Tampilkan postingan dengan label Psikologi (Perkembangan). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi (Perkembangan). Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Agustus 2009

Tujuan Instruksional umum:Evolusi Manusia

TATAP MUKA 3 - 4


EVOLUSI MANUSIA


Tujuan Instruksional umum:Evolusi Manusia


Mahasiswa dapat memahami Evolusi mahluk hidup



Tujuan Instruksional Khusus:


Setelah mempelajari modul ini mahasiswa diharapkan mampu untuk dapat menjelaskan sejarah asal usul manusia dalam sudut pandang ilmiah dan menkaji perkembangan yang terjadi.


3-4.1. PENGERTIAN DAN TEORI YANG TERKAIT


Dipandang dari sudut biologi, manusia hanya merupakan suatu macam mahluk diantara lebih dari sejuta mahluk lain yang pernah atau masih menduduki alam dunia ini. Pada pertengahan abad ke 19 ahli biologi C. Darwin mengumumkan teori tentang proses evolusi manusia. Menurut teorinya, bentuk-bentuk hidup tertua di muka bumi ini terdiri dari mahluk-mahluk satu sel yang sangat sederhana, seperti misalnya prozoa. Dalam jangka waktu beratus-ratus juta tahun lamanya timbul dan berkembang bentuk-bentuk hidup berupa mahluk-mahluk dengan organisasi yang makin lama makin kompleks, dan pada kurun waktu terakhir ini telah berkembang atau berevolusi mahluk-mahluk seperti kera dan manusia.


Dalam proses evolusi biologi yang telah berlangsung sangat lama itu. Banyak bentuk mahluk yang sederhana itu telah hilang dan punah dari muka bumi. Akan tetapi, banyak juga yang dapat bertahan macamnya dan hidup langsung sampai sekarang. Sedangkan bentuk-bentuk mahluk baru yang bercabang dari bentuk-bentuk yang lama itu menjadi sekian banyaknya, hingga jumlah mahluk yang sekarang menduduki bumi kita ini hampir mendekati angka satu juta.


Untuk mendapat suatu pengertian tentang jumlah aneka warna yang sebesar itu, para ahli biologi telah membuat suatu sistem klasifikasi dimana semua mahluk di dunia telah mendapat tempat yang sewajarnya berdasarkan atas morfologi dari organismenya. Bersama dengan beribu-ribu macam mahluk lain, manusia menyusui keturunannya. Dan berdasarkan ciri-ciri itulah manusia diklaskan bersama mahluk-mahluk lain tersebut ke dalam satu golongan, yaitu kelas binatang menyusui (mammalia).


Dalam kelas mammalia ini terdapat satu sub golongan atau suku, yaitu suku primat. Pada suku ini, semua jenis kera, mulai dari yang kecil sampai yang besar, diklaskan menjadi satu dengan manusia.


Sebelum zaman Darwin, para ahli biologi telah lama mengobservasi banyaknya persamaan ciri-ciri antara organisma kera dengan organisma manusia.








Suku Subsuku Infrasuku Keluarga Jenis Ras



image001 Australoid


image002 image001 image001 image001 image003 Homo Mongoloid Sapiens Caucasoid


image002 image001 image004 image001 Hominidae Neandertal Negroid


image003 image001 image005 image001 image001 Hominoid Ramapi- Pithecantropus


thecus


image006 image001 image007 image001 image002P Anthropoid Pongidae


image001R Cercopithecoid


image003 image001 I Ceboid


M


image001 image005A Tarsii formes


image001T Lorisiformes


image003 image001 image001 Porsimii Daubentonoid


image001 Tupaioid


image001 Lemuroid



Oleh para ahli biologi, manusia ditempatkan ke dalam subsuku Antropoid. Infrasuku Ceboid menggolongkan menjadi satu semua kera, baik yang sudah punah maupun yang masih hidup langsung di daerah tropik di benua Amerika. Infrasuku Cercopithecoid menggolongkan menjadi satu semua kera baik yang sudah punah maupun yang masih hidup langsung di daerah tropik di benua Asia dan Afrika. Sedangkan infrasuku Hominoid menggolongkan menjadi satu kera-kera besar dengan manusia.



3-4.2. EVOLUSI MAHLUK PRIMAT




  1. Evolusi Ciri-ciri Biologi

Dalam proses evolusi bentuk-bentuk mahluk yang baru timbul sebagai proses pencabangan dari bentuk-bentuk mahluk yang lebih tua. Dalam proses tersebut ciri-ciri biologi yang baru berwujud pada organisma suatu mahluk tertentu dan menyebabkan terjadinya bentuk yang agak berbeda dari bentuk organisme induk yang lama. Bentuk baru tadi terus berubah, dan dalam jangka waktu yang cukup lama perbedaan bentuk organisma mahluk induk yang lama dengan mahluk cabang yang baru makin lama makin besar.


Menurut para ahli biologi, ciri-ciri biologi itu dapat berubah karena termaktub di dalam gen (gene). Organisma dari semua mahluk di dunia, tidak hanya mahluk satu sel tetapi juga kera dan manusia terdiri dari sel. Pada mahluk yang organismanya kompleks seperti kera dan manusia, jumlah selnya mencapai 10 trilyun banyaknya. Serta bentuk dan macam sel-sel tsb berbeda menurut fungsi dan tugasnya dalam masing-masing organisma.


Meskipun demikian, setiap sel memiliki inti yang sama. Setiap sel manusia terdiri dari 46 bagian berupa ulat-ulat kecil yang terdiri dari serat-serat berspiral. Ulat-ulat kecil itu disebut kromosom. Pad kromosom-kromosom inilah terletak beribu-ribu pusat kekuatan dengan berbagai macam struktur biokimia yang khas, yang menjadi sebab dari segala ciri organisma mahluk yang bersangkutan.


Satu pusat kekuatan itulah yang disebut gen. Satu gen atau kombinasi beberapa gen menjadi penyebab dari satu ciri lahir dari organisma. Sedangkan adapula satu gen yang menjadi penyebab dari satu adanya beberapa ciri lahir.


Pada waktu konsepsi, apabila sel sperma berpadu dengan sel telur, maka akan terjadi suatu sel buah (zygote). Seluruh tubuh organisma baru akan timbul dari zygote tadi, dengan suatu proses yang disebut mitosis. Tiap-tiap kromosom akan membelah menjadi 2 sehingga timbul 2 sel baru. Ke 2 sel baru tadi melalui proses yang sama akan menjadi 4 sel yang baru, demikian seterusnya hingga terjadi beberapa trilyun sel yang merupakan bahan dari suatu organisma lengkap.


Dari ciri-ciri ayah dan ibu yang kebetulan dibawa oleh selo-sel sex, tidak semua akan tampak dalam organisma yang baru. Melainkan hanya ciri-ciri pada gen yang kuat (dominan) yang akan tampak. Sedangkan ciri-ciri pada gen yang tidak kuat (resesif) tidak akan tampak pada organisma yang baru.


Sungguhpun demikian, dalam kenyataan kita lihat bahwa kelompok-kelompok manusia yang mula-mula berasal dari sepasang nenek moyang, pada proses membanyak dan menyebar selalu menunjukan perbedaan ciri-ciri. Proses percabangan yang menimbulkan ciri-ciri baru dan terjadinya organisma-organisma baru tetapi gen nenek moyang tetap tersimpan. Percabangan ini terjadi karena beberapa proses evolusi yang menurut analisa para ahli biologi dapat dibagi ke dalam 3 golongan, yaitu:


1. Proses mutasi, yakni suatu proses yang berasal dari dalam organisma. Suatu gen yang telah lama diturunkan dari angkatan ke angkatan beribu-ribu tahun lamanya, pada suatu ketika pada saat gen itu dibentuk pada suatu zygote yang baru dapat berubah sedikit sifatnya. Akibatnya ialah bahwa individu baru yang tumbuh dari zygote tadi akan mendapat suatu ciri tubuh baru yang tidak ada pada nenek moyangnya.


2. Proses seleksi dan adaptasi, adalah suatu proses evolusi yang berasal dari sekitar alam.


3. Proses menghilangnya gen secara kebetulan (random genetic drift).




  1. Proses Percabangan Mahluk Primat


Manusia itu merupakan suatu jenis mahluk yang telah bercabang melalui proses evolusi dari semacam mahluk primat. Asal mula dan proses evolusi mahluk manusia secara khusus dipelajari dan diteliti oleh suatu sub ilmu dari antropologi biologi, yaitu ilmu paleoantropologi. Dengan menggunakan sebagai bahan penelitian bekas-bekas tubuh manusia yang berupa fosil yang terkandung dalam lapisan-lapisan bumi.


Namun karena manusia merupakan suatu cabang yang paling muda dari mahluk primat, maka asal mula dan proses evolusinya tidak dapat dilepaskan dari seluruh proses percabangan dari mahluk-mahluk primat. Walaupun masih banyak perbedaan pendapat antara para ahli paleoantropologi mengenai berbagai aspek dari proses percabangan itu, tetapi akhir-akhir ini mereka telah sepaham mengenai garis besar proses tsb.


Selain menganalisa data mengenai fosil-fosil kera dan manusia yang tersimpan dalam lapisan bumi, mereka juga mempergunakan data ilmu-ilmu lain seperti paleogeografi (ilmu bumi zaman purba) dan paleoekologi (ilmu tentang lingkungan), serta metode analisa potassium-argon (metode analisa terbaru mengenai umur dari lapisan-lapisan bumi) dan geologi.


Menurut penelitian-penelitian paling akhir, mahluk pertama dari suku primat muncul di muka bumi sebagai suatu cabang dari mahluk mammalia. Kira-kira 70 juta tahun yang lalu di dalam suatu zaman yang oleh para ahli geologi disebut Kala Paleosen Tua (kala paleosen adalah salah satu masa dalam perkembangan kulit bumi menurut umurnya dari yang paling tua hingga yang paling muda ke dalam kala-kala). Dalam masa yang amat lama, mahluk primat induk tadi bercabang lebih lanjut ke dalam berbagai subsuku dan infra suku khusus. Dan diantarnya telah terjadi proses percabangan antara kera-kera pongid atau kera-kera besar dari keluarga hominid yang mempunyai anggota nenek moyang manusia.


Telah terjadi paling sedikit 5 proses percabangan. Percabangan yang tertua, timbul kira-kira 30 juta tahun lalu dalam kala eosen akhir, adalah percabangan yang mengevolusikan kera gibon (hylobatidae).


Cabang yang timbul kemudian, pada permulaan kala miosen kira-kira 20 juta tahun yang lalu, adalah kera pongopygmeus (orang utan). Daerah asal orang utan adalah Afrika Timur, yang ketika itu masih menjadi satu dengan daerah Arab, hingga terletak lebih dekat pada Asia Selatan. Vegetasi di Afrika Timur waktu itu belum berupa sabana dengan gerombolan-gerombolan hutan yang jarang seperti halnya yang sekarang.


Orang utan tinggal di pucuk-pucuk pohon besar, bebas dari gangguan mahluk hutan rimba lainnya. Orang utan membiak dan menyebar melalui pucuk-pucuk pohon-pohon besar didaerah hutan rimba di Asia Barat Daya, Asia Selatan, hingga Asia Tenggara dalam jangka waktu satu dua juta tahun lamanya.


Kira-kira pada akhir kala miosen terjadi beberapa perubahan besar pada kulit bumi dan pada lingkungan alamnya. Benua Afrika membelah dari Asia, dan dalam proses tsb terjadilah Laut Merah dan belahan bumi berupa lembah yang dalam, bernama Great Rift Valley yang merupakan pemisah alam secara ekologi yang membujur dari Utara ke Selatan antara Afrika Barat dan Afrika Timur.


Proses perubahan besar lainnya adalh menyempitnya daerah hutan rimba Afrika yang menyebabkan lingkungan alam Afrika Timur menjadi sabana. Terjadinya gurun di daerah Arab serta berkurangnya daerah hutan rimba di India. Kera orang utan tadi, tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan besar dalam lingkungan alamnya tadi. Lalu menghilang dari Afrika, Asia Barat Daya, dan Asia Selatan, tetapi dapat bertahan di Asia Tenggara dimana hutan rimba lebat masih ada. Sampai sekarang sisa-sisanya yang terakhir hidup di hutan rimba di Kalimantn Barat dan Tengah.


Cabang ke 3 adalah sejenis mahluk yang menurut perkiraan para ahli menjadi nenek moyang manusia. Percabangan ini terjadi kira-kira 10 juta tahun yang lalu pada bagian terakhir dari kala miosen. Fosil-fosil mahluk ini menunjukan sifat yang lain daripada yang lain. Yaitu ukuran badan raksasa yang jauh lebih besar daripada kera gorila yang hidup sekarang.


Fosil-fosil itu ditemukan di bukit Siwalik di kaki Himalaya, dekat Simla (India Utara), dan dilembah Bengawan Solo di Jawa. Oleh para ahli fosil-fosil itu disebut Gigantanthropus (kera manusia raksasa). Para ahli memperkirakan bahwa kera manusia raksasa ini juga hidup dalam kelompok-kelompok seperti halnya jenis-jenis kera besar lainnya, dengan demikian dapat tahan hidup, membiak, dan seperti orang utan juga menyebar dari Afrika ke Asia Selatan dan Tenggara.


Namun karena perubahan-perubahan alam yang terjadi dalam bagian akhir kala miosen, maka sepeerti halnya orang utan juga, kera manusia raksasa ini menghilang dari Afrika dan Asia Selatan dan hanya bertahan di Asia Tenggara, hingga akhirnya kandas juga disana karena sebab-sebab yang belum dapat diketahui.


Cabang ke4 adalah cabang-cabang kera pongid yang lain yaitu gorila dan chimpanze yang terjadi kira-kira 12 juta tahun yang lalu pada akhir kala miosen. Kedua mahluk kera dari Afrika ini dapat menyesuaikan diri dengan berevolusi mengembangkan organisma yang dapat hidup pohon maupun di darat. Percabangan khusus atau spesialisasi biologi antara gorila dan chimpanze terjadi karena perkembangan dari 2 lingkungan ekologi yang khusus di Afrika Tengah sebelah Timur dari sungai Niger, dan di Afrika Barat sebelah barat dari sungai itu. Di daerah hutan di Afrika Tengah tadi berlangsung evolusi organisma dari kera gorila, sedangkan di daerah hutan Afrika Barat berlangsung evolusi organisma chimpanze.


Proses percabangan berikut terjadi di Afrika Timur timbul dari evolusi mahluk gigantanthropus, sebelum kera-kera manusia raksasa ini menghilang dari benua Afrika. Cabang inilah yang menurut para ahli akan berevolusi menjadi mahluk manusia. Mahluk yang akan menurunkan manusia ini berhasil menyesuaikan diri dengan proses menghilangnya hutan rimba di Afrika Timur dan proses timbulnya sabana-sabana terbuka dengan hutan-hutan terbatas dan gerombolan-gerombolan belukar tersebar disana sini.





  1. Mahluk Primat Pendahuluan Manusia


Kira-kira seabad yang lalu para ahli biologi dan paleoantropologi masih mengira soal siapakah nenek moyang manusia, dapat dipecahkan dengan usaha menemukan sejenis mahluk yang telah kandas, yang merupakan penghubung antara kera dan manusia dalam silsilah hidup. Dengan demikian usaha terpenting dari para ahli tsb adalh mencari mahluk penghubung yang hilang (missing link), dalam silsilah perkembangan alam mahluk di muka bumi.


Sekarang dengan kemajuan-kemajuan di bidang ilmu paleoantropologi dan geologi, konsepsi para ahli mengenai soal missing link itu sudah berubah. Mahluk itu sudah tidak lagi dipandang sebagai suatu mahluk yang berada di antara kera dan manusia, tetapi sebagai seekor mahluk pendahuluan (precursor) atau mahluk induk yang mendahului baik kera-kera besar (pongid) maupun manusia. Kedua-duanya hanya merupakan spesialisasi khusus dari mahluk induk tadi. Kecuali itu, karena proses percabangan antara berbagai jenis kera besar dengan manusia itu tidak terjadi hanya satu kali melainkan beberapa kali dan di beberapa tempat, maka dengan demikian sebenarnya ada lebih dari satu mahluk induk.








Konsepsi lama Konsepsi baru



image008 image008 image009 image008 Manusia kera-kera besar manusia



image008 image008 Missing link mahluk induk



Kera mahluk induk



Penelitian paleoantropologi pada permulaan abad 20, para ahli sudah mempunyai pendirian yang cukup mantap mengenai mahluk induk ini. Mahluk primat yang dianggap menurunkan jenis-jenis kera besar seperti orang utan, gorila dan chimpanze, maupun manusia adalah seekor mahluk yang fosilnya berupa rahang bawah ditemukan di Saint Gaudens, Perancis Selatan, pada pertengahan abad yang lalu.


Mahluk yang oleh para ahli diberi nama dryopithecus itu hidup dalam akhir kala oligosen serta permulaan kala miosen, kira-kira 21 juta tahun yang lalu, di hutan-hutan di daerah yang kini menjadi Eropa Selatan dan Afrika Utara.


Pengetahuan para ahli mengenai nenek moyang yang langsung dari manusia kini sudah mulai cukup mantap. Mahluk yang dapat disebut pendahuluan manusia itu adalah mahluk yang sudah dapat berjalan tegak di atas kedua kaki belakangnya secara lama terus menerus sepanjang jarak yang cukup jauh. Yang hidup dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari rata-rata 8 -10 individu. Dan yang secara berkelompok telah dapat melawan binatang-binatang penyaing yang lain.


Mahluk primat yang menurut wujud fosil-fosilnya menunjukan ciri-ciri tsb adalah mahluk yang pertama kali ditemukan pada tahun 1924 di Taungs, sebelah Utara Kimberley di Afrika Selatan. Oleh para ahli paleoantropologi mahluk itu disebut Australopithecus (kera dari Selatan).


Sekarang telah ditemukan lebih dari 65 fosil dari mahluk tsb. Semuanya di Afrika Selatan dan Timur. Beberapa diantaranya diperkirakan hidup dimuka bumi ini lebih dari 10 juta tahun yang lalu. Fosil dari keluarga Australopithecus yang akhir-akhir ini dalam tahun 1959 ditemukan , adalah fosil dari lembah Oldovai di Tanzania di Afrika timur. Fosil ini di analisa oleh L.S.B. Leaky dengan menggunakan metode baru untuk menganalisa umur dari lapisan bumi, yaitu metode potassium argon.


Hasil analisa ini adalah kesimpulan bahwa mahluk yang diberinya nama khusus yakni Zinjanthropus, itu hidup didaerah-daerah sabana di Afrika Timur kurang lebih 2 juta tahun yang lalu. Ia merupakan mahluk induk manusia jenis Australopithecus yang paling dekat. Pada masa 2 juta tahun yang lalu itu bumi mengalami suatu masa dalam sejarah perkembangan kulit bumi yang berbeda dengan sekarang. Yaitu suatu kala Es di daerah-daerah Utara dan Selatan, dan suatu kala kering di daerah tropik.


Kala Es atau kala Glasial adalah zaman ketika seluruh Eropa Utara sampai kira-kira garis pegunungan Alp di negara Swiss sekarang. Ketika sebagian dari Asia Utara ke seluruh Kanada dan Amerika Utara sampai kira-kira garis daerah danau Michigan sekarang. Dan ketika pucuk Selatan Amerika Selatan tertutup dengan lapisan-lapisan es yang tebal (gletcher).


Selama tiap kala glasial, daerah tropik bersifat lebih kering dari waktu kala interglasial, dan hutan-hutan rimba tropik berkurang padatnya dan berubah menjadi daerah padang rumput dengan gerombolan-gerombolan hutan yang tersebar.





  1. Bentuk-bentuk Manusia tertua


Bumi Indonesia telah memberi sumbangan sangat banyak kepada dunia ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah asal mula manusia. Karena di dalam kandungannyalah ditemukan bekas-bekas manusia yang tertua.


Tahun 1898 seorang dokter Belanda, Eugene Du Bois telah mendapatkan di lembah sungai Bengawan Solo, di dekat desa Trinil di Jawa Timur, sekelompok tengkorak atas, rahang bawah, dan sebuah tulang paha. Tengkorak atas seolah-olah sebuah tengkorak seekor kera besar. Isi otaknya jauh lebih besar bila dibandingkan dengan jenis kera manapun yang terkenal sekarang. Akan tetapi jauh lebih kecil daripada isi otak manusia. Gigi-giginya pun menunjukan sifat manusia, sedangkan bentuk tulang pahanya menunjukan bahwa mahluk itu berdiri tegak. Du Bois memberikan nama Pithecanthropus Erectus (manusia kera yang berjalan tegak), kepada fosil itu. Dan menganggapnya contoh daripada nenek moyang manusia zaman sekarang.


Pada tahun1931 dan 1934, geologi Jerman G.H.R. von Konigswald menemukan 14 fosil Pithecanthropus di utara Trinil. Ahli paleoantropologi Indonesia Teuku Jacob yang meniliti 14 fosil itu menyebutnya Pithecanthropus Soloensis. Umurnya diperkirakan antara 800 ribu - 200 ribu.


Dua buah penemuan lain dalam tahun 1936 di desa Perning dekat Majakerta dan di desa Sangiran dekat Surakarta, mempunyai arti yang sangat khusus. Karena kedua fosil itu diperkirakan berumur 2 juta tahun. Fosil-fosil itu disebut Pithecanthropus Majakertensis.


Pada tahun1941 di dekat desa Sangiran ditemukan fosil yang bagian rahang bawahnya bersifat rahang manusia, tetapi ukurannya luar biasa besarnya melebihi ukuran gorila laki-laki. Karena besarnya fosil tsb maka diberi nama Meganthropus Paleojavanicus.


Pecahnya perang Dunia II di Asia setahun kemudian menyebabkan bahwa penelitian terhadap fosil tsb tidak dapat dilanjutkan. Usia fosil itu sangat tua 2 juta tahun. Dengan demikian jumlah fosil Pithecanthropus seluruhnya yang dimiliki oleh dunia ilmiah ada 41 buah.


Di luar Indonesia juga ditemukan beberapa fosil yang banyak menunjukan persamaan dengan fosil Pithecanthropus Erectus. Tahun 1927 & 1936 di dekat gua Chou Kou tien sebelah Barat Peking ditemukan fosil-fosil tab, dan diberi nama Pithecanthropus Pekinensis.


Teuku Jacob meragukan bahwa mahluk Pithecanthropus sudah memiliki kebudayaan. Karena tidak pernah ditemukan bekas alat-alat didekat fosil tsb, selain itu volume otaknya masih terlampau kecil dibandingkan dengan mahluk manusia sekarang. Dan yang lebih penting lagi bahwa rongga mulut Pithecanthropus menunjukan mahluk itu belum dapat menggunakan bahasa. Walaupun Ia juga tidak menyangkal bahwa mahluk tsb mungkin sudah mulai mempergunakan alat-alat batu atau kayu yang dipungutnya. Namun tanpa bahasa suatu kapasitas otak yang memungkinkan aktivitas akal tidak mungkin menggunakan alat-alat tadi menjadi pola mantap yang dikonsepsikan oleh mahluk tadi secara sadar.


Pithecanthropus dan Meganthropus oleh para ahli dianggap sebagai mahluk pendahuluan manusia di kawasan luas Asia khususnya Asia Tenggara. Sementara itu mahluk Pithecanthropus berevolusi terus. Isi otaknya menjadi lebih besar. Dan suatu hal yang istimewa adalah bahwa beberapa bagian organismanya seperti tenggorokan, rongga mulut, lidah dan bibir, berevolusi menjadi sedemikian rupa sehingga ia dapat membuat variasi suara yang makin lama makin banyak dan kompleks. Sehingga terjadi bahasa.


Rupa-rupanya evolusi organisma yang memungkinkan berkembangnya bahasa itu didorong oleh kebutuhan untuk mempunyai suatu sistem komunikasi yang kompleks dan berkembang karena terdorong oleh kebutuhan untuk melaksanakan suatu sistem pembagian kerja yang kompleks. Dalam usahanya untuk memburu berbagai macam binatang yang sering jauh lebih kuat dan cepat darinya. Pithecanthropus tadi terpaksa mengembangkan sistem pembagian kerja diantara individu dalam kelompok berburu yang kecil itu.


Sistem pembagian kerja hanya dapat menjadi makin kompleks bila komunikasi antara warga kelompok dapat ditingkatkan menjadi makin lama makin kompleks pula.


Bahasa juga menyebabkan lebih berkembangnya otak, begitu juga sebaliknya. Teuku Jacob menganggap bahwa kedua unsur dalam kehidupan manusia yaitu akal dan bahasa merupakan landasan yang memungkinkan kebudayaan berevolusi.










image010




image011 Kebudayaan


M


A


N otak akal


image012 image013U


I organisma


A utk bicara bahasa


image014 ‘


image015 image016 ‘


P pembagian ’


R kerja ’


image017I ’


M kehidupan kolektif


A ’


T ’ image018


’ Evolusi



Mahluk yang telah mempunyai kebudayaan itulah yang baru dapat disebut mahluk manusia secara penuh. Mahluk Pithecanthropus berevolusi menjadi mahluk semacam itu dalam jangka waktu yang sangat lambat, yaitu lebih dari 1,5 juta tahun lamanya. Sisa-sisa mahluk manusia keturunan Pithecanthropus tadi ditemukan dalam lapisan bumi yang muda, yaitu lapisan bumi yang oleh para alhli geologi disebut lapisan pleistosen muda.


Fosil-fosil manusia yang berasal dari kala pleistosen muda berumur kira-kira 200 ribu tahun. Berjumlah amat banyak dan terdapat di banyak tempat di dunia. Fosil-fosil itu tidak hanya berupa tengkorak, melainkan banyak juga berupa kerangka yang lengkap. Salah satu ditemukan dalam tahun 1856 dalam gua dilembah sungai Neander dekat kota Dusseldorf, Jerman. Menjadi terkenal denga nama Homo Neandertalensis (manusia dari lembah Neander).


Di luar Eropa mahluk jenis Homo Neandertalensis meninggalkan sisa-sisa di Palestina. Yang disebut Homo Palestinensis. Ditemukan di gua Tabun di dekat Mount Carmel.


Hampir semua fosil Homo Neandertalensis dan fosil-fosil sebangsa terdapat terdapat berdekatan dengan berbagai macam alat batu, sisa-sisa kebudayaan lama. Yang memberikan kepada kita sekedar keterangan mengenai kehidupan mahluk Homo Neandertalensis sebagai manusia yang telah berkebudayaan itu. Fosil-fosil Homo Neandertalensis di Eropa sering ditemukan bersamaan dengan bekas-bekas api yang menunjakan bahwa mereka hidup dalam suatu lingkungan iklim yang dingin di daerah lapisan-lapisan es di Eropa kala glasial terakhir.


Bekas alat-alat menunjukan bahwa mereka hidup dari berburu, dan alat-alat batunya dipakai untuk memotong daging hasil berburu mereka. Tetapi kemudian juga sebagai senjata.


Fosil purba yang ditemukan di gua Broken Hill di Rhodesia, Afrika Selatan, sebagi mahluk yang dianggap sebagai nenek moyang yang berasal dari zaman yang sudah sangat tua dari penduduk Afrika ras negroid sekarang. Diberi nama Homo Rhodesiensis, yang tidak digolongkan menjadi satu dengan Homo Neandertalensis.


Homo Soloensis yang ditemukan di Ngandong, mempunyai ciri-ciri yang lebih dekat dengan Pithecanthropus Erectus, dibandingkan dengan Homo Neandertalensis. Maka oleh Teuku Jacob disebut Pithecanthropus Soloensis.


Manusia Homo Neandertalensis dan sejenisnya, mula-mula tidak dianggap oleh para ahli sebagai salah satu nenek monyang ras manusia yang ada sekarang. Melainkan sebagai salah satu cabang evolusi mahluk manusia yang kandas. Tetapi akhir-akhir ini ada pendirian yang mantap dengan bukti-bukti yang baru. Bahwa Homo Neandertalensis itu tidak kandas melainkan telah berevolusi dalam jangka waktu yang kira-kira 120 ribu tahun menjadi manusia Homo Sapiens yang sekarang ini.





  1. Manusia Sekarang (Homo Sapiens)


Bekas-bekas Homo Sapiens yang tertua juga terkandung dalam lapisan pleistosen muda. Berarti mahluk hidup itu hidup pada akhir kala glasial terakhir, atau kurang lebih 80 ribu tahun yang lalu. Lapisan-lapisan bumi yang terjadi dalam akhir sesudah kala glasial terakhir, memang tidak lagi mengandung fosil manusia yang berbeda bentuknya dari manusia sekarang.


Zaman holosen penemuan fosil manusia ditemukan bersama bekas-bekas kebudayaan dan mulai menunjukan perbedaan keempat ras pokok yang pada saat itu menduduki muka bumi kita ini, yaitu:




  1. Ras Australoid, yang hampir kandas dan yang kini sisa-sisanya masih hidup di daerah pendalaman benua Australia.


  2. Ras Mongoloid, merupakan ras yang paling besar jumlahnya dan yang paling luas daerah penyebarannya.


  3. Ras Kaukasoid, tersebar di Eropa, Afrika, sebelah Utara Gurun Sahara, di Asia Barat Daya, di Australia dan benua Amerika Utara dan Selatan.


  4. Ras Negroid, yang kini menduduki benua Afrika sebelah Selatan dan gurun Sahara.


Mahluk manusia Homo Sapiens yang pertama-tama menunjukan ciri-ciri ras Australoid adalah mahluk yang fosilnya ditemukan di dekat desa Wajak dilembah sungai Brantas, dekat Tulung Agung Jawa Timur. Dalam lapisan bumi pleistosen muda. Fosil itu disebut Homo Wajakensis, diperkirakan hidup 40 ribu tahun yang lalu.


Di daerah Irian, menurut teuku Jacob telah berkembang dari ras Wajak ini suatu ras khusus yang menjadi nenek monyang penduduk asli Australia sekarang, yang merupakan sisa-sisa hidup dari Australia.


Homo Sapiens yang pertama-tama menunjukan ciri-ciri ras Mongoloid adalah mahluk yang fosilnya ditemukan di dekat gua Chou Kou Tien, dimana ditemukan fosil Pithecanthropus Pekinensis. Merupakan nenek monyang dari semua ras khusus mongoloid di Asia Timur, Tenggara, Tengah, Utara, Timur laut, dan benua Ameika Utara dan Selatan. Hidup diantara 40 ribu - 30 ribu tahun yang lalu, dan dianggap telah berevolusi langsung dari Pithecanthropus Pekinensis.


Homo Sapiens yang pertama menunjukan ciri-ciri ras kaukasoid adalah mahluk yang fosilnya ditemukan dekat desa Les Eyzies di Perancis. Disebut Homo Sapiens Cromagnon, dan dianggap nenek monyang penduduk Eropa sekarang. Hidup kira-kira 60 ribu tahun yang lalu.


Homo Sapiens yang pertama menunjukan ciri-ciri ras Negroid fosilnya ditemukan ditengah-tengah Gurun Sahara. Homo Sapiens Asselar ini dianggap nenek monyang dari ras negroid. Hidup kira-kira 14 ribu tahun yang lalu. Ras negroid dianggap sebagai ras manusia yang paling muda.



3-4.3. ANEKA WARNA MANUSIA



Mahluk manusia yang tersebar diseluruh muka bumi dan hidup di dalam segala macam alam, menunjukan suatu aneka warna fisik yang tampak nyata. Ciri-ciri lahir seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut, bentuk bagian muka, dsb. Hal ini menyebabkan timbulnya pengertian ”ras” sebagai suatu golongan manusia yang menunjukan berbagai ciri tubuh yang tertentu dengan suatu frekuensi yang besar.


Dalam sejarah bangsa-bangsa, konsepsi mengenai aneka warna ciri tubuh manusia itu telah menyebabkan kesedihan dan kesengsaraan. Salah paham itu telah mengacaukan ciri-ciri ras yang sebenarnya harus dikhususkan kepada ciri-ciri jasmani semata. Bukan sebagai ciri-ciri rohani. Lebih dari itu, salah paham tadi memberikan penilaian tinggi rendah kepada ras-ras berdasarkan perbedaan tinggi rendah rohani daripada ras-ras tsb. Maka timbul anggapan bahwa ras caucasoid (ras kulit putih) lebih kuat dari pada ras-ras lain. Tetapi lebih dari itu ada anggapan bahwa ras kulit putih pada dasarnya juga lebih pandai, lebih maju, lebih luhur, atau lebih tinggi rohaninya daripada ras-ras lain.


Anggapan salah itu timbul bersama perkembangannya kekuasaan bangsa-bangsa Eropa (ras kulit putih), terhadap bangsa-bangsa lain di luar Eropa (bukan ras kulit putih). Dan dipraktekan ke dalam gejala sosial yang terdapat di banyak negara di dunia sampai sekarang ialah gejala diskriminasi ras.


Anggapan mengenai keunggulan jasmani serta rohani ras-ras kulit putih terhadap ras-ras lain tsb, justru dikuatkan oleh teori-teori yang bersifat sok ilmiah, yang berasal dari sarjana-sarjana reaksioner. Merupakan suatu reaksi terhadap pergolakan-pergolakan rakyat yang mulai mengguncangkan banyak sistem kekuasaan di negara-negara Eropa Barat. Pada akhir abad 18 terjadi pendirian tentang persamaan semua mahluk manusia.


Untuk jangka waktu yang cukup lama tentang bagaimana masalah cara mengklasifikasikan atau menggolongkan aneka warna ras manusia di dunia merupakan pusat perhatian yang terpenting bagi ilmu antropologi fisik.


Ciri-ciri marfologi pada tubuh individu-individu berbagai bangsa di dunia. Ciri-ciri tsb merupakan ciri-ciri fenotipe, terdiri dari 2 golongan, yaitu:


1. Ciri-ciri kualitatif, seperti warna kulit, bentuk rambut, dsb


2. Ciri-ciri kuantitatif, seperti berat badan, ukuran badan, index cephalicus, dsb. Dalam ilmu antropologi fisik telah berkembang metode-metode pengukuran yang selalu dipertajam dan disebut dengan metode antropometri.



Akhir-akhir ini dalam ilmu antropologi fisik, klasifikasi yang hanya berdasarkan morfologi telah dianggap penting lagi. Para ahli lebih tertarik kan masalah sebab-sebab daripada perbedaan-perbedaan serta persamaan-persamaan antar ras-ras manusia. Sehingga pada saat sekarang klasifikasi yang filogenetik. Suatu klasifikaasi yang kecuali hanya menggambarkan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan antara ras-ras, juga menggambarkan hubungan-hubungan asal usul antara ras-ras serta percabangannya


Untuk membangun suatu klasifikasi serupa itu pengetahuan mengenai ciri-ciri genotipe sangat penting. Ciri-ciri genotipe dapat diketahui pada gen yang tidak mudah diubaholeh pengaruhproses-proses mutasi, seleksi, dsb. Misalnya gen pada untuk golongan darah A-B-C, gen untuk tipe darah MN, gen untuk kemampuan mencium bau zat phenylthiocarbomide, dsb.


Saat sekarang sudah berkembang metode-metode untuk mengklasifikasikan ras-ras berdasarkan frekuensi golongan darah. Misalnya di suatu daerah terdapat individu-individu dari semua golongan darah. Dalam satu kelurga inti pun ayah mungkin mempunyai darah A, ibu O, anak-anak mungkin ada yang A, AB, O, dsb. Tetapi suatu frekuensi tertentu dari satu macam golongan darah akan tampak juga dalam daerah-daerah tertentu di muka bumi ini. Misalnya pada orang Sunda terdapat individu-individu dari semua golongan darah, namun konon ada suatu persentase tinggi (yaitu kurang lebih 51%) penduduk Jawa Barat yang berdarah O. Demikian pula walaupun di antara penduduk Tokyo umpanya terdapat individu-individu dari semua golongan darah, tetapi diantara kira-kira 30 ribu individu yang pernah diteliti, terdapat suatu frekuensi tinggi dari darah A dan B.


Dengan demikian, apabila daerah-daerah dengan persentase-persentase golongan darah yang sama itu dihubungkan dengan garis-garis di atas peta (isogenes) maka kita mungkin dapat membuat suatu gambaran dari bangsa-bangsa yang dadhulu berasal dari satu nenek monyang. Metode-metode klasifikasi yang serupa inilah yang sekarang mulai benyak dipergunakan dalam ilmu antropologi. Walaupun masih banyak dikritik.


Mengenai ras manusia masih ada banyak sistem klasifikasi yang berasal dari ahli-ahli lain. Semua klasifikasi itu masih berdasarkan metode-metode morfologikal yang lama karena metoe-metode klasifikasi baru yang berdasarkan frekuensi gen yang tertentu itu masih dalam taraf perkembangan dan belum dalakukan secara luas. Adanya berbagai sistem klasifikasi itu disebabkan karena tiap ahli mempergunakan salah satu ciri tertentu sebagai dasar klasifikasinya.


Klasifikasi C.Linnaeus (1725) mempergunakan warna kulit sebagai ciri terpenting dalam sistemnya. Klasifikasi J.F.Blumenbach (1755) yang mengkombinasikan ciri-ciri morfologi dengan geografi dalam sistemnya. Klasifikasi J.Deniker (1889) memakai warna dan bentuk rambut sebagai ciri-ciri terpenting dalam sistemnya. Metode-metode klasifikasi yang juga memperhatikan unsur-unsur filogenetik baru tampak kira-kira 30 tahun yang lalu. Salah satu klaisfikasi dari sarjana antropologi fisik ternama seperti metode E.von Eickstedt dan metode E.A.Hoo.


Klasifikai A.L.Kroeber di mana tampak secara terang garis besar penggolongan ras-ras yang terpenting di dunia serta hubungannya satu sama lain.


1. Australoid


Penduduk asli Australia


2. Mongoloid


- Asiatic mongoloid (Asia Utara, Tengah, Timur)


- Malayan mongoloid (Asia Tenggara, kep.Indonesia, Malaysia, Filipina, dan penduduk asli Taiwan)


- American mongoloid (penduduk asli benua Ameri Utara dan Selatan dari orang Eskimo di Amerika Utara sampai penduduk terra del Fuego di Amerika Selatan)


3. Caucasoid


- Nordic (Eropa Utara sekitar laut Baltik)


- Alpine (Eropa Tengah dan Timur)


- Mediterranean (penduduk sekitar Laut Tengah, afrika Utara, Armenia, Arab, Iran)


- Indic (Pakistan, India, Bangladesh, Sri Lanka)


4. Negroid


- African negroid (Benua Afrika)


- Negrito (Afrika Tengah, Semenanjung Melayu, Filipina)


- Melanesian (Irian, Melanesia)


5. Ras-ras khusus


Tidak dapat diklasifikasikan ke dalam empat ras pokok


- Bushman (di daerah gurun Kalahari di Afrika Sletan)


- Veddoid (di pendalaman Srilangka dan Sulawesi Selatan)


- Polynesian (di kepulauan Mikronesia dan Polinesia)


- Ainu ( di pulau Karafuto dan Hokkaido di Jepang Utara)



3-4.4. ORGANISMA MANUSIA



Mahluk manusia adalah mahluk yang hidup dalam kelompok, dan mempunyai organisma yang secara biologis sangat kalah kemampuan fisiknya dengan jenis-jenis binatang berkelompok yang lain. Walaupun demikian otak manusia telah berevolusi paling jauh jika dibandingkan dengan mahluk lain. Otak manusia yang telah dikembangkan oleh bahasa, tetapi juga yang mengembangkan bahasa mengandung kemampuan akal, yaitu kemampuan untuk membentuk gagasan, konsep, yang makin lama makintajam untuk memilih alternatif tindakan yang menguntungkan bagi kelangsungan hidup manusia.


Bahasa menyebabkan bahwa manusia tidak hanya dapat belajar mengenai keadaan sekitarnya dengan mengalami secara konkret peristiwa yang dihadapi. Dengan bahasa manusia mengabstraksikan dan menyimpan tiap pengetahuan baru ke dalam lambang vokal atau kata-kata baru, yang makin lama makin banyak jumlahnya. Generasi manusia berikutnya tidak perlu mengalami kembali setiap peristiwa yang telah terjadi di dalam alam sekitarnya untuk mendapat pengetahuan tentang keadan alam tadi. Mereka cukup belajar dari generasi-generasi sebelumnya mengenai segala pengetahuan yang telah dimiliki melalui uraian bahasa. Serta menambahnya lagi dengan pengalaman-pengalaman baru mereka sendiri.


Pengalaman yang kian bertambah banyak itu kemudian disimpan dan diatur oleh akal menjadi suatu sistem pengetahuan. Untuk diteruskan lagi kepada generasi berikutnya, demikian seterusnya.


Kemampuan organisma manusia memang terbatas jika dibandingkan dengan mahluk-mahluk lain. Kemampuan daripada semua pancainderanya menyebabkan bahwa ia tidak dapat lari, loncat, memanjat pohon, menyelam dalam air, ataupun terbang seperti halnya jenis-jenis binatang tertentu lainnya. Walaupun demikian kapasitas otaknya yang unggul yang berupa akal tadi menyebabkan ia dapat mengembangkan sistem pengetahuan yang menjadi dasar dari kemampuannya.


Kemampuannya tsb untuk membuat bermacam-macam alat hidup, seperti senjata, alat-alat produksi, alat-alat berlindung, alat-alat transport, dsb. Peralatan hidup dan sistm teknologi manusia inilah yang menjadi penyambung dari keterbatasan kemampuan organismanya.


Kemampuan otak manusia untuk membentuk gagasan-gagasan dari konsep-konsep dalam akalnya menyebabkan bahwa manusia dapat membayangkan dirinya sendiri sebagai suatu identitas tersendiri, lepas dari lingkungan dan alam sekelilingnya. Kemampuan ini merupakan dasar dari kesadaran identitas diri dan kesaaran kepribadian diri sendiri.


Manusia juga mempunyai kemampuan untuk membayangkan dengan akalnya peristiwa-peristiwa yang mungkin dapat terjadi terhadapnya, baik yang bahagia dan menyenangkan, maupun yang sengsara dan menakutkan. Rasa takut yang terbesar adalah rasa takut terhadap peristiwa yang ia sadari pasti akan terjadi padanya, ialah tibanya maut. Kesadaran akan tibanya maut inilah yang merupakan salah satu sebab timbulnya suatu unsur penting dalam kehidupan manusia, yaitu religi.


Walaupun organisma manusia memang kalah kemampuannya dengan banyak jenis binatang berkelompok lainnya, namun kemampuan otaknya, yang kita sebut akal budi itu, telah menyebabkan berkembangnya sistem-sistem yang dapat membantu dan menyambung keterbatasan kemampuan organismanya itu. Keselurahan dari sistem-sistem itu yaitu :


1. Sistem perlambangan vokal atau bahasa


2. Sistem pengetahuan


3. Organisasi sosial


4. Sistem peralatan hidup dan teknologi


5. Sistem mata pencarian hidup


6. Sistem religi dan


7. Kesenian adalah yang disebut kebudayaan manusia



Kebudayaan manusia tidak terkandung dalam kapasitas organismanya, artinya tidak tertentukan dalam sistem gennya berbeda dengan kemampuan-kemampuan organisma binatang.


Manusia harus mempelajari kebudayaannnya sejak lahir, selama seluruh jangka waktu hidupnya, hingga saatnya ia mati. Semuanya dilakukan dengan jerih payah. Walaupun demikian dengan kenudayaan manusia dapat menjadi mahluk yang berkuasa dan berkembang biak paling luas di muka bumi ini.



Latihan tatap muka 3


Sebutkan dan jelaskan proses percabangan yang menimbulkan ciri-ciri baru dan terjadinya organisma-organisma baru tetapi gen nenek moyang tetap tersimpan, dan menurut analisa para ahli biologi dapat dibagi ke dalam 3 golongan



Pembahasan latihan pada tatap muka 3



Proses percabangan yang menimbulkan ciri-ciri baru dan terjadinya organisma-organisma baru tetapi gen nenek moyang tetap tersimpan. Percabangan ini terjadi karena beberapa proses evolusi yang menurut analisa para ahli biologi dapat dibagi ke dalam 3 golongan, yaitu:


1. Proses mutasi, yakni suatu proses yang berasal dari dalam organisma. Suatu gen yang telah lama diturunkan dari angkatan ke angkatan beribu-ribu tahun lamanya, pada suatu ketika pada saat gen itu dibentuk pada suatu zygote yang baru dapat berubah sedikit sifatnya. Akibatnya ialah bahwa individu baru yang tumbuh dari zygote tadi akan mendapat suatu ciri tubuh baru yang tidak ada pada nenek moyangnya.


2. Proses seleksi dan adaptasi, adalah suatu proses evolusi yang berasal dari sekitar alam.


3. Proses menghilangnya gen secara kebetulan (random genetic drift).



Latihan tatap muka 4



Sebutkan dan jelaskan Klasifikai A.L.Kroeber di mana tampak secara terang garis besar penggolongan ras-ras yang terpenting di dunia serta hubungannya satu sama lain.



Pembahasan latihan pada tatap muka 4



Klasifikai A.L.Kroeber di mana tampak secara terang garis besar penggolongan ras-ras yang terpenting di dunia serta hubungannya satu sama lain.


1. Australoid


Penduduk asli Australia


2. Mongoloid


a. Asiatic mongoloid (Asia Utara, Tengah, Timur)


b. Malayan mongoloid (Asia Tenggara, kep.Indonesia, Malaysia, Filipina, dan penduduk asli Taiwan)


c. American mongoloid (penduduk asli benua Ameri Utara dan Selatan dari orang Eskimo di Amerika Utara sampai penduduk terra del Fuego di Amerika Selatan)


3. Caucasoid


a. Nordic (Eropa Utara sekitar laut Baltik)


b. Alpine (Eropa Tengah dan Timur)


c. Mediterranean (penduduk sekitar Laut Tengah, afrika Utara, Armenia, Arab, Iran)


d. Indic (Pakistan, India, Bangladesh, Sri Lanka)


4. Negroid


a. African negroid (Benua Afrika)


b. Negrito (Afrika Tengah, Semenanjung Melayu, Filipina)


c. Melanesian (Irian, Melanesia)


5. Ras-ras khusus


Tidak dapat diklasifikasikan ke dalam empat ras pokok


a. Bushman (di daerah gurun Kalahari di Afrika Sletan)


b. Veddoid (di pendalaman Srilangka dan Sulawesi Selatan)


c. Polynesian (di kepulauan Mikronesia dan Polinesia)


d. Ainu ( di pulau Karafuto dan Hokkaido di Jepang Utara)


Nunnie widagdo, P.Si. MM

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP ANTROPOLOGI

TATAP MUKA 1 - 2


PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP ANTROPOLOGI



Tujuan Instruksional umum:


Mahasiswa dapat memahami Antropologi



Tujuan Instruksional Khusus:


Setelah mempelajari modul ini mahasiswa diharapkan mampu untuk dapat menjelaskan arti dan tujuan antropologi, hubungan dengan ilmu sosial lain, dan metode ilmiah antropologi.



1-2.1. TUJUAN MEMPELAJARI ANTROPOLOGI



Antropologi adalah istilah dari bahasa Yunani, yaitu berasal dari kata anthropos dan logos. Anthropos berarti manusia, dan logos berarti memiliki arti cerita atau kata.


Antropologi psikologi adalah cabang dari antropologi yang bersifat interdisipliner dan mengkaji interaksi kebudayaan dan proses mental.


Jadi tujuan kita mempelajari antropologi yaitu;selain dapat memahami makna mengenai manusia, kita juga dapat lebih memahami kebudayaan dari manusia yang merupakan proses mental.



1-2.2. FASE-FASE PERKEMBANGAN ANTROPOLOGI





  1. Fase pertama (sebelum 1800)


Suku-suku bangsa penduduk pribumi Afrika, Asia, dan Amerika mulai didatangi oleh orang Eropa Barat sejak akhir abad ke 15 dan permulaan abad ke 16, dan lambat laun dalam suatu proses yang berlangsung kira-kira 4 abad lamanya, berbagai daerah dimuka bumi mulai terkena pengaruh negara-negara Eropa Barat.


Bersama dengan perkembangan itu mulai terkumpul buku-buku kisah perjalanan, laporan,dsb. Buku-buku tsb termuat suatu himpunan besar dari bahan pengetahuan berupa deskripsi tentang adat istiadat, susunan masyarakat, bahasa, dan ciri-ciri fisik dari beraneka warna suku bangsa di Afrika, Asia, Oseania (kepulauan di laut teduh), dan suku bangsa Indian, penduduk pribumi Amerika.


Bahan pengetahuan tadi disebut bahan etnografi, atau deskripsi tentang bangsa-bangsa dari kata ethnos = bangsa). Deskripsi tadi biasanya tidak teliti, sering kali bersifat kabur, dan kebanyakan hanya memperhatikan hal-hal yang dalam mata orang Eropa tampak aneh. Walaupun ada pula karangan-karangan yang baik dan lebih teliti sifatnya.


Justru karena keanehannya, maka bahan etnografi tadi amat menarik perhatian kalangan terpelajar di Eropa Barat sejak abad ke 18. kemudian dalam pandangan orang Eropa timbul 3 macam sikap yang bertentangan terhadap bangsa-bangsa di Afrika, Asia, Oseania, dan orang-orang Indian di Amerika tadi, yaitu:




  1. Sebagian orang Eropa memandang akan sifat keburukan dari bangsa-bangsa jauh tadi itu, dan mengatakan bahwa bangsa-bangsa itu bukan manusia sebenarnya, bahwa mereka manusia liar, turunan iblis, dsb. Maka muncul istilah-istilah seperti savages, primitives, yang dipakai orang Eropa untuk menyebut bangsa-bangsa tadi.


  2. Sebagian orang Eropa memandang akan sifat-sifat baik dari bangsa-bangsa jauh tadi itu, dan mengatakan bahwa masyarakat bangsa-bangsa itu adalah contoh dari masyarakat yang masih murni, yang belum kemasukan kejahatan dan keburukan seperti yang ada dalam masyarakat bangsa-bangsa Eropa Barat pada waktu itu.


  3. Sebagian orang Eropa tertarik akan adat istiadat yang aneh, dan mulai mengumpulkan benda-benda kebudayaan dari suku bangsa-bangsa di Afrika, Asia, Oseania, dan Amerika pribumi. Kumpulan-kumpulan pribadi tadi ada yang dihimpun menjadi satu, supaya dapat dilihat oleh umum, dengan demikian timbul museum-museum pertama tentang bangsa-bangsa di luar Eropa.


Pada permulaan abad 19 perhatian terhadap himpunan pengetahuan tentang masyarakat, adat istiadat dan ciri-ciri fisik bangsa-bangsa diluar Eropa dari pihak dunia ilmiah menjadi sangat besar, demikian besarnya sehingga timbul usaha-usaha pertama dari dunia ilmiah untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan pengetahuan etnografi tadi menjadi satu.





  1. Fase kedua (kira-kira pertengahan abad ke 19)


Integrasi yang sungguh-sungguh baru timbul pada pertengahan abad ke 19, yakni saat timbulnya karangan-karangan yang menyusun bahan etnografi tsb berdasarkan cara berfikir evolusi masyarakat. Secara singkat, cara berfikir itu dapat dirumuskan sebagai berikut: Masyarakat dan kebudayaan manusia telah berevolusi dengan sangat lamban dalam satu jangka waktu beribu-ribu tahun lamanya, dari tingkat-tingkat yang rendah, melalui beberapa tingkat sampai tingkat yang tertinggi.


Bentuk-bentuk masyarakat dan kebudayaan manusia yang tertinggi itu adalah bentuk-bentuk seperti yang ada di Eropa Barat. Semua bentuk masyarakat dan kebudayaan dari bangsa-bangsa diluar Eropa, oleh orang Eropa disebut primitif, dianggap sebagai contoh-contoh dari tingkat-tingkat kebudayaan yang lebih rendah, yang masih hidup sampai sekarang sebagai sisa-sisa dari kebudayaan-kebudayaan manusia zaman dahulu.


Berdasarkan cara berfikir tsb, maka semua bangsa didunia dapat digolongkan menurut berbagai tingkat evolusi itu. Dengan timbulnya beberapa karangan sekitar tahun 1860, yang mengklasifikasikan bahan tentang beraneka warna kebudayaan di seluruh dunia ke dalam tingkat-tingkat evolusi yang tertentu, maka timbulah Antropologi.


Dalam fase perkembangan yang ke 2 ini ilmu antropologi berupa suatu ilmu yang akademikal (artinya tidak mempunyai suatu tujuan secara langsung bersifat praktis, dan hanya dilakukan dalam kalangan-kalangan para sarjana di universitas/akademika). Dengan tujuan yang dapat dirumuskan sebagai berikut: mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk mendapat suatu pengertian tentang tingkat-tingkat kuno dalam sejarah evolusi dan sejarah penyebaran kebudayaan manusia.





  1. Fase ketiga


Dalam fase ketiga ini ilmu antropologi menjadi suatu ilmu yang praktis, dan tujuannya dapat dirumuskan sebagai berikut: mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa guna kepentingan pemerintah kolonial dan guna mendapat suatu pengertian tentang masyarakat masa kini yang kompleks.





  1. Fase keempat (sesudah kira-kira 1930)


Dalam fase ini ilmu antropologi mengalami masa perkembangannya yang paling luas, baik mengenai bertambahnya bahan pengetahuan yang jauh lebih teliti, maupun mengenai ketajaman dari metode-metode ilmiahnya. Kecuali itu kita lihat adanya dua perubahan didunia:




  1. Timbulnya antipati terhadap kolonialisme sesudah perang dunia II


  2. Cepat hilangnya bangsa-bangsa primitif 9dalam arti bangsa-bangs asli dan terpencil dari pengaruh kebudayaan Eropa-Amerika) yang sekitar tahun 1930 mulai hilang, dan sesudah perang dunia II memang hampir tak ada lagi dimuka bumi ini.


Proses-proses tsb menyebabkan bahwa ilmu antropologi seolah-olah kehilangan lapangan, dan dengan demikian terdorong untuk mengembangkan lapangan-lapangan penelitian dengan pokok dan tujuan yang baru.


Pokok atau sasaran dari penelitian para ahli antropologi sudah sejak tahun 1930 memang tidak lagi hanya suku-suku bangsa primitif yang tinggal dibenua-benua luar Eropasaja, melainkan sudah beralih kepada manusia di daerah pendesaan pada umumnya, ditinjau dari sudut aneka warna fisiknya, masayarakatnya, serta kebudayaannya. Dalam hal itu perhatian tidak hanya tertuju kepada penduduk daerah pendesaan di luar benua Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa-bangsa di daerah pendesaan di Eropa (seperti suku-suku bangsa Soami, Flam, Lapp, Albania, Irlandia, penduduk pegunungan Siera, dll), dan kepada penduduk beberapa kota kecil di Amerika serikat (Middletown, Jonesville,dll).



Tujuan ilmu antropologi yang baru dalam fase keempat ini dapat dibagi 2 yaitu:




  1. Tujuan akademikal, untuk mencapai pengertian tentang mahluk manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna bentuk fisiknya, masyarakat, serta kebudayaannya.


  2. Tujuan praktis, untuk mempelajari manusia dalam aneka warna masyarakat suku bangsa guna membangun masyarakat suku bangsa itu.


1-2.3. ILMU BAGIAN DARI ANTROPOLOGI


Di universitas-universitas Amerika Serikat, antropologi mencapai perkembangan yang luas, ruang lingkup dan batas lapangan perhatiannya yang luas itu menyebabkan adanya paling sedikit 5 masalah penelitian khusus yaitu:


1. Masalah sejarah asal dan perkembangan manusia (evolusinya) secara biologi.


2. Masalah sejarah terjadinya aneka warna mahluk manusia, dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya.


3. Masalah asal, perkembangan, dan penyebaran aneka warna bahasa yang diucapkan manusia diseluruh dunia.


4. Masalah perkembangan, penyebaran, dan terjadinya aneka warna kebudayaan manusia di seluruh dunia.


5. Masalah mengenai azas-azas dari kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat dari semua suku bangsa yang tersebar di seluruh muka bumi masa kini.



Kelima lapangan penelitian yang bertujuan untuk memecahkan lima masalah tsb adalah sedemikian luasnya, sehingga masing-masing merupakan ilmu-ilmu bagian antropologi yang membutuhkan ahli-ahli dengan kejuruan-kejuruan yang khusus. Terkait dengan pengkhususan ke dalam 5 lapangan tsb, ilmu antropologi mengenal juga ilmu-ilmu bagian, yaitu:


image001 1. Paleo antropologi kedua-duanya disebut antropologi


2. Antropologi fisik fisik dalam arti luas


image002 3. Etnolinguistik


4. Prehistori ketiga-tiganya disebut antropologi


5. Etnologi budaya





  1. Paleo antropologi


Adalah ilmu bagian yang meneliti soal asal usul atau soal terjadinya evolusi manusia dengan mempergunakan bahan penelitian sebagian sisa-sisa tubuh yang telah membantu, atau fosil-fosil manusia dari zaman dahulu yang tersimpan dalam lapisan-lapisan bumi yang harus didapat oleh si peneliti dengan berbagai metode penggalian.





  1. Antropologi fisik


Merupakan bagian dari ilmu antropologi yang mencoba mencapai suatu pengertian yang mencoba untuk mencapai suatu pengertian tentang sejarah terjadinya aneka warna manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya. Memakai sebagian bahan penelitiannnya ciri-ciri tubuh, baik yang lahir (fenotipik) seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut, bentuk hidung, tinggi dan bentuk tubuh. Maupun yang dalam (genotipik) seperti frekuensi golongan darah, dsb.


Manusia di muka bumi ini dapat digolongkan ke dalam beberapa golongan tertentu berdasarkan atas persamaan mengenai beberapa ciri tubuh. Adapun ciri-ciri tubuh itu terdapat pada sebagian besar dari individu-individunya, walaupun tiap individu memilikiciri-ciri tubuh yang berbeda-beda.


Kelompok manusia seperti itu dalam ilmu antropologi disebut “ras”. Pengertian terhadap aneka warna dari ras-ras didunia itu dicapai oleh para sarjana, terutama dengan mencoba menjalankan berbagi metode klasifikasi terhadap aneka warna itu. Bagian ini dari ilmu antropologi sering disebut antropologi fisik dalam arti khusus, atau somatologi.





  1. Etnolinguistik (antropologi linguistik)


Adalah suatu ilmu bagian yang pada asal mulanya berkaitan erat dengan ilmu antropologi. Bahkan penelitiannya yang berupa daftar kata-kata, pelukisan tentang ciri dan tata bahasa dari beratus-ratus bahasa suku bangsa yang tersebar diberbagai tempat di muka bumi ini, terkumpul bersama-sama dengan bahan kebudayaan suku bangsa.


Dari bahan ini telah berkembang berbagai macam metode analisa kebudayaan, serta berbagai metode untuk menganalisa dan mencatat bahasa-bahasa yang tidak mengenal tulisan. Semua bahan dan metode tsb sekarang telah terolah dalam ilmu linguistik umum. Walaupun demikian, ilmu etnolinguistik di berbagai pusat ilmiah di dunia masih tetap erat berkaitan dengan ilmu antropologi, bahkan merupakan bagian dari ilmu antropologi.





  1. Prehistori


Mempelajari sejarah perkembangan dan penyebaran semua kebudayaan manusia di bumi dalam zaman sebelum manusia mengenal huruf. Dalam ilmu sejarah, seluruh waktu dari perkembangan kebudayaan umat manusia mulai saat terjadinya manusia yaitu kira-kira 800.000 tahun yang lalu hingga sekarang dibagi ke dalam 2 bagian:




  1. Masa sebelum manusia mengenal huruf.


  2. Masa setelah manusia mengenal huruf.

Batas antara kedua masa ini diberbagai tempat di dunia dan dalam berbagai kebudayaan sangat berbeda. Zaman sebelum suatu bangsa mengenal huruf dalam ilmu pengetahuan disebut zaman prehistori (sebelum sejarah). Sedangkan zaman sesudah suatu bangsa mengenal huruf disebut zaman histori (sejarah).





  1. Etnologi


Adalah ilmu bagian yang mencoba menapai pengertian mengenai azas-azas manusia, dengan mempelajari kebudayaan-kebudayaan dalam kehidupan masyarakat dari sebanyak mungkin suku bangsa yang tersebar di seluruh muka bumi pada masa sekarang ini. Lebih khusus lagi dalam kalangan sub ilmu etnologi, akhir-akhir ini telah berkembang 2 aliran atau golongan penelitian;




  1. Golongan 1, menekankan kepada bidang diakronik. Descriptive integration untuk penelitian-penilitian diakronik. Sarjana-sarjana memakai nama ethnology. Descriptive integration dalam etnologi mengolah dan mengintegrasikan menjadi satu hasil -hasil penelitian dari sub-sub ilmu antropologi fisik, etnolinguistik, ilmu prehistori, dan etnografi (merupakan bagian dari etnologi yang meliputi segala cara pengumpulan bahan dan pelukisan tentang masyarakat dan kebudayaan dari suku bangsa disuatu daerah tertentu, etnografi adalah bagian deskriptif dari etnologi). Descriptive integration selalu mengenai suatu daerah tertentu. Dipandang dari metodenya, maka Descriptive integration termasuk dalam sub imu etnologi, tetapi mempunyai tujuan untuk mencari pengertian tentang sejarah perkembangan dari suatu daerah. Artinya, mencoba memandang suatu daerah pada bidang diakroniknya juga.




  1. Golongan 2, menekankan kepada bidang sinkronik dari kebudayaan umat manusia. Generalizing approach untuk penelitian sinkronik. Sarjana memakai nama social anthropology. Generalizing approach (antropologi sosial) dalam etnologi mencari azas persamaan di belakang aneka warna dalam beribu-ribu masyarakat dari kelompok-kelompok manusia di muka bumi ini. Pengertian tentang azas tsb, dapat dicapai dengan metode-metode yang dimasukan kedalam 2 golongan;




    1. Metode yang menuju ke arah penelitian mendalam dan bulat dari

Sejumlah masyarakat dan kebudayaan yang terbatas (3 max 5). Metode ini menyebabkan bahwa sarjana antropologi mencapai suatu pengertian yang bulat tentang unsur-unsur kebudayaan tertentu dalam rangka masyarakat yang dianalisa secara mendalam dan bulat tadi, dan dalam rangka masyarakat-masyarakat lain pada umunya.




  1. Metode yang menuju kearah perbandingan merata dari sejumlah unsur terbatas dalam suatu jumlah masyarakat yang sebanyak mungkin (2-300/ lebih). Dalam metode ini pengertian tentang azas-azas masyarakat dan kebudayaan manusia dicapai melalui sifat aneka warna atau diversitasnya.

Kedua metode tsb tidak terlepas satu sama lain, tetapi selalu saling membantu.



Etnopsikologi



Sejak setegah abad yang lalu (sekitar tahun 20an) telah berkembang suatu ilmu bagian yang baru, yaitu ilmu etnopsikologi (ethnopsychology). Sedangkan penerapan dari ilmu antropologi mula-mula adalah terhadap masalah pembangunan masyarakat desa , kemudian lebih luas lagi yaitu terhadap masalah ekonomi pendesaan, terhadap masalah kesehatan rakyat pendesaan, terhadap masalah kependudukan, dll, yang telah menimbulkan berbagai spesialisasi dalam ilmu antropologi.


Etnopsikologi, di Amerika setengah abad yang lalu telah berkembang penelitian-penelitian antropologi yang dalam analisanya mempergunakan banyak konsep psikologi. Penelitian-penelitian seperti itu dimulai karena timbulnya perhatian terhadap tiga macam masalah, yaitu:



1. Masalah ”kepribadian bangsa”


Timbul ketika hubungan antar bangsa- bangsa mulai makin intensif, terutama sesudah perang dunia I. Deskripsi-deskripsi tentang kepribadian suatu bangsa dalam karangan-karangan etnografi zaman lampau itu biasanya mempergunakan konsep-konsep dan istilah-istilah yang tak cermat dan kasar. Contohnya orang Belanda yang menjajah Indonesia melukiskan kepribadian suku bangsa Jawa sebagai malas, tak aktif, tak bergairah dalam tindakan (indolent). Kecuali ciri-ciri kepribadian yang negatif, tiap konsep yang dipakai dalam pelukisan seperti itu tidak cermat dipandang dari sudut ilmu psikologi. Sadar akan kekurangan ini, ada beberapa ahli antropologi sekitar tahun 1920, berhasrat untuk mendeskripsikan kepribadian bangsa dengan lebih cermat. Kecuali itu, mereka juga mempersoalkan secara ilmiah, apakah konsep kepribadian bangsa itu benar-benar ada. Dalam kenyataannya tentu ada orang Jawa yang tidak malas, yang jujur, yang lincah, dan bergairah dalam tindakan-tindakannya. Lalu timbulah pertanyaan, bilamanakah suatu ciri bangsa atau suku bangsa, dan sampai berapa jauhkah terkecualian terhadap kepribadian umum pada individu-individu tertentu sebagai warga bangsa itu mungkin. Untuk mempelajari soal-soal seperti itu , seorang ahli antropologi perlu mengetahui banyak tentang ilmu psikologi serta konsep-konsep dan teori-teori yang dikembangkan di dalamnya.



2. Masalah peranan individu dalam proses perubahan adat istiadat.


Banyak dipelajari sekitar tahun 1920 juga, ketika para ahli antropologi terutama di Ameria mulai mempelajari secara detail proses-proses perubahan kebudayaan (culture change). Sebelum itu para ahli antropologi biasanya hanya memperhatikan dan mencatat adat istiadat dan tingkah laku yang lazim dianut dan dijalankan oleh warga masyarakat. Tindakan individu yang menyimpang dari adat istiadat yang umum diabaikan, sampai saat timbulnya perhatian para ahli antropologi terhadap masalah perubahan kebudayaan. Dalam rangka itu ada kesadaran bahwa justru penyimpangan oleh individu-individu terhadap apa yang lazim dilakukan oleh umum yang patuh terhadap adat itulah yang merupakan pangkal dari proses perubahan kebudayaan. Perhatian terhadap tindakan yang menyimpang dari tindakan umum inilah yang menyebabkan bahwa para ahli antropologi kemudian menaruh perhatian terhadap konsep-konsep dan teori-teori psikologi. Karena seluk beluk dan kelakuan dan tindakan individu itu hanya dapat dipelajari dan dipahami melalui ilmu psikologi.



3. Masalah nilai universal dari konsep-konsep psikologi.


Mendapat perhatian para ahli antropologi dengan pengalaman mereka dalam hal mempelajari bangsa-bangsa di luar Eropa, memperdalam ilmu psikologi, maka mereka mulai meragukan nilai universal dari beberapa konsep dan teori psikologi. Mereka meragukan apakah konsep-konsep dan teori-teori itu juga berlaku untuk individu- individu yang hidup di luar lingkungan masyarakat Eropa - Amerika. Misalnya pada konsep ”kegoncangan batin masa remaja”, yang dianggap sebagai suatu masalah penting dalam pertumbuhan para remaja dalam masyarakat kota di negara-negara barat oleh para ahli psikologi. Sedangkan menurut beberapa ahli antropologi masalah tsb tidak dialami oleh para remaja dalam masyarakat diluar Eropa, seperti pada masyarakat penduduk Samoa di Polinesia. Dengan demikian konsep psikologi tsb hanya berlaku untuk masyarakat Eropa - Amerika, dan tidak mempunyai nilai universal. Sebenarnya hal tsb tidaklah mengherankan, karena ilmu tsb diteliti dan hanya tumbuh didalam masyarakat Ero- Amerika. Tetapi karena adanya masukan dari para ahli antropologi itu, membuat para ahli psikologi berusaha untuk lebih mempertajam konsep-konsep dan teori-teori yang mereka pergunakan.



Kompleks studi antropologi yang menggunakan ilmu psikologi sekarang ini dianggap sebagai suatu sub ilmu yang disebut etnopsikologi (etnopsychology) atau antropologi psikologi (psychology anthropology) atau disebut juga studi kebudayaan dan kepribadian (study of culture and personality). Semua ini akan dibahas pada tatap muka berikutnya.



1-2.4. METODE ILMIAH DARI ANTROPOLOGI



Metode ilmiah dari suatu ilmu pengetahuan adalah segala jalan atau cara dalam rangka ilmu tsb untuk sampai kepada kesatuan pengetahuan. Tanpa metode ilmiah, suatu ilmu pengetahuan sebenarnya bukan suatu ilmu, melainkan suatu himpunan pengetahuan saja, tentang berbagai gejala alam atau masyarakat, tanpa disadari adanya hubungan antara gejala yang satu dengan gejala yang lain. Kesatuan pengetahuan itu dapat dicapai oleh para sarjana dalam ilmu yang bersangkutan melalui 3 tingkatan, yaitu:





  1. Pengumpulan fakta


Untuk antropologi-budaya, tingkat ini adalah pengumpulan fakta mengenai kejadian dan gejala masyarakat dan kebudayaan untuk pengolahan data secara ilmiah. Dalam kenyataan, aktivitas pengumpulan fakta disini terdiri dari berbagai metode mengobservasi, mencatat, mengolah, dan melukiskan fakta-fakta yang terjadi dalam masyarakat yang hidup.


Pada umumnya, metode-metode pengumpulan fakta dalam ilmu pengetahuan dapat digolongkan kedalam 3 golongan, yaitu :





  1. Penelitian lapangan (field work)


Peneliti harus menunggu terjadinya gejala yang menjadi objek observasinya itu. Peneliti harus masuk kedalam objeknya, artinya ia sendiri harus memperhatikan hubungan antara objek dan dirinya sendiri.


Peneliti datang sendiri dan menceburkan diri dalam suatu masyarakat untuk mendapatkan keterangan tentang gejala kehidupan manusia dalam masyarakat itu. Di sana, keculai dari observasi sendiri ia mendapat sebagian besar dari bahan keterangannya dari orang-orang warga masyarakat yang didatanginya itu, yang merupakan orang-orang pemberi keterangan (informan).




  1. Penelitian di laboratorium


Gejala yang akan menjadi objek observasi dapat dibuat dan sengaja diadakan oleh peneliti. Peneliti berada diluar objeknya, artinya dirinya sendiri tidak ada hubungan dengan objek yang ditelitinya itu.





  1. Penelitian dalam perpustakaan


Gejala yang akan menjadi objek penelitian harus dicari dalam suatu himpunan dari beratus-ratus ribu buku yang beraneka ragam. Peneliti juga berada diluar objek yang diteliti.



Dalam ilmu antropologi budaya penelitian lapangan merupakan cara yang terpenting untuk mengumpulkan fakta-faktanya, disamping itu penelitian diperpustakaan juga penting. Sedangkan metode penelitian di laboratorium hampir tak berarti untuk ilmu antropologi.


Para peneliti antropologi budaya biasanya sangat tertarik kepada tindakan dan kelakuan manusia dalam hubungan kelompok-kelompok kecil. Kelompok-kelompok seperti itu yang biasanya tidak melebihi 3.000 individu yang dipilihnya untuk diteliti secara khusus dan mendalam sekali, sedapat mungkin dalam segala aspeknya. Hal itu menyebabkan bahwa seorang peneliti antropologi budaya menggunakan pendekatan metode penelitian kualitatif, dengan metode wawancara, dan catatan wawancara itu berupa catatan yang disebut field notes.


Field notes yang telah dikumpulkan tadi harus dirubah menjadi tulisan yang sifatnya sedemikian rupa sehingga bahan itu dapat dibaca dan dipergunakan oleh sarjana-sarjana lain yang akan mengolah bahan itu ke dalam teori-teori tentang azas-azas kebudayaan, dan yang mungkin akan datang sendiri didaerah yang bersangkutan dan memerlukan pengetahuan tentang hal bagaimana mereka harus berbuat apabila mereka berhadapan dengan penduduk daerah tsb.


Mengubah field notes menjadi karangan yang dapat dibaca orang lain memerlukan suatu rangkaian metode tersendiri. Bahan nyata yang tercatat dalam bentuk field notes harus diolah menjadi suatu deskripsi.


Seluruh metode mulai dari metode pengumpulan bahan konkret tentang suatu masyarakat yang hidup, sampai kepada metode untuk mengolah bahan tadi menjadi karangan yang dapat dibaca oleh orang lain, merupakan deskriptif dari ilmu antropologi yang disebut etnografi. Istilah etnografi yang berarti deskriptif tentang ethnos (suku bangsa), merupakan bahan tentang kehidupan masyarakat dan kebudayaan disuatu daerah.





  1. Penentuan ciri-ciri umum dan sistem


Hal ini adalah tingkat dalam cara berfikir ilmiah yang bertujuan untuk menentukan ciri-ciri umum dan sistem dalam himpunan fakta yang dikumpulkan dalam suatu penelitian. Tingkat dalam proses berfikir secara ilmiah dalam rangka ilmu antropologi ini, menimbulkan metode-metode yang hendak mencari ciri-ciri yang sama, yang umum, dalam aneka ragam fakta dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan umat manusia.


Proses berfikir disini berjalan secara induktif, dari pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa dan fakta-fakta khusus dan konkret, ke arah konsep-konsep mengenai ciri-ciri umum yang lebih abstarak.


Ilmu antropologi yang bekerja dengan bahan yang berupa fakta-fakta yang berasal dari sebanyak mungkin macam masyarakat dan kebudayaan dari seluruh dunia, dalam hal mencari ciri-ciri umum diantara aneka warna fakta masyarakat itu harus mempergunakan berbagai metode membandingkan atau metode komparatif. Biasanya metode komparatif dimulai dengan metode klasifikasi.


Seorang peneliti yang menghadapi suatu objek penelitian yang menunjukan sifat beraneka warna dengan adanya beribu-ribu macam bentuk yang berbeda-beda, harus berusaha dahulu agar aneka warna itu dapat dikuasai dengan akalnya, artinya ia harus mengecilkan jumlah aneka warna tadi menjadi suatu jumlah yang kecil berdasarkan beberapa perbedaan pokok saja.


Dalam ilmu-ilmu alam, penentuan ciri-ciri umum dan sistem dalam fakta-fakta alam dilakukan dengan cara mencari perumusan-perumusan yang menyatakan berbagai macam hubungan mantap antara fakta-fakta tadi. Hubungan itu biasanya adalah hubungan kovariabel (artinya, kalau suatu fakta berubah dengan cara yang tertentu, maka fakta-fakta laiin yang bersangkutan juga berubah). Atau hubungan itu mungkin sebagai hubungan sebab akibat (artinya suatu fakta menyebabkan timbulnya, berubahnya, atau hilangnya suatu fakta yang lain). Perumusan-perumusan yang menyatakan hubungan-hubungan mantap antara aneka fakta dalam alam disebut kaidah-kaidah alam.


Mengenai kemungkinan adanya kaidah-kaidah tentng tingkah laku manusia dalam kehidupan masyarakat, masih ada beberapa anggapan yang bertentangan diantara para ahli. Sebagian berkata bahwa fakta-fakta mengenai tingkah laku manusia itu tak mungkin dapat dirumuskan ke dalam kaidah-kaidah yang mantap, sedangkan sebagian lain berkata bahwa sapai suatu batas tertentu hal itu mungkin.


Anggapan yang lazim masa sekarang ini adalah diantara keduanya. Anggapan umum bahwa dalam dunia ilmiah sekarang ini mengenai gejala-gejala yang masih erat terjalin kedalam proses-proses kehidupan alam, hubungan atau fakta-fakta yang dapat dirumuskan ke dalam kaidah-kaidah alam adalah luas sekali. Namun hal ini tidak berarti bahwa semua gejala alam dapat difahami melalui kaidah-kaidah. Ada juga beberapa gejala alam yang sukar difahami dengan kaidah-kaidah alam.


Sebaliknya, gejala-gejala yang telah terlepas dari proses-proses alamiah, fakta-fakta yang dapat dirumuskan kedalam kaidah-kaidah itu memang jauh lebih sempit. Walaupun demikian, tidak benar mengatakan bahwa ilmu-ilmu sosial yang mempelajari gejala-gejala tsb sama sekali tidak dapat sampai kepada taraf perumusan kaidah-kaidah mengenai hubungan antara fakta sosial-budaya dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan.


Ilmu antropologi sebagian besar dari pengetahuan yang bersifat ”pengertian” mengenai kehidupan masyarakat dan kebudayaan. Namun ada pula pengetahuan yang berupa kaidah-kaidah sosial-budaya.





  1. Verifikasi (pengujian)


Metode untuk melakukan verifikasi dalam kenyataan terdiri dari cara-cara yang harus menguji kaidah-kaidah yang telah dirumuskan atau yang harus memperkuat ”pengertian” yang telah dicapai, dalam kenyatan-kenyataan alam atau dalam masyarakat yanga hidup.


Disini proses berfikir berjalan secara deduktif dari perumusan-perumusan umum, kembali ke arah fakta-fakta yang khusus. Ilmu antropologi yang mengandung pengetahuan yang lebih banyak berdasarkan ”pengertian” daripada pengetahuan berdasarkan kaidah, mempergunakan metode-metode verifikasi yang bersifat kualitatif.


Dengan mempergunakan metode-metode kualitatif, ilmu antropologi mencoba memperkuat pengertian itu dalam kenyataan beberapa masyarakat yang hidup, tetapi dengan cara khusus dan mendalam.


Lawan dari metode kualitatif adalah kuantitatif yaitu metode yang mencoba menguji kebenaran dari ”pengertian” dan kaidah-kaidah itu dengan mengumpulkan sebanyak mungkin fakta mengenai kejadian dan gejala sosial-budaya yang menunjukan azas-azas persamaan. Untuk metode kuantitatif sering dipergunakan cara-cara untuk mengolah fakta sosial dalam jumlah yang besar, dan metode itu disebut statistik.


Metode statistik yang dulu kurang dipergunakan dalam ilmu antropologi, sekarang ini mulai juga menjadi suatu metode analisa yang penting dalam ilmu antropologi.



1-2.5. HUBUNGAN ANTROPOLOGI DENGAN PSIKOLOGI



1. HAKIKAT ILMU ANTROPOLOGI PSIKOLOGI



Antropologi psikologi (psychology anthropology) adalah subdisiplin ilmu antropologi. Nama subdisiplin ilmu antropologi ini, sebenarnya nama baru dari ilmu yang dulu dikenal dengan nama culture and personality (kebudayaan dan kepribadian), atau kadang-kadang disebut juga ethno psychology (psikologi suku bangsa).


Sarjana yang pertama menganjurkan pemakaian nama baru ini adalah ahli antropologi AS terkemuka Francis L.K.Hsu. Anjuran ini kemudian diikuti para ahli antropologi AS pada umunya. Alasan para ahli antropologi AS mempergunakan istilah ini, karena lebih logis daripada culture and personality . karena istilah culture and personality memberi kesan bahwa kebudayaan dan kepribadian merupakan dua konsep yang berbeda, sedangkan dalam kenyataannya tidaklah demikian.


Ruth Benedict misalnya menganggap kebudayaan adalah psikologi individual yang disorot besarkan kelayar, sehingga memberikan ukuran raksasa serta berjangka waktu lama. Kluckhohn dan Murray juga tidak puas dengan istilah culture and personality itu diganti saja dengan istilah culture in personality (kebudayaan di dalam kepribadian), atau personality in culture (kepribadian di dalam kebudayaan).


Selanjutnya istilah etnopsikologi (ethnopsychology) tidak dipergunakan kebanyakan ahli antropologi, karena nama itu memberi kesan bahwa ilmu tsb hanya memperhatikan psikologi suku bangsa di daerah terpencil saja. Padahal sejak permulaan perkembangannya, ilmu antropologi psikologi sudah memperhatikan psikologi dari kolektif-kolektif di daerah perkotaan, bahkan juga watak bangsa (national character) dari bangsa-bangsa modern seperti Jerman, Jepang, Rusia, dll. Lebih penting lagi istilah ethnopsychology dapat memberi kesan bahwa ilmu ini adalah subdisiplin dari ilmu psikologi dan bukan dari ilmu antropologi.


Subdisiplin ini sejak lahirnya sudah bersifat antar disiplin. Hal ini disebabkan karena bukan saja teori, konsep, serta metode penelitiannya dipinjam dari berbagai disiplin seperti antropologi, psikologi, psikiatri, dan psikoanalisa. Melainkan juga para pendirinya berasal dari disiplin bermacam-macam. Sebelum mereka menjadi ahli antropologi psikologi. Mereka itu antara lain adalah : Ralph Linton, Margaret Mead, Cora DuBois (ketiganya ahli antropologi). Abraham Kardiner (seorang ahli psikiatri). W.H.R. River (seorang ahli psikologi). Erik H. Erikson (seorang ahli psikoanalisa Neo Freudian). Geza Roheim (seorang ahli psikoanalisa Freudian ortodoks), dll.


Dari nama-nama tsb dapat dikatakan bahwa di dalam ilmu antropologi psikologi para sarjana dari disiplin antropologi, psikologi, dan psikiatri, bertemu. Disanalah ilmu antropologi budaya dan sosial dapat berhubungan dengan ilmu psikologi kepribadian, psikologi perkembangan, ilmu psikiatri, dan psikoanalisa secara sangat akrab dan produktif.


Pada antropologi budaya memperhatikan cara hidup berbeda yang dikembangkan masyarakat di berbagai tempat berbeda di dunia. Sedangkan psikologi kepribadian (perkembangan dan psikiatri) adalah ilmu yang meneliti kepribadian manusia, yang karyanya menyangkut usaha untuk mengerti mengapa dan bagaimana pribadi berbeda saatu sama lain. Ilmu antropologi psikologi adalah ilmu yang menjembatani kebudayaan dan kepribadian yang menjadi fokus dari dua ilmu berbeda (antropologi dan psikologi), yang sebenarnya sangat erat hubungannya.


Berlandaskan kenyataan tsb di atas, maka karya-karya penelitian, yang dapat digolongkan ke dalam antropologi psikologi menurut Francis L.K.Hsu adalah:


a. suatu karya yang dihasilkan oleh seorang ahli antropologi, yang mempunyai pengetahuan baik mengenai konsep psikologi, atau karya yang dihasilkan oleh seorang ahli dari disiplin lain, yang mempunyai pengetahuan baik mengenai konsep antropologi disamping pengetahuan mengenai konsep psikologi (jika ia bukan seorang ahli psikologi).


b. Segala karya yang mempermasalahkan individu sebagai tempat atau wadah kebudayaan


c. Segala karya yang memberikan pengakuan serius kepada kebudayaan sebagai variabel bebas (independent variable) maupun variabel terikat (dependent variable), yang berhubungan dengan kepribadian.


d. Segala karya dari seorang ahli antropologi yang mempergunakan konsep atau teknik test psikologi, yang memberikan data tepat guna dalam bentuk yang dapat dipergunakan oleh para ahli antropologi.


e. Ruang lingkup antropologi psikologi sama dengan pengkajian secara lintas budaya (cross culture studies) mengenai kepribadian dan sistem sosial budaya.



Menurut Singer penelitian antropologi psikologi yang masih Ia sebut sebagi culture and personality dapat dikategorikan ke dalam 3 kelompok:


a. Kelompok hubungan kebudayaan dengan sifat pembawaan manusia (human nature). Penelitian yang pernah dilakukan oleh Bronislaw Malinowski untuk mencari oedipus complex diantara penduduk pulau Trobian (1927). Penelitian yang dilakukan oleh Margaret Mead untuk mengetahui apakah ketegangan yang dialami orang pada masa akil balig juga ada di masyarakat luar Ero-Amerika (1939). Atau oleh Geza Roheim untuk mencari lambang-lambang seks dalam folklor lisan (1950).



b. Kelompok hubungan kebudayaan dengan kepribadian khas kolektif tertentu (typical personality). Penelitian Ruth Benedict untuk mencari pola kebudayaan beberapa suku bangsa di dunia (1932). Penelitian Ralp Linton, Cora DuBois, dll untuk mencari struktur kepribadian dasar (basic personality structure) suku-suku bangsa di dunia (1939 & 1945). Penelitian Cora DuBois untuk mencari kepribadian rata-rata (modal personality) penduduk pulau Alor (1944). Atau penelitian Ruth Benedict, Margaret Mead, Geofrey Gorer, dll untuk mencari watak bangsa (national character) dari berbagai bangsa di dunia.


c. Kelompok hubungan kebudayaan dengan kepribadian individual (individual personality). Penelitian yang coba mengerti individu sebagai insan yang hidup di dalam kebudayaan, dan kebudayaan sebagai wadah tempat hidup individu-individu. Metode yang dipergunakan adalah dengan jalan mengumpulkan serta menganilisa riwayat hidup (life histories) responden tertentu, dan respons terhadap test-test proyeksi, mimpi, dsb.



2. PERKEMBANGAN ILMU ANTROPOLOGI PSIKOLOGI DAN


BEBERAPA PENELITIAN ANTROPOLOGI PSIKOLOGI



Ada dua anggapan yang salah, dan harus dikoreksi sehubungan dengan sejarah perkembangan ilmu antropologi psikologi, yaitu:




  1. Menganggap ilmu antropologi psikologi adalah sub disiplin baru dari ilmu antropologi umum.


  2. Menganggap ilmu antropologi psikologi adalah suatu ilmu yang diciptakan oleh sarjana Amerika saja.


Kedua anggapan tsb tidak benar. Ilmu antropologi psikologi hadir di dunia ilmu pengetahuan sejak pertengahan 1920. lahirnya ilmu ini sejak diadakan ekspedisi Cambridge ke selat Torres pada tahun 1898. bahkan menurut Victor Barnouw pelopor-pelopor antropologi psikologi bukan para ahli antropologi, melaikan para ahli ilmu sejarah kebudayaan (culture historians), seperti; Jacob Burckhardt, J.Huizinga, dan Oswald spengler.


Kalaupun para ahli ilmu sejarah kebudayaan itu tidak dapat dianggap sebagai pelopor, namun tidak dapat disangkal lagi bahwa merekalah yang telah memberi inspirasi sehingga memungkinkan berkembangnya sub ilmu antropologi inim di kemudian hari.


Mereka mengemukakan sifat-sifat khas (characteristic features) mengenai watak bangsa dari masyarakat yang mereka lukiskan. Mereka yakin pandangan hidup (world view) suatu masyarakat tercermin dalam berbagai unsur kebudayaan, seperti filsafat, kepercayaan, kesenian, kesusastraan, mode pakaian, dan adat istiadat populer. Untuk menonjolkan perbedaan atribut (sifat-sifat khusus) dari kebudayaan -kebudayaan abad pertengahan (medieval) dan Renaissance Eropa dan Italia; Apollonian dan Faustian; atau klasik dan peradaban barat modern.


Spengler ahli ilmu antropologi psikologi yang merupakan teoritikus pertama yang telah mengajukan pendapat tentang peminjaman unsur-unsur kebudayaan secara selektif (selective borrowing of cultural traits), yakni suatu bangsa jika meminjam unsur kebudayaan lain akan memilih yang sesuai dengan kebudayaannya sendiri. Jika kurang sesuai unsur kebudayaan asing tsb akan dirombak agar sesuai dengan kebudayaan pribuminya.


Pendapat yang mengira bahwa ilmu antropologi psikologi adalah ciptaan sarjana antropologi Amerika juga tidak daepat dipertahankan. Karena sebelum ilmu tsb dikembangkan di Amerika, beberapa sarjana antropologi Inggris sudah menjurus kesitu. Orang Inggris pertama yang mengarahkan perhatian terciptanya ilmu itu adalah C.G. Seligman (1924) menyarankan beberapa kemungkinan bagi perkembangan suatu lapangan pertemuan antara ilmu antropologi dan ilmu psikologi, yang sangat erat hubungannya dan maasih sangat sedikit dikenal orang.


Selanjutnya ia juga menyinggung konsep mengenai tipe introvert dan extravert dari carl Gustav Yung dalam hubungannya dengan pembawaan genetika dari ras-ras di dunia, seperti tercermin dalam kesenian mereka. Penggolongan kasar dari Seligman adalah sbb; kepribadian orang biadab (savages) adalah extravert. Walaupun ada kemungkinan para pemimpin dan para dukun mereka berkepribadian introvert. Orang Eropa pada umumnya adalah extravert, sedangkan orang India introvert, dsb.


Seligman menghimbau kepada para ahli antropologi agar mempelajari lebih dalam latar belakang kepercayaan dan kebiasaan manusia yang tidak dapat diterangkan hanya dengan kata-kata. Selain itu, ia juga menggunakan teori Sigmund Freud terhadap sekelompok orang yang diamati untuk menerangkan pertentangan antara keinginan dan ketakutan pribadi. Ia juga menunjukan pentingnya karya Freud dan Yung bagi ilmu antropologi, karena masalah psikologi yang timbul dalm penelitian antropologi terletak sebagian besar dalam bidang motivasi dan emosi, bukan dalam bidang kognisi.


Orang Inggris yang lebih besar pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu antropologi psikologi selain Seligman adalah Bronislaw Maliwnoski. Dalam penelitiannya mengenai penduduk pulau Trobrian di daerah Melanesia, berhasil mendekatkan ilmu antropologi dan psikologi. Maliwnoski telah memberi kredit pada Seligman, yang menurutnya telah memberi saran agar ia meneliti apakah oedipus complex merupakan manifestasi tak sadar (unconcious) juga timbul pada komunitas yang sistem kerabatannya berdasarkan matrilineal.


Penelitian Maliwnoski ini adalah yang pertama dalam sejarah antropologi yang menerapkan teori psikoanalisa, dalam penganalisaan kehidupan penduduk teknologi terbelakang. Saran Evan Pritchard berdasarkan penelitian Seligman dan Maliwnoski, yaitu:




  1. dapatkah para ahli antropologi mengumpulkan cukup banyak data untuk menerangkan teori psikoanalisa?


  2. Apakah fase perkembangan pribadi bayi, yang oleh para ahli psikoanalisa disebut sebagai fase oral, anal, dan laten itu umum terdapat pada semua ras dan kebudayaan yang ada di dunia?


  3. Jira ada apakah hal itu ditentukan oleh factor keturunan (biologis) atau kondisi kebudayaan?


  4. Apakah simbol yang sama juga dipergunakan ras-ras berlainan dalam keadaan yang sama?


  5. Apakah symptom formation dari anggota peradaban barat berbeda dengan peradaban lain?


Selain Freud masih ada beberapa ahli psikoanalisa lainnya yang juga menulis mengenai antropologi psikologi. Seperti Otto Rank, Ernest Jones, Wulf Sachs, dan Geza Roheim. Dari para ahli tsb, Roheim adalah yang paling menarik. Karena ia adalah seorang ahli etnologi yang telah mendapat pendidikan dalam ilmu psikoanalisa. Cara penelitian di lapangan (fieldwork) dan pandangannya yang paling dekat dengan pendekatan yang kemudian terkenal dengan nama pendekatan culture and personality.


Dalam metodeloginya Roheim menekankan bahwa tujuan utama para ahli antropologi adalah mencari wish-fullfilment (pelepasan ketegangan jiwa dengan jalan mengkhayalkan suatu situasi yang memuaskan atau dapat mengurangkan ketegangan yang laten) dalam setiap organisasi masyarakat yang spesifik. Seperti halnya kita meredusir suatu impian atau gangguan jiwa (neurosis) ke dalam suatu formula laten. Untuk dapat berbuat demikian Ia menganjurkan para ahli antropologi untuk mengumpulkan data yang dapat menerangkan keinginan tak sadar (unconsciousness) tsb yang berupa keterangan-keterangan mengenai mimpi, riwayat hidup, kehidupan seks, pengasuhan anak, upacara-upacara adat, adat kebiasaan yang diterangkan melalui pengetahuan, pengalaman pribadi dari informan, lelucon, komentar spontan (casual remarks), dan salah bicara (slip of the tongue).


Antropologi baru ini sudah tentu tidak dapat mengerjakan seluruh apa yang dapat dihasilkan seorang analis klinik, tetapi sedikitnya dapat mencapai lebih dari apa yang dihasilkan ahli antropologi kuno. Karena dengan metode pendekatan ini memungkinkan antropologi untuk mengklasifikasikan psikologi dari suatu kolektif.


Sebaliknya di AS karya-karya pioner Margaret Mead, Edward Spir, dan Ruth F benedict, segera diikuti dengan penelitian-penelitian antropologi psikologi. Banyak ahli antropologi psikologi yang telah mengalami pengpsikoanalisaan terhadap diri mereka sendiri, karena menurut mereka sebelum mengenal kepribadian orang lain, mereka harus terlebih dahulu mengenal kepribadiannya sendiri secara murni.


Perkembangan penelitian antropologi pasikologi terus berkembang hingga sekarang.



Latihan tatap muka 1



Antropologi mencapai perkembangan yang luas, terlebih di universitas-universitas Amerika. Sebutkan ruang lingkup dan batas lapangan perhatiannya yang luas itu menyebabkan adanya paling sedikit 5 masalah penelitian khusus!



Pembahasan latihan pada tatap muka 1



Di universitas-universitas Amerika Serikat, antropologi mencapai perkembangan yang luas, ruang lingkup dan batas lapangan perhatiannya yang luas itu menyebabkan adanya paling sedikit 5 masalah penelitian khusus yaitu:


1. Masalah sejarah asal dan perkembangan manusia (evolusinya) secara biologi.


2. Masalah sejarah terjadinya aneka warna mahluk manusia, dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya.


3. Masalah asal, perkembangan, dan penyebaran aneka warna bahasa yang diucapkan manusia diseluruh dunia.


4. Masalah perkembangan, penyebaran, dan terjadinya aneka warna kebudayaan manusia di seluruh dunia.


5. Masalah mengenai azas-azas dari kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat dari semua suku bangsa yang tersebar di seluruh muka bumi masa kini.



Latihan tatap muka 2



Penelitian-penelitian mengenai antropologi psikologi begitu banyak dan beragam. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh Seligman dan Maliwnoski, Evan Pritchard memeberikan beberapa saran, apakah saran-saran yang dimaksud Evan Pritchard tsb? Sebutkan!



Pembahasan latihan pada tatap muka 2



Saran Evan Pritchard berdasarkan penelitian Seligman dan Maliwnoski, yaitu:




  1. Dapatkah para ahli antropologi mengumpulkan cukup banyak data untuk menerangkan teori psikoanalisa?


  2. Apakah fase perkembangan pribadi bayi, yang oleh para ahli psikoanalisa disebut sebagai fase oral, anal, dan laten itu umum terdapat pada semua ras dan kebudayaan yang ada di dunia?


  3. Jira ada apakah hal itu ditentukan oleh factor keturunan (biologis) atau kondisi kebudayaan?


  4. Apakah simbol yang sama juga dipergunakan ras-ras berlainan dalam keadaan yang sama?


  5. Apakah symptom formation dari anggota peradaban barat berbeda dengan peradaban lain?


Oleh : Nunnie widagdo P.si MM



 

Mata Kuliah Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER