Berdasarkan piramida makanan, organisme ototrof menduduki tingkat pertama, sedangkan organisme heterotrof yang mendapat energi dari ototrof menduduki peringkat dibawahnya.


Energi kimia yang tersedia untuk memperoleh kehidupan ternyata berkurang secara teratur melalui rantai makanan, sehingga untuk memahami kerja dari suatu ekosistem harus dipelajari seluk beluk energi yang berproses sepanjang rantai makanan tersebut.



Perbandingan (ratio) dari produksi total terhadap respirasi total merupakan indikasi dari keseimbangan energi dalam suatu sistem.


Efisiensi pengubahan energi surya ke energi kimiawi tergantung pada species dan kondisi pertumbuhan tanaman tersebut. Pada kasus lain, energi tidak diabsorbsi, tapi dipantulkan atau ditransmisikan ke jaringan. Energi yang diabsorbsi pada umumnya disimpan sebagai panas dan digunakan untuk proses penguapan air pada permukaan daun dan jenis proses fisik lainnya. Sebagian besar energi dalam proses kehidupan digunakan untuk respirasi. Sisanya disimpan dalam jaringan tanaman sebagai bahan yang kaya energi dan simpanan ini digunakan sebagai makanan hewan.



Siklus materi


Untuk mempermudah memahami siklus jaringan kehidupan ini, unsur-unsur di udara dipisahkan. Dari 88 jenis unsur alam yang sudah ditemukan, ada 40 jenis yang dibutuhkan sistem kehidupan. Dari ke 40 unsur ini, karbon, oksigen, hydrogen dan nitrogen yang banyak dibutuhkan oleh sistem.



1. Siklus oksigen


Oksigen terdapat di alam dalam berbagai bentuk, baik sebagai O2, CO2, H2O dan berbagai ikatan organik penting lainnya, seperti karbonat, atau protein. Siklus oksigen pada dasarnya diawali oleh proses organik. Pada tumbuhan, sintesis karbohidrat akan terbentuk dari penggabungan karbondioksida dengan air dengan bantuan sinar matahari, dan oksigen merupakan hasil sampingannya. Proses ini yang dikenal dengan fotosintesis



2. Siklus karbon


Karbon terdapat di atmosfir, terutama dalam bentuk CO2, sekitar 0,03% volume atmosfir. Siklus karbon sangat erat hubungannya dengan siklus oksigen, disatukan oleh jaringan organik melalui fotosintesis, dilepas melalui respirasi dan sisa organisme. Karbondioksida atmosfir terlarut dalam air, dan beberapa molekul yang terlarut dalam air laut menguap ke udara. Sebagian karbon dioksida yang terlarut bereaksi dengan air laut membentuk karbonat (paling banyak dalam bentuk kalsium karbonat), baik dalam bentuk endapan inorganik maupun yang terdapat dalam organisme. Kehilangan ini diimbangi dengan masuknya air tawar yang walaupun lambat akan membawa larutan karbonat ke laut.



3. Siklus nitrogen


Nitrogen merupakan unsur penting dalam protein, jadi penting bagi tumbuhan dan hewan. Dibanding dengan oksigen, nitrogen tersedia empat kali lebih banyak di atmosfir. Hampir semua tanaman dan hewan dapat menggunakan oksigen dari atmosfer, tapi hanya sedikit organisme yang dapat menggunakan nitrogen secara langsung. Pada dasarnya siklus nitrogen lebih kompleks bila dibandingkan dengan siklus oksigen



Informasi


Informasi dapat diartikan sebagai sinyal atau tanda sesuatu yang dapat memberikan pengetahuan tambahan bagi mahluk hidup. Informasi dapat berbentuk benda fisik, warna, suhu, kelakuan, dan lain-lain. Kandungan informasi menunjukkan banyaknya pengetahuan tambahan yang dapat diperoleh dari suatu pesan. Semakin banyak pengetahuan tambahan yang didapat dari suatu pesan, semakin tinggi kandungan informasinya. Apabila pesan tersebut diyakini kebenarannya, kandungan informasinya dikatakan sebagai nol.



Hukum ekologi menyatakan bahwa bila terdapat tukar menukar informasi antara dua sistem yang berbeda kandungan informasinya, hasilnya bukanlah pemerataan kandungan informasi, melainkan semakin memperbesar perbedaan tersebut. Misalnya, tukar menukar informasi antara negara maju dengan negara sedang berkembang. Dengan tingkat ekonomi dan teknologi yang tinggi, negara maju akan dapat dengan cepat merealisasikan informasi yang diterimanya dari negara sedang berkembang. Informasi yang diterima negara berkembang dari negara majupun akan sia-sia karena ketidakberdayaan ekonomi, teknologi maupun sumberdaya manusia. Dengan demikian yang terjadi dalam proses tukar menukar informasi tersebut adalah memperbesar perbedaan yang terjad

blog comments powered by Disqus

Poskan Komentar



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER