Sabtu, 29 Agustus 2009

Pengelolaan Limbah Padat

Sesi 7 :


Pengelolaan Limbah Padat


Oleh : Ir. Henny Gambiro, M.Si.



7.1. Pembukaan


7.1.1. Tujuan pembelajaran


Mahasiswa memahami materi yang meliputi, jenis limbah padat, sistem pengelolaan limbah padat dengan berbagai aspeknya.


7.1.2. Manfaat Pembelajaran


Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan perlunya pengelolaan limbah padat



7.2. Isi Pelajaran


Limbah padat bersumber dari timbunan yang sampah diakibatkan adanya berbagai kegiatan seperti, permukiman, perdagangan, industri, institusi, rumah sakit, tempat umum (rekreasi, jalan, taman), lapangan udara, pelabuhan laut, “water and waste treatment plant”



7.2.1. Jenis Limbah Padat


Jenis sampah yang dikenal, terdiri atas :


1. Garbage (sampah basah)


yaitu sampah yang susunannya terdiri dari bahan organik dan yang memiliki sifat cepat membusuk jika dibiarkan dalam keadaan basah.


2. Rubbish (sampah kering)


yaitu sampah yang susunannya terdiri dari bahan organik dan anorganik yang mempunyai sifat sebagian besar atau seluruh bahannya tidak cepat membusuk, seperti sampah logam (kaleng, seng) dan sampah non logam, baik mudah terbakar (kertas, kayu, plastik) dan yang tidak terbakar (pecahan kaca)


3. Dust and ash (debu dan abu)


yaitu sampah yang terdiri dari bahan organik dan anorganik yang merupakan partikel terkecil yang bersifat mudah beterbangan dan membahayakan pernapasan. Abu merupakan hasil pembakaran (proses kimia) dan debu yang merupakan proses mekanis


4. Demolation and construction wastes.


Yaitu sampah sisa-sisa bahan bangunan, seperti puing, pecahan bata dan tembok, genteng, dll


5. Bulky wastes.


yaitu sampah barang bekas, baik yang masih dapat digunakan atau yang tidak dapat digunakan, seperti lemari es, kursi, tv, barang rongsokan


6. Hazardous wastes.


yaitu sampah yang berbahaya (limbah B3, bahan buangan berbahaya) seperti, patogen (yang merupakan limbah rumahsakit, laboratorium klinis), sampah beracun (kertas pembungkus pestisida), yang mudah meledak (mesiu), dan sampah radioaktif ( sampah nuklir)


7. Water and waste treatment plant.


yaitu sampah yang berupa hasil sampingan pengolahan air bersih maupun air kotor, biasanya berupa gas atau lumpur



7.2.2. Sistem Pengelolaan Limbah Padat.


Faktor yang mempengaruhi jenis dan besarnya timbunan sampah adalah, jenis bangunan yang ada, tingkat aktivitas, iklim, musim, letak geografis, letak topografi, jumlah penduduk, periode sosial ekonomi, tingkat teknologi.



Dengan mengetahui macam serta besarnya timbunan sampah akan mempermudah pengelolaannya, karena pengelolaan sampah di kota besar biasanya dilakukan secara komunal, sehingga diperlukan pengelolaan dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Pemilihan teknologi akan dipermudah oleh pengetahuan tentang jenis dan karakter timbunan sampah yang dihasilkan.



Pengetahuan tentang karakteristik sampah diperlukan untuk


1. pemilihan peralatan, system pengelolaan, dan energi yang dapat dipulihkan.


2. analisis serta perencanaan tempat pembuangan akhir. Karakter sampah dari waktu ke waktu akan mengalami perubahan, dan kecenderungan ini harus diamati terutama kadar senyawa organik, kertas dan plastik. Perubahan ini sejalan dengan pola hidup, budaya masyarakat dan aplikasi teknologi



Sistem pengelolaan limbah padat domestik terdiri dari aspek teknik operasional, aspek organisasi, aspek pembiayaan, aspek pengaturan, dan aspek peranserta masyarakat



7.2.2.1. Aspek teknik operasional


Sistem pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya timbunan sampah masuk ke pewadahan kemudian dibawa oleh kendaraan pengumpul langsung ke tempat pembuangan akhir. Atau jalur lain, misalnya setelah melalui bagian pengumpulan kemudian dibawa ke bagian pemilahan dan pengolahan, setelah itu dibuang ke tempat pembuangan akhir.


Sistem pewadahan


Dalam hal ini, sampah yang ada dimasukkan ke dalam wadah yang bergantung dari tingkat sosial ekonomi penduduk, misalnya ada yang menggunakan bak sampah dari beton, dari tong yang terbuat dari seng, plastik atau menggunakan container. Di negara maju, masyarakatnya sudah biasa membuang sampah dengan melakukan pemisahan berdasarkan jenis sampah. Sampah yang cepat membusuk (garbage) dipisahkan dengan sampah yang tidak cepat membusuk (rubbish, dust and ash)



Sistem pengumpulan

Dalam hal ini, penggunaan jenis atau cara pengumpulan bergantung daerah pelayanan, tingkat sosial ekonomi masyarakat, sarana dan prasarana yang dilayani


1. pengumpulan individual tidak langsung


Kendaraan pengumpul (dengan gerobak) mengambil sampah dari pengguna jasa, misalnya rumah tangga, kemudian diangkut ke transfer depo (stasiun pemindahan), lalu diangkut (dengan truk) ke tempat pembuangn akhir


2. pengumpulan individual langsung


Kendaraan pengangkut langsung membawa timbunan sampah dari pengguna jasa untuk dibuang ke TPA


3. pengumpulan komunal langsung


Pengguna jasa mengumpulkan sampah secara bersama pada wadah komunal untuk diangkut oleh kendaraan pengangkut, langsung dibuang ke TPA.


4. pengumpulan komunal tidak langsung


Pengguna jasa mengumpulkan sampah pada wadah bersama untuk dibawa oleh kendaraan pengumpul ke transfer depo, kemudian oleh kendaraan pengangkut dibuang ke TPA.



Pengumpulan dengan menggunakan container.


Container adalah wadah yang dipakai sebagai tempat timbunan sampah, yang penggunaannya dapat secara individual atau komunal. Ada dua jenis container, yaitu yang dengan mudah dipindahkan karena menggunakan roda (hauled) dan yang sifatnya tetap (station)


1. hauled container system. Yaitu system pengumpulan dengan menggunakan container yang yang dapat dipindahkan. Container yang sudah penuh digerakkan ke arah transfer depo untuk dilakukan pemindahan sampah. Container kosong dipindahkan kembali ke tempat semula. Ada 2 tipe, yaitu ;


- conventional mode. Sistem ini memiliki kelemahan dari segi waktu yang tidak efisien, karena hanya menggunakan satu container, sehingga kemudian system ini dikembangkan menjadi exchange container mode.


- exchange container mode. Sistem ini memiliki kelebihan dibanding dengan system konvensional, karena efektifitas waktu pemindahan sampah ke transfer depo dapat ditingkatkan, namun dari segi biaya trelatif lebih mahal kerana membutuhkan lebih dari satu container


2. Stationery container system. Yaitu pengumpulan dengan menggunakan container yang tidak dapat dipindahkan, sehingga sampah yang ada tersebut diambil oleh kendaraan pengangkut. Pada system ini container yang tidak bergerak tersebut ketika penuh muatannya dipindahkan ke kendaraan pengangkut



Pemindahan dan pengangkutan


Dalam hal ini dibahas tentang transfer depo atau transfer station, yang mempunyai fungsi secara umum sebagai tempat penampungan sementara (TPS) dan tempat bertemunya kendaran pengumpul dengan kendaraan pengangkut. Ditinjau dari cara pemuatannya, transfer depo (transfer station) terdiri dari beberapa jenis :


1. Direct discharge.


Yaitu transfer depo yang berfungsi sebagai tempat pertemuan kendaraan pengumpul yang sudah terisi penuh dengan sampah dengan kendaraan pengangkut, dimana transfer depo ini didisain sedemikian rupa sehingga pemindahan sampah dapat secara langsung dari kendaraan pengumpul dengan kendaraan pengangkut untuk dibuang ke TPA. Sesuai dengan luasnya jenis ini terbagi dalam tiga tipe, yaitu besar, menengah dan kecil. Kelebihan tipe ini adalah biaya yang relatif murah karena dapat dibuat di luar ruangan dan sistem ini digunakan untuk sampah yang mudah membusuk (garbage) karena dapat langsung dibuang ke TPA. Namun, dari segi estetika dan kesehatan kurang baik karena tidak tertutup


2. Indirect discharge.


Yaitu transfer depo berfungsi sebagai tempat pertemuaan kendaraan pengumpul yang sudah terisi penuh sampah dengan kendaraan pengangkut, dimana sampah dari kendaraan pengumpul dikumpulkan dalam suatu ruang untuk kemudian dengan menggunakan crane sampah dipindahkan ke kendaraan pengangkut. Keuntungan system ini adalah, dari sampah yang sudah terkumpul dapat diadakan pemilihan menurut jenisnya, sehingga dapat dengan tepat ditentukan cara pengelolaannya dan secara estetika baik, karena sampah tertutup di suatu ruangan. Akan tetapi transfer depo ini biayanya cukup mahal


3. Combine direct discharge and indirect discharge.


Yang merupakan kombinasi antara keduanya



Tempat pembuangan akhir (TPA)


Tempat pembuangan akhir yang sering digunakan adalah :


1. Open dumping.


Merupakan tempat pembuangan akhir dimana sampah yang dibuang diletakkan begitu saja diatas tanah kosong atau sebelum digunakan tanah tersebut dibuat lubang dengan menggunakan traktor. Cara ini tidak dianjurkan, karena sampah yang dibuang dibiarkan terbuka sehingga dapat menjadi sarang binatang tertentu yang dapat membawa penyakit. Secara estetika kurang baik, dapat menimbulkan bau dan pemandangan buruk


2. Control land fill


Merupakan tempat pembuangan akhir dimana sampah yang dibuang diletakkan di atas lubang yang dibuat dengan traktor, yang kemudian lubang yang sudah penuh tersebut ditutup dengan lapisan tanah setebal kurang lebih 20 cm


3. Sanitary land fill.


Merupakan tempat pembuangan akhir, dimana sampah yang dibuang pada lubang, kemudian ditutup oleh lapisan tanah yang penutupannya dilakukan setiap hari sehingga terbentuk sel-sel didalamnya. Cara ini merupakan cara terbaik dibandingkan yang sebelumnya.



Pemilahan dan pengolahan


- Pemilahan.


Bagian ini sebenarnya merupakan bagian yang sangat penting dari keseluruhan system. Akan tetapi bagian ini pada umumnya membutuhkan teknologi tinggi yang belum terdapat di negara berkembang. Di Indonesia sendiri pemilihan dilakukan dengan menggunakan tenaga manusia (pemulung). Sebaliknya, di negara maju yang upah tenaga kerjanya mahal, maka bagian pemilahan sudah menggunakan system yang modern. Pemilahan dilakukan untuk menggolongkan jenis sampah sesuai dengan karakteristiknya, sehingga pada tahap pengolahan, prosesnya akan dipermudah.


- Pengolahan.


Istilah yang paling dikenal pada bagian pengolahan adalah recycling, reuse dan recovery .


- Recycling , adalah proses pengolahan yang dilakukan dengan merubah bentuk material sampah secara fisis dengan memproses kembali menjadi barang yang berguna dan bermanfaat, misalnya mengubah sampah plastik menjadi ember plastik.


- Reuse, adalah mengembalikan barang yang sudah menjadi sampah (rongsokan) menjadi barang yang berguna yang mempunyai manfaat yang sama seperti aslinya tanpa merubah identitasnya


- Recovery , adalah memanfaatkan energi yang tersimpan dalam sampah, misalnya untuk tenaga listrik (mengubah sampah kotoran hewan menjadi biogas).



7.2.2.2. Aspek organisasi


Aspek organisasi pada system pengelolaan sampah menjadi penting, agar sistem dapat berjalan dengan baik. Dua hal yang diperlukan dalam pengelolaan sampah :


1. tenaga kerja, yaitu anggota masyarakat yang bertugas membuat, mengelola dan memelihara system, baik dengan tujuan mendapatkan upah atau secara sukarela


2. struktur organisasi, yaitu perangkat organisasi yang diperlukan untuk system pengelolaan sampah, yang besarnya disesuaikan dengan kebutuhan. Apabila system masih berwujud sederhana, maka struktur organisasi tidak dibutuhkan lagi



7.2.2.3. Aspek pembiayaan


Aspek pembiayaan merupakan hal yang tidak dapat diabaikan, terutama untuk system yang luas dan rumit. Setiap anggota masyarakat harus turut serta, misalnya dalam hal memberikan retribusi. Retribusi ini dapat dilakukan dengan menggunakan subsidi silang untuk membantu golongan masyarakat yang kurang mampu



7.2.2.4. Aspek pengaturan


Aspek pengaturan dibutuhkan untuk menjamin agar system dapat berjalan dengan baik. Pada umumnya diwujudkan dalam bentuk peraturan pemerintah pusat maupun daerah, baik tertulis maupun dalam bentuk peraturan (hukum) adat.



7.2.2.5. Aspek peran serta masyarakat


Yang dimaksud dengan aspek peran serta masyarakat adalah adalah keterlibatan masyarakat baik secara aktif maupun pasif, secara individu, keluarga, atau kelompok masyarakat untuk mewujudkan kebersihan bagi diri sendiri mapun lingkungan


Baik di desa maupun di kota umumnya masalah sampah kurang diperhatikan oleh masyarakat, disebabkan oleh hal-hal :


- kurangnya pengertian bahwa sampah yang tidak dikelola dengan baik, dapat menimbulkan dampak negatif yang merugikan kesehatan lingkungannya sendiri


- kurang menyadari arti kebersihan dan keindahan


- kurang memahami teknologi dan pengorganisasian pengelolaan sampah


- anggapan bahwa pengelolaan sampah adalah tanggungjawab pemda (terutama di kota besar)


Untuk itu diperlukan upaya menumbuhkan peranserta masyarakat dalam pengelolaan sampah dengan membentuk program yang dilakukan secara intensif dan berorientasi kepada penyebarluasan pengetahuan, penanaman kesadaran, pembentukan perilaku, sehingga :


- masyarakat mengerti dan memahami masalah kebersihan lingkungan


- masyarakat turut aktif dalam mewujudkan kebersihan lingkungan, menularkan kebiasaan hidup bersih pada anggota masyarakat lainnya, dan memberi saran-saran yang membangun


- masyarakat dapat mengikuti tatacara pemeliharaan kebersihan secara baik


- masyarakat bersedia membiayai pengelolaan sampah


7.3. Penutup


7.3.1. Ringkasan


- Jenis limbah padat yang dikenal, terdiri atas garbage, rubbish, dust and ash, demolation and construction wastes, bulky wastes, hazardous wastes, water and waste treatment plant.


- Faktor yang mempengaruhi jenis dan besarnya timbunan sampah adalah, jenis bangunan yang ada, tingkat aktivitas, iklim, musim, letak geografis, letak topografi, jumlah penduduk, periode sosial ekonomi, tingkat teknologi.


- Sistem pengelolaan limbah padat domestik terdiri dari aspek teknik operasional, aspek organisasi, aspek pembiayaan, aspek pengaturan, dan aspek peranserta masyarakat


- Dalam Sistem pengumpulan dikenal dengan pengumpulan individual tidak langsung, pengumpulan individual langsung, pengumpulan komunal langsung, pengumpulan komunal tidak langsung,


- Dalam sistem pengumpulan dengan menggunakan container dikenal dengan hauled container system, yang memiliki dua tipe, yaitu conventional mode, exchange container mode, serta stationery container system.


- Dalam hal pemindahan dan pengangkutan, bila ditinjau dari cara pemuatannya, transfer depo (transfer station) terdiri dari beberapa jenis, yaitu direct discharge, indirect discharge, atau kombinasi antara direct discharge and indirect discharge.


- Tempat pembuangan akhir yang sering digunakan adalah open dumping, control land fill, sanitary land fill,


- Istilah yang paling dikenal pada bagian pengolahan adalah recycling, reuse danrecovery.

blog comments powered by Disqus

Poskan Komentar



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER