Senin, 03 Agustus 2009

AHAN TAMBAH

10 MODUL PERTEMUAN KE


MATA KULIAH :


TEKNOLOGI AHAN & KONSTRUKSI (4 sks)


MATERI KULIAH:


Definisi Bahan Tambah, Beberapa Alasan Menggunakan Bahan Tambah, Aspek Ekonomi Penggunaan Bahan Tambah, Perhatian Penting Dalam Penggunaan Bahan Tambah, Jenis Bahan Tambah, Bahan Tambah Kimia Menurut Draft Pedoman 1989.



POKOK BAHASAN:


AHAN TAMBAH



1-1 DEFINISI AHAN TAMBAH


Menurut ACI Committee 212.1R-8 (Revised 1986) yang selalu diperbaiki sejak 1944, 2954, 1963, 1971,


Jenis bahan tambah untuk beton dikelompokkan dalam 5 kelompok yaitu: accelerating, air-entraining, water reducer and set-controlling, finely devided mineral dan miscellaneous.



1-2 BEBERAPA ALASAN PENGGUNAAN AHAN TAMBAH


Beberapa tujuan yang penting dari penggunaan bahan tambah ini menurut manual of concrete practice dalam admixtures and concrete (ACI.212.1R-8, Revised 1986) antara lain:



a) Memodifikasi Beton Segar, Mortar dan Grouting


Ø Menambah sifat kemudahan pekerjaan tanpa menambah air atau mengurangi kandungan air dengan sifat pengerjaan yang sama.


Ø Menghambat atau mempercepat waktu peningkatan awal dari campuran beton.


Ø Mengurangi atau mencegah secara preventif penurunan atau perubahan volume beton.


Ø Mengurangi segregasi.


Ø Mengembangkan dan meningkatkan sifat penetrai dan pemompaan beton segar.


Ø Mengurangi kehilangan nilai slump.



b) Memodifikasi Beton Keras, Mortar dan Grouting


Ø Menghambat atau mengurangi ekolusi panas selama pengerasan awal (beton muda).


Ø Mempercepat laju pengembangan kekuatan beton pada umur muda.


Ø Menambah kekuatan beton (kuat tekan, kuat lentur atau kuat geser dari beton).


Ø Menambah sifat keawetan beton atau ketahanan dari gangguan luar termasuk serangan garam - garam sulfat.


Ø Mengurangi kapilaritas dari air.


Ø Mengurangi sifat permeabilitas.


Ø Mengontrol pengembangan yang disebabkan oleh reaksi dari alkali termasuk alkali dalam agregat.


Ø Menghasilkan struktur beton yang baik.


Ø Menambah kekuatan ikatan beton bertulang.


Ø Mengembangkan ketahanan gaya impact (berulang) dan ketahanan abrasi.


Ø Mencegah korosi yang terjadi pada baja (embedded metal).


Ø Menghailkan warna tertentu pada beton atau mortar.



1-3 ASPEK EKONOMI PENGGUNAAN AHAN TAMBAH


Penambahan bahan atambah dalam sebuah campuran beton atau mortar tidak mengubah komposisi yang besar dari bahan yang lainnya, karena penggunaan bahan tambah ini cenderung merupakan pengganti atau substitusi dari dalam campuran beton itu sendiri. Karena tujuannya memperbaiki atau mengubah sifat dan karakteristik tertentu dari beton atau mortar yang akan dihasilkan, maka kecenderungan perubahan komposisi dalam berat - volume tidak terasa secara langsung dibandingkan dengan komposisi awal beton tanpa bahan tambah. Penambahan biaya mungkin baru bisa terasa efeknya pada saat pengadaan bahan tambah tersebut yang meliputi biaya transportasi, penempatannya dilapangan dan biaya diluar dari biaya yang langsung tetap menjadi perhatian dalam aspek ekonominya.



1-4 PERHATIAN PENTING DALAM PENGGUNAAAN AHAN TAMBAH


Penggunaan bahan tambah dalam sebuah campuran beton harus dikonfirmasikan dengan standar yang berlaku seperti SNI, ASTM, atau ACI. Selain itu, yang terpenting adalah memperhatikan petunjuk dalam manualnya jika menggunkaan bahan ”paten” yang diperdagangkan.


Beberapa evaluasi yang perlu dilakukan jika menggunakan bahan tambah:


a) Penggunaan semen dengan tipe yang khusus


b) Penggunaan satu atau lebih bahan tambah


c) Petunjuk umum mengenai penggunaan atau temperatur yangt diijinkan pada saat pengadukan dan pengecoran


Selanjutnya hal yang menjadi perhatian adalah:


a) Penggantian tipe semen atau sumber dari semen atau jumlah dari semen yang digunakan atau memodifikasi gradasi agregat, atau proporsi campuran yang diharapkan


b) Banyak bahan tambah mengubah lebih dari satu sifat beton, sehingga kadang - kadang justru merugikan


c) Efek bahan tambah sangat nyata untuk mengubah karakteristik beton misalnya FAS, tipe dan gradasi agregat, tipe dan lama pengadukan.



1-5 JENIS AHAN TAMBAH


Secara umum bahan tambah yang digunakan dalam beton dapat dibedakan menjadi dua yaitu bahan tambah yang bersifat kimiawi (chemical admixture) dan bahan tambah yang bersifat mineral (additive). Bahan tambah admixture ditambahkan saat pengadukan dan atau saat pelaksaaan pengecoran (placing) sedangkan bahan tambah aditif yaitu yang bersifat mineral ditambahkan saat pengadukan dilaksanakan.


Bahan tambah ini biasanya merupakan bahan tambah kimia yang dimasukkan lebih banyak mengubah perilaku beton saat pelaksanaan pekerjaan jadi dapat dikatakan bahwa bahan tambah kimia (chemical admixture) lebih banyak digunakan untuk memperbaiki kinerja pelaksanaan. Bahan tambah aditif merupakan bahan tambah yang lebih banyak bersifat penyemenan jadi bahan tambah aditif lebih banyak digunakan untuk perbaikan kinerja kekuatannya.


a) Bahan Tambah Kimia


Menurut standar ASTM. C.494 (1995:254) dan Pedoman Beton 1989 SKBI.1.4.53.1989 (Ulasan Pedoman Beton 1989:29), jenis bahan tambah kimia dibedakan menjadi tujuh tipe bahan tambah. Pada dasarnya suatu bahan tambah harus mampu memperlihatkan komposisi dan unjuk kerja yang sama sepanjang waktu pekerjaan selama bahan tersebut digunakan dalam racikan beton sesuai dengan pemilihamn proporsi betonnya (PB, 1989:12). Jenis dan definisi bahan tambah kimia ini sebagai berikut:



Ø Tipe A ”Water - Reducing Admixtures”


Water - Reducing Admixtures adalah bahan tambah yang mengurangi air pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu.


Water - Reducing Admixture digunakan antara lain untuk dengan tidak mengurangi kadar semen dan nilai slump untuk memproduksi beton dengan nilai perbandingan atau rasio faktor air semen (wer) yang rendah.


Atau dengan tidak mengubah kadar semen yang digunakan dengan faktor air semen yang tetap maka nilai slump yang dihasilkan dapat lebih tinggi. Hal lain juga dimaksudkan dengan mengubah kadar semen tetapi tidak mengubah faktor air semen dan slump. Pada kasusu pertama dengan mengurangi faktor air semen secara tidak langsung akan meningkatkan kekuatan tekannya karena dalam banyak kasus dengan faktor air semen yang rendah akan meningkatkan kekuatan beton.


Pada kasus kedua dengan tingginya nilai slump yang didaptkan akan memudahkan penuangan adukan (placing) atau dengan hal ini waktu penuangan adukan dapat diperlambat. Pada kasus ketiga dimasukkan untuk mengurangi biaya karena penggunaan semen yang lebih kecil (marther, Bryant., 1994:494-495).


Bahan tambah pengurang air dapat berasal dari bahan organik ataupun campuran anorganik untuk beton tanpa udara (non-air-entrained) atau dengan udara dalam hal mengurangi kandungariair campuran.


Selain itu bahan tambah ini dapat digunakan untuk memodifikasi waktu pengikatan beton atau mortar sebagai dampak perubahan faktor air semen. Komposisi dari campuran bahan tambah ini diklasifikasikan secara umum menjadi 5 kelas:


1. Asam lignosulfonic dan kandungan garam-garam.


2. Modifikasi dan turunan asam lignosulfonic dan kandungan garam-garam.


3. Hydroxylated carboxylic acids dan kandungan garamnya.


4. Modifikasi hydroxylated carboxylic acids dan kandungan garamnya.


5. Material lain seperti:


· Material inorganik seperti seng, garam-garam, barak, posfat, klorida.


· Asam amino dan turunannya,


· Karbonhidrat, polisakarin dan gula asam.


· Campuran polimer, seperti eter, turunan melamic, naptan, silikon, hidrokarbon-sulfat.


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan bahan tambah ini adalah air yang dibutuhkan, kandungan air, konsistensi, bleeding dan kehilangan air pada saat beton segar, laju pengerasan, kekuatan tekan dan lentur, ketahanan terhadap perubahan volume, susut pada saat pengeringan. Berdasarkan hal tersebut, menjadi penting untuk melakukan pengujian sebelum pelaksanaan pencampuran terhadap bahan tambah tersebut.



Ø Tipe B ”Retarding Admixture”


Retarding Admixtures adalah bahan tambah yang bermngsi untuk menghambat waktu pengikatan beton. Penggunanya untuk menunda waktu pengikatan beton {setting time) misalnya karena kondisi cuaca yang panas, atau memperpanjang waktu untuk pemadatan untuk menghindari cold joints dan menghindari dampak penurunan saat beton segar pada saat pengecoran dilaksanakan.



Ø Tipe C ”Accelerating Admixture”


Accelerating Admixtures adalah bahan tambah yang bermngsi untuk mempercepat pengikatan dan pengembangan kekuatan awal beton. Bahan ini digunakan untuk mengurangi lamanya waktu pengeringan (hidrasi) dan mempercepat pencapaian kekuatan pada beton. Accelerating Admixtures yang paling terkenal adalah kalsium klorida. Bahan kimia lain yang berfungsi sebagai pemercepat antara lain adalah senyawa-senyawa garam seperti klorida, bromida, karbonat, silikat dan terkadang senyawa organik lainnya seperti tri-etanolamin. Perlu ditekankan bahwa kalsium klorida jangan digunakan jika korosi progresif dari tulangan bajadapat terjadi. Dosis maksimum adalah 2 dari berat semen yang digunakan.



Penggunaan bahan tambah pemercepat laju pengerasan harus didasarkan atas pertimbangan ekonomi dengan membandingkan pada penggunaan bahan tambah lain seperti, bandingkan dengan penggunaan semen Tipe III, penggunaan semen yang lebih banyak, penggunaan metode perawatan dan proteksi yang berbeda, penggunaan bahan air dan agregat yang panas. Secara umum, kelompok bahan tambah ini dibagi menjadi tiga: (1). Larutan garam organik, (2). Larutan campuran organik,


(3). Material miscellaneous.


Ø Tipe D ”Water Reducing and Retarding Admixture”


Water Reducing and Retarding Admixtures adalah bahan tambah yang berfungsi ganda yaitu mengurangi jumlah air pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu dan menghambat pengikatan awal.


Water Reducing and Retarding Admixtures yaitu pengurang air dan pengontrol pengeringan (Water Reducing Admixture). Bahan ini digunakan untuk menambah kekuatan beton. Bahan ini juga akan mengurangi kandungan semen yang sebanding dengan pengurangan kandungan air. Bahan ini hampir semuanya berwujud cair.


Air yang terkandung dalam bahan ini akan menjadi bagian dari air campuran beton. Jadi, dalam perencanaan air ini hams ditambahkan sebagai berat air total dalam campuran beton. Perlu ditekankan bahwa perbandingan antara mortar dengan agregat kasar tidak boleh berubah.


Perubahan kandungan air, atau udara, atau semen, harus diatasi dengan perubahan kandungan agregat halus sehingga volume tidak berubah.



Ø Tipe E ”Water Reducing and Accelerating Admixture”


Water Reducing and Accelerating Admixtures adalah bahan tambah yang berfungsi ganda yaitu mengurangi jumlah air pencampur yang diperlukan untuk menghasilan beton yang konsistensinya tertentu dan mepercepat pengikatan awal.


Bahan ini digunakan untuk menambah kekuatan beton. Bahan ini juga akan mengurangi kandungan semen yang sebanding dengan pengurangan kandungan air artinya FAS yang digunakan tetap dengan mengurangi kadar air. Bahan ini hampir semuanya berwujud cair. Air yang terkandung dalam bahan ini akan menjadi bagian dari air campuran beton. Jadi, dalam campuran perencanaan air ini harus di tambahkan sebagai berat air total dalam campuran beton. Perlu ditekankan bahwa perbandingan antara mortar dengan agregat kasar tidak boleh berubah. Perubahan kandungan air, atau udara, atau semen, harus diatasi dengan perubahan kandungan agregat halus sehingga volume tidak berubah Pemercepat waktu pengikatan didalam bahan tambah kimia ini untuk mempercepat sehingga untuk beton yang menggunakan bahan tambah ini akan dihasilkan waktu pengikatan cepat dan kadar air yang rendah dalam FAS. Kondisi yang dikehendaki adalah kuat tekan beton yang tinggi tetapi kecepatan pengikatan yang dinginkan dapat lebih tinggi.


Ø Tipe F ”Water Reducing, High Range Admixture”


Water Reducing, High Range Admixtures adalah bahan tambah yang berfungsi untuk mengurangi jumlah air pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu, sebanyak 12% atau lebih.


Fungsinya untuk mengurangi jumlah air pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu, sebanyak 12% atau lebih. Kadar pengurangan air dalam bahan ini lebih tinggi sehingga diharapkan kekuatan beton yang dihasilkan lebih tinggi dengan air yang sedikit, tetapi tingkat kemudahan pekerjaan juga lebih tinggi. Jenis bahan tambah ini dapat berupa superplasticizer. Bahan jenis ini pun termasuk dalam bahan kimia tambahan yang baru, dan disebut sebagai "bahan tambahan kimia pengurang air". Tiga jenis plastisizer yang dikenaladalah (1). kondensi sulfonat melamin formadehid dengan kandungan klorida sebesar 0.005%, (2). sulfonat nafthalin formaldehid dengan kandungan klorida yang dapat diabaikan dan (3). modifikasi lignosulfonat tanpa kandungan klorida. Ketiga jenis bahan tambahan tersebut dibuat dari sulfonat organik dan disebut superplastisizer, karena dapat mengurangi pemakaian air pada campuran beton dan meningkatkan slump beton sampai 8 inch (208 mm) atau lebih. Dosis yang disarankan adalah 1% sampai 2% dari berat semen. Dosis yang berlebihan akan menyebabkan menurunnya kekuatan tekan beton.


Ø Tipe G ”Water Reducing, High Range Retarding Admixture”


Water Reducing, High Range Retarding Admixtures adalah bahan tambah yang berfungsi untuk mengurangi jumlah air pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu, sebanyak 12% atau lebih dan juga untuk menghambat pengikatan beton. Jenis bahan tambah ini merupakan gabungan superplasticizer dengan menunda waktu pengikatan beton. Biasanya digunakan untuk kondisi pekerjaan yang sempit karena sedikitnya sumber daya yang mengelola beton yang disebabkan oleh keterbatasan ruang kerja.


b) Bahan Tambah Mineral (additive)


Bahan tambah mineral ini merupakan bahan tambah yang dimaksudkan untuk memperbaiki kinerja beton. Pada saat ini, bahan tambah mineral ini lebih banyak digunakan untuk memperbaiki kinerja tekan beton, sehingga bahan tambah mineral ini cenderung bersifat penyemenan. Beberapa bahan tambah mineral ini adalah pozzollan, fly ash, slag, dan silica fume. Beberapa keuntungan penggunaan bahan tambah mineral ini antara lain (Cain, 1994: 500-508):


Ø memperbaiki kinerja workability


Ø mengurangi panas hidrasi


Ø mengurangi biaya pekerjaan beton


Ø mempertinggi daya tahan terhadap serangan sulfat


Ø mempertinggi daya tahan terhadap serangan reaksi alkali-silika


Ø mempertinggi usia beton


Ø mempertinggi kekuatan tekan beton


Ø mempertinggi keawetan beton


Ø mengurangi penyusutan


Ø mengurangi porositas dan daya serap air dalam beton.



Ø Abu Terbang Batu Bara


Menurut ASTM C.618 (ASTM, 1995:304) abu terbang (fly ash)didefinisikan sebagai butiran halus hasil residu pembakaran batubara atau bubuk batu bara. Fly ash dapat dibedalkan menjadi dua, yaitu abu terbang yang normal yang dihasilkan dari pembakaran batubara antrasit atau batubara bitomius dan abu terbang kelas C yang dihasilkan dari batubara jenis lignite atau subbitumeus. Abu terbang kelas C kemungkinan mengandung kapur (lime) lebih dari 10% beratnya. Kandungan kimia yang dibutuhkan dalam fly ash tercantum dalam Tabel 5 1 (ASTM C.618-95:305).



Tabel 5.1. Kandungan Kimia Fly Ash



























SenyawaKimia


Jenis F


Jenis C


OksidaSilika(SiO2)+OksidaAlumina(Al 2O3)+


Oksida Besi (Fe2O3), minimum %


70.0


50.0


Trioksida Sulfur (SO3), maksimum %


5.0


5.0


Kadar Air, maksimum %


3.0


3.0


Kehilangan Panas, maksimum %


6.0^


6.0


^ Penggunaan smapai dengan 12% masih diijinkan jika ada perbaikan kinerja atau hasi test laboratotium meunjukkaj demikian.




Ø Slag


Slag merupakan hasil residu pembakaran tanur tinggi. Definisi slag dalam ASTM. C.989, "Standard spesification for ground granulated Blast-Furnace Slag for use in concrete and mortar", (ASTM, 1995: 494) adalah produk non-metal yang merupakan material berbentuk halus, granular hasil pembakaran yang kemudian didinginkan, misalnya dengan mencelupkannya dalam air.


Keuntungan penggunaan slag dalam campuran beton adalah sebagai berikut (Lewis, 1982).


1. Mempertinggi kekuatan tekan beton karena kecenderungan melambatnya kenaikan kekuatan tekan.


2. Menaikkan ratio antara kelenturan dan kuat tekan beton.


3. Mengurangi variasi kekuatan tekan beton.


4. Mempertinggi ketahanan terhadap sulfat dalam air laut.


5. Mengurangi serangan alkah-silika.


6. Mengurangi panas hidrasi dan menurunkan suhu.


7. Memperbaiki penyelesaian akhir dan memberi wama cerah pada beton.


8. Mempertinggi keawetan karena pengaruh perubahan volume.


9. Mengurangi porositas dan serangan klorida.


Faktor-faktor untuk menentukan sifat penyemenan (cementious) dalam slag adalah komposisi kimia, konsentrasi alkali dan reaksi terhadap sistem, kandungan kaca dalam slag, kehalusan, dan temperatur yang ditimbulkan selama proses hidrasi berlangsung (Cain, 1994: 505).


Ø Silika Fume


Menurut standar "Spesificationfor Silica Fume for Use in Hydraulic Cemen Concrete and Mortar" (ASTM.C. 1240,1995: 637-642) silica fume adalah material pozzollan yang halus, dimana komposisi silika lebih banyak yang dihasilkan dari tanur tinggi atau sisa produksi silikon atau alloy besi silikon (dikenal sebagai gabungan antara microsilika dengan silika fume).


Penggunaan silica fume dalam campuran beton dimaksudkan untuk menghasilkan beton dengan kekuatan tekan yang tinggi. Beton dengan kekuatan tinggi digunakan, misalnya, untuk kolom struktur atau dinding; geser, pre-cast atau beton pra-tegang dan beberapa keperluan lain. Kriteria kekuatan beton berkinerja tinggi saat ini sekitar 50-70 MPa untuk umur 28 hari. Penggunaan silica fume berkisar antara 0 - 30% untuk memperbaiki karakteristik kekuatan dan keawetan beton dengan faktor semen sebesar 0.34 dan 0.28 dengan atau tanpa bahan superplastisizer dan nilai slump 50 mm (Yogendran, et al, 1987:124-129).


Tabel 5.2. Komposisi Kimia Silica Fume






























Kimia


Berat dalam persen


SiO2


Karbon


92-94


3-5


Fe2 O3


CaO


0.10-0.50


0.10-0.15


Al2O3


MgO


MnO


0.20 - 0.30


0.10-0.20


0.008


K2O


Na2O


0.10


0.10


Fisika


Berat dalam Persen


Berat Jenis


2.02


Rata-rata ukuran partikel, u.m,


Lolos ayakan No.325 dala,


Keasaman pH (10 air dalam slurry)


0.1


99.00


7.3














Sumbe: Yogendran., et al., ACI Material Journal, Maret/April, 1987:125


Selain dari Tabel 5.2, komposisi kimia dan fisika yang dibutuhkan silica fume dapat dilihat di Tabel 1 sampai Tabel 4 ASTM.C.1240.


Ø Peghalus Gradasi (finely divided mineral admixture)


Bahan ini berupa mineral yang dipakai untuk memperhalus perbedaan-perbedaan pada campuran beton dengan memberikan ukuran yang tidak ada atau kurang dalam agregat. Selain itu juga dapat dipergunakan untuk menaikan mum dari beton yang akan dibuat. Kegunaan lainnya adalah untuk mengurangi permeabilitas atau expansi dan juga mengurangi biaya produksi beton. Contoh bahan ini adalah kapur hidrolis, semen slag, fly ash, dan pozollan alam yang sudah menjadi kapur atau mentah.


c) Bahan Tambah Lainnya


Ø Air Entraining


Bahan tambah ini membentuk gelembung-gelembung udara berdiameter 1 mm atau lebih kecil di dalam beton atau mortar selama pencampuran, dengan maksud mempermudah pengerjaan beton pada saat pengecoran dan menambahkan ketahanan awal pada beton. Hampir semua bahan air entraining admixture berwujud cair, tetapi ada yang berbentuk serbuk, lapisan-lapisan atau gumpalan. Banyaknya bahan tambahan yang diperlukan untuk memperoleh gelembung udara ini tergantung pada bentuk dan gradasi agregat yang digunakan. Semakin halus ukuran agregat, semakin besar persentase bahan tambah yag diperlukan. Persentase ini dipengaruhi juga oleh beberapa faktor lain seperti jenis dan kondisi pencampur, apakah memakai fly-ash ataukah pozollan lain, juga derajat agitasi campuran. Penambahan udara ini dapat mengurangi kekuatan udara, tetapi dengan mempertahankan kandungan semen dan kemudahan kerja, pengurangan kekuatan ini dapat dicegah karena faktor air semennya berkurang.


Ø Beton Tanpa Slump


Beton tanpa slump didefinisikan sebagai beton yang mempunyai slump sebesar 1 inch (25.4 mm) atau kurang, sesaat setelah pencampuran. Pemilihan bahan tambah ini tergantung pada sifat-sifat beton yangdiinginkan terjadi, seperti sifat plastisnya, waktu pengikatan dan pencapaian kekuatan, efek beku-cair, kekuatan dan harga dari beton tersebut.


Ø Polimer


Ini adalah produk bahan tambah yang baru yang dapat menghasilkan kekuatan tekan beton yang tinggi sekitar 15.000 psi (1.000 psi = 6,9 MPa) atau lebih, dan kekuatan belah tariknya sekitar 1.500 Psi atau lebih. Beton dengan kekuatan tinggi ini biasanya diproduksi dengan menggunakan polimer dengan cara (1). memodifikasi sifat beton dengan mengurangi air di lapangan atau (2). menjenuhkan dan memancarkannya pada temperatur yang sangat tinggi di laboratorium.


Beton dengan modifikasi polimer (PMC=Polimer Modified Concrete) adalah beton yang ditambah resin dan pengeras sebagai bahan tambahan. Prinsipnya adalah menggantikan air pencampur dengan polimer sehingga dihasilkan beton yang berkekuatan tinggi dan mempunyai mutu yang baik. Faktor polimer beton yang optimum adalah berkisar 0.3 sampai 0.45 dalam perbandingan berat, untuk mencapai kekuatan tinggi tersebut.


Ø Bahan Pembantu Untuk Mengeraskan Permukaan Beton (hardener concrete)


Permukaan beton yang harus menanggung beban-beban yang berat dan hidup serta selalu dalam keadaan berputar atau berpindah-pindah, seperti lantai untuk bengkel-bengkel alat alat berat (heavy equiment), dan lainnya. Pembebanan ini akan menyebabkan pengausan pada permukaan beton, yang seiring dengan bertambahnya waktu akan menyebabkan rusaknya permukaan beton tersebut. Untuk menghindari hal ini dapat digunakan dua jenis bahan untuk mengeraskan permukaan beton. Yaitu (1) agregat beton terbuat dari bahan kimia, dan (2) agregat metalik, terdiri dari butiran-butiran yang halus. Untuk memperkeras permukaan beton, harus dipilih salah satu dari bahan pengeras tersebut dan kemudian ditambahkan kedalam campuran beton saat pengeijaan beton berlangsung.


Ø Bahan Pembantu Kedap Air


Jika beton terletak di dalam air atau berada di dekat permukaan air tanah (misalnya beton yang digunakan pada pembuatan tunnel) maka beton tersebut tidak boleh mengalami rembesan sehingga harus diusahakan agar kedap air. Salah satu bahan yang dapat digunakan adalah bahan yang mempunyai partikel-partikel halus dan gradasi yang menerus dalam campuran beton. Bahan-bahan semacam itu akan mengurangi permeabilitas air.


Ø Bahan Tambah Pemberi Warna


Beton yang diexpose permukaannya biasanya memerlukan keindahan. Bahan yang digunakan untuk memberi wama pada permukaan beton ini cat (coating), yang dilapiskan setelah pengerjaan beton selesai. Cara lainnya adalah menambahkan bahan wama, misalnya oker atau umber (pewama coklat), kedalam permukaan beton selagi beton masih segar. Bahan-bahan ini biasanya dicampurkan dalam suatu adukan yang mutunya terjamin baik. Cara ini merupakan cara yang terbaik. Selain itu dapat pemberian wama dapat pula dilakukan dengan cara menaburkan pasir silika atau agregat metalik selagi permukaan beton masih dalam keadaan segar.


Ø Bahan Tambah Untuk Memperkuat Ikatan Beton Lama Dengan Beton Baru (bonding agent for concrete)


Penuangan beton segar di atas permukaan beton lama sering mengalami kesulitan dalam pengikatan (penyatuannya). Untuk mengatasinya, perlu ditambahkan suatu bahan tambah agar terjadi ikatan yang menyatu antara permukaan yang lama dengan permukaan yang baru jenis bahan tambah tersebut biasnya di sebut bonding agent yang merupakan larutan polimer.


1-6 AHAN TAMBAH KIMIA MENURUT DRAFT PEDOMAN BETON 1989


a) Syarat Umum Mutu Bahan Tambah


1. Beton yang pembuatannya menggunakan jenis-jenis bahan tambah yang disebutkan di atas, harus memenuhi persyaratan fisika seperti yang termuat dalam ASTM C.494, Standard Spesification for Chemical Admixture for Concrete.


2. Atas pennintaan pembeli/pemakai, produsen bahan tambah harus menyatakan secara tertulis bahwa bahan yang disediakan untuk suatu pekerjaan beton adalah sama dalam segala halnya dengan bahan yang diujikan untuk memenuhi persyaratan mutu.


3. Atas permintaan pembeli/pemakai, produsen bahan tambah yang akan dipakai untuk beton pra-tekan hams menyatakan secara tertulis kadar klorida di dalam bahan tambah tersebut dan bahwa kadar klorida sudah ditambahkan selama pembuatannya.


b) Keseragaman dan Kesamaan (Komposisi)


Apabila ditentukan oleh pembeli/pemakai bahwa perlu dilakukan uji teseragaman terhadap jumlah bahan tambah, maka uji ini dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:


Ø Pengujian dilakukan terhadap contoh awal (initial sample) dan hasil uji dijadikan referensi untuk membandingkan hasil-hasil uji atas contoh yang diambil dari sembarang kumpulan bahan (lot).


Ø Analisis infra-red, hasil spektra absorbsi sejauh mungkin harus sama antara contoh awal dengan contoh dari suatu lot.


Ø Residu pengeringan di dalam oven, bila diuji dengan cara dan ketentuan dalam ASTM C.494, variasinya antara nilai contoh awal dengan contoh yang diambil dari lot harus berada pada batas variasi di mana 5% untuk bahan tambah cair dan 4% untuk bahan tambah non cair.


Ø Berat jenis untuk bahan tambah cair perbedaan untuk contoh awal dengan air suling dan dengan contoh dari lot tidak boleh lebih besar dari 10%.



Latihan


1. Jelaskan definisi bahan tambah!


2. Apa yang dimaksud dengan bahan fambah kimia dan bahan tambah mineral? Bagaimana proses pencampuran untuk bahan tambah kimia dan mineral?


3. Jelaskan beberapa alasan mengapa digunakan bahan tambah!


4. Jelaskan jenis-jenis bahan tambah kimia menurut SNI!


Oleh : Alizar, M.T

blog comments powered by Disqus

Posting Komentar



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER